GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 46


__ADS_3

"Karena kita sudah sah sebagai suami istri, sekarang kamar ini jadi kamar kita berdua" ucap Dirga sesaat setelah pintu kamar ia buka dan melirik Nia yang berdiri sedikit dibelakangnya. Bukan lagi Dirga yang dulu yang suka berkata kasar dan menghardik Nia, kini nada bicaranya lembut menyapa rungu. Senyum pun diterbitkan dari bibirnya.


"Ayok....!"Dirga kembali mengayun langkah. Mengajak Nia untuk masuk lebih dalam. Tujuannya ke arah pintu yang berdampingan dengan kamar mandi. Nia tau persis ruang apa itu. Karena dulu, ia sering mengemas dan membersihkannya. Walk in closet.Tempat baju-baju Dirga.


Setibanya diruang yang di tuju, Dirga memencet saklar lampu. Ruangan pun seketika terang benderang. Lampu-lampu di setiap rak ikut menyala. Bias cahaya lampu mengenai kaca membuat ruang itu semakin terkesan wah.


Baju-baju Dirga tersusun rapi. Di susun berdasarkan ke gunaannya. Semisal satu deret gantungan khusus untuk jas dan pakaian kantor. Sedang di rak lain khusus baju kaos santai.


Bagian ujung setiap rak di penuhi barang koleksi Dirga. Ada jam tangan, ikat pinggang, dasi dan lain sebagainya, semua tertata rapi. Memanjakan mata yang melihatnya.


"Sebelah kanan ini bagian kakak, sebelah kiri nanti punya Nia. Ntar kakak minta tolong bibik buat mindahin barang-barang kakak biar dipindahin ke sini semua" jelas Dirga sambil mengarahkan telunjuk ke lemari pakaian yang ada di sebelah kanannya.


"Nggak perlu" jawab Nia singkat dan ambigu untuk orang yang mendengarnya.


Sorot mata Dirga memicing, ia menuntut penjelasan, apa maksud Nia. Memang keduanya belum banyak komunikasi, terakhir saat Nia pulang dari rumah sakit. Itu pun tak seberapa. Hanya membicarakan masalah pernikahan. Selebihnya Nia tetap ketus ke Dirga. Entah sampai kapan. Dirga harus memperbanyak stok sabar.


"Nia nggak bakalan lama tinggal di sini. Nia mau ikut ibuk pulang ke kampung. Jadi tak perlu repot-repot buat nyiapin semua ini " Ucap Nia ringan tanpa beban. Segampang itu ia mengatakannya. Tak memikirkan statusnya yang baru berubah kurang lebih satu jam lalu.


Nia mengangkat kebaya yang menyapu lantai. Ia memutar badan, berjalan santai meninggalkan Dirga yang masih mencerna ucapannya barusan. Lelaki itu mematung. Baru tersadar ketika Nia di hadapan ranjang king sizenya.


"Sekarang kamu istriku. Nggak bisa dong seenaknya buat keputusan sendiri. Apa-apa kamu harus ijin sama aku!" Dirga mengejar Nia yang hampir mendekati pintu. Dia yang lelah, sedikit terpancing, nada bicara spontan naik satu oktaf. Panggilan yang di gunakan pun, drastis berubah dari 'kakak' ke 'aku'.


Sayangnya Nia tak menggubris. Ditariknya handel pintu. Bersiap akan keluar dari kamar Dirga.


"Mau kemana?!" cepat Dirga menahan pintu agar tak terbuka. Badan sengaja di pepetkan ke daun pintu. Sedang tangannya meraih pergelangan tangan Nia.


"Lepasss....!" sentak Nia. "Aku mau ke kamar ibuk!" Tatapnya tajam ke mata Dirga.


"Ngapain?"


"Istirahatlah...! emang ngapain lagi. Aku capek" sambungnya lagi.


"Kalau capek kenapa mesti turun kebawah lagi? Disini kan bisa langsung istirahat. Tu... Di kasur! kakak nggak akan ganggu kok" tunjuk Dirga dengan ujung dagu nya. Ia berusaha membujuk.


"Geser ...ihhhh.....!" Nia berusaha mendorong tubuh Dirga. Tapi apa lah arti tenaganya. Tidak akan sebanding dengan kekuatan lelaki yang sudah bergelar suaminya.

__ADS_1


"Nggak"


"Kak Dirga mau apa sih...? Ucap Nia dengan bahu yang naik turun menahan amarah. Belum lagi matanya yang ikut memerah menatap Dirga tajam. Sedikit lagi, air matanya pasti luruh. Hanya dia yang tau, bagaimana takutnya ia akan Dirga saat ini. Mati-matian Nia menahan trauma. Apalagi saat ini mereka berada di satu kamar yang sama. Nia takut kejadian sebulan lalu akan di ulang Dirga.


"Kamu kenapa sih...?! Sejak kemaren cuek gitu sama aku?! Aku kan udah minta maaf. Dan perlu kamu ingat, aku ini suamimu!" tekan Dirga sambil menunjuk dadanya sendiri. Sedikit pun ia tak bergeser dari daun pintu.


Dirga yang cepat sadar akan sikapnya barusan, seketika menyesal. Kenapa susah sekali menghilangkan kebiasaannya itu.


"Maaf" ucapnya pelan. Raut wajahnya kembali menyejuk. Dia menyesal.


"Maaf .." ulang Dirga sambil mencoba menyentuh kedua bahu Nia. Sayang secepat kilat Nia memundurkan badan.


