GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 33


__ADS_3

Obat warung sudah diminum dua jam yang lalu. Panas Nia sempat turun, ditiga puluh menit setelah obat ditelan. Sayangnya, hanya mampu mendinginkan sekitar satu jam saja, setelahnya tubuh Nia kembali panas. Malah sekarang di jam sembilan pagi, Nia merasakan reaksi luar biasa. Panas terasa membakar sekujur tubuh. Mata perih dan persendian yang terasa ngilu luar biasa.


Buk Fatimah berusaha membantu menurunkan panas Nia dengan mengompres menggunakan air hangat. Sudah lima belas menitan ia duduk di samping Nia. Akhirnya sedikit putus asa, panas Nia tak kunjung turun.


"Kita ke puskesmas ya...nak?! Ibuk khawatir takutnya bukan demam biasa" buk Fatimah meletakkan punggung tangannya di kening Nia. Panas. Semakin menambah bimbang di hatinya.


Mata Nia tertutup rapat. Terkadang terdengar erangan. Kening berkerut menahan sakit. "Nggak usah buk, palingan sehari dua demamnya, ntar juga sembuh sendiri" ujar Nia pelan.


"Andai nak Abrar masih di sini, pasti mudah dimintai tolong, setidaknya ia bisa meresepkan obat yang pas untuk Nia"


"Buk.....nggak usah nyebut kak Abrar terus. Diakan juga ada kewajiban. Lagian Nia cuma demam biasa. Nggak perlu diperiksa-periksa"


***


Di kota


Geby tertawa penuh kemenangan. Matanya berbinar bahagia, puas saat memandangi layar smartphonenya. Sosial media dipenuhi pemberitaan tentang dirinya juga Dirga.


Si Dirga laki-laki sombong, sebentar lagi akan menghadapi kehancuran dan bertekuk lutut di bawah telapak kakinya. Wah....tidak sabar rasanya Geby menyaksikan saat itu. Pasti sangat menarik. Seringai licik semakin menjadi disudut bibirnya.


Siapa sangka, cukup berpura-pura menjadi korban pemerkosaan, semua beresss.....seberes beresnya. Jika ditanya kenapa Geby tega melakukan ini semua? Bukankah Dirga pernah menjadi kekasih hatinya?


Jawabannya simple. Cintanya murni hanya pada harta Dirga.


Apa yang dilakukan Geby adalah pembalasan dendam atas apa yang Dirga lakukan padanya. Dua hari yang lalu, Geby di usir paksa untuk meninggalkan apartemen yang sebelumnya dibelikan Dirga untuk dirinya. Keesokan harinya Geby datang ke kantor Dirga untuk memohon agar dimaafkan kesalahannya. Tapi yang ia dapatkan malah sebaliknya, di perlakukan kasar dan dipermalukan di hadapan karyawan di sana.


"Ini balasan atas apa yang udah Lo lakuin ke gue" Geby tersenyum devil. Kembali seruputan nikotin ia hembuskan. Duduk bertumpang kaki di kursi queen yang menghadap keluar kaca dengan view gedung-gedung pencakar langit.


"Gimana kerjaan gue....? Mantapkannnn.....?" laki-laki bermata besar memeluk mesra leher Geby. Ia baru saja menyelesaikan urusan dikamar mandi. Tubuh polosnya hanya terlilit handuk yang membungkus pinggang sebatas lutut. Siapa lagi kalau bukan Bernad.


"Very good....." Geby mencacah puntong rokok ke dalam asbak.


Keduanya tergelak bersamaan, merasakan hiporia atas kemenangan setelah menghancurkan hidup Dirga.


Melihat kejadian pengusiran Geby oleh Dirga dikantor tempo hari, membuat Bernad melakukan penawaran kerja sama. Kata sepakat di dapat. Bernad memberi tumpangan apartemen ke Geby yang kehilangan tempat tinggal. Sebelumnya Geby sempat menginap di hotel. Karena Bara yang menjadi partner ke dua, tidak lagi mau menerima dirinya.

__ADS_1


Mereka yang merasa senasib akan membalaskan dendam pada Dirga. Skenario dirancang sedemikian rupa. Lolosnya Geby masuk ke kantor tempo hari juga berkat Bernad yang sengaja menumpangkan Geby di dalam mobilnya.


Bernad jugalah yang menjadi pelaku perekam video Dirga di mobil. Tidak cukup sampai di situ, Bernad turut mengompori saat Dirga di sidang malam itu. Dan parahnya lagi, penyebar video berdurasi tak sampai semenit dengan caption menohok juga ulah si Bernad.


"Misi kita sudah tercapai, sekarang saatnya kita merayakan kemenangan dengan bersenang-senang" Dalam sekali sentakan, tubuh Geby melayang di gendongan Bernad.


Bernad membawa tubuh ramping Geby menuju pembaringan. Akan mengulang apa yang mereka lakukan semalam. Dia menghempas tubuh Geby ke kasur ukuran king size miliknya. Mengungkung tubuh Geby sehingga mata keduanya saling beradu mengisyaratkan gejolak asmara terlarang yang minta untuk segera di tuntaskan.


