
Jam delapan malam Bara tiba di rumah sakit tempat Nia di rawat. Lelaki dewasa itu langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruangan pasien atas nama Sania. beruntung jam besok sampai jam sembilan malam. Masih ada satu jam yang bisa ia manfaatkan. Bara masuk sendirian. David dibiarkan menunggu di parkiran.
Dengan ramah perawat jaga mengatakan kalau Nia sudah di pindah diruang perawatan kelas satu yang ada di lantai satu khusus ruang tulip. Nomornya juga satu. Sebelum pergi, Bara mengucap terima kasih diikuti senyum ramah.
Kini lelaki jangkung itu, berdiri tepat diruang yang di sebutkan perawat tadi. Dari kaca yang ada di pintu, bisa ia lihat Dirga yang tengah duduk menunggui Nia. Berarti benar, ini kamarnya.
Awalnya ragu untuk Bara mengetuk pintu. Setelah dipikir-pikir kapan lagi, ini lah waktunya.
Mendengar ada yang mengetuk pintu, Dirga memutar pandangan. Di ambang pintu muncul sosok yang sangat dibencinya. Bara.
Otak yang menyimpan benci bekerja cepat ingin mengusir lelaki itu. Dirga pun bangkit bersamaan dengan Bara yang juga semakin mendekat.
"Mau apa Lo kesini?!" Wajah garang penuh ke tidak sukaan Dirga sambutkan.
"Apa begini cara lo menyambut teman lama, hem...?" Sungguh gaya Bara penuh pongah.
"Gue nggak pernah menganggap teman pada orang yang sudah nusuk gue dari belakang" Dirga menarik kerah baju Bara. Matanya menatap tajam. Gigi pun bergemeletukan menahan marah pada Bara.
Beruntung habis di beri obat, Nia langsung terlelap. Jadi apa pun yang di obrolkan Bara dan Dirga di jamin aman. Terlebih si bibik juga lagi diluar, katanya pamit shalat.
"Santai bro....., gue kesini bawa kabar penting. Yakin Lo nggak mau denger......?! Pancing Bara masih dengan gaya cengengesan. Semakin kesal saja Dirga dibuatnya.
"Katakan!!! Apa yang akan Lo sampaikan!" Dirga melemas kasar cengkraman dari leher baju Bara. Membuat pria berpenampilan parlente itu sedikit terhuyung ke belakang. Hanya sedikit.
Ceklek.....
Pintu ruangan Nia ada yang membuka, ternyata si bibik yang masuk. Beruntung tangan Dirga tidak lagi di leher Bara.
"Eh....maaf permisi" si bibik sedikit sungkan.
"Masuk aja bik! Dan tolong jaga Nia. Saya ada urusan sebentar.
Dirga memberi kode pada Bara. Mereka akan bicara di luar. Sebelum beranjak keluar, Bara menatap lekat wajah pucat Nia. Sungguh terasa nyeri. Wanita itu terlihat sangat kurus dibanding terakhir kali mereka jumpa.
"Ayok.....!!!" ajak Dirga pada Bara yang seolah enggan beranjak dari sana.
__ADS_1
***
"Sekarang katakan kabar apa yang membawa Lo datang kemari!" Dirga memilih mengajak Bara duduk di taman rumah sakit, ketimbang nyantai di kafe. Terlihat aneh memang. Bagi Dirga, tempat inilah yang sesuai untuk mereka. Sebagai antisipasi kalau terjadi baku hantam tidak akan membuat keributan. Karena di malam hari begini, taman sepi. Hanya mereka berdua yang duduk di sana.
"Nyantai dulu bro..., biasanya juga begitu"
"Gue nggak ada waktu untuk basa-basi. Istri gue butuh gue!"
"Jadi benar Lo udah nikah sama si cacat itu?" sengaja Bara memancing Dirga. Karena dulu selalu kata itu yang keluar dari bibir Dirga untuk Nia. Si CACAT.
"Tutup mulut Lo!!!" kali ini Dirga benar-benar panas. Rasanya ingin ia libas si Bara itu.
"Lho.....? Bukannya itu yang dulu sering Lo ucapkan. Salahnya di mana coba?"
"Itu dulu. Sekarang beda. Nia adalah istri gue..."
"Bukannya Si Geby yang istri Lo?" sengaja Bara memancing Dirga.
