
Kantor Bara
Kabar pelecehan yang di lakukan Dirga terhadap Geby sudah di ketahui Bara sejak tadi pagi. Berita itu di dapat dari teman-teman se circle mereka. Berita online juga sempat di baca Bara. Baru membaca judulnya saja membuat Bara melengkungkan sudut bibirnya. Ia tersenyum. Entah untuk apa senyumnya itu.
Lucu..., berita itu sungguh lucu. Ternyata wanita penghangat ranjang plus mantan sekretarisnya itu sungguh luar biasa. Luar biasa dalam hal apa, cukup Bara yang tau.
"Dirga..., Dirga...! Ular di pelihara, sejinak-jinaknya ular, suatu saat ia akan mematok. Mana tau dia yang mana orang yang memelihara dirinya. Kamu terlalu mudah tertipu. Bodoh. Aku yakin sebentar lagi karir yang susah payah kau bangun akan hancur dalam sekelip mata. Dan aku yakin ular itu juga akan datang mencari diriku. Tapi tenang saja, aku akan menyambut ke datangannya....." monolog Bara saat dirinya kembali membaca salah satu berita online yang tak sengaja kembali muncul di beranda salah satu aplikasi yang selalu di baca Bara sebagai seorang pengusaha.
Bara menyandarkan kepala di sandaran kursi kebesarannya. Hape di tangan di letak di atas meja. Sejenak ia tampak merenung. Terdiam dengan tatapan lurus ke depan. Berlangsung cukup lama. Untung seseorang mengetuk pintu. Bara yang terhanyut dalam lamunan, kembali tersadar.
"Masuk!!!"
Seorang laki-laki berkulit hitam, kepala botak bertubuh kekar masuk ke dalam ruangan.
"Katakan!!! Apa yang kau bawa!" Bara langsung to the points. Dia termasuk tipe yang tidak suka basa basi.
"Kita sudah menemukannya.........."
***
Nia terbaring di atas brankar yang barusan di dorong masuk ke dalam UGD oleh dua perawat, sahabat Abrar.
"Nia....?!, astagfirullah .....kamu kenapa?" Kaget bercampur cemas. Abrar mendekati brankar, dan melihat Nia dalam keadaan tak berdaya, pingsan.
Abrar masih tidak percaya dengan apa yang tersaji di depan mata. Bukankah kemaren sore Nia masih baik-baik saja. Pergi kondangan bersama dirinya. Sedikit pun tidak terlihat kalau Nia sedang sakit. Kalau Nia sakit, Abrar tidak akan memaksa Nia untuk ikut dengannya. Hanya saja selera makannya memang terlihat kurang berselera.
"Kamu kenal?!" perawat bernama Cholil di name tag nya, dan orang yang tadi turut mendorong brankar Nia melempar tanya pada Abrar yang sibuk memasang stetoskop di telinga.
"Ia. Dia tetangga sekaligus keluargaku" Abrar celingak-celinguk ke arah pintu UGD. Ia mencari siapa yang membawa Nia ke sana. "Siapa yang mengantar pasien?"
"Ada beberapa orang, mungkin masih di luar" Sahut Cholil yang juga terlihat sibuk menyiapkan alat medis.
Dokter yang biasa bertugas di puskesmas sedang ada acara seminar di salah satu kota, jadilah Abrar yang di percaya memeriksa pasien yang datang untuk berobat.
Belum sempat melanjutkan pembicaraan, pintu UGD ada yang mendorong. Muncul sosok lelaki baya yang tidak asing dimata Abrar, pak Ramlan sang paman. Dibelakangnya ada dua wanita tua yang saling beriringan yaitu Cik Uut dan buk Fatimah.
__ADS_1
Abrar pun menyambut ke datangan pak Ramlan dengan menyalaminya.
"Om....! Kapan sampainya?"
"Siang ini" pak Ramlan menepuk baru sang ponakan.
"Om yang membawa Nia kesini? Emang Nia kenapa om?"
"Ia, Nia demam, tadi kejang sampai pingsan.Tolong cepat ditangani" pak Ramlan beralih menatap brangkar Nia.
"Siap om" Cepat Abrar mendekati brankar Nia. Ia mulai mengecek bola mata dan denyut nadi Nia. Lalu beralih menempelkan stetoskop ke dada Nia. Sedang satu perawat sibuk menembakkan thermogan di kening Nia.
"Berapa?" Abrar menatap Cholil.
"Wah....tinggi banget...., 39,7. Pantasan sampai kejang. Tapi kok bisa pingsan begini ya .....? "
"Pasang infus!" perintah Abrar. Ia tak menjawab Cholil.
Pak Ramlan masih berdiri sambil memperhatikan tim medis yang sibuk menangani Nia. Buk Fatimah dan Cik Uut memilih duduk di kursi plastik yang ada di dalam UGD. Bimbang masih menyelimuti wajah Buk Fatimah, apalagi Nia belum sadarkan diri.
