GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 48


__ADS_3

Geby memutus tatapan tajamnya. Perhatiannya kini tertuju ke atas meja. Dengan gaya elegan ia menarik sebatang rokok dari bungkus yang tergeletak di atas meja. Di selipkan diantara bibir seksi hasil fileran. Wiss...., persis wanita nakal kebanyakan.


Di pantiknya api dari sebuah tokai. Detik itu juga, bau tembakau mulai menyeruak. Asap putih pun ikut mengepul di udara ber AC. Geby mulai menyeruput nikotin kesukaannya.


Diruang privat ia bebas berbuat, alasannya sudah membayar mahal untuk ruangan itu. Jadi boleh dong hanya sekedar merokok? Tidak akan ada yang berani melarang apa lagi menegur, pikir Geby.


Dirga lupa untuk berkedip. Terpesona. Sungguh ini pemandangan baru baginya. Amazing..., mantan dirut itu baru tau atau boleh jadi baru membuka mata setelah tertidur panjang. Bisa-bisanya selama ini Dirga tak bisa membedakan antara imitasi dan emas sungguhan. Wanita kebanggaannya ternyata tak lebih dari seorang jala** si pecandu nikotin.


Satu persatu kelakuan nakal Geby terbuka. Dulu dia setengah mati menjaga image, biar tetap ayu di mata Dirga. Sekarang tak peduli lagi, tidak masalah juga. Geby merasa bebas. Inilah dia yang sesungguhnya. Inilah dunianya.


Nampak Dirga tertawa sumbang. Ternyata selama ini ia benar-benar di tipu oleh seorang Geby. Capek berdiri ia pun menarik kursi. Duduk bergabung di meja bulat itu.


"Aku tidak menyangka, ternyata kelakuanmu sangat busuk mengalahkan bangkai. Kamu tak lebih dari seorang jala** berkedok putri. Aku sangat menyesal sudah tertipu dengan kepolosanmu!" ucap Dirga penuh kebencian. Marah, kecewa, sesal, itulah yang dirasakan Dirga saat ini.


Geby tertawa mengejek. Asap rokok ditiup ke arah Dirga. Sengaja. Ia ingin membuat Dirga semakin kesal dan marah. "Lalu....? Apa maumu?" tanyanya sok polos.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu, apa maumu yang sebenarnya? Bukankah kamu yang sudah berkhianat dengan Bara, mengapa malah sekarang berpura-pura seolah menjadi korban dan aku yang jadi tersangka? Belum cukup kah pengkhianatan yang kalian lakukan padaku?! Karirku kau hancurkan, begitu pun nama baikku"


Senyum devil terus tersaji dibibir Geby, menakutkan. Setiap kalimat Dirga di sambutnya dengan ejekan. "Seharusnya kamu terima saja kuduakan waktu itu, jangan protes" ucapnya enteng. Ia menganggap apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar. "Sekarang sudah terlambat, aku terlanjur benci. Kalian laki-laki sama saja, setelah menikmati tubuhku, kalian mencampakkan aku tanpa perasaan" Geby mulai tersulut emosi. Ingatannya berputar dikejadian waktu itu. Dimana Dirga dan Bara, sama-sama menolaknya. Padahal ia sudah merayu, mengemis merendahkan diri untuk diterima dan di maafkan.


"Cih......, dasar wanita stres....! Kamu kira aku lelaki bodoh apa? mau berbagi lobang, gila aja kali!" Dirga tertawa sumbang sambil geleng-geleng kepala. Merasa tidak habis pikir bisa-bisanya Geby menjadikan itu sebagai alasan dan membenarkan kelakuan amoralnya. "Andai aku tau dari awal kelakuanmu sama seperti ayam, sungguh mengenalmu pun aku tak sudi" hina Dirga lagi.


"Ayam....?!" tunjuk Geby ke dirinya. Barang kali dia salah dengar. Tapi memang itu yang dikatakan Dirga "Nyatanya kamu sangat menikmati ayam ini. Apalagi bagian ininya" Tak tau malu Geby menyentuh bagian sensitifnya dengan gaya sensual "Apa kamu lupa dulu sering mendesah keenakan dengan ayam ini?" tunjuk Geby pada dirinya lagi. Bibirnya kembali tersenyum meledek. Makin di layan semakin menjadi. Itu lah Geby.


Jengah ngeladen wanita gila itu, Dirga kembali pada tujuan kedatangannya. "Sekarang katakan apa maumu?!" tatap Dirga tajam seakan menguliti wanita berbaju seksi yang tengah tertawa.


Ditanya keinginannya, Geby menegakkan badan dan menggerus puntung rokok yang baru dihisap beberapa kali ke atas piring gelas kopinya. Sekian detik kemudian rokok itu padam.

