GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 55


__ADS_3

"Ibuk jangan tinggalin Nia. Nia pengen ikut ibuk.... hik....hik....." lirih suara tangisan Nia sayup-sayup menyapa rungu Dirga. Sayangnya untuk membuka mata rasanya masih terlalu berat.


"Ibukkkkk......!!!" Nia yang tersadar langsung membuka mata. Nafasnya tersengal, barusan ia bermimpi buruk.


Suara teriakan Nia, mau tak mau menarik Dirga ke alam kesadaran. "Nia....?" serak suara Dirga khas orang bangun tidur.


"Ibuk...kak...., ibuk pergi..." ucap Nia diiringi lelehan air mata.


Dirga yang akalnya kembali berkumpul, cepat memeluk Nia. Di elusnya surai sang istri penuh sayang.


"Nia pengen liat ibuk" Nia mengira jenazah buk Fatimah masih ada di rumah itu.


"Kita keluar kamar ya, tapi sebelum itu Nia cuci muka dulu" bujuk Dirga.


Nia hanya mengangguk lemah. Biar begitu beringsut ia turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Sementara Nia ke kamar mandi, Dirga pun sibuk menyisir rambut dengan jemarinya. Pandangan Dirga tak sengaja melihat gelas yang bertengger di atas nakas. Ternyata setelah dibuka isinya teh yang sudah terasa dingin. Padahal tadi ia meminta si bibik membuat teh hangat. Artinya teh itu sudah lama dibuat, dan mereka ketiduran.


Dirga menoleh ke arah jam dinding. Sudah setengah enam sore. Ia mengusap kasar wajahnya. Benar-benar kebablasan. Pasti pemakaman buk Fatimah sudah selesai di lakukan.


Ceklek ......


Pintu kamar mandi terbuka, muncul Nia dengan wajah yang terlihat lebih segar. Rambutnya di cepol asal. Cantik. Membuat Dirga lupa berkedip.


"Kak ayo....!" tau-taunya Nia sudah berdiri di depan Dirga, lengkap dengan jilbabnya.


"Eh...ia, ayok.....!" Gugup, Dirga tersadar dari keterpakuannya.


Keduanya berjalan beriringan. Suasana rumah tidak seramai tadi. Masih ada beberapa tetangga dekat juga keluarga pak Ramlan. Nia berjalan menuju ruang tamu tempat sng ibu di semayamkan. Nyatanya di sana tidak ada lagi gundukan kain yang menutupi mayat. Nia menatap Dirga penuh tanya.


Melihat anak dan mantunya baru keluar kamar, Pak Ramlan bangkit mendekat.


"Ibuk mana pak?" tanya Nia menuntut.


"Ibumu sudah selesai dimakamkan. Dia sudah tenang di sana. Nia yang sabar ya!" pak Ramlan memegang kedua pundak Nia. "Sekarang kita hanya perlu perbanyak doa untuk beliau"


Mendengar itu, tubuh Nia jatuh merosot. Beruntung pak Ramlan yang masih memegang bahunya bisa menahan tubuh Nia. Dirga pun melakukan hal yang sama.


"Essstttt.....hh......ish....." Nia meringis terlihat kesakitan.


"Nia...?! Kamu kenapa?! Ada yang sakit?!"Dirga sedikit panik.


"Perut Nia sakit kak....., sakit banget....." Nia meringis.


"Ga....bawa kerumah sakit saja! Papa takut terjadi sesuatu dengan Nia"


"Baik pa...." Dirga bersiap mengangkat tubuh Nia. "Bilang bibik, ikut Dirga kerumah sakit pa...!"

__ADS_1


Sengaja Dirga meminta bibik untuk ikut, biar ada yang membantu menjaga Nia.


Pak Ramlan memanggil bibik dan mengambil kunci mobil untuk Dirga. Tidak menunggu lama, Dirga langsung membawa Nia ke rumah sakit.


***


"Kamu yakin ibunya Nia meninggal?"


"Ia bos. Tadi siang meninggalnya. Dan sekarang sudah di makam kan" orang kepercayaan Bara memberi laporan.


"Kalau begitu kamu antar saya ke rumah Dirga!" perintah Bara. Dia ingin datang langsung melihat kondisi wanita yang sempat bersemayam di hatinya.


"Baik bos....."


David dan Bara beranjak pergi. Tujuan keduanya ke rumah Dirga.


***


"Bagaimana istri saya dok?" gopoh Dirga menghampiri dokter yang keluar dari ruang IGD.


