GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 51


__ADS_3

Wanita berkostum lingerie seksi dengan hiasan wajah yang tak kalah tebal sejak tadi mondar mandir mengalahkan setrikaan. Jam didinding juga penanda waktu yang ada di hape selalu jadi bahan perhatian.


Sudah lama ia menunggu kehadiran seseorang, berjam-jam, namun yang ditunggu tak juga menampakkan batang hidungnya.


Geby kesal, teramat kesal. Barang-barang yang dekat dengan jangkauan dijadikan pelampiasan. Ia membanting, melempar apa yang bisa diraih jemari lentiknya. Semua berhamburan, pecah berserakan di lantai kamar. Tak ayal kamar yang sebelumnya dipersiapkan untuk malam pengantinnya, penuh taburan mawar merah juga juga lilin-lilin aroma terapi, dalam seketika berubah bak kapal pecah. Geby mengamuk bagai orang kesetanan.


Tadinya Dirga pamit padanya untuk pergi sebentar, namun hingga tengah malam begini laki-laki yang sudah bergelar suami itu tidak kunjung kembali. Geby mencoba menghubungi lewat telpon juga wa, namun nihil. Hp Dirga mati. Wa pertama yang dikirim Geby pun bernotif centang satu.


Capek mengamuk, Geby terduduk dipinggir kasur empuk yang kusut masai. Nafasnya tersengal, air mata turut luruh melunturkan bedak tebal yang dipakai untuk menutupi kekurangannya. Sorot mata turun ke bawah.


Harusnya malam ini menjadi malam panas penuh gairah. Geby sudah mempersiapkan semuanya. Bagaimana pun ia sangat merindukan sentuhan Dirga. Apalagi ia sudah sangat tau bagaimana permainan ranjang Dirga. Membayangkan itu, semakin membuat tubuh Geby terbakar api gairah bercampur amarah.


Kepala Geby berdenyut hebat, begitu pun bagian intinya. Wajah Geby berubah merah padam, ia lelah menahan.


Puas menekuri lantai, Geby menengadahkan kepala sambil berteriak kencang meluapkan gumpalan sesak yang mengisi rongga dada.


"Anj**g kau Dirga...!!! Dasar laki-laki kepara*.....!!! Berani kau main-main, liat saja aku akan membuat perhitungan....!!!" maki Geby ditengah amarahnya.


***


Subuh menyapa.


Sayup...., sayup...., Nia mendengar suara azan subuh. Baru kali ini tidurnya terasa nyaman. Nia sama sekali tidak sadar. Padahal malam-malam sebelumnya ia selalu terbangun tengah malam. Kalau bukan karena mimpi buruk, rasa mual yang membangunkannya. Berbeda sekali dengan malam ini.


Perlahan Nia membuka mata, ia perlu menyesuaikan cahaya yang masuk menembus retina. Anehnya dada juga bagian paha terasa berat, seolah ada beban di sana.


Nia menggulir pandang ke arah samping. Alangkah kagetnya Nia, sampai-sampai ia membelalakkan bola mata. Ada wajah laki-laki yang selalu menghinanya. Nia terus menggulir pandangan sedikit kebawah, ada tangan Dirga yang memeluk di bagian dada. Nia melanjutkan pindaian lebih ke bawah, ternyata kaki Dirga lah yang mengapit kakinya. Nia tak ubah bagai guling. Ternyata beban ditubuhnya berasal dari lelaki yang amat dibencinya.


Nia hampir saja berteriak, untungnya Dirga yang mudah terusik saat tidurnya terbangun dan reflek menutup mulut Nia yang sudah menganga siap membuat keributan di pagi buta.


Nia semakin ketakutan, ingatan bagaimana Dirga menggagahinya secara paksa, kembali terlintas di kepala. Sekarang Nia memang tidak berteriak, berontak juga tidak. Ia terlalu ketakutan, sehingga tubuhnya melemas, hanya air mata yang keluar. Nia menangis.


Sekarang giliran Dirga yang terkejut. Cepat ia menarik tangan dari mulut Nia. Tanpa ba, bi, bu, kembali ia memeluk tubuh Nia. Pelukan hangat bukan pelukan seperti waktu dulu. Ia hanya ingin berusaha menenangkan Nia. Dirga tau Nia ketakutan. Itu nampak jelas dari bola mata yang melotot di iringi linangan air mata.

__ADS_1


"Kakak sangat menyesal sudah melakukan kekerasan itu dulu. Maafkan kekhilafahan kakak. Kakak benar-benar minta maaf" suara Dirga lembut menyapa rungu Nia.


"Kakak janji akan memperlakukan Nia dengan baik, layaknya perlakuan seorang suami pada istrinya. Tolong......, Nia coba lupakan kejadian itu. Sekarang kita mulai lembaran baru. Kakak akan mencoba menyayangi Nia" tambah Dirga diakhiri mengecup sisi kepala Nia yang masih berbalut jilbab.


Berhasil. Mata Nia yang tadinya melotot, perlahan meredup. Debaran jantung yang terasa di tabuh, juga ikut kembali mereda seperti sedia kala.


Nia menelengkan wajahnya, di sambut senyum Dirga.


"Kita sama-sama memulainya lagi ya?" pinta Dirga dengan lembut.