"Tau dari mana Lo?" Kenapa bisa si Bara tau tentang pernikahannya dengan si Geby? Kalau sampai pak Ramlan atau pun Nia tau bisa semakin runyam urusannya.
"Alah.... Yang begituan mudah bagi gue untuk mencari tau. Motif Lo nikahin Nia juga gue tau. Nia Lo perkosa kan....?" fakta yang semakin mengejutkan bagi Dirga. Kenapa Bara mengetahui semua tentang dirinya. Dirga menatap penuh tanya pada lelaki yang masih memasang gaya pongah.
"Ni......!" Bara menyodorkan hape miliknya ke hadapan Dirga.
Dengan ragu dan terpaksa Dirga raih benda itu. Dalam kepalanya ini pasti berhubungan dengan Videonya yang akan di sebarkan Geby. Antara ingin membuka dan membiarkan saja.
Bara mengangguk, artinya buka saja.
Dirga pun mengikuti. Kelihatan kening Dirga berkerut, ia merasa tidak percaya akan apa yang tersaji di depan mata. Benarkah ini? Tapi kenapa Bara rela melakukannya? Ada motif apa lagi mantan temannya itu.
Sampailah video itu berhasil diselesaikan Dirga. Lelaki itu menatap lekat Bara yang menekuri paping taman.
"Anggap saja itu penebus kesalahan gue ke Lo. Asal Lo tau, gue nggak pernah ada niat untuk merusak persahabatan kita. Wanita ular itulah yang selalu menyodorkan tubuhnya ke gue. Awal-awal gue bisa nolak. Namun kelamaan mana tahan gue. " Bara terkekeh menertawakan kebodohannya.
Sedang Dirga merasa tidak percaya akan apa yang di katakan Bara. Kemana hilangnya Bara yang angkuh? Bukan sehari dua mereka berteman jadi Dirga sangat tau bagaimana Bara.
__ADS_1
"Gunakanlah Video itu untuk membersihkan nama Lo! Gue yakin semua akan beres. Hanya satu minta gue...." Bara terlihat ragu melanjutkan permintaannya.
"Apa?!" tatapan Dirga menuntut. Sehingga dua pasang mata elang saling bertubrukan.
"Jaga Nia sebaik mungkin! Dia gadis yang baik, jangan pernah menyia-nyiakan dia. Jika sampai itu yang Lo lakuin gue nggak akan tinggal diam. Saat itu, bukan hanya pacar Lo yang gue rampas, melainkan istri Lo"
Bug.....
Satu tinjuan kecil Dirga layangkan di lengan Bara. Sungguh Dirga masih tak menyangka dengan ke absurd tan sahabat gilanya itu. Ya..., setelah ini mungkin hubungan keduanya akan kembali membaik.
Keduanya tertawa bersama. Sudah lama rasanya mereka tidak menikmati suasana itu.
Tawa mereka mereda. Kali ini wajah Dirga kembali di sergap gelisah. Masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa lagi Lo...?" kali ini nada bicara mereka sudah mencair. Layaknya saat dulu, jauh sebelum kejadian tak mengenakkan itu.
"Gue takut Geby nyebarin video"
"Video?! Maksud Lo" Bara merasa ambigu dengan ucapan Dirga. Bukankah video yang tersebar dulu bukan lagi masalah, dan akan terselesaikan dengan video yang Dirga pegang sekarang.
"Ia, dulu waktu gue bodoh, mau-maunya gue ngerekam kami lagi enak-enak. Sekarang video itu dijadikan senjata buat ngancam gue"
Plak.....
Satu tamparan lolos menyentuh kepala Dirga.
"Makanya, sebelum ngelakuin sesuatu di pikir dulu"
"Ah....Lo sok bijak sana. Padahal Lo sama gue sama aja"
"Jelas beda, mana mau gue ngerekam video yang gituan. Lain halnya kalau sama bini gue"
"Sok-sokan Lo, istri aja nggak punya" balas Dirga menang setingkat di banding Bara. Setidaknya ia sudah punya istri.
"Ok....gue ngaku kalah sama Lo..., untuk video itu gue akan nyoba bantu Lo"
__ADS_1
"Makasih bro..." ucap Dirga tulus. Keduanya pun berpelukan. Saling membuang kebencian.
Bersambung...