"Kita bicara diruangan saya pak!" hanya kalimat itu yang keluar dari bibir dokter berperawakan tinggi tegap. Umurnya sekitar empat puluhan.


Di sini lah Dirga saat ini. Di ruangan dokter, duduk berhadapan dengan dokter yang tadi mengajaknya.


"Sejak kapan istrinya mengalami kram di perut?" dokter mulai bertanya.


"Kurang tau pasti dok, hanya sejak tadi pagi sepertinya kondisi istri saya kurang fit. Ditambah ibunya tadi siang meninggal, mungkin karena itu juga yang mempengaruhi. Padahal beberapa hari yang lalu istri saya sempat dirawat karena ngidam yang berlebihan?"


"Saya sarankan istri bapak di periksa secara menyeluruh ke dokter obigin. Karena saya khawatir ada kelainan dengan kehamilannya"


Deg.....


Seketika bahu Dirga melemas. Belum selesai satu masalah, kembali ujian datang menyergap.


***


"Eh......ada nak Bara, ayo masuk!" Pak Ramlan memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Dirga juga Bara. Karenanya ia bertingkah seperti biasa. Tetap ramah.


"Makasih pak....." Bara menyalami pak Ramlan dan ikut masuk bergabung di ruang tamu.


"Silakan duduk nak...!, maaf hanya di karpet"


"Nggak masalah pak, saya maklum. Oya...., maaf juga baru bisa datang, soalnya tadi ada meeting yang tak bisa ditinggalkan" Bara beralasan. Padahal menjelang magrib ia baru mendapatkan kabar. Itu pun dari orang suruhannya, bukan Dirga.


"Nak Bara sudah menyempatkan datang pun, saya sangat berterima kasih. Saya tau bagaimana kesibukan seorang Bara" ucap pak Ramlan penuh maklum.


Bara tersenyum kecil, matanya terus memindai keseluruh arah. Tidak ia temukan Dirga mau pun Nia.

__ADS_1


Pak Ramlan menyadari tatapan Bara, ia tau laki-laki itu pasti mencari keberadaan Dirga.


"Dirga lagi di rumah sakit. Istrinya tiba-tiba sakit perut"


Pak Ramlan menjawab rasa penasaran Bara.


"Kerumah sakit? Kapan?" tanya Bara penuh ke khawatiran. Bagaimana ia bisa tenang, sementara wanita yang ia cinta sedang tidak baik-baik saja.


"Barusan, sekitar setengah jam yang lalu. Kondisi Nia memang lemah, sebelumnya juga sempat di rawat. Berita duka ini memperburuk kondisinya. Tadi pun ia sempat pingsan. Makanya saya suruh Dirga untuk membawa Nia ke rumah sakit. Biar bisa di periksa dokter ahli" cerita pak Ramlan apa adanya.


"Kalau boleh tau, di rumah sakit mana ya pak?" selidik Bara. Biar mempermudah urusannya nanti.


"Nah...., untuk rumah sakitnya saya kurang tau"


Der......dert.....


Hp di saku pak Ramlan bergetar, memutus obrolan dirinya dan Bara.


"Sebentar nak Bara, bapak angkat telpon dulu, Dirga yang menelpon"


"Silakan pak...."


'Assalamualaikum.....pa!' Dirga.


"Walaikumsalam salam, gimana Nia?"


'Lagi di periksa sama dokter obigin, ada masalah dengan kehamilannya'


"Astagfirullah......, jadi sekarang kamu di rumah sakit mana?" raut wajah cemas tergambar di wajah lelah pak Ramlan.


'Di rumah sakit Harapan pa'


"Rumah sakit Harapan? Yang di jalan xxx ya?" Sepasang kuping yang sejak tadi siaga mencuri dengar, mengesave nama rumah sakit yang barusan pak Ramlan cetuskan.


'Ia benar, ntar tolong bawain baju ganti Dirga dan Nia pa!'


"Ia selesai tahlilan dirumah papa menyusul ke sana"


'makasih pa, assalamualaikum.....'


"Walaikum salam..." telpon di putus, pak Ramlan kembali mengantongi hp nya.


"Maaf pak, sudah magrib, saya pamit undur diri" ucap Bara.


"Oh...iya, terima kasih banyak nak Bara atas kehadirannya. Maaf tidak bisa menjamu"


"Nggak masalah pak, saya sangat maklum"

__ADS_1


Bara bersalaman. Setelah itu ia langsung gegas pulang. Tujuannya kini rumah sakit Harapan tempat Nia di rawat.


Bersambung...


__ADS_2