
Posisi tidur yang tak nyaman membuat Dirga terjaga di dini hari. Tepatnya jam tiga pagi. Diluar rumah terdengar suara hujan. Tidak terlalu lebat. Hanya saja diramaikan oleh suara gemuruh yang saling bersahut membelah kesunyian.
Cuaca dingin, membuat kantong kemih cepat terisi penuh. Dirga bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Saat membuka resleting, baru nyadar, apa yang di kenakan masih sama dengan pakaian kerja kemaren. Masalah yang dihadapi, menguras seluruh waktu dan emosi.
Alang-alang sudah dikamar mandi, Dirga langsung mengguyur tubuh agar lebih segar. Soalnya hanya kemaren pagi ia mandi. Semalam ia melewatkannya.
Keluar dari kamar mandi, hanya berbungkus handuk yang melilit di pinggang. Langkah di ayun menuju ke arah wardrobe yang ada di sebelah kanan kamar mandi. Dalam ruangan yang berukuran lebih kurang 3x4 meter, terdapat lemari kaca yang berbentuk leter u. Tak sengaja tangan yang sibuk memilih baju, menyentuh satu baju koko lengan panjang berwarna putih. Sudah lama ia tak mengenakannya. Mungkin lima tahun silam. Sejenak Dirga termenung. Ada rasa tak biasa bergetar di hatinya.
***
Suhu yang dingin membuat tubuh Nia menggigil. Bibirnya juga terdengar mengerang. Sayup-sayup terdengar dirungu Buk Fatimah yang sudah terbangun dan telah selesai melaksanakan shalat subuh. "Ada apa dengan Nia?" Pikir buk Fatimah.
Sajadah yang digelar dan mukena yang dipakai sudah dirapikan. Disimpan di atas bufet lama yang ada disisi kanan kepala ranjang. Buk Fatimah meraih tongkat yang ada di lantai dekat dengan posisinya menggelar sajadah tadi. Dengan kaki empat, buk Fatimah keluar kamar dan mendekat ke kamar putrinya.
"Nia.....! Kenapa nak....?" seru buk Fatimah di balik pintu. Tidak ada jawaban, malah erangan yang semakin nyaring terdengar.
Ternyata pintu tidak dikunci. Buk Fatimah masuk dan mendekat ke arah ranjang.
Tampak Nia bergelung di dalam selimut. Wajahnya merah dan bibirnya masih terus mengerang. Buk Fatimah curiga Nia sakit.
Ternyata benar, setelah diraba, dahi Nia berkeringat namun terasa panas. "Astagfirullah.....nak....., panas sekali...., Nia kamu demam!. Nia.....! Nia.....!" buk Fatimah menepuk pelan bahu Nia. Tepukan ke dua, Nia terlihat menggeliat dan membuka mata.
"Ibuk....!" Nia mencoba mendudukkan diri, sayang kepala terasa pusing dan berat. Nia meringis memegang kepala yang terasa berdenyut hebat. Kepala kembali terjatuh ke bantal.
"Kamu demam nak..., istirahatlah!"
"Nia belum shalat buk...., jualan juga belum dikemas"
"Nggak usah mikir jualan, badan panas begini. Istirahat saja, jualannya libur dulu ya...!"
"Tapi buk...."
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapi!" potong buk Fatimah tegas.
Nia tak bisa menolak, karena untuk duduk saja ia tak bisa.
"Nia mau shalat"
"Nia tunggu di sini!. Biar ibuk yang siapkan mukena. Jangan wudu', cukup tayamum. Kalau nggak mampu duduk, shalatnya baring aja!"
Tatapan Nia mengikuti buk Fatimah yang bergerak kesana ke mari menyiapkan apa yang di butuhkan Nia.
"Nanti pagi Mak kerumah Cik Uut, barangkali Abrar masih ada, jadi bisa minta tolong dia buat periksa Nia" Buk Fatimah meletakkan mukena di samping Nia yang sedang bertayamum menyapukan telapak tangan ke wajah, lalu kembali menepuk-nepuk debu di dinding dan kembali menyapukan ke tangan sampai siku.
"Nggak perlu buk, kayaknya kak Abrar juga udah pulang semalam. Nanti Nia minta tolong ibuk beliin Paracetamol di warung aja. Insyaallah setelah minum obat, panasnya turun" Mukena putih di raih Nia. Memasangkan bagian kepala, lalu bagian bawahan. Ia duduk membenarkan posisi.
"Tapi kalau panasnya nggak turun-turun kita ke puskesmas ya?! Biar agak siangan nggak apa. Kalau nggak salah ibuk, Senin pelayanan puskesmas sampai jam dua belas siang"
Nia mengangguk dan tersenyum pada orang tua satu-satunya yang Nia punya. Orang tua yang selalu tulus sayang padanya. "Nia shalat dulu ya buk" Dirasa masih bisa duduk, Nia akan shalat duduk saja. Kalau untuk berdiri, jujur Nia tak mampu.
