GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 37


__ADS_3

"Buk...!, Nia nggak mau ke rumah sakit. Jangan terlalu khawatir, ntar Nia juga sehat sendiri" Nia merengut menolak di rujuk kerumah sakit yang ada di kabupaten.


Sudah berkali-kali buk Fatimah membujuk, bahkan Cik Uut pun melakukan hal yang sama, hasilnya tetap Nia menolak. Banyak alasan yang terbit dari bibir Nia.


"Ibuk yang merasa bimbang, soalnya tidak ada yang bisa masuk ke mulutmu, semua di muntahkan. Jangankan makan, minum saja nggak bisa. Kalau terus-terusan begini, bisa bahaya sayang" Buk Fatimah memberi pengertian Nia. Dielusnya dengan sayang kepala yang berbalut jilbab. Ia duduk di sisi brankar Nia. Sedang Cik Uut pamit mencari mushala untuk menunaikan shalat zuhur. Sekarang sudah jam satu lewat. Tersisa satu perawat yang tetap stand by di UGD. Perawat yang lain mungkin sedang isoma, termasuk Abrar. Tadi dia ijin untuk shalat.


"Palingan juga masuk angin buk. Lagian Nia udah sering kayak gini" Kembali Nia berargumen.


Senyap. Buk Fatimah memilih diam, tidak ada lagi sahutan, hanya helaan nafas yang terdengar. Buk Fatimah menyerah, Nia tetap kekeh dengan keputusannya. Menolak dirujuk kerumah sakit.


Abrar mendorong pintu kaca UGD. Netranya menyapu ruangan UGD, suasana tampak sepi. Buk Fatimah dan Nia diam-diaman. Perawat yang berjaga terlihat sibuk dengan gadget ditangan. Melihat kehadiran Abrar ia mengangkat pandangan, "Bar....!, gue shalat dulu ya!" Perawat yang bernama Haris di name tag nya, berdiri mengantongi gadget di saku celana.


"Ia silakan!, nasi Lo ada di lemari ruang gue" Kata 'lo, gue' yang digunakan. Keduanya memang sudah akrab.


"Sip...., makasih ya! Gue cabut" Haris menepuk bahu Abrar saat melintas.


Buk Fatimah dan Nia masih diam, sambil mengamati interaksi Abrar dan sang rekan barusan.


Kini sapuan pandangan beralih ke pojok kanan ruangan, ada brankar Nia di sana. Abrar melengkungkan senyum saat pandangannya menangkap sosok wanita yang sudah di kuasai keriput hampir di seluruh tubuhnya, Buk Fatimah. Wanita itu juga tersenyum menatapnya.


Abrar masuk seorang diri. Pak Ramlan dan Dirga sengaja menunggu di luar UGD. Nia belum tau mengenai kehadiran pak Ramlan dan Dirga. Jadi sebaiknya mereka menunggu di luar dulu. Rencana menemui Nia pun, di pending. Takutnya Nia belum bisa menerima kehadiran mereka, sehingga memperburuk kondisi kesehatannya.


Abrar merasa ada yang tak beres antara dua keluarga itu. Kenapa harus menahan diri untuk bertemu Nia? Bukankah orang yang sakit seharusnya akan segera sembuh jika dijenguk oleh keluarga yang telah lama tidak di jumpai.


"Gimana kondisinya? Apa sudah bisa minum?" Abrar mendekati brankar Nia. Pandangannya memindai wajah Nia yang terlihat masih pucat dan lemas, lalu beralih ke air mineral dalam botol yang ada di kepala brankar baru menyusut sekitar dua jari.


"Belum. Masih kayak tadi, tiap kali air menyentuh kerongkongan langsung di tolak" Sahut buk Fatimah dengan keluhan. Bimbang masih menyambangi hati, cuman kadarnya tak setinggi tadi.


Tiga jari Abrar mengelus dagu, otak bekerja keras memikirkan sesuatu yang mengusik hati. Memikirkan apa yang dicetuskan Dirga tadi. Benarkah Nia sedang hamil? Dari mana awal Dirga ber praduga sedemikian rupa. Waras kah otaknya? Bukankah Nia belum menikah. Tapi...., jika dirujuk pada gejala, memang sedikit ada kesamaan.


Abrar harus melakukan pembuktian. Yang jadi persoalan sekarang bagaimana cara membuktikannya? Apa harus melakukan tes agar apa yang menjadi praduga tidak mengotori hati. Tapi bagaimana caranya? Ada kekhawatiran tersendiri di sudut hati Abrar, jika benar Nia hamil, itu artinya obat yang tadi diberikan salah resep. Karena itu tergolong obat keras yang tidak boleh dikonsumsi ibu hamil.


Orang hamil tidak boleh diberi obat sembarangan, apalagi di trisemester pertama. Dimana janin memulai awal kehidupan. Takutnya berpengaruh buruk pada tumbuh kembang janin.


