
Di kota.
Sejak semalam, bahkan sampai menjelang malam lagi, berita Dirga yang diduga melakukan tindakan asusila terus berkembang. Bukan hanya di lingkungan kerja dan para pengusaha. Saking larisnya, berita itu jadi bahan gosipan emak-emak berdaster di tukang sayur.
Umpatan, cibiran bahkan cacian dari ribuan bibir terus ditujukan pada Dirga yang seharian ini tidak terlihat batang hidungnya. Menghilangnya Dirga secara tiba-tiba, semakin memperkuat dugaan netizen jika dia tersangka utama. Padahal faktanya sebelum tuduhan itu muncul, Dirga memang sudah mengajukan cuti dan berencana akan menyusul Nia.
Banyak yang menyayangkan kelakuan bejat Dirga. Terutama orang-orang yang sudah mengenal siapa Dirga. Mereka tidak habis pikir, kenapa bisa laki-laki sesempurna Dirga good looking & good rekening, demi memuaskan syahwatnya rela melakukan itu. Sampai-sampai banyak selintingan kalimat membahas Dirga. Ada yang mencetuskan, "Ih......, ganteng-ganteng mecummm....."
"Ah......aku kan..., jadi ilfill... sama si bos"
"jika memang kepengen kenapa nggak beli? Toh dia laki-laki berduit"
"Padahal kalau pak Dirga yang minta, dengan suka rela saya akan membuka se langka ****, jadi nggak perlu yang kotor-kotor gitu"
"nggak jadi nge pan ...."
"Makanya nikah!"
"kebelet pipis kali ya? Masak on di jam pulang kerja?"
"Pacar sendiri di perkaosss..."
"Di kebiri aja tu bondannya...." dan masih banyak kalimat-kalimat pedas lainnya.
Lain netizen, lain lagi para pemegang saham. Hari ini mereka sepakat melaksanakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) atas kasus yang tengah terjadi pada Dirut mereka. Besok akan di adakan lagi rapat oleh dewan direksi untuk pengambilan keputusan apakah tetap mempertahankan atau membuang Dirga dari perusahaan.
__ADS_1
***
"Kamu yakin dengan menikah bisa membahagiakan Nia? Atau jangan-jangan hanya sebagai cara agar kamu mudah untuk menyakiti Nia?" Selidik buk Fatimah penuh curiga. Dirga mengangkat pandangan. Tatapannya dan Buk Fatimah saling adu. Dirga menggeleng pelan. Kata-kata buk Fatimah tidak lah benar. Dirga ikhlas menikahi Nia. Memang itu kan..., tujuannya datang ke sini.
"Saya benar-benar tulus buk. Saya janji akan bertanggung jawab penuh pada Nia juga bayinya"
"Tanggung jawab yang macam apa? Kamu kira menikah itu gampang?" buk Fatimah menggeleng pelan. Tatapannya terus menatap Dirga ragu. "Harus ada komitmen dari kedua belah pihak. Dilandasi cinta dan kasih sayang yang tulus untuk sama-sama membangun rumah tangga. Tapi kalau bukan dilandasi cinta emang kamu bisa? Yakin bisa hidup bersama, selamanya dengan orang yang tidak dicintai?" suara buk Fatimah terdengar bergetar, ia menjeda ucapannya. "Nia sudah banyak menderita. Jika memang tidak bisa membahagiakan Nia, lebih baik jangan!" tambah buk Fatimah lagi.
Tes....
Setetes air mata buk Fatimah jatuh menandakan perihnya hati saat mengenang penderitaan Nia yang tak berkesudahan.
Dirga sedikit ragu untuk menjawab. Ia kembali menekuri lantai. Perkataan wanita tua itu, memang benar. Orang yang awalnya menikah dengan cinta saja tidak bisa menjalankan komitment mereka untuk selalu menyayangi. Apalagi dia dan Nia, huh......
"Jangan memaksakan diri" buk Fatimah tersenyum kecut "Ntar Nia bukan bahagia, malah semakin kau sakiti. Cukup sudah selama ini kau hina kami dan merusak masa depan putri saya" Sejenak hening. "Insyaallah kalau hanya untuk membesarkan bayinya, tanpa menikah pun Nia bisa" tutur buk Fatimah masih penuh geram.
Pak Ramlan hanya diam. Ia masih menyimak memandangi buk Fatimah dan Dirga secara bergantian.
