
Jatuh cinta bisa mengubah segalanya. Kebiasaan, penampilan, karakter, bahkan bisa mengubah dunia. Begitupun sebaliknya, seseorang dengan hati yang luka, akan merana, layu dan menjadi sosok yang tak di kenali.
Jika dulu seminggu sekali Abrar pasti akan pulang mengunjungi Cik Uut, lain halnya saat ini, Abrar memilih menghabiskan weekend di tempat tugas.
Semenjak terungkapnya sebuah fakta menyakitkan tentang Nia, hidup Abrar kembali suram penuh hampa dan kehambaran.
Bukan main-main sakitnya, membuat sosok Abrar terpaksa kembali menelan pil pahit karena ini kali kedua Abrar gagal dalam urusan asmara.
Patah hati pertama, membuat Abrar bertekad menjadi laki-laki sukses. Sedang patah hati kali ini, menjadikan Abrar pribadi tertutup.
Tidak ada lagi senyum cerah yang terkembang di bibir tipis lelaki tampan itu. Kini ia kembali ke mode silent. Lebih banyak diam dan menjadi pribadi yang introvet.
Andai sejak awal Abrar tau Nia milik Dirga, pasti dia akan membangun benteng hati agar tidak jatuh cinta pada wanita yang sama. Sayangnya, fakta baru bicara setelah cinta itu tumbuh subur dihati, di saat Abrar lagi sayang-sayangnya. Beruntung Abrar tipikal orang yang tidak mencampur adukkan urusan asmara dengan pekerjaan. Kalau itu sampai terjadi, alamat banyak orang yang semakin sakit parah, efek salah beri resep obat.
***
Lebih setengah bulan tidak pulang, Sabtu ini Abrar kembali menjejakkan kaki dipekarangan rumah Cik Uut. Sempat terpaku memandangi rumah sebelah yang kembali sunyi. Semua memori yang menyimpan kenangan manis bersama Nia, kembali di putar ulang. Muncul sedikit sesak di ulu hati. Kecewa itu pasti, namun sebagai laki-laki, pantang bagi Abrar untuk meneteskan air mata berulang kali. Ia masih punya harga diri.
Abrar sudah tau, Nia ikut Dirga kembali ke kota. Berita itu ia dapat dari Cik Uut seminggu yang lalu. Perlahan, mencoba mengiklaskan, itu lebih baik.
"Kok malah ngelamun di halaman? Ayo.....masuk!" suara cempreng Cik Uut menarik kesadaran Abrar. Lelaki tampan itu pun memutus kilasan memori masa lalu.
Senyum kecil Abrar layangkan pada wanita tua berdaster biru motif floral yang berdiri di teras rumah. Cik Uut membalas senyum Abrar. Wanita itu tau, betapa saat ini Abrar mati-matian melawan rasa kecewa. Maka dari itu, Cik Uut akan berusaha membantu Abrar melupakan rasa sakitnya. Entah bagaimana caranya.
"Assalamualaikum.......!" Abrar mengucap salam ia melangkahkan kaki menjejaki anak tangga naik ke teras rumah.
"Walaikum salam....., anak Mak. Udah lupa jalan pulang ya?" pongah Cik Uut sambil merengkuh tubuh tegap Abrar. Ia rindu akan sosok yang selalu mengajak dirinya bercanda. Lama ia tak menatap wajah tampan Abrar. Dielusnya kedua sisi wajah Abrar dengan telapak tangan. Mata pun ikut berkaca-kaca. Meski bukan ibu kandung, sayang Cik Uut tak ada beda dengan ibu yang sudah melahirkan Abrar. Makanya meski ditinggal mati sejak kecil oleh ibu kandung, Abrar tak merasa kehilangan sosok ibu.
"Maaf Mak......" hanya itu kata yang keluar dari bibir Abrar. Sebenarnya ia sama rindunya dengan Cik Uut, hanya......., sudahlah, Abrar kembali mencoba melupakan.
Puas menumpahkan rindu, keduanya saling melonggarkan pelukan. "Kita masuk! Mak sudah masak makanan kesukaanmu" Cik Uut menyapu sudut mata yang berair.
Abrar hanya mengangguk dan tersenyum. Keduanya masuk kedalam rumah, dengan Abrar mengapit pinggang Cik Uut.
Setelah meletakkan tas ransel kedalam kamar, Abrar menyusul Cik Uut kemeja makan. Keduanya akan makan siang bersama, kebetulan sudah jam dua belasan.
Cik Uut dengan telaten melayani Abrar. Bukan karena Abrar yang minta, itu murni keinginan Cik Uut sebagai rasa sayangnya ke Abrar.
__ADS_1
Baru selesai Abrar mencuci tangan, terdengar suara orang mengucap salam.
"Siapa Mak?" Abrar menatap Cik Uut, begitu pun Cik Uut.
"Nggak tau, siapa ya...?"
"Biar Abrar yang lihat, Mak....!" Abrar hampir berdiri. Cepat Cik Uut menahan bahu Abrar.
"Udah...., kamu makan aja, biar Mak yang lihat"
Abrar melanjutkan makan, sementara Cik Uut melihat tamu yang berkunjung.
"Walaikumsalam.....!" Cik Uut menyahut dan membuka lebar-lebar daun pintu.
Terpampanglah tiga orang yang tidak asing di mata Cik Uut. "Eh.....pak lurah. Silakan.....masuk....pak, buk!"
Ternyata yang bertamu adalah pak lurah, orang yang sangat berpengaruh akan hidup Abrar di masa lalu.
"Makasih Cik....." sahut buk lurah yang terlihat sedikit kikuk. Sedang wanita muda yang berdiri di sampingnya, hanya diam tertunduk malu. Entah apa maksud dan tujuannya mereka datang ke gubug Cik Uut. Rumah di mana dulu tempat pak lurah menumpahkan cacian serta hinaan pada Abrar. Jika mengingat itu, tidak mungkin rasanya mereka sudi menginjakkan kaki dirumah itu.
