
Pak Ramlan mondar-mandir bagai setrikaan. Lebih sepuluh kali ia keluar masuk ruang tamu teras, teras ruang tamu, demi memantau apakah Dirga sudah pulang. Ternyata mobil Dirga belum ada kelihatan, yang artinya Dirga belum juga pulang. Satu yang pak Ramlan takutkan, Dirga kembali ke pelukan wanita ****** itu dan lupa jalan pulang.
Jam ditangan sudah mengarah ke angka sebelas malam, seharusnya jika Dirga hanya berniat mengantar Geby pulang tidak mungkin selama dan semalam ini.
Baru akan menutup pintu, deru mobil Dirga terdengar memasuki halaman. Cepat pak Ramlan mengayun kaki, menunggu Dirga di teras rumah. Tatapannya awas pada Dirga yang baru turun dari mobil.
"Papa belum tidur?" Dirga menghampiri pak Ramlan, ia berdiri tepat dua meter dari jarak pak Ramlan berdiri saat ini. Kunci mobil ia pegang di sebelah tangan kiri. Lelaki tua yang selalu posesif pada dirinya, kembali menunggu ia pulang dengan wajah lelahnya. Dirga mulai sadar sikap pak Ramlan yang seperti ini adalah bentuk kasih sayang, pada dirinya.
"Belum, papa nungguin kamu. Kenapa semalam ini?" cercah pak Ramlan dengan pertanyaan.
"Pulang dari ngantar Geby, singgah ngopi. Tadi di jalan pulang ada temen yang ngajak" bohong Dirga. Tidak mungkin ia mengatakan pergi ke rumah itu, bisa panjang urusan. Sejauh ini pak Ramlan tidak tahu tentang rumah itu.
"Masuklah, istirahat! Kamu belum terlalu sehat! Tidur terlalu larut tidak baik untuk kesehatanmu!" suruh pak Ramlan yang diangguki Dirga. Pak Ramlan bisa melihat wajah kusut juga lelah Dirga. Oleh karena itu ia tidak sampai hati untuk banyak bertanya. Padahal masih banyak tanya yang mengganjal di hati? Biarlah besok baru ia tuntaskan.
Keduanya masuk kedalam rumah, masing-masing menuju kamar pribadinya. Pak ramlan langsung mengistirahatkan diri, sedang Dirga sibuk membuka media sosial mencari nama Sania di kolom pencarian. Mulai dari FB, hingga IG. Banyak nama Sania maupun Nia yang ia jumpai, hanya sayangnya bukan Nia yang ia cari. Lelah..., waktu juga sudah mengarah ke angka satu dini hari, akhirnya Dirga terlelap dengan tangan masih menggenggam hape.
***
Di kota lain.
Baru saja terlelap, Nia kembali di datangi mimpi buruk, persis kejadian nyata tempo hari. Mimpi yang mampu membangkitkan ketakutan luar biasa. Nia berteriak histeris, tak ubah orang yang sedang dalam bahaya. Apa saja yang bisa diraih, dilempar begitu saja. Seolah ia sedang melempar ke arah Dirga yang kembali datang ingin memperkosa dirinya. Bulir keringat pun merembes membasahi dahinya.
Buk Fatimah yang tidur seranjang dengan Nia ikut terbangun. Dengan wajah cemas ia terduduk, memanggil-manggil nama Nia, sambil menepuk-nepuk bahu Nia yang juga dalam posisi duduk. Beberapa kali panggilan tidak digubris. Bahkan buk Fatimah sempat di dorong Nia, untung tidak sampai terjatuh ke lantai. Melihat Nia yang belum sadar, meski mata sudah terbuka, terpaksa buk Fatimah meraih botol air minum yang ada di samping kasur di atas meja kecil. Cepat ia menuangkan ke telapak tangan, setelahnya langsung di usap ke wajah Nia yang masih memekik berteriak meminta tolong.
"Buk ....!" Kontan Nia tersadar. Air mata masih bercucuran. Tatapan kaget masih dipenuhi aura mencekam, takut. Nafas yang masih memburu, membuat bahu Nia ikut naik turun. Tubuhnya masih sedikit gemetaran, tangan dan badan juga dibanjiri keringat dingin, sebagai reaksi tubuh terhadap rasa takut yang berlebihan.
