GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 38


__ADS_3

Bidan Umi baru saja masuk keruang UGD. Belum ada pembicaraan. Baru saling sapa lewat bahasa tubuh. Wanita berseragam putih itu, memilih duduk di kursi dan meja yang biasa di pakai dokter. Karena memang itu satu-satunya meja yang ada di sana.


Ia sengaja memilih kursi yang ada meja, dikarenakan ada sedikit data yang akan di isikan di lembaran kertas yang bidan Umi bawa.


Tinta hitam mulai digoreskan. Mata sang bidan tampak awas memindai kolom-kolom sesuai data yang akan menempati. Harus teliti, biar tidak terjadi kesalahan.


Bukan hanya membawa selembar kertas, dan satu benda persegi, rupanya buk bidan juga membawa satu buku berwarna pink. Tadi, keberadaan buku itu tertutup oleh selembar kertas putih. Barulah terlihat setelah semua benda diletakkan di atas meja.


Mata Abrar melebar saat netranya menangkap buku berwarna pink. Seonggok daging yang bersemayam di dalam dada tiba-tiba berdenyut nyeri. Aliran darah terasa melaju, mengalir deras dari ujung ke pala ke ujung kaki. Efeknya, ada hawa panas yang sedang menyeruak ke sekujur tubuh Abrar. Entah rasa apa itu? sulit di artikan. Sampai-sampai mukanya pun turut memerah. Untung tak ada yang menyadari, karena semua mata fokus ke bidan Umi.


Berusaha menolak, namun fakta yang tersaji menguatkan bukti. Benarkah Nia hamil? Anak siapa? Itu yang sedang bercokol di kepala. Membuat bibir Abrar terkunci rapat. Susah payah menelan saliva.


Satu tangan menggenggam tangan Nia. Sedang satu tangan Buk Fatimah memilin ujung jilbab. Hatinya dilanda cemas luar biasa. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Ketakutan akan kemungkinan terburuk yang memenuhi isi kepala. Meski ragu, harapnya hasil tes yang di bawa bidan, tidak sesuai dengan dugaan Abrar.


Hah.......! Serasa menunggu putusan hakim yang akan membacakan vonis hukuman. Hukuman atas dosa yang tidak pernah dilakukan. Tapi mana ada orang percaya. Jika itu nanti terbukti, pasti Nia dianggap penzina.


Puas menatap tajam buku bergambar sebuah keluarga kecil bahagia, di mana ada seorang lelaki dewasa menggambarkan sosok ayah. Seorang perempuan menggambarkan sosok ibu dan seorang anak kecil yang tak lain anak dari pasangan tadi. Ketiganya tampak tersenyum bahagia. Membuat hati Abrar kembali terasa di cubit, sakit. Ia merasa kembali di ejek dengan senyum orang-orang yang ada di cover buku pink itu. Sungguh nelangsa nasib Abrar, cintanya kembali kandas. Terhempas.....


Abrar beralih menatap nanar ke arah wanita berjilbab hitam yang terbaring lemah di atas brankar, sedikit miring menghadap ke bidan. Bola mata hitam Abrar, menyiratkan kekecewaan. Entah mengapa Abrar merasa sedang dikhianati. Ditusuk dengan ribuan jarum. Rasanya tak bisa diungkapkan. Perih....


Abrar ibarat bunga yang layu sebelum mekar.


Sepatah kata pun...., belum terucap dari bibir bidan Umi. Nyatanya Abrar sudah membuat kesimpulan sendiri. Sebagai seorang tenaga medis, ia sangat tau. Tau apa maksud buku pink yang sekarang bertengger dihadapan bidan Umi.


"Mbak Nia, apa yang dirasakan sekarang?" bidan Umi memulai sesi tanya jawab. Matanya menangkap sosok Nia di atas brankar. Duduknya menyamping, agar berhadapan dengan Nia. Tidak ketinggalan senyum manis mengiringi tutur katanya. Abrar sedikit bergeser ke ujung kaki Nia, agar tidak menghalangi pandangan Nia dan buk bidan.


Abrar memilih menyandarkan diri di tembok, mencari sandaran biar tetap bisa berdiri tegak, meski hatinya sedang dirobohkan. Sesakit ini rasanya. Padahal ungkapan cinta tak pernah diucap secara nyata. Kebersamaan bersama Nia juga tak seberapa. Boleh dihitung jari mereka bertemu, itu pun secara tak sengaja. Hanya sekali mereka jalan berdua. Kemarin....., saat menghadiri pesta undangan.


Kreakkkk....... (suara pintu UGD di buka).