"Makasih......" lagi-lagi kalimat itu yang meluncur dari bibir pak lurah dan keluarga.
Ketiganya duduk dikursi jati ruang tamu sederhana milik Cik Uut. Najila duduk di tengah-tengah pak lurah dan buk lurah.
Sekarang kondisi rumah Abrar berbeda jauh dengan sepuluh tahun yang lalu. Dimana dulu, rumah yang Cik Uut dan Abrar tempati terbilang rumah tua yang hampir roboh. Layak di sebut gubug reot.
Kini rumah itu sudah direnovasi Abrar, sehingga apa yang tersaji sekarang boleh dikatakan sangat-sangat layak. Berdinding beton, berlantai keramik. Tak lupa gipsum sebagai langit-langit terpasang indah mendinginkan ruangan.
Perabotnya juga terlihat lumayan, meski bukan yang kelas atas, namun cukup bagus untuk ukuran orang desa. Maklum selain bekerja sebagai PNS di puskesmas, Abrar juga seorang pengusaha di bidang travel. Sudah tiga mobil yang ia punya. Abrar layak disebut calon menantu idaman. Orang tua mana pun pasti tidak akan takut melepas anak gadisnya untuk Abrar. Kehidupannya pasti terjamin. Mungkin itulah yang melatar belakangi kedatangan pak lurah dan keluarga. Biar menjilat ludah, tak masalah baginya.
Cik Uut turut duduk di kursi yang kosong. Jujur ia sangat penasaran dengan kedatangan pak lurah, karena itu ia memberanikan tanya. "Maaf kalau boleh tau, ada tujuan apa ya pak lurah beserta keluarga datang bertamu?"
Pak lurah berdehem. Tenggorokannya mendadak kering, susah rasanya mengeluarkan suara. Sedang sang istri menatap penuh harap padanya.
"Begini Cik......"
"Siapa Mak?!" suara Abrar memotong kalimat pak lurah. Abrar berjalan mendekat keruang tamu. Ia belum bisa melihat siapa tamu yang datang, karena membelakangi dirinya.
__ADS_1
Sontak semua yang ada diruang tamu menoleh ke arah Abrar.
Senyum yang tadi terkembang, seketika meluntur. Langkah kaki ikut terhenti, saat netra Abrar menangkap sosok yang pernah memberi pelajaran berarti untuk hidupnya. Abrar harus berterima kasih pada orang itu. Berkat hinaannya, sukses mengubah kehidupan Abrar.
"Oh....., ada pak lurah yang terhormat rupanya. Tumben mau mengijakkan kaki ke rumah orang miskin ini?" sindiran telak membuat pak lurah beserta istri merasakan air liur seketika menjadi pahit. Wajah keduanya pun terlihat pias.
Abrar duduk di sisi Cik Uut, kebetulan masih ada stole kosong disampingnya. Setelah duduk, tatapan lelaki berkulit hitam manis itu tajam menyorot wajah tamunya.
Kontan suasana berubah tegang. Kurang nyaman dengan kondisi yang ada, cepat Cik Uut berperan mencairkan suasana. "Maaf saya kebelakang sebentar, mau buat minum"
"Nggak usah repot-repot Cik" buk lurah bersuara.
"Nggak repot, hanya minuman doang, permisi" Cik Uut melipir ke belakang. Tinggallah empat manusia dengan isi kepala yang berbeda.
***
Di rumah sakit.
Terhitung dari tadi pagi sampai siang ini, kondisi buk Fatimah semakin menurun. Padahal tim dokter dan perawat sudah maksimal bekerja. Berdasarkan hasil pemeriksaan, buk Fatimah mengalami pecah pembuluh darah di bagian kepala yang berakibat setrok.
Kini buk Fatimah hanya mampu mengedipkan mata, sedang bagian kanan anggota tubuhnya tidak lagi mampu digerakkan. Bibir wanita tua itu pun terlihat miring. Kata yang terucap pun susah di simak. Kondisi buk Fatimah semakin diperburuk dengan riwayat penyakit yang selama ini di derita.
Sejak subuh tadi, Nia setia mendampingi. Padahal kondisinya sendiri belum terlalu fit karena di fase mengidam. Beruntung Dirga sangat perhatian padanya. Nia yang mengabaikan makan, di paksa Dirga untuk tetap makan. Bahkan laki-laki yang sudah bergelar suami itu, bela-belain menyuapkan bubur untuk sarapan Nia tadi. Sedang siang ini, Dirga kembali merayu Nia untuk makan. Dirga juga siap mencarikan makanan apa pun yang diinginkan Nia.
Berkat kegigihan Dirga, akhirnya Nia mengabarkan teringin memakan rujak, dan Dirga menyanggupinya, asal rujak yang diminta tidak terlalu pedas.
Pak Ramlan sudah pulang kerumah sejam yang lalu. Ia akan kerumah sakit sore nanti. Tinggallah Nia seorang dirumah sakit, sedang Dirga keluar mencari pesanan Nia.
***
"Beb....! Kamu disini?!" Geby yang teringin memakan rujak menemukan Dirga di sana. Di pinggir jalan turut mengantri rujak di mamang yang berjualan menggunakan gerobak. Padahal sejak kemaren ia menunggu ke pulangan lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Mendengar namanya di sebut, dan suara itu tidak asing di telinga, membuat Dirga menoleh seketika.
"Ka_mu...., ngapain di sini?!" tanya Dirga sengit. Tidak ada ramah-ramahnya, malah ia tak suka ada wanita itu di sana.
Bersambung......
__ADS_1