__ADS_1
Buk Fatimah menarik tubuh Nia ke dalam pelukannya. Elusan sayang ia berikan di kepala juga punggung Nia. Mencurahkan rasa sayang guna menenangkan dan memberi kehangatan ke Nia. Buk Fatimah tau, Nia pasti mengalami mimpi seperti malam kemarin. Mimpi yang mampu menggoncang psikis Nia. Sungguh sebagai seorang ibu, di dasar hati yang paling dalam ada rasa perih tiada terkira. Tanpa Nia tau, setetes air mata jatuh di pipi buk Fatimah.
"Buk...! Dia datang lagi" suara Nia parau diselingi sesenggukan.
"Itu hanya mimpi sayang!" kedua telapak tangan buk Fatimah menempel di pipi Nia, tatapan lurus menembus titik pandang Nia. "Lupakan semuanya! Nia harus bangkit dari mimpi buruk itu! Jangan biarkan ia merusak kebahagianmu!"
"Nia takut buk ...."
"Hilangkan rasa takut itu! kamu harus bisa, kita mulai hidup baru di sini, di tempat ini!"
Nia mengangguk, keduanya kembali berpelukan. Sling membagi kekuatan.
"Kita tidur lagi!" bujuk buk Fatimah dan diangguki oleh Nia.
***
Mandi secepatnya, berpakaian, setelahnya Dirga turun kebawah lengkap dengan tas kerja ditangan. Pak Ramlan di meja makan menoleh ke arah Dirga yang sibuk menuruni anak tangga. Disampingnya ada bibik yang menghidangkan sarapan.
"Mau kerja?" tanya Pak Ramlan sesaat setelah Dirga mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan dirinya.
"Ia, udah harus ngantor, soalnya semakin lama Dirga nggak masuk, kerjaan pasti akan semakin menumpuk" tangan Dirga sibuk mengoles selai di atas roti.
"Kamu kan masih kurang sehat, kenapa nggak libur lagi barang satu dua hari?"
"Nggak bisa pa, ada kerjaan yang harus cepat Dirga kerjakan. Papa nggak perlu khawatir, Dirga udah sehat kok. Satu aja Dirga butuh bantuan papa, itu pun kalau papa nggak keberatan"
__ADS_1
"Katakan! Apa itu? insyaallah kalau papa bisa, pasti papa tolong" Ucap pak Ramlan antusias.
Dirga dan pak Ramlan saling bertatapan, "cari Nia untuk Dirga pa!" pinta Dirga pada akhirnya.
"Pasti! Papa pasti akan mencari keberadaan Nia, tanpa kamu pinta papa tetap akan melakukannya" jawab pak Ramlan penuh keyakinan.
"Makasih pa"
"Sama-sama" senyum samar terbit di wajah pak Ramlan. Meski saat ini ia tidak tau keberadaan Nia, mendengar keinginan Dirga membuat pak Ramlan bahagia luar biasa.
***
Pagi-pagi Nia sudah bangun, selesai menjalankan kewajibannya, Nia langsung sibuk berberes. Mulai dari dalam rumah sampai ke halaman. Seperti saat ini, Nia sibuk menyapu halaman. Di saat bersamaan, Abrar sibuk memanaskan motor untuk berangkat ke puskesmas yang ada di kecamatan.
"Nia!" Sapa Abrar begitu melihat Nia yang juga ada di halaman. Wanita cantik berjilbab bergo hitam, dengan rok sepanjang mata kaki. Baju kaos lengan panjang yang selalu Nia kenakan.
"Kak Abrar, mau berangkat kerja?" balas Nia. Di penglihatan Nia Abrar sudah siap dengan seragam putihnya.
"Ia mau berangkat, tapi manasin motor dulu. Nia sendiri gimana udah sehat?" Abrar berbasa-basi mencari bahan obrolan. Tatapannya lurus ke pada Nia yang ada di halaman sebelah.
"Alhamdulillah udah sehat" Nia menjawab sambil kembali sibuk mengayun sapu. Ditatap Abrar lama, membuat Nia merasa kurang enakan.
"oh....syukurlah kalau begitu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih tau kak Abrar sama Cik Uut ya!" lanjut Abrar lagi.
Nia mengangguk, "makasih kak" balas Nia diiringi senyum. "Nia masuk ke dalam dulu!" pamit Nia.
__ADS_1
"Ia ..., silakan....!" Tatapan Abrar lekat hingga Nia menghilang di telan pintu. Senyum dibibir Abrar enggan padam sejak melihat Nia kemarin.
Bersambung.....