
Pak Ramlan sudah berada di dalam ruang UGD. Kehadirannya sungguh diwaktu yang tepat. Pasalnya Nia akan segera di pindah ke ruang perawatan.
Buk Fatimah sempat bingung, saat ditanya perawat mau dipindah keruangan apa Nia. Jelas saat ini ia tidak punya biaya. Jangankan untuk membayar biaya rumah sakit yang terkenal mahal ini, untuk makan sehari-hari ia dan Nia mesti berhemat.
"Mau di pindah keruang apa pak, pasiennya?" Akhirnya perawat kembali bertanya pada pak Ramlan. Ketika lelaki tua itu masuk.
Perawat pasti mengira pak Ramlan adalah ayah Nia, atau lebih tepatnya dikira suami buk Fatimah. Sebab buk Fatimah belum memberi keputusan dan mengatakan akan menunggu keputusan keluarga.
Nia harus segera di pindah keruang perawatan. Kondisinya sudah stabil. Tinggal proses pemulihan. Sekarang wanita yang delapan bulanan akan bergelar ibu itu, sedang tertidur dengan damai.
"Ke ruang kelas satu aja sus" jawab pak Ramlan yakin. Seketika membuat buk Fatimah menatap dirinya dengan gelengan ke pala. Isyarat Buk Fatimah keberatan. Ia jelas tidak mampu. Jangankan di kelas satu, di kelas tiga saja mahalnya minta ampun.
Rumah sakit tempat Nia dirawat termasuk salah satu rumah sakit swasta terbaik. Untuk biaya kamar di kelas tiga per malamnya saja, hampir mendekati angka satu jutaan. Apalagi di kelas satu, bisa-bisa mendekati angka dua. Itu hanya biaya kamar, belum obat juga biaya-biaya lainnya. Bisa-bisa per harinya akan menghabiskan jutaan rupiah. Harga yang fantastis di kantong buk Fatimah. Harus pakai apa nanti mereka membayarnya. Sedang duit di dompet tersisa tiga lembar uang merah, dan pecahan kecil lainnya yang bila di total tidak sampai lima puluh ribu.
"Kalau begitu, bapak boleh urus administrasinya dulu pak! Selesai administrasi, nanti kita akan langsung pindahin pasiennya.
"Ia sus!"
"Ayo...pak saya temani ke bagian pendaftaran untuk menentukan kamar!"
Sebelum mengikuti langkah suster, pak Ramlan menyerahkan kantong nasi pada buk Fatimah. "Makanlah! Menjaga orang sakit butuh banyak tenaga" ucap pak Ramlan, lalu beliau membuka langkah.
"Pak...!" buk Fatimah menahan langkah lelaki tua yang tampak lelah. Mengantuk, sudah pasti. Pak Ramlan berhenti, kini ia menatap buk Fatimah yang tertinggal satu langkah darinya. Suster yang tadi sudah keluar dari ruangan.
"Kalau bisa jangan diruangan kelas satu. Terlalu mahal" cicit buk Fatimah pelan. Ia mengutarakan apa yang sejak tadi mengganjal di hati. Belum lagi dikepala berserabut, bimbang memikirkan di mana akan mencari pinjaman.
Pak Ramlan tersenyum, "Nggak masalah, lagian ini untuk calon mantu dan cucu saya. Saya yang akan membayar semua biaya. Buk Fatimah jangan khawatir" ucap pak Ramlan tulus. Ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan buk Fatimah.
"Tapi kami tidak ingin terlalu banyak menyusahkan bapak"
"Jangan bicara seperti itu, Nia tanggung jawab kami. Sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Lagian Nia mengalami ini, juga sebab anak saya" ucap pak Ramlan sedikit tegas. Setelah mengatakan itu, pak Ramlan kembali mengayun langkah.
***
Nia sudah di pindah diruangan seperti yang pak Ramlan katakan. Ruang mawar kelas satu. Meski tidak semewah kamar VIP atau VVIP, setidaknya dikamar kelas satu fasilitasnya cukup nyaman. Ruang yang lebih luas. Karena ia tersendiri tidak seperti di kelas tiga dan dua yang akan berbagi ruangan dengan pasien yang lain. Sehingga sedikit mengganggu kenyamanan pasien dan keluarga.
__ADS_1
Di ruang kelas satu ini sudah dilengkapi dengan AC, TV, lemari tempat menyimpan barang. Lemari pendingin dan sebuah sofa di lengkapi meja berukuran sedang yang dikhususkan untuk keluarga atau pun penjenguk.
Buk Fatimah yang menemani Nia diruangan ini. Pak Ramlan dan Dirga mencari hotel terdekat untuk mereka mengistirahatkan raga.
***
Pagi menyapa.
Belum azan subuh Nia sudah terbangun. Dilihatnya buk Fatimah tertidur pulas di sofa yang posisinya di ujung kaki bed Nia.
Perut Nia terasa keroncongan. Dari kemaren ia melewatkan makan. Sekarang kondisinya tidak sepusing dan semual kemaren. Pasti obat faten lah yang sudah bekerja dengan baik. Pak Ramlan memang meminta dokter memberikan pengobatan yang terbaik. Obat-obatan pun dipesan yang bagus semua. Ia tidak memikirkan harga, yang penting Nia cepat pulih.
Mata Nia memindai botol infus yang tergantung di tiang besi. Sisa setengah.
