
"Selamat.....!, Istri masnya hamil!" Bidan Umi menyerahkan sebatang tes peck ke pada Dirga.
Cik Uut menatap Abrar. Karena Cik Uut tau bagaimana kelakuan Abrar selama ini. Yang ditatap terlihat datar dan diam saja. Memang Abrar pandai menyembunyikan perasaannya. Tapi tidak untuk Cik Uut, wanita yang sudah merawat Abrar sejak kecil sangat paham jika saat ini Abrar kembali kecewa. Sedih...., Cik Uut menarik pandangan dari Abrar.
Jangan tanyakan reaksi Dirga. Jika suami-suami diluaran sana akan bersuka cita, berbinar bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya. Bahkan ada beberapa orang rela melakukan selebrasi. Apalagi berita itu di dapat di kehamilan pertama, tak jarang dokter atau pun bidan menyaksikan tingkah konyol para suami yang merasa dirinya berhasil menjadi lelaki sempurna bin perkasa. Karena sudah berhasil menghamili istrinya.
Saat ini, justru reaksi Dirga kebalikannya. Ia terlihat bengong. Wajahnya mencerminkan keterkejutan, sedikit pun, tidak terlihat aura bahagia. Yang ada justru wajah shock. Benarkah ia telah membuat Nia hamil hanya dengan percintaan semalam?. Itulah kira-kira yang ada di kepala Dirga.
Dengan sedikit ragu, Dirga menerima benda persegi panjang itu. Sekali lagi ia melirik pak Ramlan. Lelaki tua itu menepuk-nepuk pundaknya, tanpa kata berlalu mendekat ke arah brankar Nia dengan raut wajah tak terbaca.
Buk Fatimah menatap tajam Dirga. Setajam belati. Bisa-bisanya lelaki perusak anaknya mengaku sebagai suami Nia. Jelas itu bohong!. Wanita tua itu, tidak pernah menikahkan anaknya dengan lelaki brengsek. Geram!. Buk Fatimah geram melihat kelakuan Dirga yang dinilai B. Bukan biasa melainkan brengsek.
Untung buk Fatimah masih memandang pak Ramlan, jika tidak...., tamparan dan pengusiran pasti Dirga dapatkan. Itu pun masih tidak sepadan dengan apa yang sudah ia lakukan. Bila perlu, melaporkannya ke polisi, biar si Dirga yang B itu, mendekam di balik jeruji besi.
Entah apa motif Dirga berbohong, hanya dia dan pak Ramlan yang tau. Karena sepertinya pak Ramlan sedikit pun tidak menolak apa yang anaknya lakukan, mungkin dia juga sudah mengetahui apa yang dilakukan Dirga ke Nia. Mungkin dalam versi cerita yang berbeda. Soalnya pak Ramlan terkesan mendukung.
__ADS_1
Untuk saat ini, buk Fatimah sedikit bernafas lega. Setidaknya aib sang anak tertutupi. Biarlah nanti ia akan diberondong Cik Uut dengan berbagai pertanyaan seputar pernikahan Nia yang dianggap tak pernah ia bagi ceritanya. Asal sekarang aman dulu. Untuk urusan belakangan nanti akan di pikirkan. Bila perlu ia bicarakan bersama pak Ramlan. Sebab ini menyangkut anak mereka.
Nia sendiri mematung, responnya hanya ketakutan. Ia masih betah menyembunyikan wajah di dada buk Fatimah yang duduk di sampingnya.
"Ini....." Dirga sedikit menunduk memindai testpack yang ada di tangan, ada dua garis merah di sana. Walau tidak terlalu jelas, masih bisa terbaca. Hanya saja Dirga yang awam, masih bingung mengartikan. "beneran ....., po-positif?" menyebut kata positif membuat suara jadi tergugup. Pelan Dirga menegakkan pandangan, menatap bidan yang memperhatikan reaksinya.
