Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 33


__ADS_3

Beberapa pelayan menyambut Febri dan Laura ketika mereka memasuki rumah. Terlihat Bibi yang berjalan mendekati mereka, " Laura"


" Bibi, Senang bisa bertemu denganmu lagi"


" Mama di mana?" Tanya Febri


" Nyonya ada di kamar Chelsea"


Febri mengangguk lalu mengajak Laura pergi ke kamar Chelsea. Dengar lagu Laura berjalan di samping Febri, dia tidak tahu harus berbuat apa saat bertemu dengan ibu Febri nantinya.


" Mama?" Panggil Febri


" Febri , kamu pulang nggak?" Risa , wanita yang telah melahirkan Febri begitu bahagia ketika melihat anak laki-lakinya pulang ke rumah.


" Hei siapa gadis cantik ini ?"


" Saya Laura Cynthia tante."


" Oh pacar Febri ya ? Akhirnya Febri memiliki pacar . Aku pikir dia akan melajang seumur hidupnya" ujar Hanna disertai dengan tawanya .


" Kakak !"seru Chelsea dari atas ranjangnya .


" Hai Adik kecil " Laura berjalan mendekati Chelsea.


" Chelsea , kamu tahu Kakak ini?" tanya Febri penasaran .


"Mama, dia adalah kakak yang aku ceritakan dulu "


Risa dan Febri semakin bingung dengan yang dikatakan Chelsea. Bukankah ini yang pertama kalinya dirinya bertemu dengan Laura ? Bagaimana bisa Chelsea sudah sangat dekat dengan Laura ?


"Oh mama ingat, jadi Kakak ini yang menolongmu saat kamu terjatuh di taman bermain dan dia juga yang menemanimu sampai pak sopir datang menjemputmu ?" Chelsea menganggukkan kepalanya.


" Laura, terima kasih sudah menolong Chelsea ya " ujar Hana.


" Tidak apa-apa Kak , aku juga senang bisa mengenal Chelsea " Laura tersenyum .


" Oh iya tadi aku dan Febri membeli beberapa cupcake untuk Chelsea "


" Terima kasih Kakak " Chelsea langsung mengambil satu cupcake dan memakannya .


" Apa kalian akan makan malam bersama kita ?" tanya Risa .


"Tidak mah , aku harus menyelesaikan pekerjaanku setelah ini"


" Tinggallah di sini sampai makan malam Bi, aku juga ingin mengobrol dengan Laura " sambung Hana


Laura menata Febri seolah mengatakan jika mereka harus tinggal sampai makan malam . Tapi bukan Febri namanya jika langsung menuruti apa yang dikatakan oleh ibu dan kakaknya .


" Tidak bisa Laura, kamu juga harus menyelesaikan tesismu."


" Baiklah kalau begitu , tapi Laura harus kembali ke rumah ini lagi " Risa tersenyum kepada Laura, dia sudah menyukai Laura Sejak pertama kali melihat gadis itu.


"Chelsea , kakak pulang dulu ya . Besok kita bertemu lagi " Laura berjalan mendekati Febri

__ADS_1


" Tante dan Kak Hana kami pamit pulang dulu ya "


" Jangan panggil tante, panggil Mama juga sama seperti Febri "


Laura tersenyum , keluarga Febri sangat baik padanya . Mereka tidak memandang status sosial Laura yang berada di kelas bawah .


" Mama aku pergi dulu " Febri memeluk ibunya , dia menggandeng tangan Laura dan berjalan menuju mobil .


___


Febri benar-benar menepati ucapannya , Sesampainya di apartemen, pria itu langsung masuk ke ruang kerjanya . Sedangkan Laura hanya bermalas-malasan di depan TV. Gadis itu belum mempunyai niat untuk mengerjakan skripsinya yang hanya tinggal sedikit itu .


Ponsel Laura bergetar , ada pesan yang masuk . Gadis itu mendesis ketika mengetahui si pengirim pesan . Febri Diego , pria itu bertanya pada Laura apa yang ingin dimakan untuk makan malam . Mereka dalam satu apartemen, Kenapa harus saling mengirim pesan ?


Tanpa membalas pesan Febri , dia langsung mendatangi Febri ke ruang kerjanya . Febri sedang membaca dokumen di atas meja kerjanya saat Laura berjalan mendekati Febri .


" Febri Aku ingin makan mie ." ujar Laura . Walaupun dia tahu Febri tidak akan mengizinkannya , tapi apa salahnya untuk mencoba .


Febri menatap Laura tajam , dia sangat membenci jika gadisnya memakan makanan yang menurutnya tidak sehat itu .


" Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak memakan mie instan lagi Laura Cynthia ."


" Benarkah aku pernah berjanji ? Tapi sepertinya aku tidak pernah berjanji apapun "


" Makanan yang lain"


"Tapi hanya itu yang ingin aku makan " Laura menghentikan ucapannya sebentar .


"Mi dengan kuah yang sangat pedas " lanjut Laura .


" Memesan ? Kita tidak akan pergi ke restoran ya ?"


" Aku tidak memiliki waktu Laura "


" Tapi Febri , yang enak itu dimakan di rumah hanya mie instan "


Febri berdiri di tempat duduknya lalu berjalan keluar . " ambil jaketmu , kita akan keluar "


" Sekarang ? Tunggu sebentar aku perlu berganti baju "


" Ambil jaket mu saja Laura Cynthia, atau kita akan memakan pasta di sini "


" Baiklah kita pergi saja sekarang , aku tidak membutuhkan jaket"


Febri menatap Laura, Gadis itu memakai kaos berlengan panjang dan rok di atas lututnya . Tanpa berkata apapun Febri berjalan keluar dari apartemennya .