Kantong kemih terasa penuh. Nia ingin ke toilet. Ingin membangunkan buk Fatimah tidak enak, kesian orang tua itu. Sejak kemaren kurang istirahat.
Sendiri dia juga tidak bisa. Lagi-lagi keterbatasan fisik yang menjadi penyebabnya. Mana bisa Nia hanya mengandalkan satu tangan. Tanpa di duga pintu ruangan ada yang membuka. Kontan Nia menoleh. Ada Dirga di sana.
Nia tak berhijab. Rambutnya tergerai begitu saja. Meski tampak pucat, namun tetap cantik dan imut. Semalam sebelum kembali melanjutkan tidur, Nia melepas jilbab nya. Yang kemudian disimpan buk Fatimah di sandaran sofa.
Nia kembali menegang. Meskipun Dirga tampak mulai berubah dan sudah mengutarakan maafnya pada, namun rasa takut masih menggelayut. Nia takut Dirga kembali berbuat macam-macam.
Nia memalingkan wajah dikala Dirga semakin mendekat ke arah bed nya. Kalau bisa Nia tidak ingin bertemu tatap dengan Dirga.
"Nia?!" panggil Dirga pada wanita yang menoleh kesamping kiri.
Satu yang menjadi pertanyaan, mau apa laki-laki itu keruangan nya, di waktu subuh ini?.
"Kakak kesini bawain kamu cemilan. Kata papa sejak kemaren kamu belum makan. Jadi semalam papa menyuruh kakak untuk membelikan cemilan ini" Ternyata Dirga datang tidak dengan tangan kosong. Ada satu kantong putih berlogokan supermarket ditangannya. "Pengen diantar semalam, tapi kakak capek banget" Dirga mencoba menjelaskan alasan kedatangan dirinya di pagi ini. Nada bicaranya terdengar kaku di rungu. Bagai seorang bawahan yang mencoba berkomunikasi dengan atasan. Seperti kalimat hasil konsepan yang di ujarkan penuh kehati-hatian. Takut salah.
Nia bergeming. Diam dengan posisi masih seperti itu. Hanya bulu mata lentik yang bergerak. Dalam hati Nia berharap Dirga segera keluar dari ruangan. Ia sudah tidak tahan untuk pipis.
Semenit, dua menit setelah meletakkan bungkus plastik ke atas lemari kecil yang ada di samping ke pala bed Nia, Dirga tak kunjung beranjak. Ia betah berdiri mengamati Nia. Sedang yang di amati memasang wajah mengkerut menahan sesuatu yang hampir keluar.
"Kakak kok masih di sini?" akhirnya sebuah tanya bernada ketua tercetus dari Nia. Ia berusaha duduk. Ternyata ngambang itu masih ada.
__ADS_1
"Ha...?" Dirga yang gelagapan. Tidak menyangka akhirnya Nia mau bicara. Soalnya dari kemaren satu kata pun tidak terucap untuknya. Kebetulan nya lagi, Dirga barusan melihat pemandangan pagi yang sangat cantik alami. Jauh berbeda dengan Geby yang berwajah dempul.
Kali ini Nia membuang dulu marah, gengsi atau apa lah itu. "Nia mau ke toilet, kakak ngapain masih di sini?!" masih ketus.
Dirga teringat bagaimana susahnya kemarin waktu Nia akan ke toilet. Jadi, tanpa di minta Ia melepas infus dari tiang.
"Kakak mau ngapain?!" Nia semakin terlonjak kaget.
"Nolongin kamu" ucap Dirga santai.
"Nia bisa sendiri!"
"Udah......., marahnya dilanjutin nanti aja. Mana bisa kamu sendiri ke toilet"
Sebenarnya memang tak bisa, hanya saja Nia masih menaruh benci.
Nia mengunci bibir. Ia pun berusa turun dari bed dengan infus sudah ditangan Dirga. Naasnya ngambang kembali menyerang. Hampir saja Nia mencium dinginnya lantai, jika Dirga tak gesit menangkap.
"Kan......, gimana mau sendiri. Harusnya kamu tu bilang...!, minta tolong saja" omel Dirga. Ia jadi gemes sendiri akan kelakuan Nia.
Tanpa ba, bi, bu, tubuh Nia sudah melayang di gendongan Dirga.
"Kakak mau ngapain?! Nia gelagapan.
"Ngantarin kamu ke toilet lah, emang mau ngapain?" Dirga menarik turunkan alis hitam tebalnya.
Sedetik mata itu mampu menyihir Nia. Untuk Nia cepat sadar, buru-buru ia membuang pandangan, dan mengingatkan diri bahwa orang yang sedang menggendong dirinya, adalah Dirga si penghancur hidupnya.
Dalam diam ada mata yang mengamati interaksi ke duanya. Dia buk Fatimah yang sengaja masih berpura-pura pulas dalam mimpinya. Padahal sejak mendengar ucapan pertama Nia, dia sudah membuka mata.
Dirga mengayun langkah menuju toilet. Ia mendudukkan Nia tepat di atas kloset yang tertutup. Untungnya fantastis di kelas satu, dalam toilet sudah di siapkan tempat menggantung infus. Dirga keluar setelah memastikan semua aman.
Nia bernafas lega setelah hajatnya tersalurkan.
Dirga dengan sigap kembali mengangkat Nia ke bed, setelah calon mama muda selesai dengan urusannya.
__ADS_1
Bersambung........