GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 27


__ADS_3

"Beb.....!" Geby berusaha menyentuh tangan Dirga.


"Stop! Jangan sentuh gue! Gue jijik!" Bentak Dirga. Geby berhenti dua langkah di hadapan Dirga sambil mendekap selimut di dada, guna menutup tubuh polosnya. Sedikit pun Dirga tidak membiarkan dirinya disentuh Geby. Dirga jijik, benar-benar merasa jijik. Tidak menyangka sama sekali Geby yang ia cinta dan bangga-banggakan selama ini tak ubah hanya seorang wanita murahan. Dirga menyesal, sangat menyesal selama ini telah mengabaikan nasehat pak Ramlan. Lebih kecewanya lagi, kenapa harus Bara? Kenapa Bara yang dipilih Geby untuk berselingkuh? Atau mungkin ini cara Bara membalas perbuatannya ke Nia. Setega itukah Bara? Dimana persahabatan yang sudah lama mereka bangun?


Dirga menatap tajam Geby "Gue nggak nyangkak kalian sejahat ini. Lo Geby!, mulai hari ini kita putus! Tidak ada lagi yang tersisa diantara kita!" ucap Dirga tegas.


"Nggak...., gue nggak mau putus Beb. Gue masih cinta sama kamu" Geby kembali berusaha meraih Dirga. Namun ditepis Dirga dengan kasar, membuat tubuh Geby sedikit terhuyung kesamping


"Dan Lo Bar, Gue sama sekali nggak habis pikir kenapa bisa Lo setega ini ke gue. Bukannya masih banyak perempuan di luaran sana, kenapa harus Geby yang Lo garap?!" Bahu Dirga naik turun, rasanya oksigen tidak cukup untuk mengaliri rongga dadanya. "Mulai hari ini, anggap kita nggak pernah kenal!" Ucap Dirga tegas. Ia benar-benar kecewa. Sungguh seonggok daging Dirga terasa disayat-sayat dengan sembilu, perihhhh.....


Ekspresi Bara biasa saja, dengan santainya ia turun dari kasur, memunguti boxer yang sebelumnya teronggok asal di lantai. Memakainya lalu duduk bertumpang kaki di sofa yang ada di kamar itu. Memantik api, membakar rokok yang barusan ditarik dari bungkusnya. Sudut bibir tertarik, menerbitkan senyum devil. Entah apa yang ada di otak Bara.


Setelah mengatakan itu, Dirga membalik badan. Tangan mengepal kuat, menahan emosi yang sedang meledak-ledak. Andai Bara bukan sahabatnya, lebih tepatnya mantan sahabat, pasti sudah ia hajar habis-habisan. Bara keluar dari kamar pengkhianatan dengan hati yang hancur sehancur-hancurnya. Dikhianati dua orang yang ia sayangi, dalam waktu yang bersamaan. Mungkinkah ini cara Tuhan membalas kejahatannya selama ini.


Dirga menghapus air mata yang sempat menggenang di sudut matanya. Tanpa menoleh kebelakang, dengan pasti Dirga meninggalkan semuanya. Cukup! cukup kali ini saja!.


"Bar....!, gimana dong?" Geby yang masih diliputi rasa cemas, berjalan mendekati Bara yang asyik menyeruput nikotin sambil bermain kabut asap.


Cukup dua detik Bara melirik Geby, "Gimana apanya?" Bara berucap cuek seakan tidak ada yang terjadi. Ia lebih memilih melanjutkan kembali isapan nikotinnya.


"Lo...liat sendiri kan....?! Dirga sudah mengetahui semuanya, semua pengkhianatan kita!" bentak Geby menggebu-gebu. Sungguh saat ini Geby benar-benar kacau. Rambut berantakan, air mata juga ikut berlinang. Entah apa yang ia rasakan. Belum lagi sisa percintaan beberapa menit lalu, masih menyisakan bekas yang tak karuan di tubuhnya.

__ADS_1


Bara memutar pandangan, menatap nyalang ke arah Geby. Tiba-tiba bangkit dan spontan mencengkram dagu partner ranjangnya. Membuat Geby meringis kesakitan sambil berusaha melepas tangan Bara yang menempel kuat di kulitnya.


"Sakit.... Bar...!" Ucapnya dengan susah payah dan mata yang berkaca-kaca menatap benci pada Bara.


