
"Enak...?"
"Bangettt...." Abrar melepas sendok, mengacungkan dua jempol ke arah Nia yang duduk di sebrang meja makan. "Malah pengen nambah" tambah Abrar lagi.
"Kak Abrar serius sampai segitunya? Sayangnya nasinya benar-benar sudah habis kak" Nia terkekeh melihat tingkah Abrar.
"Serius..., ini nasi uduk ter....enak, yang pernah kakak makan" kata itu terucap dengan penuh penghayatan.
"Besok lagi aja gimana?"
"Siapa yang nolak, mau...dong... Besok sebelum berangkat kerja, kakak sarapan di sini "
Buk Fatimah yang juga ada di dapur, terkekeh geli mendengar obrolan Nia dan Abrar.
"Serius ...buk, ini nasi ter...enak yang pernah Abrar coba" Abrar turut meyakinkan buk Fatimah. Lengkap dengan wajah dibuat semaksimal mungkin.
"Ia...ibuk percaya" masih terkekeh, buk Fatimah kembali melanjutkan acara mengupas bawang merah untuk rempah jualan Nia.
"Buk....bisa ijin nggak?" tanya Abrar, sesaat selesai menyantap nasi uduk. Sebulir nasi pun tak tersisa di piringnya.
"Ijin apaan, emang ibuk gurunya kak Abrar?" olok Nia sambil menyodorkan segelas teh hangat ke hadapan Abrar.
"Makasih" ucap Abrar diiring senyum. Ia mendongak ke arah Nia yang berdiri di hadapannya.
"Abrar mau ngajak Nia kondangan ntar sore. Nikahan temen, soalnya Abrar nggak punya partner, nggak enak pergi sendiri, di undangan kan tertulis Abrar & partner"
"Ibuk ...." Belum tuntas kalimat buk Fatimah.
"Nggak mau ah...., malu" potong Nia cepat
"Lho...., kok malu sih...? Kan kak Abrar di undang? Kita nggak makan gratis kok, m nanti kak Abrar ngamplop" kekeh Abrar, ia menyeruput teh yang di sajikan Nia.
"Kan yang diundang kak Abrar, bukan Nia"
Sreeet....
Nia menarik kursi, dan duduk di hadapan Abrar.
"Nggak masalah yang penting salah satu diantara kita di undang. Pokoknya jam empat sore kakak jemput, titik, nggak pakek koma"
Abrar menghabiskan teh dalam gelasnya, lalu bangkit.
__ADS_1
"Makasih nasi uduknya!" Abrar sekilas melirik Nia, lalu beralih ke Buk Fatimah yang berada di ujung meja "Buk Abrar pamit ya...! Pengen mandi lanjut nemenin Mak ke pasar, mau belanja katanya"
"Ia sama-sama"
"Da.....Nia...." Abrar berlalu sambil melambaikan tangan ke Nia. Sebelah mata ia kedipkan.
"Ih....nggak jelas" Nia cemberut.
"Kok wajahnya yang kesal gitu?" Buk Fatimah memandang Nia yang cemberut. Abrar sendiri sudah menghilang di balik pintu.
"Gimana nggak kesal, kak Abrar nya maksa. Nia kan nggak mau pergi. Lagian kalau Nia pergi, pasti jadi pusat perhatian. Ujung-ujungnya nanti kak Abrar yang malu" ucap Nia sendu.
"Udah..., jangan suka merendah gitu! Ibuk pengennya Nia yang dulu, penuh percaya diri. Biarin orang ngomong apa, asal kita benar terserah orang mau ngomong apa"
"Nia yang sekarang udah beda buk....." belum selesai melanjutkan kata buk Fatimah cepat memotong.
"Stop!, ibuk nggak mau lagi denger kamu merendah seperti itu! Dimata ibuk, Nia tetaplah Nia, anak ibuk. Ibuk yang lebih tau siapa Nia" Buk Fatimah menyimpan bawang juga pisau ke atas meja. Moodnya mulai tidak enakan.
Nia bangkit dari kursi, cepat ia memeluk Buk Fatimah. Buk Fatimah membalas pelukan Nia. Tidak lupa ia mengelus sayang di kepala Nia yang berbalut jilbab.
"Biarkan orang mau bilang apa, yang ngejalanin kita, bukan mereka" lirih buk Fatimah.
***
"Papa sudah tau ke mana buk Fatimah dan Nia pergi" Pak Ramlan membuka obrolan di meja makan, pagi ini.
Kontan Dirga menghentikan kunyahannya. Ia menatap serius ke arah pak Ramlan. Tatapannya seakan menanyakan kebenaran ucapan Pak Ramlan barusan.