Mereka tidak perlu menggunakan mobil , karena di dekat bangunan apartemen Febri ada restoran pasta . Sesampainya di restoran , Febri memesan dua pasta, tidak lama kemudian pesanannya pun tiba .


Seperti biasa , keheningan menyelimuti Febri dan Laura saat mereka makan . Tidak ada yang berbicara , hanya terdengar suara alunan musik klasik yang dimainkan oleh musisi yang disewa restoran itu .


Setelah makan pun mereka tidak mengobrol karena Febri mengajak Laura langsung pulang . Jalan berdua dengan bergandengan tangan , Mereka terlihat bagai sepasang kekasih . Tiba-tiba aurat terhenti di depan restoran yang menjual pizza, Febri yang mengerti pun langsung membeli seloyang pizza untuk Laura makan di apartemen


___

__ADS_1


Di sinilah mereka sekarang, makan pizza di ruang tengah apartemen Febri sambil melihat acara kartun Larva.


" Febri, Bolehkah aku bertanya?"


" Aku tidak akan menjawab jika kau bertanya tentang Rachel"


" Aku tidak akan bertanya tentang wanita murahan itu "


" Jangan sebut dia seperti itu "


"CK, Kau benar-benar menyebalkan, Aku tidak jadi ingin bicara denganmu "


" Aku kira kau yang akan bertanya alasan aku bisa mengobrol dengan Rachel saat makan "


Laura terdiam, pikirannya sedang bimbang sekarang. dia penasaran dengan alasan Febri tapi dia juga tidak ingin membicarakan Rachel sekarang .


Febri menantangnya saat melihat perubahan wajah Laura. Nggak habis itu sedang dilanda dilema, Febri sangat yakin jikalau orang penasaran dengan alasannya.


" Lalu kau ingin bertanya tentang apa ?"


pertanyaan Febri mengembalikan kesadarannya.


"Emm... di mana Ayah Chelsea? Gadis kecil itu pernah bilang bahwa dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya . Apa Ayah Chelsea sudah ..." Laura tidak sanggup melanjutkan perkataannya .


"Ayah Chelsea belum meninggal . aku rasa aku akan memberitahu sesuatu padamu sekarang" Febri meminum minumannya .


" Dulu Kak Hana sangat menyukai seorang pria , setiap hari karena selalu bersamanya hingga Kakak hamil saat baru saja lulus dari SMA . Akhirnya mereka menikah dan setelah itu hidup ke anak sangatlah menyedihkan . Pria yang dicintainya itu hanya mementingkan karirnya saja , Kakak juga tidak dikenalkan dengan teman-temannya karena dia menganggap kakak tidak pantas untuk berkumpul dengan teman-temannya yang berpendidikannya jauh di atas kakak. Setiap hari kakak hanya mengurus Chelsea dan melakukan pekerjaan rumah tangga . Hingga akhirnya mental kakak tidak kuat menerima kenyataan, dan dia pun depresi "


Laura menatap Febri tidak percaya , tadi sore dia melihat Hana baik-baik saja , bagaimana mungkin wanita cantik dan ceria sepertinya pernah terkena depresi .


"Selama 8 bulan Kakak tinggal di rumah sakit untuk menyembuhkan mentalnya dan seperti yang kamu lihat tadi sore . Dia bahagia menikmati kehidupannya setelah terbebas dari suaminya itu. Sekarang kakak juga sedang berusaha meraih gelar masternya ."Febri memegang tangan Laura yang ada di atas meja .


" Oleh karena itu aku ingin kau pintar , aku ingin istriku mempunyai karir sendiri . Aku tidak ingin hidup istriku hanya mengurus urusan rumah tangga dan mengikutiku kemanapun aku pergi . Aku tidak ingin istriku mengalami kejadian sama seperti yang dialami oleh kakak ."


Laura terdiam, sekarang dia mengetahui Kenapa Febri selalu menyuruhnya untuk belajar . mun2gkin kejadian yang dialami Anak Cukup membuat ketakutan sendiri di diri Febri, sehingga dia bersikap seperti itu pada Laura.


" Dan alasanku mengobrol dengan raja saat aku makan adalah karena dia sangat manja . Dia akan merengek jika aku tidak menanggapi celotehannya "


" Oh begitu, tapi bukankah kamu tidak menyukai gadis yang manja? Itu berarti kamu tidak menyukai Rachel ?" senyum Laura melebar .


" Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu? Aku hanya mencintaimu Laura Cynthia "


Laura melepas genggaman tangan Febri. " Tapi perasaanku padamu sudah hilang"


Febri menatap Laura tajam ." Kamu tidak boleh menyukai pria lain, kamu hanya boleh mencintaiku Laura Chintya "


" Bukankah kamu sendiri yang membuat perasaanku menghilang , kamu selalu menyakiti perasaanku .terlebih saat kamu berciuman dengan Rachel"


" Rachel yang menciumku ! saat aku melihatmu aku mengejarmu keluar Club , tapi kamu sudah tidak ada "


" Maafkan aku, tapi perasaanku padamu sudah benar-benar hilang . Mungkin harus mulai dari awal agar perasaanku ini kembali seperti dulu "


Febri terdiam, pikirannya kalau sekarang. rasa sakit juga mendarah dadanya . Begitu juga dengan ketakutan akan kehilangan Laura, Bagaimana jika loro meninggalkannya ? dia tidak akan sanggup jika melihat Laura bersanding dengan pria lain.

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2