Mata Bara berkilat tajam, masuk ke mata seakan menembus sampai ke dada. "Lo....kira hanya hubungan Lo yang hancur?!"Bara semakin memperkuat cengkramannya, "Apa Lo pikir persahabatan gue? Hem....?! Sekarang Lo malah nyalahin gue?! Dasar perempuan murahan...!, Nggak sadar diri ?!" Bara menghempas kuat tubuh Geby. Untung tubuh Geby terpental ke tempat tidur, jika tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada tulang belulangnya.


"Gue kasih waktu sepuluh menit, tinggalkan apartemen gue! Dan ingat satu hal lagi! mulai hari ini Lo gue pecat!!! Jangan pernah muncul lagi di hadapan gue!!! Jika tidak.........., Lo tau sendiri akibatnya" peringat Bara nyalang. Setelah mengucapkan itu, ia berlalu meninggalkan Geby yang kondisinya nelangsa. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Geby menangis terisak, kedua tangan mencengkram kuat kepala yang terasa pecah. Memikirkan apa yang sedang menimpa dirinya. Tidak berlangsung lama, dengan bersungut-sungut, Geby memungut helaian pakaian yang berserak di lantai. Memakainya cepat, karena Bar hanya memberinya masa sepuluh menit.


"Gue nggak terima kalian perlakukan begini. Setelah apa yang kalian nikmati dari tubuh gue! Gue bersumpah, akan ngebalas ini semua!" janji Geby sebelum meninggalkan apartemen Bara.


***


"Tetttttt......." suara klakson mobil Dirga.


Penghuni jalan yang lain di buat kaget dan menatap ke arah mobil sedan hitam kepunyaan Dirga yang di nilai aneh.


"Kenapa kalian kejam?! Kenapa?! Apa salah gue?!" Rangkaian tanya keluar bebas penuh emosi dari bibir Dirga yang bergetar hebat. Dengan berurai air mata kekecewaan, Dirga tetap memacu kuda besinya secara ugal-ugalan. Dalam mobil ia memaki dua manusia pengkhianat. Sedang diluar mobil, ia yang di maki karena dinilai meresahkan pengguna jalan lainnya.


Tidak punya tujuan lain, tujuan Dirga saat ini hanya ingin pulang kerumah. Menemui orang tua yang selama ini selalu di debatnya, pak Ramlan.

__ADS_1


Lima menit perjalanan, Dirga memasuki pekarangan rumah. Memarkirkan mobil asal dan berlarian meneros masuk ke dalam rumah. Pandangannya menyapu ke ruang TV, kosong, lelaki tua yang dicari tidak ada di sana. Kembali Dirga mengayun kaki, tujuannya tinggal dua, kalau tidak di kamar, di teras belakang lah pak Ramlan berada. Dirga memutuskan ke teras belakang dulu. Dan ternyata benar, pak Ramlan ada di sana sibuk dengan burung-burungnya.


Dirga mematung tepat di pintu sliding kaca. Tatapannya nanar memandangi pak Ramlan.


Merasa ada yang mengawasi, pak Ramlan mengalihkan pandangan dari kandang burung ke arah pintu. " Lho....., kok sudah pulang? Katanya mau ketemu teman?" pak Ramlan menyerngit heran. Belum satu jam Dirga pergi, tau-tau sudah kembali.


"Pak...!" tanpa di aba-aba Dirga berjalan mendekat pada pak Ramlan.


Bug.....


Dirga menjatuhkan diri memeluk tubuh pak Ramlan. Yang dipeluk semakin di penuhi tanda tanya. Namun, balasan pelukan tetap diberikan pak Ramlan.


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Dirga minta maaf pa...., selama ini selalu membangkang papa" sesal Dirga masih di dalam pelukan pak Ramlan.


"Papa sudah lama memaafkan. Semua orang tua pasti menyayangi anaknya. Dan soal perjodohan itu, papa juga minta maaf. Tidak seharusnya papa memaksakan" Dikira pak Ramlan tingkah Dirga ini ada kaitannya dengan masalah perjodohan itu.


Dirga menggeleng. "Dirga menyetujui perjodohan itu pa. Dirga ingin menebus semua kesalahan yang pernah Dirga lakukan ke Nia" putus Dirga pada akhirnya.


Sama sekali tidak menyangka, kalimat itu yang di dengar pak Ramlan, satu kata yang akhirnya keluar dari mulut tua itu, "Alhamdulillah....."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2