GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 30


__ADS_3

Tiga hari pasca peristiwa pencidukan Geby dan Bara terjadi, selama itu pula, Dirga mati-matian berusaha memfokuskan diri dengan pekerjaan. Hati yang masih terasa remuk redam setelah dihempaskan secara kejam, juga di tambah rasa bersalah ke Nia. Nia, perempuan yang dibuat sengsara dan dihancurkan hidupnya. Dirga harus secepatnya menemuinya, memohon ampun untuk semua kesalahan.


Satu hal lagi yang paling menguji kesabaran Dirga, yaitu Geby. Perempuan tidak tau malu, yang tiap hari datang mencari Dirga. Tidak peduli tempat, meski Dirga sedang bekerja.


Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Dirga mengerahkan beberapa orang satpam memperketat penjagaan di gerbang dan pintu masuk, guna mencegah Geby masuk ke dalam gedung perkantoran. Bukan tanpa sebab, di hari pertama setelah pencidukan, Geby nekat masuk ke kantor, untuk menemui Dirga. Membuat keributan, sehingga membuat heboh seisi kantor, karena Dirga menolak kehadirannya.


Beruntung semua masalah pekerjaan bisa Dirga selesaikan. Kontrak kerja sama juga telah dilakukan deal. Tinggal pemenuhan persyaratan kerja sama yang akan diselesaikan dalam waktu secepatnya. Paling telat seminggu kedepan. Artinya ada sedikit senggang waktu yang bisa digunakan Dirga untuk menyusul Nia.


Hari ini, dengan langkah ringan Dirga berjalan ke tempat parkiran mobil. Ia akan pulang meninggalkan gedung perkantoran. Jam dipergelangan tangan menunjuk ke angka lima sore. Dirga akan langsung pulang ke rumah untuk menjemput pak Ramlan terlebih dahulu, setelahnya langsung bertolak ke kampung halaman Nia. Namun siapa sangka, langkahnya di cegat. Geby yang entah dengan cara apa, bisa lolos masuk ke kawasan kantor dan menemui dirinya, tepat di parkiran, samping mobil Dirga. Mungkin ia memang sengaja menunggu Dirga di sana.


"Beb....!, please beb?!"


Tangan yang hampir menyentuh handel pintu mobil, urung terlaksana. Dirga menatap nyalang tangan Geby yang bertengger memegang lengannya.


"Mau apa lagi kamu!" tegas, bunyi intonasi Dirga. Ia bicara menoleh tajam ke Geby.


"Aku pengen minta maaf. Aku tau semua ini salahku.... Tapi please ......, maafin aku beb?!" Geby berusaha memelas. Wajah dipasang sesedih dan semenyesal mungkin tanpa melepas tangan Dirga.


Dirga membuang muka, senyuman sinis terbit di bibirnya. Kecewa, masih jelas tergambar di wajahnya. "Maaf...?! Semudah itu? Hemm....? Lo kira dengan maaf bisa memperbaiki semuanya?!"


Tanpa aba-aba, Dirga menarik kasar tangan yang di cengkram Geby. Terlepas. Membuat wanita berpakaian seksi itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Terakhir gue peringatkan!" telunjuk mengarah tepat di muka Geby, " jangan pernah lagi muncul di hadapan gue! GET OUT....!!!" Suara Dirga menggelegar nyaring memenuhi area parkir yang berada di lantai dasar gedung. Membuat orang yang ada di sana tertarik menatap ke duanya.


Seketika wajah Geby pias. Namun tidak menyurutkan usahanya untuk menahan kepergian Dirga. Tidak bisa secara baik-baik, maka secara licik akan dikerjakannya. Secepat mungkin ia menjatuhkan diri, memeluk kedua kaki Dirga. Menangis, memohon di sana.


"Lepas!!!"

__ADS_1


"Nggak...."


"Gue bilang lepas!" Dirga menggeram tertahan. Berusaha lepas dari Geby. Tatapannya mengedar kesekeliling.


"Please....!" wajah Geby semakin tampak memelas, air mata turut luruh membasahi pipi mulusnya. Mungkin dengan cara ini, Dirga akan luluh hatinya.