__ADS_1


Belum sempat Nia menjawab pertanyaan bidan Umi, Cik Uut masuk dengan kresek di tangan. Mungkin ia membeli sesuatu setelah shalat tadi. Pantasan agak lama perginya.


Tanpa di komando semua mata penghuni UGD, langsung beralih menatap Cik Uut.


"Eh .....maaf, lagi ada pemeriksaan ya.....?" Cik Uut berubah kikuk, pasalnya semua mata menubruk dirinya. Semua senyap, hanya senyum yang buk bidan balaskan, seolah menyuruh dia untuk segera duduk diam. Sebab ada yang akan dibicarakan.


Cik Uut memilih meletakkan kresek di lemari kecil yang tersedia di sisi kanan Nia saat ini. Barulah kemudian memutari brankar, ia memilih berdiri disamping Abrar yang bersedekap tangan. Sejenak ia dan Abrar saling tatap dan balas tersenyum. Meski hati sedang perih-perihnya, Abrar tetap memaksakan tersenyum.


"Gimana mbak Nia?" buk bidan kembali mengulang tanya yang belum sempat terjawab.


"Tinggal pusing sama ulu hati rasa di aduk buk...., selebihnya udah nggak ada" jawab Nia seadanya. Memang ia tidak lagi merasakan kepanasan seperti pagi tadi.


"Kalau boleh tau kapan terakhir mbak nya kedatangan tamu bulanan?"


Deg.........


Nia berpikir, berusaha mengingat-ingat kapan ia kedatangan siklus bulanan. Sepertinya ia belum menyadari ada kejanggalan dari pertanyaan bidan barusan. Detik berikutnya Nia mulai mendapat jawaban. Sebulan yang lalu ia mendapat tamu itu, dan sekarang seharusnya tamu itu sudah berkunjung. Tapi.......


Deg........


Jantung Nia menjadi tak karuan, wajah yang sejatinya pucat berubah semakin memutih tak teraliri darah. Nia melirik ke arah buk Fatimah, mata wanita tua itu mulai berkaca-kaca dengan pandangan menekuri lantai.


Apa Nia yang terlalu bodoh sampai-sampai tidak menyadari tes tadi adalah tes kehamilan.


Jemari Nia terasa bergetar di genggaman buk Fatimah. Matanya juga mulai berkaca-kaca. Buk Fatimah mengangkat pandangan. Genggaman tangan dikuatkan. Malah kini dua tangan menggenggam tangan Nia. Ia harus menguatkan Nia. Apa pun itu.


Per sekian detik belum ada jawaban, si bidan kembali bersuara. "Mbak Nia nya lupa ya? Baiklah...., dari hasil tes yang sudah kita lakukan hasilnya PO-SI-TIF. Itu artinya mbak Nia positif HAMIL.


Jlep........

__ADS_1


Jantung semua orang yang ada di ruangan itu terasa berhenti berdetak. Cik Uut sampai menutup mulut dengan satu tangan. Matanya membulat. Ia shock luar biasa.


Abrar membeku, kalimat bidan barusan mampu melumpuhkan syarafnya. Semua terasa kelu.


Tes....


Setetes air mata Nia jatuh dari sudut matanya. Detik bersamaan Dirga dan pak Ramlan masuk keruangan.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Dirga tak sabaran langsung menghampiri si bidan.


Suara itu .....? Sangat tidak asing di rungu Nia.


Deg.....


Jantung Nia semakin tak karuan, terasa ingin lepas dari sarangnya. Bagai slow motion Nia mencoba menggulir pandangan ke sumber suara.


Tubuh Nia menegang......si pe-mer-ko-sa, berada diruang yang sama dengannya. Mata Nia membulat sempurna, tangan yang di pasang infus meraih- raih tubuh buk Fatimah. Nia dilanda ketakutan. Trauma itu kembali datang. Sigap buk Fatimah memeluk kepala Nia. Ditangkupnya wajah sang putri dengan kedua telapak tangan, mengisyaratkan kalau Nia harus tenang.


"Maaf, mas siapa nya mbak Nia?" tidak mungkin bidan menyampaikan hasil tes Nia kesembarang orang. Harus jelas dengan siapa ia bicara, ini demi kode etik.


"Sa- saya" Dirga melirik sekilas ke arah pak Ramlan yang berdiri di sisinya. Pak Ramlan mengangguk. "Saya SUAMINYA"


Deg.......


Kesekian kalinya orang yang ada di ruang itu senam jantung. Bagai naik wahana rollercoaster.....


Apalagi Abrar, dibuat menganga....... Begitupun dengan yang lainnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2