Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 45


__ADS_3

Dengan mengangkat gaun pengantinnya, Laura mulai berlari menuju pagar yang hanya setinggi lutut gadis itu. dia akan meloncati pagar setelah ini , semoga tidak ada yang melihatnya hingga dia bisa menjauh dari rumah milik Nathan ini .


" Kejar gadis itu !" teriak seorang pria berbadan besar yang melihat Laura keluar dari pagar pembatas . Bersama ketiga pria lain , Mereka mengejar Laura sampai ke hutan .


Beberapa kali Laura harus meringis kesakitan karena kakinya yang tidak memakai alas menginjak batu-batu kecil . Dia semakin mempercepat langkahnya untuk menjauhi anak buah Nathan . Di pikirannya hanya ada perintah untuk berlari menjauh hingga dia tidak terlalu memperhatikan jalan . Berulang kali juga dia melihat ke belakang untuk mengetahui jarak antara dirinya dengan para penjahat itu .


Gadis itu tidak melihat akar pohon yang melintang di depannya sehingga dia terjatuh dan terguling ke bawah . Kesadaran Laura menghilang ketika tubuhnya membentur pohon yang sangat besar . Walaupun Kehilangan kesadarannya, tapi dia sangat beruntung karena jurang ini tidak terlalu dalam .


___


Febri kembali memukulkan tangannya pada setir mobil . Sudah 1 jam mobilnya terjebak kemacetan yang sangat panjang. Ini adalah satu-satunya jalan menuju ke rumah Nathan , jadi pria itu tidak mempunyai pilihan lain selain menunggu kemacetan ini berakhir. Dan untuk kesekian kalinya Febri mengumpat karena para petugas itu sangatlah lamban untuk dalam menepikan bangkai truk yang melintang di jalan.


" Sialan , sudah kubilang , kita ke sana menggunakan Heli saja " Febri menggeram .


" Di sana tidak ada lahan yang luas , kau akan turun dari Heli dengan cara melompat gitu ?" ujar Henry sini .


" Bersabarlah, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Laura . Dia gadis yang baik dan kuat " tambah Hendri.


" Dia bersama Nathan dan Mona ! Lalu Bagaimana aku bisa tenang ?!" bentak Febri .


Sebenarnya Henry dan detektif itu sama gelisahnya seperti Febri , tapi kedua pria itu tetap berusaha untuk santai agar tidak menambah kepanikan dan khawatiran Febri . Sangat berbeda dengan Febri yang saya dari tadi kerjaannya hanya mengumpat dan marah-marah .


____

__ADS_1


Saat kesadaran Laura kembali , perlahan dia mulai membuka matanya . Dia merasakan tangannya dan kakinya diikat oleh tali yang lebih kuat dari ikatan sebelumnya . Matanya berkedip sebentar sebelum melihat sekeliling . Dia berada di tempat yang tidak asing ruang bawah tanah rumah Nathan .


Suara sol sepatu yang bertemu dengan keramik terdengar semakin jelas saat Nathan dan Mona sudah berada di dekat Laura . " usaha yang cukup bagus nona Chintya "Nathan tersenyum meremehkan .


" Tapi jangan berani coba-coba untuk keluar lagi oke , atau aku akan memotong kakimu itu"lanjut nathan


" Apa salahku pada kalian ? Kenapa kalian berbuat jahat padaku?" Laura mulai membuka mulutnya .


" Kau masih tidak menyadari apa kesalahanmu?" Mona tertawa lalu menarik dasar rambut Laura.


" Dasar bodoh ! Kesalahanmu adalah kau sudah menggagalkan rencanaku dan Nathan untuk mendapatkan perusahaan Febri ."


" Yap benar!, Karena hal itu jadi kau harus di sini sampai Febri menandatangani surat penyerahan semua sahamnya padaku" sambung Nathan.


Mona menatap Laura nyalang , Dia segera berdiri dan mengambil tongkat baseball yang ada di sampingnya. wanita itu mendorong Laura hingga terjatuh dari kursi lalu memukul kaki Laura beberapa kali sampai memar .


