
Kurang lebih dua puluh empat jam, menjalani perawatan di rumah sakit, siang ini Dirga sudah dibolehkan pulang. Tidak ada lagi peralatan medis yang melekat di tubuhnya, semua sudah di lepas tadi malam. Karena sejatinya fisik Dirga baik-baik saja, yang sakit hanyalah jiwanya.
Duduk bersila di atas bed, sambil mengotak-atik hape wajah Dirga terlihat segar dengan rambut di kepala masih sedikit basah karena baru saja selesai mandi. Ia memakai baju kaos santai berwarna hitam dengan celana chinos berwarna krem.
Pak Ramlan baru saja menyelesaikan administrasi rumah sakit, sekarang lelaki tua berkulit hitam manis itu, sedang bersiap untuk membawa Dirga pulang. Sesekali ia melirik Dirga yang tampak fokus menggulir layar hape. Kadang-kadang tampak mengerutkan kening, petanda apa yang dilihat menyita pikiran. Pak Ramlan tau, itu pasti masalah pekerjaan. Karena Dirga yang pak Ramlan kenal, memang penggila kerja.
"Udah..., jangan mikirin kerjaan dulu!" ucap pak Ramlan dengan tangan sibuk memasukkan baju kotor Dirga ke dalam kantong kresek.
Dirga yang tengah fokus menoleh ke arah pak Ramlan yang ada di sisi bed nya. "Hanya ngecek email masuk Pa, takut ada yang penting" ucap Dirga santai diiringi senyum kecil dibibirnya. Wajah yang tadi sempat sedikit tegang, seketika berubah ramah.
"Kesehatan kamu jauh lebih penting kan.....? Lagian soal kerjaan serahkan sama anak buahmu kan bisa?" tatapan tua itu jelas masih menyirat khawatir. Apalagi setelah melihat kondisi Dirga kemaren. Sempat membuat pak Ramlan serasa berada di ujung tanduk.
"Dirga udah sehat, papa nggak usah khawatir berlebihan, lagian tidak semua pekerjaan bisa kita percayakan sama bawahan" Dirga menekan tombol kunci di hape, lalu mengantongi benda persegi itu kedalam celananya. Melerai kedua kaki yang bertaut, dan turun dari bed dengan jemari kaki sibuk menjepit sendal di kaki kiri dan kanan.
"Tapi, walau bagaimana pun, kamu tetap harus istirahat! Ingat pesan dokter, jangan banyak pikiran, apalagi stres!" ucapan tak mau dibantah dari pak Ramlan ke pada Dirga. Ia menatap lekat putranya yang sibuk menunduk mengeluarkan barang dari lemari, ada beberapa kue yang belum sempat di makan, juga beberapa botol air mineral. Dirga memasukkan ke dalam kantong kresek berwarna putih.
"Setelah dari rumah Nia, Dirga istirahat" ucap Dirga bersemangat sesaat setelah ia berdiri tegak dan selesai membereskan botol air mineral yang tadi di pegangnya. Ada hal yang membuat Dirga bersemangat ingin cepat pulang, yaitu Nia. Ia ingin segera bertemu memastikan kondisi Nia, serta memohon maaf pada wanita yang sudah ia hancurkan fisik dan jiwanya.
"Baiklah kalau begitu" akhirnya pak Ramlan menyerah. Namun dalam hati ia bersorak senang. Dirga kembali menjadi Dirga yang lembut kata-katanya, serta bisa di kendalikan. Dirga juga terlihat bersemangat ingin menemui Nia, itu artinya lampu kuning mulai menyala.
***
Setengah jam perjalanan dari rumah sakit, akhirnya mobil pak Ramlan memasuki kompleks perumahan buk Fatimah. Dirga sedikit memelankan laju mobil, selain jalan komplek yang sedikit sempit juga rumah Nia yang mulai kelihatan dari kejauhan.
Begitu melihat pintu rumah yang terbuka, entah kenapa jantung Dirga ikut berdebar tak karuan. Lingkar setir mobil ikut basah karena telapak tangan yang tiba-tiba berkeringat. Dirga dilingkupi rasa takut, wajahnya turut pias, belum apa-apa ia membayangkan penolakan atau mungkin ketakutan Nia padanya. Bagaimana tidak, malam itu, Dirga telah menorehkan trauma yang mendalam pada Nia.