***
Video yang berjudulkan "Dirut Pemerkosa" sontak menjadi trending topik di pemberitaan online dan offline.
Wajah Dirga di dalam mobil saat menindih tubuh Geby dijadikan cover depan. Sungguh sangat menyita perhatian. Tidak ada blur maupun sensor, semua jelas terpampang nyata. Selain sebagai sanki sosial, biar tidak ada lagi yang menjadi korban Dirga. Hanya si wanita yang di blur, dengan alasan kasihan karena dia adalah korban pelecehan.
Pakkkk.......
Koran di hempas kasar dimeja makan. Tepat di depan Dirga yang sedang menikmati sarapan.
"Apa-apaan ini!!!" Wajah pak Ramlan merah padam menahan amarah. Tidak menyangka koran yang selalu dibaca setiap harinya, terkhusus pagi ini menampilkan wajah Dirga sebagai pembuka berita. Jelas pak Ramlan shock. Bukan berita prestasi, melainkan tindakan asusila, pelecehan seksual lah yang di sandang Dirga.
Sebagai orang tua yang sudah membesarkan, Pak Ramlan sangat kenal dengan wajah yang sedang ramai dibincangkan. Dari nama juga pekerjaan benar-benar sama. Itu memang Dirga.
__ADS_1
"Jelaskan!!" Pak Ramlan berbicara tegas penuh amarah tertahan.
Dirga yang terkejut, mendongak menatap sekilas wajah kekecewaan pak Ramlan yang berdiri di hadapannya. Sungguh dalam hati Dirga sudah memprediksi apa yang bakalan terjadi, namun untuk lebih meyakinkan ia memberanikan diri meraih koran yang tergeletak di depan muka. Tidak perlu membuka berlembar-lembar, cukup membenarkan posisi koran, wajah Dirga terpampang nyata di halaman utama. Persis kejadian semalam. Hanya jalan cerita yang banyak di ubah, menyesuaikan selera pembaca, biar orang semakin antusias membacanya.
Menanti penjelasan Dirga, pak Ramlan menarik kursi dan duduk di hadapan Dirga.
Dirga sedikit shock membaca judul yang ada "DIRUT PERUSAHAAN ***** MELAKUKAN PERCOBAAN PEMERKOSAAN" gelengan lemah menyusuri tiap kalimat yang di baca. Semua memojokkan dirinya. Tidak ada satu pun kalimat yang sesuai fakta. Membaca sekilas Dirga sudah tau jalan ceritanya. Lebih baik menutup lembaran koran.
"Jelaskan ke papa! Wanita itu Geby pacarmu kan...? Papa udah sering ngingatin, jangan berhubungan dengan wanita ular itu, tapi apa...." pak Ramlan membuang muka. Jujur ia kecewa.
"Maafin Dirga pa"
"Jadi ini alasan kamu pulang larut semalam?"
Dirga mengangguk lemah. Sambil menatap kosong kopi hitam pahit kesukaannya. "Demi Allah apa yang diberitakan dan kejadian sebenarnya tidaklah seperti itu, ini fitnah"setelah sekian lama, ini kali pertama Dirga kembali membawa nama Tuhan dalam ucapannya.
Pak Ramlan menatap dalam wajah sang putra, kali ini ia tau Dirga bicara apa adanya.
"Apa kamu punya bukti untuk menyangkal semua ini? Karena kita tidak akan dianggap benar selagi tidak bisa memberikan bukti yang kuat"
Dirga menggeleng lemah, karena baik dari rekaman cctv maupun video berdurasi singkat, tampak Dirga memang salah.
"Kalau sudah begini, tinggal hadapi saja!" ucap pak Ramlan putus asa, kembali ia membuang muka, menatap kesembarang arah. Sungguh ia ingin menyelamatkan Dirga, tapi apa yang bisa ia perbuat.
"Inilah alasan kenapa papa tidak pernah menyetujui hubunganmu dn wanita itu. Papa sangat tau siapa dia. Simpanan para pejabat. Suka gonta-ganti pasangan. Open BO juga ia"
Semakin melotot saja mata Dirga mendengar fakta hitam tentang si mantan yang sekarang sedang menjatuhkan dirinya.
"Maafin Dirga pa....!"
"Ia..., papa udah maafin, sekarang tinggal kita hadapi apa yang sudah terjadi" Tidak ada lagi kilatan amarah, yang ada hanya tatapan redup penuh kasih sayang dari pak Ramlan.
__ADS_1
"Mungkin apa yang sedang menimpa Dirga, karma atas apa yang sudah Dirga lakukan ke Nia. Temenin Dirga ketemu Nia pa....! Dirga ingin meminta maaf"
Bersambung.....