GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 25


__ADS_3

"Lo tau Nia ada di mana?" seperti biasa siang ini Dirga tiba-tiba mampir dikantor Bara. Tidak ada konfirmasi sebelumnya. Untung Bara memang lagi sibuk dengan pekerjaan dan Geby hari ini ijin tidak masuk, dengan alasan kurang enak badan. Jika seperti biasa, mungkin perbuatan laknat Bara dan Geby akan tertangkap tangan.


Kedatangan Dirga kali ini adalah untuk mencari tau keberadaan Nia. Ia yakin bisa mendapat info dari Bara, di karenakan Nia bekerja sebagai babu di rumah sahabatnya itu. Boleh jadi saat ini, Nia ada di apartemen Bara, begitulah pikirnya.


Bara duduk bertumpang kaki, tatapannya lurus penuh selidik ke arah Dirga yang duduk di sebrang meja kerjanya. Tidak langsung menjawab, otak licik Bara sedang dipenuhi tanya. Tumben Dirga datang mencari Nia? Bukankah sepengetahuannya Dirga tidak menyukai Nia? Atau kepergian Nia yang tiba-tiba ada hubungannya dengan Dirga. "Sekarang gue yang nanyak sama Lo, ada urusan apa Lo nyari Nia?" tatapan Bara memicing tajam seakan menguliti isi hati Dirga.


"Serius gue nanyak, kok malah Lo yang balik nanyak?" tutur Dirga tak sabaran.


Bara tertawa sumbang, antara menertawakan juga menyesalkan sikap Dirga yang terkesan plin-plan dan bodoh.


"Serius gue jawab" jawab Bara santai sambil mengelus-elus dagunya.


"Please Bar!" mohon Dirga.


"Gue nggak tau" jawab Bara singkat dan bangkit dari kursi kebesarannya. Ia berjalan ke arah kaca transparan yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit. Kedua tangan di masukkan ke saku celana. Ia berdiri membelakangi Dirga.


Dirga ikut bangkit, bejalan mendekat ke arah Bara berdiri saat ini. "Hanya Lo yang bisa bantu gue. Gue harus tau di mana Nia saat ini" Dirga ikut menatap lurus gedung-gedung tinggi di sebrang kaca.


Sekilas Bara menoleh Dirga yang ikut berdiri di samping sambil memangku tangan di dada. "Sekarang gue yang serius nanyak ke Lo, ada urusan apa Lo nyari Nia? Tumben? Bukannya Lo nggak suka sama dia?"


Dirga menarik nafas dalam, lalu menghembuskan kasar, ia membalas tatapan Bara, " Ada suatu hal yang harus gue pertanggung jawabkan ke Nia. Gue udah ngelakuin hal yang fatal ke dia"


"Whattt? Maksud Lo?" otak Bara langsung mengarah ke hal itu, namun rasionalnya berusaha menolak. Bara percaya Nia bukan wanita seperti wanita pada umumnya yang suka menggadai diri demi apa pun itu. Makanya pertama melihat Nia, Bara berniat menjeratnya agar secara tidak langsung ia bisa memiliki Nia.


"Gue udah ngerusak Nia" kata-kata itu lancar keluar dari mulut Dirga, tanpa hambatan namun penuh penyesalan.

__ADS_1


Deg ....


Jantung Bara serasa lepas dari sarangnya. Masih tidak ingin mempercayai apa yang barusan ia dengar. Namun ucapan Dirga barusan mampu membuat Bara takut.


"Lo becanda kan....?" Bara tertawa hambar mencoba menghibur diri. Tatapannya masih awas membaca keseriusan Dirga.


"Gue serius, makanya gue harus secepatnya bisa nemuin Nia. Lo bisa bantu gue kan...?"


Bukan kata iya yang Dirga terima, melainkan satu bogem mental, mendarat secepat kilat menyambar pipi kanannya.


Bug......


"Sial....! Anj*** Lo..! Kenapa harus Nia ha...!" bentak Bara tak terima. Kuatnya tinjuan Bara membuat Dirga sedikit mundur ke belakang. "Lo bisa main sepuasnya dengan Geby, atau wanita nakal lainnya, kenapa harus gadis polos itu yang Lo rusak!" bentak Bara penuh amarah.


"Andai gue tau pun, gue nggak akan pernah ngasih tau Lo! Nggak akan!" ucap Bara penuh emosi di ikuti gelengan kepala. Setelahnya ia langsung keluar dari ruangan, membanting pintu dengan kasar, meninggalkan Dirga yang keheranan dengan sikapnya. Karena Bara yang Dirga tau, paling cuek orangnya, tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa dirinya melakukan hubungan ****. Malah Bara lah yang mengajari Dirga **** sebelum nikah. Tapi sekarang yang Dirga lihat, Bara begitu membenci dirinya. Seakan ada dua Bara ditubuh yang sama.