__ADS_1
"Ga....! Ayok.....! kenapa malah melamun?" pak Ramlan yang bersiap turun menatap lekat Dirga yang mematung dengan tatapan mengarah ke rumah Nia.
Dirga yang tersadar, cepat menoleh pada pak Ramlan, senyum gugup jelas tampak di wajahnya.
"Kok kamu yang gugup gitu sih.....?" tambah pak Ramlan lagi sambil menatap dalam ke arah Dirga.
"Eng...enggak" Ucap Dirga terbata,dan berpura-pura sibuk menormalkan gigi mobil dan menarik tuas rem tangan, guna mengalihkan perhatian pak Ramlan.
Melihat tingkah Dirga, membuat pak Ramlan geleng-geleng kepala dan tersenyum dalam hati. Si Dirga yang keras kepala ternyata bisa juga grogi begini.
"Assalamualaikum......!" pak Ramlan mengucap salam sembari celingukan menatap ke dalam rumah yang pintunya memang di biarkan terbuka.
Sekian detik menunggu, belum ada orang yang menjawab salam. Pak Ramlan menoleh Dirga. Dirga yang berdiri di belakang pak Ramlan tampak sedikit gelisah.
Belum juga ada yang menjawab.
"Orangnya mungkin lagi di kamar mandi kali pa, kita tunggu bentar lagi" saran Dirga. Ia bergeser dari belakang pak Ramlan, pindah duduk di kursi plastik yang ada di teras.
Tidak lama terdengar sahutan salam dari dalam, "walaikumsalam....." seorang ibuk-ibuk berdaster sedikit tergopoh menghampiri orang yang bertamu.
Mendengar jawaban salam, Dirga yang barusan duduk ikut bangkit, dan berdiri di samping pak Ramlan.
"Eh.....ada pak Ramlan, ucap buk Ning.
"Ia buk....." senyum terkembang dibibir pak Ramlan, ia sangat mengenal siapa buk Ning. Karena pak Ramlan lah yang mencarikan serta membayarkan kontrakan untuk buk Fatimah dulunya.
__ADS_1
"Ada perlu apa ya pak?" ucap buk Ning sesaat selesai bersalaman dengan pak Ramlan juga Dirga.
"Buk Fatimah ada?" tunjuk pak Ramlan dengan wajah kearah dalam rumah. Kalau Nia di jam segini pasti bekerja, pikir pak Ramlan.
"Lho.......emang pak Ramlan nggak tau, atau nggak di kasih tau?" tanya buk Ning dengan kening berkerut mata memicing, menelisik ke arah pak Ramlan.
"Emang kenapa?" Dirga yang menyambung tanya sedikit mendekat ke arah buk Ning. Ia sedang dilanda cemas, takut hal buruk terjadi pada Nia akibat ulahnya kemaren.
Buk Ning menatap Dirga lalu kembali ke wajah pak Ramlan, "mereka sudah pindah?" ucapnya singkat dengan bibir terjatuh setelahnya.
"Pindah???" pak Ramlan dan Dirga berucap bersamaan.
Buk Ning hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa pindah? Emang mereka pindah kemana?" tanya Dirga cepat.
"Kalau soal itu saya kurang tau, soalnya tadi subuh buk Fatimah dan Nia datang kerumah hanya ngembaliin kunci. Saya tidak sempat juga untuk bertanya banyak, soalnya mereka terlihat buru-buru. Setelah menyerahkan kunci mereka langsung pamit pergi" buk Ning menjelaskan apa yang memang terjadi tadi subuh.
Dirga dan Pak Ramlan saling pandang, keduanya menyirat bimbang yang sama besar. Dirga menganggap kepergian Nia ada hubungan dengan apa yang telah ia lakukan ke Nia dan memang itu yang sebenarnya. Sedang pak Ramlan menganggap kedatangannya kemarin lah yang membuat mereka pergi. Karena saat itu pak Ramlan sempat membahas masalah perjodohan lagi.
"Apa mereka nggak bilang, kemana gitu, buk?" Dirga masih kekeh ingin tau.
"Nggak, mereka nggak ada bilang apa-apa" sahut buk Ning lemah. Membuat Dirga patah semangat.
Bersambung.....
__ADS_1