"Saya tau, saya salah. Jujur kalau bicara cinta saya memang tidak mencintai Nia. Pernikahan ini memang murni rasa tanggung jawab. Apalagi sekarang Nia hamil atas kesalahan saya. Saya tidak ingin anak itu lahir tanpa status yang jelas. Saya tidak mau anak yang tidak berdosa menanggung malu bila orang-orang menanyakan statusnya. Dan di katai anak luar nikah. Ini kesalahan saya, bukan bayi itu. Jadi tolong ibuk izinkan saya menikahi Nia.
Seonggok daging manusia yang tengah terbaring di balik kamar, berdenyut nyeri. Nia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang barusan Dirga ucapkan. Sakit, teramat sakit di hatinya. Pernikahan macam apa yang akan dijalani tanpa cinta? Bagaimana caranya hidup dengan lelaki yang sudah memberi trauma pada kita? Tentunya tidak akan mudah.
Ingin sekali Nia menolak permintaan Dirga itu. Tapi kalau tidak menikah, maka konsekuensinya anaknya kelak akan di ejek, dijadikan bahan gunjingan, bahkan di cemooh orang-orang di lingkungannya. Dihina itu rasanya tidak enak. Nia sudah merasakan semuanya. Nia tidak ingin anak yang baru mulai tumbuh dirahimnya merasakan apa yang pernah ia rasakan.
Itulah yang tidak dimaukan buk Fatimah. Ia tidak ingin ketika cucunya lahir mendapat hinaan yang lebih parah. Nia yang hanya tidak punya tangan sering dihina dan diremehkan. Apalagi seorang anak yang akan terlahir diluar status pernikahan. Pasti akan dikatai anak haram. Buk Fatimah tidak ingin cucunya menerima perlakuan buruk nantinya. Tapi, menikahkan Nia juga bukan solusi. Jelas Dirga yang mengatakan sendiri tidak mencintai Nia, dan hanya karena ingin bertanggung jawab doang. Jika mereka menikah, akan seperti apa rumah tangganya nanti.
__ADS_1
Lama buk Fatimah terdiam. Ia terlihat menimbang-nimbang apa yang barusan diucapkan Dirga. Mungkinkah ia menikahkan Nia? Rasanya tidak mungkin. Dirga penyebab traumanya Nia. Tapi........
Sungguh banyak tapi-tapinya.
"Bagaimana buk?" kini giliran pak Ramlan yang bersuara. Ia masih menunggu keputusan buk Fatimah. Bagaimana pun juga ini menyangkut nasib cucunya. Pasti ia tidak rela jika benih Dirga ini dikatai anak haram. Semua anak yang terlahir itu suci.
"Saya tidak bisa membuat keputusan. Semua ada di Nia".
***
Langit jingga perlahan pergi. Tergantikan malam yang mulai menyambangi. Setelah di bawa pulang ke rumah, kondisi Nia bukannya membaik. Ia malah terus-terusan muntah. Tidak ada sedikit pun makanan yang masuk sejak pagi tadi. Jika dibiarkan Nia akan mengalami dehidrasi. Kondisi ini jelas sangat berbahaya bagi nyawanya juga sang jabang bayi.
"Kita bawa kerumah sakit di kota" akhirnya kata itu yang di putuskan pak Ramlan. Ia punya alasan sendiri kenapa Nia dibawa kesana, bukan ke rumah sakit kecamatan tempat Nia akan dirujuk.
Menjelang isya Buk Fatimah terburu-buru pamit kerumah Cik Uut. Ia mengabari akan ke kota bersama pak Ramlan untuk membawa Nia. Buk Fatimah juga menitipkan rumah pada Cik Uut. Setelah berpamitan Cik Uut langsung masuk ke dalam mobil. Nia harus secepatnya di bawa.
Jarak desa yang buk Fatimah tempati dan kota tempat tinggal Dirga memakan waktu empat jam perjalanan. Meski badan capek, Dirga tetap memaksakan diri kembali melajukan kuda besi.
Untuk penanganan sementara, buk Fatimah tetap memaksakan Nia minum. Alhamdulillah, meski ada yang di muntahkan, setidaknya masih ada sedikit yang masuk ke kerongkongan.
Empat jam perjalanan sudah terlewati. Kini Nia sudah mendapatkan penanganan di salah satu rumah sakit swasta yang ada di kota, tempat tinggal Dirga.
Dirga sendiri tampak kurang baik. Sedari pagi sampai semalam ini, belum ada nasi yang ia makan. Kondisi yang hampir sama dengan apa yang sedang Nia hadapi. Bedanya, Nia memang tidak bisa masuk ke kerongkongan. Sedang Dirga, disebabkan karena banyaknya masalah sehingga nafsu makannya jadi hilang.
Bersambung......
__ADS_1