Entah kenapa Nia mengangguk saja. Tatapan Dirga yang mengunci, seakan mampu meruntuhkan tembok pertahanan yang dipasang demi mengokohkan kebencian di hati Nia. Ia bagai terhipnotis. Semua kenangan pahit seakan telah digulung tergantikan lembaran baru yang masih kosong. Mungkin rasa lelah hidup dalam kebencian akhirnya Nia menyerah. Karena sejatinya Nia memang bukan tipe pendendam. Ia mudah memaafkan dan mengalah. Hanya saja yang membuatnya benar-benar terluka perlakuan Dirga malam itu. Tapi kini semuanya akan di ganti lembaran baru.


Sejak kecil Nia memang sudah suka pada Dirga. Bermula dari Dirga yang suka mengajaknya main juga membeli eskrim tiap kali mereka bertemu di kumpul keluarga. Perasaan itu terus Nia pertahankan.


Bahkan beberapa waktu sebelum kecelakaan, mereka juga sempat bertemu, itulah terakhir kali Dirga memperlakukannya sangat manis. Lima tahun paska kecelakaan mereka kembali di pertemukan. Namun Dirga tidak lagi mengenal Nia sebagaimana dulu karena perubahan Nia yang amat drastis. Nia sekarang cacat tanpa satu tangan. Penampilannya juga sudah mengenakan hijab, makanya Dirga tidak lagi mengenal Nia.


Tatapan keduanya semakin mengunci, Dirga semakin mengikis jarak. Naluri sebagai lelaki normal kembali bangkit. Apalagi ia sudah pernah merasakan bagaimana Nia. Nia diam, lagi dan lagi perlakuan Dirga yang begitu manis di pagi ini membuat ia melupakan segalanya. Nia pasrah sebagai seorang istri dari Dirga.


Tinggal dua senti lagi, dua bibir itu akan bertemu, hangatnya hembusan nafas keduanya bisa dirasakan. Jantung Nia kembali terasa di tabuh, berdebar penuh debaran. Bedanya kali ini debaran yang terasa nikmat, berbeda sekali dengan debaran saat terbangun tadi.


Gerakan Dirga terhenti. Belum juga ia menyapa bibir tipis nan seksi Nia. Semuanya tergagalkan. Dirga terancam melanjutkan puasa lagi.


Kembali pintu diketuk. Kali ini di ikuti suara seorang perempuan.


Tokkk......


"Den.....! Den.....! " suara si bibik.


Nia ingin bangkit dan membukakan pintu buat si bibik. Baru saja dia akan menurunkan kaki, Dirga melarangnya.


"Kamu di sini aja! Biar kakak yang buka pintunya. Gegas Dirga turun. Melangkah mendekati pintu.


Baru si bibik ingin kembali mengetuk, pintu lebih dulu di buka. Dirga menyembul dengan rambut dan wajah khas orang bangun tidur.

__ADS_1


"Maaf den mengganggu istirahatnya, itu...... " Si bibik tau apa yang di lakukan pasangan pengantin baru di malam pertama. Karena itu ia terlihat tak enak hati untuk mengganggu.


"Ada apa bik?!" Dirga membaca kecemasan di wajah si bibik.


"Ibuknya neng Nia jatuh di kamar mandi" ucapnya penuh penyesalan.


Nia yang mendengar orang tuanya terjatuh, gegas turun dari tempat tidur.


"Ibuk kenapa bik?!" Ulangnya ingin memastikan apa yang barusan ia dengar. Nia berdiri di samping Dirga. Sungguh jantungnya kembali berdebar hebat. Nia takut terjadi sesuatu dengan buk Fatimah.


"Semalam ibuk nggak enak badan, jadi dia minta ditemenin tidur sama bibik" ketiganya melangkah ingin turun ke bawah. Dirga menggandeng bahu Nia. Sedang sibibik berjalan di depan. " Pagi ini dia pengen ke kamar mandi, mau wudu katanya. Bibik nawarin diri mau ngawanin, tapi ibuk nolak, katanya dia bisa sendiri. Tau-taunya si ibuk terjatuh neng" cerita bibik sambil ketiganya menuruni tangga.


"Astagfirullah...... Ibuk..." Nia semakin merasa sesak. Entah kenapa firasatnya tidak enak.


"Papa sudah tau?" tanya Dirga lagi.


"Bapak masih di mesjid den"


Begitu masuk ke kamar, alangkah terkejutnya Nia. Wanita yang paling di cintainya tengah terbaring lemas di atas tempat tidur. Gopoh Nia mendekat dan duduk di sisi buk Fatimah yang terlihat menutup mata.


"Buk.....! Apanya yang sakit?" Nia memindai seluruh tubuh buk Fatimah, dari wajah, kepala, tangan hingga ujung kaki, untungnya Nia tidak menemukan luka di sana.


"Kepala ibuk pusing" sahut buk Fatimah masih dengan mata terpejam. Ia tak mampu membuka mata. Karena begitu mata di buka, dunia terasa berputar.


"Kita bawa kerumah sakit saja, takutnya ada luka dalam" Dirga memberi saran.


"Ibuk...nggak kenapa-kenapa, cukup istirahat, sebentar lagi juga enakan" tolak buk Fatimah yang merasa tidak enakan karena takut merepotkan.


"Kita kerumah sakit buk! Yang di katakan kak Dirga benar" Nia menimpali.


Akhirnya buk Fatimah dibawa kerumah sakit, pak Ramlan yang baru datang dari mesjid ikut kerumah sakit.


"Bik titip rumah ya...!" pesan pak Ramlan, saat akan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Siap pak...." sahut si bibik.


Bersambung........


__ADS_2