Ini jam pulang kantor, tentunya semakin banyak mata yang menonton mereka. Tak sedikit yang berbisik-bisik. Tidak ingin kembali membuat kehebohan seperti dua hari yang lalu, akhirnya Dirga mengalah, dengan menyeret Geby masuk ke dalam mobilnya. Sebenarnya Dirga bisa saja bertindak lebih kasar dari ini, hanya saja masih ada rasa malu, dan tak tega pada wanita yang pernah memenuhi ruang hatinya.


Geby tersenyum dalam hati. Tidak sia-sia acting barusan. Kini ia kembali duduk berduaan di dalam mobil Dirga. Satu misi, akan segera ia lancarkan.


Belum ada pergerakan di dalam mobil, Dirga memang tidak berkeinginan untuk pergi. Hanya saja ia menghidupkan mesin dan menyalakan AC agar mendinginkan kabin mobil. Ia mengajak Geby masuk semata-mata menghindari tatapan orang-orang yang sedang memperbincangkan mereka.


"Apa yang ingin Lo bicarakan, bicara sekarang! Waktu gue nggak banyak!" perintah tegas Dirga. Tatapannya lurus menembus dinding kaca depan mobil.


Geby tertunduk sambil mengusap-usap bibir dan wajahnya, mungkin membersihkan sisa air mata. Namun sesuatu diluar nalar terjadi. Secepat kilat Geby menarik bajunya sendiri. Kancing kemeja yang dipakai lepas berhamburan dikursi dan turut berjatuhan di lantai mobil. Baju terbelah, terbuka. Menampakkan kulit mulus dan dua gunung kembar yang tertutup bra berwarna merah menyala.


Semakin menganga saja Dirga. Apa maksud Geby?


Dalam waktu bersamaan orang yang kebetulan berada tidak jauh dari mobil Dirga, berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Astagfirullah....!" beberapa orang berucap istighfar saat menilik ke dalam mobil bergoyang milik Dirga.


Dirga berusaha bangkit, melepaskan diri dari pelukan Geby yang mencengkram tubuhnya, namun belum sempat lepas orang-orang semakin ramai berdatangan mengelilingi mobil. Ada yang membuka pintu ada yang mengabadikan dalam jepretan kamera.


***


"Makasih kak" senyum terkembang, Nia berucap sebelum berlalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Sama-sama. Makasih juga udah nemenin kakak. Jadi orang-orang tidak berpikir lagi yang kakak ini jomblo"


"Maksudnya?" Nia menautkan ke dua alisnya, ambigu dengan ucapan Abrar barusan.


"Lupakan ....." Abrar mengibas udara.


Nia tersenyum, lalu memutar badan dan melangkah meninggalkan Abrar yang masih setia bersandar di kap mobil. Setelah Nia benar-benar masuk, barulah Abrar beranjak masuk ke dalam rumah Cik Uut.


"Ehmmm......, yang baru dating....." sambut Cik Uut.


"Apaan sih.....Mak? Biasa aja kali" Abrar berusaha menetralkan ke adaan. Duduk tepat disamping Cik Uut yang sedang asik menonton acara kesukaannya.


"Mana ada biasa kalau wajah senyum-senyum sendiri, yang ada orang gila" Abrar tertangkap netra Cik Uut tersenyum sendiri sejak masuk ke dalam rumah.


"Mana ada Mak, memang wajah Abrar yang selalu manis jadinya lagi nggak senyum tetap dikira senyum" elak Abrar.


Cik Uut mengerucutnya bibir. Dalam hati ia ikut bahagia di bongkahan es mulai mencair.


"Nggak berangkat?"


"Habis magrib aja Mak, tanggung magrib" Abrar melihat jam dipergelangan tangan sudah mengarah ke angka lima lewat tiga puluh. Artinya sekitar lima belasan menit sudah masuk waktu magrib. Setelah menyelesaikan magrib barulah ia berangkat ke tempat tugas yang ada di kecamatan.


"Apa nggak besok aja? Kan mau sarapan dulu besok paginya" goda Cik Uut lagi.


"Maunya sih...gitu, sayangnya nggak bisa" kekeh Abrar sambil meraih es di dalam gelas yang ada di atas meja.


"Kamu suka sama Nia?"

__ADS_1


*Bersambung.....


__ADS_2