***


Cuti tahunan telah Dirga dapatkan, sehari sebelum masalah itu terjadi.Setelah pembicaraan serius di meja makan, Dirga dan Pak Ramlan memutuskan untuk bertolak ke kampung halaman Nia. Sebentar menghindar dari masalah yang bakalan berbuntut panjang. Pak Ramlan sudah menelpon seorang pengacara handal sekaligus teman baiknya untuk mengurusi masalah Dirga.


Mobil Rush putih melaju membelah kemacetan lalu lintas. Hanya Dirga dan pak Ramlan yang ada di dalamnya. Sengaja membawa mobil besar untuk menghadapi medan yang nantinya sedikit terjal.


Jam delapan pagi mereka berangkat. Sudah satu setengah jam di perjalanan. Jika tidak ada arah melintang, paling telat dua jam mereka sudah sampai di kampung Nia.


***


"Gimana kondisi Nia?" Cik Uut yang baru sempat menjenguk langsung masuk kamar mendekat ke kasur Nia. Tadi pagi ia mendapat kabar dari buk Fatimah kalau Nia demam. Terlihat buk Fatimah sibuk mengganti kompres di kening Nia.


"Apa tidak sebaiknya di bawa ke puskesmas?" Saran Cik Uut setelah meletakkan punggung tangannya di kening Nia. Cik Uut juga merasa kalau badan Nia sangat panas.


"Kita liat dulu sebentar ya Cik...., soalnya Nia barusan tertidur. Kalau satu jam kedepan tidak ada perubahan kita langsung bawa. Tapi....." buk Fatimah sedikit ragu menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi kenapa?"


"Ke puskesmasnya gimana?"


"Iya ..ya, andai Abrar masih, bisa dimintai tolong. Atau gini aja, nanti biar Cik minta tolong anaknya pak RT. Hanya dia yang punya mobil. Soalnya Nia nggak mungkin kita bawa pakek motor"


"Saya nurut apa katanya Cik aja. Saya orang baru di sini, jadi belum terlalu kenal dengan orang-orang"


"Ia, kamu tenang aja, nanti Cik yang ngomong"


"Makasih Cik..."

__ADS_1


"Ih....nggak usah makasih. Cik baru berencana" tepukan lembut menyentuh bahu buk Fatimah.


Ada senyum dibibir dua sepupu itu.


"Tolong...! Tolong....!!! Jangan.....! Jangan!!!" Nia tiba-tiba berteriak histeris dengan mata yang masih terpejam. Kepalanya membolak ke kanan dan kiri. Sepertinya mimpi buruk kembali menyambangi.


Buk Fatimah dan Cik Uut sontak kaget. Keduanya saling tatap sekilas dengan raut wajah yang sama cemas.


"Nia...! Bangun sayang....!" Buk Fatimah mencoba menyadarkan Nia. Cik Uut sendiri langsung berlari keluar kamar untuk mendapatkan segelas air putih untuk Nia.


"Jangan.....!!!! Tolong kak....., jangan.....!" Nia masih di alam mimpi. Belum juga mau membuka mata, padahal tepukan ringan berkali-kali buk Fatimah lakukan.


"Nia...bangun...nak!" Tangan buk Fatimah meraba kening Nia. Berkeringat, namun panasnya terasa semakin membakar.


"Astagfirullah, panasnya" buk Fatimah sedikiteringis merasakan panasnya tubuh Nia.


"Kita bangunkan dulu Fat, biar enak ngasihnya minum" Cik Uut sudah kembali ke kamar dengan segelas air putih ditangannya.


Cik Uut dan buk Fatimah, baru akan menolong mendudukkan Nia, tapi tubuh Nia bergetar hebat.


"Astagfirullah Fat! Sepertinya Nia kejang" duga Cik Uut.


"Ya Allah..., jadi ini gimana Cik...?" buk Fatimah hampir saja menangis. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Nia.


"Kita bawa ke puskesmas sekarang!, Cik cari bantuan dulu ya?!" Perlahan Cik Uut melepaskan punggung Nia yang hampir ia dudukkan tadi. Buk Fatimah sendiri sudah tak terlalu memperhatikan apa yang di ucapkan Cik Uut barusan, pikirannya hanya terfokus ke Nia.


"Sayang..., bangun nak ..! Jangan buat ibuk takut! Ibuk hanya punya Nia" Air mata tak terbendung lagi. Buk Fatimah tidak bisa lagi menyembunyikan ke khawatirannya.


Dirapikannya anak rambut Nia yang menutup sebagian dahi. Wajah Nia yang pucat, mata yang tertutup rapat dan suara Nia yang sudah menghilang, semakin menambah ketakutan Buk Fatimah.


Di teras rumah Cik Uut melihat mobil putih memasuki pekarangan rumah. Ia yang kalang kabut, langsung berlarian ke arah mobil putih yang barusan berhenti. Dengan tidak sabaran Cik Uut mengetuk pintu kaca mobil. Membuat orang yang ada di dalam mobil ikut khawatir. Pasalnya wajah Cik Uut tersirat cemas.


"Ada apa Cik?" pak Ramlan yang barusan menurunkan kaca mobil langsung bertanya cemas.


"Alhamdulillah, Lan....kamu rupanya, itu tolong....." Cik Uut tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Hanya bahasa tubuhnya menunjuk ke arah rumah buk Fatimah, sedang nafasnya masih ngos-ngosan dilingkupi aura kekalutan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2