"Nia udah baikan buk...., nggak perlu kerumah sakit. Kita pulang aja!" Nia berusa mendudukkan diri. Sigap Abrar membantu Nia.


"Ibuk liat sendiri kan...., Nia udah sehat! Nggak ada kerumah sakit, kita pulang!. Nia nggak betah di sini. Kak Abrar, tolong dong...., lepasin infusnya! Nia pengen pulang" Sungut Nia menatap Abrar penuh permohonan.


Tarikan nafas Abrar terdengar berat. Baru tau kalau Nia anak yang lumayan keras kepala. "Begini..., Kak Abrar akan ngizinin Nia pulang" kontan mata Nia berbinar. Bibirnya juga tersenyum. "Asal....., kita melakukan tes terlebih dahulu!, guna memastikan kondisi Nia benar-benar sehat. Hanya demam biasa" ucap Abrar serius. Buk Fatimah hanya menyimak.

__ADS_1


Senyum meredup, mata Nia berubah kuyu. Wajahnya sedikit cemberut. "Kenapa harus ada syarat sih.....?!, Nia cuma demam biasa kak, kenapa harus tes lagi sih? panasnya juga udah turun. Ni ..ni....!" Nia menempelkan punggung tangan di keningnya sendiri.


"Mau pulang...? Apa di rujuk.....?" Tegas Abrar lagi. Bukan pilihan tapi lebih kepada kalimat jebakan.


Bayangan menginap dirumah sakit membingkai horor di ingatan Nia, sangat tidak enak. Dulu pasca kecelakaan hebat, Nia harus dirawat berminggu-minggu di rumah sakit. Di suguhi dengan banyak obat-obatan, belum lagi harus melakukan pengecekan ini, itu, sangat melelahkan dan membosankan. Nia tidak ingin pengalaman itu kembali berulang, ia harus pulang. Harus!.


"Nia setuju di tes aja, asalkan Nia bisa segera pulang"


Abrar tersenyum, tingkah Nia terlihat menggemaskan di matanya. Keras kepala namun bisa ditaklukkannya.


"Buk .....!, Abrar panggil perawat perempuan dulu ya!" Abrar bersiap pergi mencari perawat wanita, lebih tepatnya bidan wanita. Soalnya tes yang akan di lakukan sedikit sensitif.


"Tapi kak Abrar janji dulu!" ucap Nia menahan langkah Abrar.


Kedua alis Abrar hampir bertaut. Janji apa yang di maksud Nia.


"Kak Abrar janji....., setelah melakukan tes, Nia boleh pulang" Nia menampilkan mata puppy eyes.


Abrar tersenyum, dikira berjanji apa, ternyata masih seputar kata 'pulang'. Benar-benar seperti anak kecil yang dijanjikan sesuatu.


"Baiklah....., kak Abrar janji" Kalimat penenang, agar Nia tidak kembali memberondong dirinya dengan berbagai kalimat rengekan. Setelah mengatakan itu, Abrar kembali meninggalkan UGD.


"Nia kok gitu sih..., sama kak Abrar? Nggak sopan nak....!" tegur buk Fatimah ke Nia. Sengaja menunggu orang yang dibicarakan keluar ruangan.


"Kamu bisa aja"


***


"Gimana, Nia setuju buat di tes?" Dirga berdiri dari duduknya dan menodong Abrar yang baru menutup pintu UGD. Pak Ramlan mengikuti langkah Dirga. Abrar menyipitkan mata, ada rasa curiga di hatinya. Kenapa Dirga begitu antusias menyuruh Abrar untuk melakukan tes kehamilan ke Nia. Ya....ide untuk mengetes urin Nia datang dari Dirga saat mereka berada diruangan Abrar tadi. Sangat mencurigakan.


Tidak ada sahutan, Abrar hanya mengangguk. Petanda 'iya'. "Abrar mau nyari bidan Umi buat ngetes Nia. Bagaimana pun juga, beliau lebih paham tentang masalah kehamilan" ucap Abrar datar. Jujur ia kurang suka dengan sikap Dirga yang terkesan janggal di mata.


"Jangan lupa kabari kami hasilnya!" tambah pak Ramlan sedikit ketinggalan. Ekspresinya terlihat entah.


Abrar menghentikan langkah. Hanya kepala yang ia putar sembilan puluh derajat. Abrar mengangguk lemah. Detik berikutnya ia membenarkan pandangan lurus kedepan dan langsung masuk ke ruangan dengan papan nama bertuliskan kata 'bidan' yang tertempel di pintu.


***


"Emang Nia mau di tes apa sih nak....?" buk Fatimah mengeluarkan uneg-unegnya. Bertanya tentang tes kesehatan yang terlihat sedikit aneh. Saat ini tinggal Buk Fatimah dan Abrar yang ada di UGD. Keduanya duduk saling berhadapan, hanya terhalang meja yang biasa di gunakan dokter untuk menuliskan data pasien. Nia sudah dibawa bidan Umi ke toilet untuk diambil urinnya.