"Ibuk juga kurang tau nak...." Jelas buk Fatimah yang masih tidak percaya kenapa Nia sampai separah ini. "Tadi subuh badan Nia tiba-tiba panas tinggi. Sempat minum parasetamol, tapi dinginnya sebentar doang. Habis itu ada muntah dua kali. Tiap kali ibuk bantu minum, yang masuk hanya sedikit, terus muntah lagi. Dari pagi memang tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya" Dirga yang baru bergabung, berdiri tak jauh dari pintu UGD. Rasa segan untuk berada di posisi lebih dekat. Soalnya tatapan buk Fatimah jelas tak suka padanya. Dirga mendengar apa yang barusan dituturkan buk Fatimah. Ia terdiam sambil mengamati wajah Nia yang pucat. Dirga baru menyadari kalau tubuh Nia jauh lebih kurus dari saat pertemuan terakhir mereka. "Nia juga sempat mengeluhkan kepalanya sakit. Dan siang ini tau-tau kejang tak sadarkan diri" suara buk Fatimah terdengar serak. Air mata tidak bisa lagi ia sembunyikan. Hatinya benar-benar takut, takut hal yang buruk terjadi pada Nia.
Cik Uut yang juga duduk disamping mengelus dipunggung buk Fatimah. Ia pun sama bimbangnya.
Abrar menarik nafas dalam. Sudah banyak kali ia menghadapi pasien. Bahkan yang jauh lebih parah dari Nia juga banyak. Semua bisa dihadapi dengan tenang. Entah kenapa, saat Nia yang dihadapi, Abrar sedikit susah berkonsentrasi. Rasa takut dan bimbang menggelayut dipikirannya.
"Perlu pasang oksigen nggak?" Cholil menatap Abrar, ia baru selesai menyetel laju infus Nia. Yang ditatap terlihat diam memandangi pasien.
Abrar menoleh Cholil yang berdiri di seberangnya "Kita lihat dulu, soalnya tidak ada tanda-tanda sesak" Cholil mengangguk. Ia pun berlalu membawa sampah medis untuk dibuang di tempat khusus.
Abrar sendiri masih sibuk menyuntikkan obat penurun panas di infus Nia. Setelah seorang perawat yang membantu Abrar datang membawa nampan berisi obat-obatan "Kita tunggu setengah jam lagi, sekarang Nia masih dalam tahap observasi, biarkan obat bekerja dulu"
"Nia baik-baik saja kan nak....?" cemas buk Fatimah. Ia sangat berharap Abrar bisa menolong Nia.
"Insyaallah buk..., kita doakan yang terbaik" ucap Abrar di iringi senyum kecil. Berusaha terlihat semuanya baik-baik saja, agar buk Fatimah bisa lebih tenang.
__ADS_1
Semua tindakan sudah di berikan. Abrar juga baru selesai mencuci tangan. Nia masih terbaring tak sadarkan diri. Akan ada perawat yang terus memantau perkembangannya. Abrar yang meminta sendiri. Dan mengabari jika Nia adalah keluarganya. Sudah barang tentu pelayanan akan semakin dimaksimalkan.
Melihat tindakan sudah selesai di lakukan, diam-diam Dirga keluar dari ruang UGD. Ia berjalan ke arah kantin yang ada di samping bangunan puskesmas. Dirga baru merasakan tenggorokannya kering, jadilah ia meraih sebotol air mineral yang tersedia di atas meja kantin sambil duduk menenangkan pikiran.
Sungguh saat ini otak Dirga berserabut dengan banyaknya masalah yang di hadapi. Apalagi saat memarkirkan mobil tadi, ada yang menelpon dirinya. Menyampaikan kabar yang kurang sedap di telinga, tentang kasusnya kemarin.
Penjaga kantin yang tak lain seorang ibuk-ibuk berusia lima puluhan, datang menyapa Dirga. "Mau makan apa mas?" tanyanya ramah, tidak ketinggalan senyum manis mengikuti tutur katanya.
"Nggak buk, minum saja" tolak Dirga sopan. Ia memang belum merasakan lapar.
"Oh...baiklah....silakan!" Kantin lagi sepi, karena jam istirahat sudah berakhir. Ibuk itu turut duduk di sebrang Dirga. Orangnya memang terlihat ramah. "Siapa yang berobat mas?" tanyanya lagi sengaja berbasa basi untuk membuka obrolan.
Dirga yang baru selesai membahasi tenggorokan, kembali menutup botol air mineral. "Keluarga, katanya demam, saat di bawa tadi dalam kondisi pingsan. Kata perawatnya kemungkinan karena dehidrasi"
"Owalah......, parah berarti ya.....? Udah lama demamnya?"
"Katanya baru tadi pagi. Tapi nggak tau juga kok bisa separah itu. Ada muntah-muntah juga katanya, makanya sampai dehidrasi"
Ibuk kantin serius mendengar penjelasan Dirga. "Yang sakit ini laki-laki apa perempuan?"
"Perempuan"
"Anak-anak apa dewasa?"
"Masih ga...., belum nikah" Dirga hampir menyebutkan kata 'gadis' namun cepat otaknya meralat, karena kondisi Nia tak lagi perawan. Jadilah yang keluar kata 'belum nikah'.
"oh........" Oh yang keluar tidak biasa. Dirga yang menangkap kejanggalan dari ucapan ibuk kantin sontak kembali bertanya.
"Emang kenapa buk....? Kok ibuk kayak memikirkan sesuatu?" selidik Dirga.
"Maaf kata mas ya...." suara ibuk kantin berubah pelan. Malah terkesan berbisik. Dirga menautkan kedua alisnya. "Emang keluarga mas ini punya pacar nggak?"
"Kurang tau juga buk" Dirga merasa ibuk kantin ini sedikit aneh. Tadi bahasnya masalah sakit kenapa lari ke masalah punya pacar.
Bersambung......
__ADS_1