Bidan Umi tersenyum, lalu mengangguk pasti. "Sekali lagi selamat ya mas! untuk lebih jelasnya boleh melakukan USG. Biar lebih akurat juga bisa menentukan usia kehamilan dan pertumbuhan janin. Soalnya mbak nya lupa kapan terakhir ia haid. Jadi kita belum bisa memastikan berapa Minggu usia kehamilan sekarang. Kalau di puskesmas ini, untuk USG hanya ada sebulan dua kali, yaitu di Minggu ke dua dan ke empat di setiap bulannya. Jika memang mau" sekilas bidan melirik Abrar, lalu kembali ke Dirga "nanti akan saya wa kan jadwalnya ke Abrar. Nanti masnya bisa tanya langsung ke Abrar!"
Namanya di sebut, menarik kesadaran Abrar. Tadi ia terlalu sibuk dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepala seputar pengakuan Dirga yang mengaku sebagai suami Nia. Pak Ramlan tau-tau sudah berdiri disampingnya juga baru di sadari.
"Ntar jadwal USG saya kirim ke kamu, biar mbak dan mas nya nanti nanyak nya ke kamu aja. Boleh ya...?"
"Oh.....boleh" jawab Abrar berusaha senyum.
"Om...., Abrar pamit dulu ya! Masih ada sedikit pekerjaan yang belum selesai" pamit Abrar sopan. "Kalau Nia mau di bawa pulang udah boleh, asal dipaksain ada yang masuk di mulut. Ntar ada perawat yang akan ngelepas infusnya. Permisi!" tanpa menunggu jawaban, Abrar memilih keluar ruangan. Sekilas pun tak lagi di liriknya Nia. Begitu pun saat melewati Dirga, dia terkesan cuek berlalu begitu saja. Hanya ke pada bidan Umi ia sedikit bicara, pamit untuk lebih duluan.
__ADS_1
"Kita lanjutkan mengisi data ibu hamilnya ya....?!"
Bidan Umi melanjutkan mengisikan semua data di buku berwarna pink. Khusus buku untuk ibu hamil. Disana dituliskan semua data berkaitan istri, suami, serta data perkembangan janin. Tidak ketinggalan buk bidan juga meresepkan vitamin dan obat mual.
***
Waktu beranjak sore. Sebentar lagi masuk waktu asar. Semua urusan di puskesmas terselesaikan. Kini Pak Ramlan dan semua yang tadi ikut mengantar Nia akan segera pulang. Saat ini semuanya sudah kembali berada di dalam mobil Dirga. Kembali Dirga yang jadi sopirnya. Pak Ramlan tetap duduk di samping Dirga. Nia, buk Fatimah dan Cik Uut duduk dibangku barisan tengah.
Nia masih terlihat lemah, ia menyandarkan ke pala di dada buk Fatimah. Tadi..., ia menolak ikut pulang bersama Dirga. Keinginannya itu diutarakan terang-terangan di hadapan Dirga dan Pak Ramlan termasuk sang ibu. Ia masih trauma melihat Dirga. Lelaki yang selalu mengutuk dirinya itu adalah orang yang saat ini paling Nia benci dan tak ingin temui. Sayangnya takdir berkata lain.
Sejak pamit dengan alasan ada pekerjaan, sampai kepulangan Nia, Abrar tak menampakkan batang hidungnya. Menghilang bagai di telan bumi. Sempat ditanyakan oleh Cik Uut pada rekan sejawatnya, semua menjawab tidak tahu. Akhirnya Cik Uut dan yang lainnya pulang tanpa berpamitan dengan Abrar.
Di alun-alun kecamatan, seorang lelaki duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon Ketapang. Tatapannya lurus ke arah sungai yang membentang memisah dua kecamatan. Sebotol air mineral pun...., ikut duduk menemani.
Asap putih mengepul ke udara, tertiup angin lalu menghilang. Berulang-ulang, sampai puntungan di buang. Lalu kembali menarik sebatang rokok dari bungkusnya. Menyulut api, dan kembali menikmati nikotinnya. Terhitung sudah batang ke tiga yang di hisap. Jelas sekali orang ini sedang menenangkan diri. Dia baru saja patah hati. Lebih tepatnya patah hati sendiri, tanpa ada satu orang pun yang tau. Dia adalah Abrar. Lelaki yang baru sedikit mencair. Setelah sekian lama membeku karena sempat mengalami hal yang sama, hanya jalan ceritanya yang berbeda.
__ADS_1
Bersambung......