"Kemaren papa menelpon Cik Uut dan katanya Buk Fatimah dan Nia pindah ke sana"
"Serius pa?" tanya Dirga berbinar.
Pak Ramlan mengangguk pasti. "Sudah seminggu mereka di sana. Mereka tinggal dirumah pusaka, samping rumah Cik Uut. Untuk menyambung hidupnya, Nia berjualan sarapan pagi di teras rumah"
Serrrr....
Hati Dirga terasa perih mendengar cerita pak Ramlan barusan. Apalagi Nia yang harus bersusah payah berjualan untuk menyambung hidup mereka. Andai Dirga memperlakukan Nia baik, pasti kejadiannya tidak seperti ini.
"Kita ke sana pa" tangan Dirga menggenggam tangan pak Ramlan yang ada di atas meja.
"Nanti. Bukan sekarang!"
__ADS_1
"Kenapa nggak hari ini aja pa?" Dirga terlihat tak sabaran. Munya sekarang juga.
"Kamu sendiri yang bilang, besok ada meeting penting, jadi selesaikan dulu pekerjaanmu! Yang penting kita sudah tau dimana mereka tinggal. Jadi kamu tenang saja, mereka akan tetap di sana, nggak mungkin pindah lagi"
Akhirnya Dirga mengangguk, mengikuti apa yang pak Ramlan katakan. Karena benar adanya, besok ia ada meeting penting dengan klien baru.
Cepat Dirga menyelesaikan sarapan paginya. Banyak hal yang akan ia bereskan, mumpung dia tidak ke kantor, karena sekarang hari Minggu.
Secepatnya Dirga akan menemui Nia, ia akan memohon maaf atas apa yang sudah ia lakukan ke pada Nia. Ia akan mengganti rugi semua kesalahan yang ia perbuat, baik dari kecelakaan itu, sampai terenggutnya kesucian Nia. Ia yakin, setelah menjelaskan kesalah pahaman ini, Nia akan memaafkannya.
Dirga sudah di mobil, tujuan utamanya ke apartemen Bara. Ia akan menemui sahabatnya itu, dan memperbaiki hubungan mereka yang sempat merenggang karena kesalahan yang dilakukan Dirga.
Kurang tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Dirga sudah terparkir rapi di basement apartemen Bara. Dirga dengan pakaian santainya, turun dari mobil, mengayun kaki menuju pintu masuk apartemen.
Sudah biasa datang dan pergi dengan bebas di apartemen maupun kantor Bara, Dirga masuk setelah sebelumnya menekan beberapa angka sebagai password. Password yang memang dibagikan Bara.
Tepat di ruang tamu, Dirga melihat sekeliling apartemen. Pintu kamar Bara yang tidak tertutup rapat, memungkinkan Dirga mendengar suara-suara erotis dari dalam sana. Pasti Bara ada di sana. Itu sudah dianggap biasa oleh Dirga. Karena dulu ia juga pernah mampir ke apartemen Bara di saat sahabatnya itu bercinta dengan perempuan bayaran.
Dirga menghempas bokong di sofa depan kamar Bara, menunggu si empunya apartemen menuntaskan permainannya. Tidak ingin mendengar suara lacnat, Dirga berusaha mengalihkan perhatian dengan bermain hape. Namun siapa sangka, gerak jemari Dirga terhenti di kala mendengar suara erotis yang tidak asing di telinga. Ia sangat kenal dengan suara yang memekik ke enakan di dalam sana.
"Nggak..., nggak...mungkin" suara hati Dirga menolak suara yang barusan ia dengar. Kepala turut menggeleng.
"Ahhhh......eee....nak....." suara erotis kembali jelas terdengar.
Reflek, tanpa dikomando lagi, Dirga bangkit dari duduknya, dengan langkah lebar ia berjalan ke arah kamar Bara.
Braakkk.....
Dirga mendorong kasar pintu kamar. Alangkah terkejutnya wanita yang sedang bermain pacuan kuda melihat kehadiran laki-laki yang sangat ia kenali.
"Dirga...." ucapnya pelan, dengan wajah diselubungi ketakutan.
Polos tanpa sehelai benang pun, dua anak manusia yang berbeda kelamin, sedang melakukan penyatuan. Dirga menyaksikan pemandangan yang menjijikkan secara live.
Dirga mematung tepat di depan pintu, mulut menganga dan mata membola. Masih belum mempercayai apa yang ada di depan mata. Bara sahabatnya, dan Geby kekasih hatinya sedang mengkhianati dirinya.
Cepat Geby bangkit, turun mencabut diri dari atas tubuh Bara. Ia tarik selimut guna menutupi tubuh polosnya.
"Beb.....!" Geby berusaha menyentuh tangan Dirga.
Bersambung.....
__ADS_1