GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 36


__ADS_3

Niat hati pergi ke kantin untuk menenangkan diri. Nyatanya habis dari sana Dirga malah terlihat lunglai. Jalannya gontai. Tatapannya kosong, persis orang yang lagi banyak beban pikiran. Memang benar Dirga lagi banyak masalah. Belum di kota, belum lagi di sini. Apalagi setelah mendengar kalimat ibuk kantin tadi. Kalimat itulah yang masih terus terngiang di telinga, "Biasanya kalau cirinya gitu, boleh jadi dia HAMIL" kata hamil itulah yang membuat kepala Dirga semakin rasa ingin pecah.


"Disini rupanya" suara pak Ramlan mengagetkan Dirga.


"Papa?!" Dirga mencoba menetralkan air muka. Badan pun ditegakkan dari sandaran kursi.


"Dari mana aja sih...?, papa dari tadi nyariin kamu. Kenapa nggak masuk ke dalam hem......?" Pak Ramlan turut mendudukkan diri di kursi besi yang ada di lorong puskesmas.


"Haus, jadi Dirga ke kantin buat beli minum. Papa mau minum?" Dirga menyodorkan sebotol air mineral yang masih bersegel ke hadapan pak Ramlan.


Tidak menjawab, namun pak Ramlan menerima uluran Dirga.Tangannya sibuk membuka penutup botol, dan bibirnya sibuk bicara. "Nia baru siuman" pak Ramlan menjeda ucapan, ia membasahi tenggorokan terlebih dahulu. Setelah minum beberapa teguk, pak Ramlan kembali menutup botol.


Dirga menatap pak Ramlan. Ia sabar menunggu kelanjutan kalimat yang masih terdengar menggantung.


"Tapi, kata Abrar Nia harus dirujuk kerumah sakit di kabupaten"


"Kenapa sampai dirujuk pa? Emang kondisinya gimana sih...?" Cepat Dirga memotong ucapan pak Ramlan. Sepertinya ada masalah serius akan kesehatan Nia.


"Panasnya memang tidak sepanas tadi, hanya saja Nia tidak bisa minum, apalagi makan. Kondisi ini jelas sangat mengkhawatirkan dan berbahaya. Tadi buk Fatimah nyoba untuk ngasih minum ke Nia. Belum sempat nyampai ke lambung, air yang diminum sudah di muntahkan lagi. Oleh sebab itu, untuk memastikan apa penyebabnya, Abrar menyarankan untuk di lakukan cek up secara menyeluruh" pak Ramlan menatap Dirga yang serius menyimak ucapannya. "Di sini fasilitasnya nggak lengkap, jadi Nia akan di rujuk ke rumah sakit Kabupaten" jelas pak Ramlan panjang lebar.


Makin menjadikan rasa was-was di hati Dirga. Ini masih seputar kondisi kesehatan Nia. Benarkah ciri-ciri yang Nia alami menunjukkan gejala kalau Nia sedang HAMIL. Dirga menarik nafas kasar. Ia menatap kesembarang arah. Kini giliran Dirga yang terasa ingin muntah. Terlalu banyak berpikir, membuat asam lambungnya naik.


"Kamu kenapa?" Jelas pak Ramlan khawatir. Netranya menangkap Dirga yang meringis dengan mata ikut terpejam.

__ADS_1


"Sepertinya asam lambungku naik deh..., pa"


"Ke kantin tadi nggak makan?"


Dirga hanya menjawab dengan gelengan kepala. Selera makannya benar-benar hilang. Tadi pagi hanya sempat sarapan roti. Itu pun hanya secuil. Karena saat Dirga sarapan, pak Ramlan datang dengan kemarahan.


"Om....?, Kak Dirga kenapa?" Abrar yang duduk di salah satu ruangan periksa cepat berdiri menghampiri Pak Ramlan dan Dirga. Kebetulan ia belum sempat menyapa Dirga tadi. Jadilah ia pun menyalami Dirga.


Dirga, kakak sepupu Abrar. Umurnya lebih tua empat tahunan dari Abrar. Tapi untuk urusan wajah keduanya bisa dikira seumuran.


"Sepertinya magh kakakmu kambuh, tolong deh resepin obat magh yang bagus!" pak Ramlan dan Dirga duduk di kursi yang ada di ruangan Abrar.


