
Pesta perayaan kesuksesan kerjasama yang diadakan oleh FD company sangatlah mewah. Para karyawan dan kolega Febri hadir memenuhi ballroom milikFD company di Pulau ini.
Semua wanita yang datang terlihat sangat anggun dengan balutan dress yang mereka kenakan, Sedangkan para pria terlihat tampan dengan setelan jas yang mereka pakai. Berbagai macam makanan dan minuman yang sangat lezat pun tidak absen di pesta Meria ini.
Febri, CEO FD company terlihat sangat tampan dengan stelan jas berwarna biru tua yang ia kenakan.
Rambutnya yang di tata rap kesamping membuat karismanya semakin menguar. Para wanita terang - terangan menatapnya dengan tatapan memuja.
Pria itu berdiri berdampingan dengan Rachel, wanita yang seminggu ini terllihat selalu bersama Febri. Mereka selalu tersenyum ramah dengan para kolega.
Di sisi lain, Laura berdiri membelakangi Febri, gadis itu datang bersama Hani dan Henry. Laura terlihat sangat cantik dengan gaun soft pink yang ia kenakan.
Gaun tanpa lengan itu mengekspos bahu Laura yang putih bersih, gaun itu juga memperlihatkan kaki jenjang Laura. Rambutnya dikuncir setengah dengan pita yang menghiasinya . Wajahnya yang sudah cantik dipoles dengan make up tipis .
" Febri, Apa kau sudah mengetikkan selamat padaku ?" tanya Hendri .
Laura menggeleng pelan , dia tidak mau menyelamati Febri karena pria itu terus saja menggandeng Rachel. baru kemarin Mereka terlihat bahagia bersama , namun sekarang hati Laura sudah dilukai kembali. Hati Laura sesak ketika Febri dan Rachel sudah ada di hadapannya . Febri mendekatinya lalu tersenyum padanya .
" Kamu terlihat sangat cantik Laura " ujar Rachel.
" Terima kasih tapi Kak Hendri juga bilang begitu ." Laura menyesap minumnya, tenggorokannya terasa kering setelah berbicara dengan wanita itu .
"Selamat atas keberhasilan kerjasama Bos dengan perusahaan milik Rachel."
Febri mengangguk, lalu suasana di antara mereka menjadi sunyi . Ke canggungan menyelimuti mereka saat ini. Suara sang pembawa acara yang menawarkan para hadirin Jika ada yang ingin bermain musik memecahkan keheningan mereka .
" Laura bukankah kau bisa bermain piano,? Maka tunjukkanlah pada kami " ujar Hani bersemangat .
Febri menatap Laura dengan tetapan tidak yakin , "Benarkah ?"
Laura mengangguk ringan. " saya akan mencobanya Pak ."
Nggak di situ berjalan menuju piano yang berada di panggung . Semua mata yang tertuju badannya membuatnya sedikit gugup . Laura menghirup nafas lalu membuangnya pelan untuk mengusir rasa gugupnya .
__ADS_1
Walaupun dia bisa bermain piano , tapi sudah lama sekali ya tidak bermain piano . Setelah membenarkan posisi duduknya , gadis itu mulai menggerakkan jemari lentiknya di atas tuts piano .
You haven’t laughed out loud yet
Are we that awkward with each other?
We did so many things together
But you haven’t given me a single look or touch
The whole world is looking at you
But just like always, you’re so dark
I only have one person in my heart
So I’m only looking at your turned back again
I’m always being bruised like this
All of a sudden, on days I miss you
All of a sudden, when I can’t do as my heart wants
All day, I hold onto you
I won’t cry out loud
But I can smile like I’ve always been doing
Even if all I have are scars
I can smile by seeing your turned back
__ADS_1
I’m always crying like this
All of a sudden, on days I miss you
All of a sudden, when I can’t do as my heart wants
All day, I hold onto you
All of a sudden, with my falling tears
All of a sudden, I comfort myself, saying it’s okay
I know that you won’t come now
So I’ll deal with it on my own
Goodbye
Laura menghapus air matanya yang keluar begitu saja ketika dia menyanyi. Beruntung suaranya masih bisa ia kendalikan. Tepuk tangan yang riuh dari semua tamu undangan membuatnya.
Tiba-tiba tubuh Laura terasa membeku saat matanya dan mata Febri bertemu. Jika diperhatikan secara teliti, mata Febri memancarkan tatapan sendu.
Namun walaupun begitu, tangan Febri masih saja bertautan dengan tangan Rachel. hati Laura terasa sangat nyeri saat melihatnya , rasanya ia ingin menangis lagi .
Sebelum air matanya jatuh kembali , Laura mengucapkan terima kasih lalu berjalan cepat menuju taman yang berada di depan ballroom. Iya ingin menenangkan dirinya di sana .
Laura duduk di bangku taman , malam ini terang namun tidak berbintang, seakan malam pun mengerti akan perasaannya.
Angin musim gugur yang dingin tidak mampu mengalahkan sakit hatinya . Gadis itu tidak merasakan kedinginan sama sekali ketika angin yang dingin membelah tubuhnya. air matanya sudah tidak tertahankan .
Pikirannya mengingat percakapan Febri dan Rachel . Mungkin selama ini memang Laura yang terlalu berharap bahwa Febri benar-benar akan mencintainya dan akan menikahinya. Tapi ternyata Febri bersikap seperti itu pada semua wanita .
Gadis itu tidak menyadari jika ada seseorang yang mendekatinya sampai ia merasakan sebuah jas menutupi bahunya. Laura menoleh untuk melihat orang yang ada di dekatnya. Laura sangat terkejut ketika si pemilik jas itu adalah...
__ADS_1
~ Bersambung