***


Seminggu berlalu. Nia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, serta sekuat jiwa menerima takdir yang telah digariskan untuknya. Sudah tiga hari ini pula, Nia mencoba peruntungan mengais sedikit rezeki untuk menyambung hidup, dengan berjualan sarapan pagi di teras rumah.


Alhamdulillahnya, dari hari pertama, jualannya laris manis. Ada, bubur ayam, nasi kuning, nasi uduk serta nasi goreng yang ia jual. Ide jualan ini muncul di hari kedua Nia di sana. Di mana pagi itu ia berniat membeli sarapan untuk mengganjal perut di pagi hari, sayangnya ia tidak menemukan penjual sarapan di tempat ia tinggal. Ada yang berjualan, hanya jaraknya sangat jauh dari tempat tinggal Nia. Tidak ada salahnya Nia mencoba berjualan, siapa tau laku, dan ternyata benar, rezkinya ada di sana.


"Udah habis jualannya?" buk Fatimah duduk dikursi roda, datang menghampiri Nia yang sedang sibuk mengemas bekas jualan yang tergelar di atas meja.


"Alhamdulillah, udah buk" Nia menoleh ke belakang, menatap buk Fatimah yang duduk di kursi roda. "Kayaknya besok Nia mau nambah porsi jualan, soalnya dari kemaren ramai yang nggak kebagian. Baru jam delapan udah pada habis semua" cerita Nia antusias. Ada kebahagiaan tersendiri di sana.

__ADS_1


"Alhamdulillah...., ternyata Allah mudahkan jalan rezki untuk kita"


"Ia Buk, ini juga berkat doa ibuk" tambah Nia lagi. Nia kembali mengemas barang di atas meja.


"Lho....., kok udah berkemas? Udah habis jualannya?" Abrar yang baru selesai joging, berniat sarapan di tempat Nia. Sayangnya, sampai di sana Nia sudah mengemas jualannya.


"Kak Abrar datangnya kesiangan, kalau mau sarapan pagi-pagi udah di boking, biar nggak kehabisan" Ucap Nia sambil terkekeh. Buk Fatimah juga sama. Lucu melihat wajah Abrar yang menyedihkan. Abrar yang memasang wajah sedih terlihat seperti anak kecil yang gagal di beri hadiah.


"Tadi pengennya awal kesini nya, sayangnya pas dilihat di sini ramai terus, jadi milih joging duluan, makannya belakangan. Eh...., tau-tau kehabisan" Abrar mengusap tengkuk dengan satu tangannya.


"Udah..., kak Abrar jangan masang tampang sedih gitu dong...! Mumpung hari ini Nia baik hati, ni.....Nia kasih gratis untuk kak Abrar" Nia menyodorkan satu piring nasi uduk ke hadapan Abrar.


Binar bahagia terpancar tiba-tiba. Dengan suka cita Abrar menerima uluran piring berisi nasi uduk buatan Nia yang menggugah selera Abrar. "Alhamdulillah....., rezeki calon suami soleh" celetuk Abrar asal yang memancing tawa Buk Fatimah juga Nia. "Makasih Nia udah perhatian sama kak Abrar" ucapnya kembali ke PDan.


Seminggu bertetangga dengan Abrar, sedikit sebanyak membuat buk Fatimah dan Nia mengenal sosok Abrar yang suka nge Joc. Kurang sah kalau Abrar tidak ngelawak. Pasti ada...., aja kelakuannya yang mengundang tawa.


"Sama-sama. Kak Abrar mau makan di sini apa bawa pulang?"


"Ke dalam aja, Makan di meja makan Nia aja lah, boleh kan buk...?" toleh Abrar pada buk Fatimah.


"Silakan....! Nggak usah ijin segala, anggap rumah ini kayak rumah nak Abrar sendiri" ucap Buk Fatimah tulus. Ia sudah menganggap Abrar seperti anak sendiri. Nia ikut tersenyum mendengar ucapan ibunya.


"Kalau gitu, sini! Sebagai kompensasi biar kakak yang ngeberesin semua ini ke dalam. Nia bawain ini aja ke meja makan!" Abrar kembali meletakkan nasi uduk ke tangan Nia, sedang dirinya mulai sibuk menyusun segala panci dan yang lainnya. Mengangkut bekas jualan ke dalam rumah. Wajah Abrar di penuhi taman bunga, senyum merekah mengalahkan mawar yang sedang mekar. Membuat siapa saja yang melihat, ikut terpesona, aku terpesona.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2