
Hampir satu jam waktu tempuh perjalanan pulang dari puskesmas menuju kediaman buk Fatimah. Sedikit lama, dikarenakan kondisi jalan yang becek terguyur hujan.
Sampai saat ini pun, cuaca masih gerimis. Sekarang ini memang sudah masuk musim penghujan. Bisa di pastikan hampir setiap sore hujan akan menyambangi.
Mobil Dirga sudah terparkir di halaman rumah Cik Uut. Sekitar lima menit yang lalu. Penghuni di dalamnya semua sudah turun, lebih tepatnya sudah kembali kerumah masing-masing.
Dirga dan pak Ramlan memilih ikut kerumah Buk Fatimah. Banyak hal yang akan mereka bicarakan dan selesaikan. Sempat Nia melarang buk Fatimah untuk menerima tamu yang tak diundang itu. Namun pertahanannya runtuh setelah pak Ramlan ikut memohon. Mana tega Nia berkeras dengan lelaki yang sudah dianggap seperti ayah sendiri. Jadilah saat ini Dirga, pak Ramlan dan buk Fatimah duduk berhadapan di ruang tamu. Nia sendiri memilih masuk beristirahat ke dalam kamar. Kondisinya masih sangat lemas. Kalau pun ia sehat, belum tentu ia mau menemui Dirga. Terlalu benci.
"Begini....., sebelumnya saya atas nama keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang sudah anak saya lakukan ke Nia. Nia gadis yang baik, sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya tidak menyangka Dirga begitu tega dan jahat ke Nia" Sesal pak Ramlan sepenuh hati. Dia menatap buk Fatimah dengan kesedihan. "Saya sendiri sangat menyesalkan kelakuan Dirga. Saya malu buk.... Saya gagal sebagai orang tua. Entah setan apa yang sudah merasuki dirinya" suara pak Ramlan terdengar serak. Satu tangan keriput mengusap kasar wajah lelahnya. Intonasi bicara penuh kesedihan. Jujur jika Dirga bukan darah dagingnya, mungkin sudah di tabok habis-habisan, lalu di laporkan ke kantor polisi, biar mendekam di balik jeruji besi.
Pandangan Dirga jatuh ke bawah menekuri lantai. Ia tertunduk dalam diam. Ucapan pak Ramlan menyentak di hatinya. Raut wajah bersalah kentara kelihatan. Malu juga ia. Teramat menyesal dengan kelakuan bejatnya yang menyaingi binatang.
Buk Fatimah tersenyum getir, hatinya terlampau sakit. Mana ada orang tua yang rela melihat anak yang di rawat di jaga sepenuh hati, diperlakukan begitu keji. Jika sekedar hinaan mungkin buk Fatimah masih bisa terima. Karena itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Terlebih kondisi fisik Nia yang tiada sempurna. Namun, tidak berlaku jika harga diri direnggut secara tak manusiawi, jelas semua orang akan membenci. Benci yang teramat.
"Nia harus menanggung malu seumur hidup. Apalagi saat ini ada janin yang tumbuh di rahimnya, tanpa status pernikahan. Semua orang akan menganggap Nia penzina, dan anak yang akan dilahirkan dianggap anak haram" nada kepedihan terdengar di setiap ujar buk Fatimah. Pak Ramlan dan Dirga terdiam. Apa yang dikatakan wanita itu semua benar.
"Kami minta maaf buk....!" Lagi dan lagi pak Ramlan yang berbicara. Padahal sejak tadi buk Fatimah menanti seperti apa laki-laki bajingan itu bicara padanya. Nyatanya sampai detik ini jangankan kata maaf, bicara saja Dirga enggan.
"Saya rasa yang seharusnya meminta maaf bukan bapak, tapi bajingan ini!" ucap buk Fatimah ketus. Tatapannya menusuk tajam ke arah Dirga. Benci sekali dia melihat wajah yang tampak tak berdosa.
__ADS_1
Dirga yang di katai 'bajingan' seketika mendongak. Ia sadar, ia memang bajingan. Tapi untuk memulai bicara rasanya dia kurang nyali. Sama sekali bukan seperti yang buk Fatimah sangkakan.