__ADS_1


Abrar menatap dalam wajah sepuh yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri. Karena sejatinya orang tua Abrar sudah lama tiada. Berat untuk Abrar menyampaikan ini. Tapi mau tidak mau ia harus mengatakan. Bagaimana respon buk Fatimah, biarlah menjadi urusan belakangan.


"Sebelumnya Abrar benar-benar mohon maaf.....buk" Abrar menjeda kalimat, kembali ia memastikan buk Fatimah. Sedang buk Fatimah baru mendengar kata maaf dan ekspresi Abrar yang tidak biasa membuat jantungnya berdebar-debar. Tapi, ia memilih diam mendengarkan kelanjutan kalimat Abrar dengan serius.


"Abrar mohon maaf jika yang Abrar lakukan ini terkesan lancang" Abrar menundukkan pa dangan. Kedua tangannya bertaut di atas meja. Detik berikutnya kembali menatap buk Fatimah "Sebenarnya dari apa yang Abrar lihat, Nia bukan demam biasa" mata buk Fatimah melebar. "Dari gejala yang di alami Nia, Abrar mencurigai sesuatu. Semoga kecurigaan Saya salah" ucap Abrar serius, tatapannya terkunci di wajah buk Fatimah.


"Maksud nak Abrar.....??!"


"Semoga dugaan saya salah buk" Abrar mengulang kalimat yang sama. Karena memang itu yang sangat ia harapkan nantinya, saat hasil tes itu keluar. "Makanya untuk membuktikan kebenarannya saya akan melakukan tes KEHAMILAN"


***


"Mbak...., urinnya nanti ditampung di wadah ini ya....!" Bidan Umi dan Nia, saat ini berada di salah satu toilet. Bidan Umi jugalah yang membantu Nia ke toilet ini. Mengiringi sekaligus membantu membawakan botol infus.


"Gimana caranya buk? Maaf tangan saya cuma satu dan di pasang infus" cicit Nia pelan. Muncul rasa rendah diri. Matanya sekilas menatap bidan Umi. Lalu berpindah ke wadah kecil yang ada di atas bak air.


Bidan Umi tersenyum, senyum yang tulus "Saya akan tetap menemani kamu di sini. Nggak usah malu!"Bidan Umi yakin Nia pasti tidak enakan dengan kehadirannya. " Infus sudah saya matikan. Jadi nggak akan ngalir dan darah pun nggak akan naik ke atas"


Nia sedikit terperangah dengan ucapan bidan yang terkesan ramah ini. Seumur-umur, selama balig ini kali kedua Nia ditemani orang lain saat di WC. Pertama saat dirumah sakit pasca kecelakaan, dan yang kedua sekarang.


"Ayo....nggak usah malu!, semakin cepat semakin bagus. Biar kita tidak berlama-lama di sini" ucap buk umi yang melihat Nia belum ada gerakan.


Akhirnya proses penuh drama terlampaui. Urin yang di tampung sudah di celup testpack. Tinggal menunggu hasil.


"Kok kayak tes kehamilan?" cicit Nia dalam hati, saat matanya memindai apa yang di lakukan buk Umi tadi. Sebelum Abrar membawanya pergi.


Nia dibantu Abrar kembali ke ruang UGD. Bidan Umi lah yang masih setia menunggu hasil yang akan terbaca dalam waktu 2 menitan.


Suasana puskesmas sudah tampak lengang. Karena sejatinya pelayanan hanya sampai di jam dua belas siang. Kecuali untuk yang kondisi darurat akan tetap di layani. Yang tersisa tinggal tenaga medis yang baru akan pulang setelah jam empat sore.


Nia sudah kembali terbaring di brankar UGD. Buk Fatimah membantu Abrar merapikan posisi Nia. Matanya masih sedikit sembab.


"Mata ibuk kenapa?" Tanya Nia saat menangkap mata sang ibu masih menyisakan bekas kesedihan. Abrar menghentikan gerak tangannya. Ia pun turut melirik buk Fatimah. Abrar sangat tau apa penyebab mata buk Fatimah terlihat sembab. Itu ulahnya.


"Eh...., emang mata ibuk kenapa?" buk Fatimah sedikit gelagapan. Sebisa mungkin menormalkan ke adaan.


"Itu....mata......" Belum sempat menyelesaikan kalimat, ucapan Nia terpotong dengan kehadiran bidan Umi. Ada benda persegi panjang mirip termometer yang melekat di salah satu tangannya. Tangan yang lain, membawa selembar kertas. Entah benda apa itu, mungkin hasil pemeriksaan, pikir Nia.


Berbeda dengan Nia yang terlihat biasa malah cenderung sumringah dengan kehadiran bidan Umi, buk Fatimah dan Abrar di lingkupi rasa khawatir yang mampu membuat debaran jantung tiga kali lebih cepat.

__ADS_1


Bersambung......


Mohon dukungannya ya....🙏 adek, kakak, ibuk.....Bestie...🥰 Supaya author semangat update


__ADS_2