"Sebentar ya...!" Abrar melangkah keluar ruangan. Sekitar dua menitan ia sudah kembali dengan satu tablet obat magh. "Kakak coba obat ini dulu ya! Biasanya banyak yang cocok. Lebih baik dikunyah dulu baru di telan, biar kerja obat lebih cepat" Abrar menyodorkan satu tablet obat ke hadapan Dirga. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Gimana kondisi Nia? Apa jadi mau dirujuk ke rumah sakit?" Pak Ramlan melempar tanya. Mengalihkan perhatian Abrar.


"Masih menunggu keputusan buk Fatimah om. Katanya mau berunding dengan Nia dulu"


"Memang, harus di rujuknya? Nggak bisa hanya di rawat di sini?" Dirga ikut menimbrungi obrolan.


"Harus sih...enggak. Panasnya juga sudah semakin turun. Barusan saya cek suhunya tinggal 37,7. Hanya saja yang mengharuskan untuk di rujuk itu berkaitan muntahnya. Soalnya air saja nggak bisa masuk, selalu dimuntahkan. Takutnya Nia mengalami magh akut. Atau bisa juga karena hal lain..."


"Hal lain, maksudnya hamil gitu" entah sadar atau pun tidak Dirga melafazkan apa yang bersarang di kepalanya.

__ADS_1


Baik Abrar maupun pak Ramlan kedua terdiam. Tatapan keduanya mengunci Dirga. Abrar tidak habis pikir kenapa bisa Dirga berbicara seperti itu. Tapi tidak untuk pak Ramlan, apa yang diucapkan Dirga boleh jadi benar adanya. Apalagi tadi pagi Dirga sudah mengakui semua kesalahannya, termasuk menceritakan aib yang pernah dilakukan Dirga ke Nia. Sebab itulah, meski lagi banyak persoalan di kota, mereka tetap memilih pulang ke kampung untuk menemui Nia dan mempertanggung jawabkan kesalahan yang sudah Dirga perbuat.


"Ya...nggak mungkinlah.... hamil...., kak Dirga bercanda ya...., Nia aja belum nikah. Hamil dari mana" Di mulut, Abrar terkekeh sumbang. Ia membantah pendapat Dirga barusan. Namun di hati kecilnya mulai ada rasa takut yang menyerang. Karena dari gejala yang sedang di alami Nia, lima puluh persen menandakan ciri-ciri yang sama seperti dialami wanita ngidam. Sungguh Abrar tidak ingin berasumsi sendiri. Biarlah nanti pemeriksaan yang membuktikan, itu pun kalau Nia mau diperiksa.


***


Puas berbagi keringat, Geby dan Bernad mengakhiri kegiatan panas mereka. Bercinta tanpa rasa cinta. Keduanya bergelung di bawah selimut yang sama. Masih dalam keadaan polos. Persis seperti bayi yang baru lahir. Bedanya bayi baru lahir bersih dari dosa. Sedangkan Geby dan Bernad baru saja selesai membuat dosa besar.


Demi menuntaskan hasrat primitif nya, Bernad meliburkan diri dari pekerjaan. Dengan alasan sedang sakit.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" langit-langit kamar jadi pusat perhatian Bernad saat ini.


"Kita tidak perlu melakukan apa pun. Karena sebentar lagi si sombong itu akan hancur dengan sendirinya" Geby tertawa, namun tawanya terlihat menakutkan.


Bernad menoleh Geby. Ia pun ikut tertawa sumbang. Dendam yang selama ini dipendam akhirnya terbalaskan. Kata-kata Dirga waktu itu benar-benar menikam hatinya. Dikatai 'bodoh' di depan peserta rapat membuat harga diri Bernad serasa dipijak-pijak. Jelas Bernad tidak terima. Padahal selama ini Bernad selaku manajer pemasaran sudah menyumbangkan banyak kemajuan untuk perusahaan.


Geby bangkit, ia menyingkirkan selimut yang menutup tubuhnya. Tanpa tau malu ia berdiri memamerkan tubuh polosnya di hadapan Bernad.


"Mau kemana?" selidik Bernad.


"Mandi, dan setelah itu akan melancarkan misi baru" Geby melenggang menuju kamar mandi. Bernad sendiri memilih menarik selimut, dan melanjutkan tidur yang tertunda.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2