Nia tak menjawab, namun air matanya luruh penuh kebencian. Apalagi Dirga yang kembali menaikkan nada bicaranya, sungguh membuat Nia semakin takut dengan lelaki monster itu.


Ditengah suasana yang sempat menegang. Terdengar suara ketukan pintu di balik punggung Dirga.


Tok....tok.....


"Den ..... ini bibik" Suara bibik ternyata. Dirga berbalik ingin membuka pintu, sedang Nia berbalik menuju tempat tidur, tidak ingin bibik melihat ia yang berurai air mata.


Dirga hanya membuka pintu selebar tubuhnya. Ia tak ingin bibik melihat kondisi Nia yang sedang menangis, bisa panjang urusan kalau sampai di ketahui pak Ramlan. Bukankah tadi orang tua itu berpesan untuk membahagiakan Nia. Ini baru sejam menikah Dirga sudah membuat istrinya menjatuhkan air mata. Meski tak sepenuhnya salah Dirga sih.


"Makasih bik.....!"


"Sama-sama, ada yang perlu bibik tolong, semisal membawakan minuman gitu" tawar bibik, sambil celingukan mencoba mengintip isi kamar Dirga. Lebih tepatnya kepo ingin tau, apa yang barusan pengantin baru itu lakukan.


Bibik juga melihat wajah Dirga sedikit merah, pasti itu akibat pemanasan yang terpotong. Perempuan berciput itu tersenyum mesem.


"Nggak ada" Mata Dirga mengikuti arah pandang si bibik. Penasaran..., apa bibik melihat Nia. Soalnya wajah bibik sedikit aneh.


Untungnya tidak ada lagi Nia di dekat pintu. Syukurlah...., Dirga sedikit lega.


"Eh....kalau begitu, bibik pamit ya den" Si bibik memutar badan. Namun belum sempat melangkah, si bibik kembali menghadap Dirga. "Mainnya, jangan buru-buru, pelan-pelan aja. Pemanasannya harus cukup, biar nggak nyangkut. Ntar kesian si embaknya" Si bibik berucap pelan. Ia menutup mulut cekikikan. Cepat meninggalkan Dirga yang terlihat kaget di ambang pintu.


Dirga menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata si bibir otaknya absurd juga. Bisa-bisanya orang tua itu berpikir ke sana. Jangankan bulan madu, yang ada Dirga jadi bulan-bulanan kekesalan Nia. Istrinya itu masih galak, bahkan galaknya mirip kucing hutan.

__ADS_1


"Mandi dulu, tidur dengan badan keringetan nggak enak. Belum lagi dengan baju setebal itu" Nia berbaring dengan membelakangi Dirga. Masih ada jejak air mata di pipinya. Ia mendengar apa yang di ucapkan Dirga. Hanya untuk menyahutnya ia tak berminat.


Dirga menghela nafas panjang. Lagi... dan lagi, ia harus bersabar menghadapi bumil yang satu ini.


Setumpuk baju Nia di simpan Dirga di atas nakas samping kepala ranjang. Setelah meletakkan itu, ia pergi ke kamar mandi.


Suara pintu kamar mandi terdengar, menjadi petanda kalau Dirga lah yang masuk kesana. Pasti ia akan mandi, itulah pikir Nia.


Nia duduk, dilihatnya sudah ada beberapa pasang bajunya di nakas sebelah kirinya. Sekarang Nia yang bingung, tetap keluar kamar, atau bertahan.


Ceklek.....


Belum sempat mengambil keputusan, pintu kamar mandi terbuka lagi. Dirga masih sama seperti tadi, ia belum mandi.


Kedua pasang mata saling bersirobok. Suami tanpa cinta itu, tersenyum ke arah Nia. Cepat Nia membuang pandangan, ada debaran yang sulit dijabarkan.


"Air hangatnya udah kakak siapkan. Mandilah...!. Kakak akan keluar" tutur Dirga lembut, bukan seperti tadi.


Dirga masuk keruang walk in closet. Nia masih duduk mematung menatap pintu walk in closet yang barusan di tutup.


Tiga menit, pintu yang tadi tertutup rapat kembali terbuka. Muncul Dirga dengan baju kaos santai. Celananya masih sama seperti yang tadi. Celana kain hitam. Ternyata ia hanya mengganti baju tanpa mandi.


"Kalau butuh sesuatu kakak ada di bawah" ucapnya ke Nia. Sama sekali Nia tak berniat menyahut, dia lebih memilih menatap tembok di banding Dirga.


"Kakak keluar dulu!" Setelah mengatakan itu, Dirga langsung keluar kamar.


***


"Kenapa kamu minta di nikahi sih? Kita kan udah sepakat buat meras dia dengan video itu. Kenapa sekarang jadi beda? Apa jangan-jangan kamu masih cinta sama dia?!" pertanyaan beruntun Bernad layangkan ke Geby yang tiba-tiba muncul di apartemennye.


Bukan sekadar berkunjung sebagai tamu, melainkan ia rindu akan kehandalan Bernad yang mampu menerbangkan dirinya sampai ke awang-awang.


"Jangan marah-marah dulu dong ..., sayang...." Geby membelai manja pipi Bernad yang ditumbuhi bulu halus. Duduk manja di paha lelaki yang berstatus duda. Ya.., Bernad seorang duda tanpa anak. Ia ditinggal istrinya karena mandul.


"Minta nikah supaya apa??? Supaya bisa mengeruk hartanya sampai sedikit pun tak tersisa"

__ADS_1


Keduanya tertawa menakutkan. Bernad yang tadinya marah, seketika bahagia mendengar alasan Geby minta dinikahi Dirga.


Bersambung.....


__ADS_2