__ADS_1


Tidak langsung bicara, ia menyeruput kopi yang masih tersisa setengahnya. Kafein dirasa semakin membantu rasa percaya dirinya. Barulah ia kembali menyandarkan punggung di sandaran kursi. Menopang kaki, lalu melipat tangan di dada. Nampak gaya angkuhnya.


"Nikahi aku. Kupastikan akan mencabut laporan juga membuatmu kembali bekerja di perusahaan"


Makin kesini ucapan Geby semakin nyeleneh. Dirga shock luar biasa. Sepertinya perempuan dihadapannya mengalami gangguan kejiwaan. Kalau pun bukan, berarti ia sedang mabuk.


"Kamu gila?!!!" tanya Dirga masih tak percaya.


"Aku serius!!! Malah sangat serius!. Bayi dalam perutku butuh ayah, dan memang kamu ayahnya" telunjuk Geby tepat mengarah ke wajah Dirga.


Makin gila saja si Geby. Sekarang ia malah mengaku hamil anak Dirga. Tak mungkin dong Dirga percaya. Apalagi Dirga bukan satu-satunya lelaki yang menidurinya. Beda halnya dengan Nia.


"Nggak usah ngacok kamu......" ucapan Dirga terputus saat seorang pelayan masuk keruangan mereka.


"Permisi...., ini daftar menunya" pelayan menyodorkan daftar menu ke hadapan Dirga juga Geby.


Jujur, sedikit pun Dirga tidak merasa lapar dan ingin makan. Maunya sekarang satu, menelan Geby hidup-hidup agar berhenti mengacaukan hidupnya yang benar-benar semrawut persis benang kusut.


"Saya pesan yang ini, ini, sama ini" Tunjuk Geby pada gambar makanan. "Minumnya es jeruk saja" ucap Geby ramah dan anggun beda sekali dengan Geby beberapa menit yang lalu. Baru sadar Dirga ternyata wanita ini juga jago acting. Kalau jadi actris boleh jadi ia meraih penghargaan Grammy award.


Pelayan antusias mencatat menu pesanan Geby.Tidak ingin melakukan kesalahan, pelayan membaca ulang apa yang dipesan Geby. "Ada tambahan lagi?" tanyanya sopan.


"Sudah..." jawab Geby ramah.


Sekarang pelayan beralih ke Dirga. " Maaf masnya pesan apa ya?"


Tidak ada sahutan, Dirga larut dalam pemikirannya.

__ADS_1


Geby yang turut memperhatikan cepat ambil tindakan.


"Calon suami saya, menunya di samain aja dengan saya mbak" sahut Geby sumringah.


"Nggak....nggak...! Saya minum jus alpukat saja. Nggak usah makan. Masih kenyang" tolak Dirga datar. Mana mau dia disamakan menunya sama perempuan ular itu.


"Baik..., mas hanya jus alpukat saja kan" pelayan kembali memastikan.


"Ia" jawab Dirga singkat.


Setelah kepergian pelayan, kembali perdebatan dilanjutkan.


"Aku tak akan pernah menikahi mu, meski kamu hamil sekalipun!" tekan Dirga.


"Kamu yakin?! Bagaimana kalau video seronok kita ku sebar, apa keputusanmu tetap sama? Pikirkanlah....! Aku tidak memberi kesempatan dua kali lho"


"Sebenarnya apa tujuanmu ingin dinikahi?"


"Simple, aku ingin anak ini punya ayah ketika lahir, juga mendapat ini dari delapan puluh persen gajimu" tawar Geby.


"Gila....! Memang nggak salah lagi, kamu memang gila. Kalau ingin minta tanggung jawab kenapa tidak sama Bara saja? Karena boleh jadi anak yang kamu kandung punya Bara. Lagian dia kaya raya"


"Aku tidak meminta pendapat. Dan ingat.....! Penawaran ini hanya berlaku satu kali!" ancam Geby lagi.


Dirga terdiam. Ia tau Geby tidak main-main dengan ucapannya. Namun menikahi Geby bukan keputusan yang tepat. Dirga akan menikahi Nia. Ini akan membuat masalah baru nantinya. Wanita itu matre, terbukti sekarang saja ia meminta delapan puluh persen gajinya. Itu artinya hampir semua gaji Dirga akan di kuasai Geby.


Di satu sisi, jika Dirga menolak maka, ia akan kehilangan pekerjaan secara permanen karena Geby akan menskakmat dengan video amoral mereka. Maka jelas perusahaan tidak akan lagi memberi kesempatan untuk Dirga melakukan pembuktian apa pun. Karirnya terancam, nama baik semakin dipertaruhkan dan kesehatan pak Ramlan pun turut jadi hal yang wajib Dirga pertimbangkan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2