"Ma-maaf" suara Dirga terdengar parau. Kembali ia tertunduk.
"Hanya seperti itu!" buk Fatimah sedikit membentak. Sudah lama ia menahan kecewa di dalam hati.
"Saya memang bersalah, saya akan bertanggung jawab pada Nia"
"Cih......, tanggung jawab seperti apa yang kau maksudkan hemm....? Saya tidak yakin laki-laki sebajingan kamu mengenal arti tanggung jawab" ucap buk Fatimah sanksi. Malah terkesan meremehkan.
"Saya akan menikahi Nia" ucap Dirga seratus persen yakin.
Deg......
Nia menarik bantal, lalu menutup kepalanya agar suara itu menghilang dari pendengarannya.
"Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Nia juga bayinya. Apa yang pernah saya lakukan memang sangat keterlaluan. Tapi saya mohon......" Dirga menangkap kedua tangan di depan wajahnya "berikan saya kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang sudah saya lakukan ke pada Nia juga ibuk!" ucap Dirga sungguh-sungguh.
***
__ADS_1
Abrar baru selesai finger print, sebagai bukti autentik jam pulang. Sedikit terlambat, dikarenakan sekarang sudah jam lima sore. Ia kebablasan menghabiskan waktu untuk menghibur diri di alun-alun tadi. Semua staf sudah pulang. Tinggal satpam yang bertugas jaga. Untung finger print di tempel di ruangan yang belum di kunci, sehingga Abrar tidak mengalami kesulitan. Cukup ijin ke satpamnya buat masuk keruangan itu.
"Baru absen pak?" tanya satpam yang kebetulan melakukan pengecekan di setiap ruangan yang sudah ditinggalkan. Memastikan apakah ruangan sudah terkunci rapi.
"Ia pak, tadi ada sedikit urusan di luar" Abrar berdalil. Ia baru selesai menempelkan jempol di mesin finger. Kini ia memutar badan menghadap satpam yang ada di belakangnya. Dari nama yang tertulis di baju berwarna hijau, diketahui satpam itu bernama Roni.
"Oh....pantesan antrian di tempat bapak terlihat ramai. Rupanya pak mantri baru datang toh....." pak Roni mengangguk-angguk. Baru mendapat jawaban dari tanya kenapa pasien terlihat ramai menunggu di luar ruang praktek pak mantri yang letaknya bersebelahan dengan puskesmas ini.
"Ia pak, saya pamit duluan ya...!" pamit Abrar sopan. Ia harus berkejaran dengan waktu. Mau buka praktek, dan belum shalat asar juga, karena terlalu larut dalam fakta menyedihkan hari ini.
Lelaki bertubuh jangkung itu melangkah lebar meninggalkan gedung puskesmas. Sedang pak Roni kembali melanjutkan pengecekan.
Sekecewa apa pun Abrar hari ini, sudah dituntaskan di alun-alun tadi. Abrar bukan tipe yang suka berlarut-larut, tugas tetap yang utama. Tetapi dia tipe yang sekali patah sulit tumbuh. Artinya akan sulit lagi untuk Abrar membuka hati. Apalagi ini yang ke dua kalinya ia patah hati. Setelah dulu di patahkan dan dicampakkan oleh seorang Najila anak seorang pemuka di desanya.
Saat itu usia Abrar baru tujuh belas tahun. Najila adik kelasnya. Najila jugalah cinta pertama Abrar. Sayangnya, cintanya di tentang oleh orang tua Najila dengan alasan Abrar lelaki miskin dan tak punya keluarga.
Sampai detik ini, Abrar masih mengingat kejadian itu. Dimana pak kades datang kerumah Cik Uut dan memberi peringatan keras agar Abrar yang miskin menjauhi Najila yang notabene nya anak oran kaya di desa.
Mulai detik itu, Abrar berjanji dengan dirinya sendiri, Abrar yang miskin, Abrar yang tidak punya orang tua, akan sukses di suatu hari nanti.
__ADS_1
Abrar telah membuktikannya. Kini ia berhasil menjadi seorang mantri. Dan Alhamdulillahnya lagi ia juga punya usaha sampingan, yaitu rental mobil.
Bersambung.....