" Jangan buang tenagamu untuk gadis sampah seperti dia , Sayang" nanthan menghentikan Mona yang akan memukul kaki Laura lagi.


" Membusuk lah kau di sini dasar tikus got." ucap Monas sebelum meninggalkan ruang bawah tanah bersama Nathan .


Perlahan rasa sakit berganti dengan rasa dingin yang menusuk kulitnya . Agar disitu menoleh ke arah jendela, sesuatu putih telah menutupi warna hijau pada rumput, salju turun di saat yang tidak tepat . Jika salju tidak berhenti maka Laura akan semakin kedinginan dan parahnya lagi dia bisa terkena hyphotermia.


___

__ADS_1


Febri menghentikan Mobilnya di luar rumah sebelum rumah milik Nathan. Di sana Febri menjelaskan rencananya kepada anak buahnya . Pria itu juga tidak lupa menyuruh Henry untuk menelpon polisi.


Mereka bergerak pelan mendekati para anak buah Nathan , dengan cepat orang-orang terlatih Febri mengalahkan mereka. Febri menerobos masuk ke dalam rumah. Pria itu mendapati Mona dan Nathan yang sedang bercumbuh di ruang tengah .


" Di mana istriku ?" suara berat Febri membuat pasangan itu menoleh lalu tertawa sinis.


" Tenanglah dia berada di tempat yang aman" jawab Nathan santai, pria itu tidak memperdulikan emosi Febri yang sudah sampai di Puncak.


Tanpa menunggu apapun Febri berjalan semakin masuk ke dalam rumah , dia membuka pintu yang berada di dekat dapur . Insting Febri mengatakan jika istrinya berada di dalam sana. dan benar saja, dia melihat Laura yang tergeletak di lantai dengan kaki dan tangannya yang terikat .


Tempat anak buah Nathan yang berjalan di dekat Laura langsung menyerang Febri ketika pria itu berjalan mendekati istrinya. Dengan kekuatan bela diri Febri dan emosi yang memuncak , dengan sangat mudah baginya untuk membuat orang-orang Nathan Terletak tidak sadarkan diri .


Setelah mengalahkan anak buah Nathan, Febri segera mendekati istrinya untuk membukakan ikatan pada tangan dan kaki Laura . Yaitu melepas coachnya untuk menutupi tubuh Laura yang sangat dingin sebelum membawa istrinya itu keluar dari tempat terkutuk itu.


saat sampai di depan rumah Nathan , Febri melihat Nathan dan Mona telah ditangkap oleh Polisi . Tidak ketinggalan dengan anak buah mereka yang ikut dimasukkan ke dalam mobil polisi . Namun Febri tidak mempedulikan mereka , dia terus berjalan menuju mobilnya yang sudah ada di depannya dengan Henry yang berada di belakang kemudi .


Sepanjang perjalanan Febri terus mendekap tubuh Laura. tubuh gadis itu masih terasa sangat dingin walaupun gadis itu sudah memakai Coat milik Febri dan Henry yang berisi hot pack serta pemanas mobil yang sudah dinyalakan. Febri mendekatkan wajahnya pada wajah Laura untuk mencium bibir gadisnya yang membiru. Dingin ... Sangat dingin, sehingga Febri tidak percaya jika yang sedang diciumnya dalam bibir milik gadisnya . Febri tidak bisa menemukan rasa manis dan hangat pada bibir Laura seperti biasanya . yang ada hanya rasa dingin yang bisa membuat Febri ikut menggigil .


Tubuh Laura mulai bergetar menggigil sangat parah saat kesadaran Gadis itu telah kembali .


"Di... Ngin" ujarnya pelan . Gadis itu semakin menyerukan tubuhnya ke dalam pelukan Febri berharap mendapatkan kehangatan lebih . namun , yang akan tumbuh Febri saja tidak cukup untuk membuatnya hangat sekarang .


" Sayang aku mohon bertahanlah , Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" Febri mengeraskan pelukannya , tangannya terus menggenggam tangan Laura .

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2