GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 28


__ADS_3

"Nia...!. Kenapa? Udah ditungguin tu sama nak Abrar, ntar kesorean perginya" Buk Fatimah datang menyapa Nia yang duduk termenung di meja dengan tatapan lurus ke kaca berbingkai di depannya. Bukan meja hias mahal, melainkan meja usang yang mulai lapuk di makan rayap.


Nia yang termenung jauh entah ke mana tersadar dengan sapaan suara buk Fatimah. Gegas ia memutar kepala menghadap buk Fatimah di belakangnya.


"Buk.., Nia nggak jadi pergi aja ya?"


"Lho...kok gitu?, kesian nak Abrar sayang. Sejak tadi dia udah nungguin kamu di teras" Buk Fatimah mendudukkan diri di bibir kasur Nia, tepat di samping kanan Nia berada saat ini.


"Nia malu buk" cicit Nia pelan sambil menundukkan pandangan.


Pelan buk Fatimah meraih tangan Nia, menggenggamnya hangat, sehangat kasih sayangnya. "Nia dengerin ibuk!" Sepenuh hati tatapan buk Fatimah masuk menerobos mata bulat Nia. Membuat mata keduanya saling adu. "Nggak ada yang perlu Nia malu kan! Nia nggak ada salah, apa yang sudah berlalu, kuburlah, sedalam mungkin, cukup kita dan Allah yang tau. Jadilah Sania anak ibuk seperti saat dulu, ceria dan pantang menyerah! Ibuk yakin Nia wanita yang kuat!"


Tatapan buk Fatimah semakin menguat, seakan sedang mentransfer kekuatan ke jiwa Nia. Sebuah senyum kecil, akhirnya terbit di sudut bibir Nia. Ia mengangguk, mulai merasa ada kekuatan yang menelusup dalam dirinya.


"Nah..., gitu dong..., ini baru anak ibuk"


Keduanya saling berpelukan. Saling menguatkan. Karena diantara mereka berdua, tidak ada lagi sosok laki-laki yang dijadikan sandaran di saat keduanya mulai goyang bahkan hampir tumbang.


"Makasih buk...." ucap Nia tulus sambil merenggangkan pelukan.


Dijawab dengan anggukan oleh wanita tua itu. Ada rasa lega melihat senyum dibibir putrinya.


"Udah sekarang kamu pergi gih! Kesian anak orang, ntar berjamur kelamaan nunggu" buk Fatimah terkekeh.


Di teras rumah, Abrar terlihat gelisah. Duduk salah, berdiri pun salah. Pandangan matanya tak henti menyapu isi yang ada dalam rumah, mencari sosok yang ditunggu, namun belum juga menampakkan diri. Mana waktu semakin berlari. Jarum jam, menunjuk ke angka empat sore saat ini. Makin gelisah saja Abrar dibuatnya.


"Kak!, jalan yuk....!"


Abrar terkaget, spontan ia menoleh ke arah suara yang tiba-tiba menyapanya. Senyum pun terbit dibibir Abrar. Ada Nia yang sedang berdiri diambang pintu. Setelan kebaya modern berwarna abu muda di padankan jilbab berwarna hitam model pasmina sebagai penutup kepalanya. Tidak ketinggalan tas kecil berwarna hitam melekat di bahu kanannya. Cantik dan imut, itulah Nia di mata Abrar saat ini.


"Kak, ayokkk......! Jadi nggak?" Nia kembali mengulang ajakannya. Sebabnya Abrar masih mematung. Jangankan menggerakkan tubuhnya, berkedip saja ia enggan.

__ADS_1


"Eh ..., ia...ayok" sahut Abrar gugup ditemani senyum canggung karena ketangkap basah sedang menikmati indahnya ciptaan Tuhan.


Abrar berdiri, tak lupa ia menepuk-nepuk celana bahan agar kembali rapi. "Pamit ibuk dulu ya!" ijinnya sambil melewati Nia yang sibuk memasang sendal berhag lima senti, ada tali di bagian mata kaki.


"Buk....! Abrar ijin bawa Nia ya?!" ucapnya sambil melongokkan kepala di pintu penghubung ruang tamu dan dapur.


"Ia pergi saja, ibuk lagi di belakang. Hati-hati ya!" hanya suara buk Fatimah yang terdengar, mungkin orangnya sedang di kamar mandi. Pikir Abrar.


"Ia buk" setelah mengatakan itu, Abrar kembali memutar badan, bersiap untuk pergi bersama Nia ke acara pernikahan salah satu sahabatnya.


"Motornya mana kak?" Nia celingak-celinguk, pandangan menyisiri halaman rumah. Nihil, ia tak menemukan keberadaan sepeda motor yang biasa di pakai Abrar.


"Khusus hari ini kita naik ini saja" Abrar menoleh ke arah Nia.


"Naik mobil maksudnya?" Nia menghentikan langkah, tepat lima langkah di samping mobil Avanza berwarna hitam yang terparkir manis di halaman rumah Abrar.


"Ia" Abrar menjawab singkat sambil menekan tombol di remote kunci mobil. Otomatis kuncian mobil terbuka.


"Tapi, ini mobil siapa kak?" Nia belum berniat masuk, sebelum rasa penasarannya tertuntaskan.


"Nia tenang aja, yang pasti ini bukan mobil curian" Abrar terkekeh geli melihat wajah Nia.


"Ih...., kak Abrar kok jawabnya gitu sih...." Nia mengerucutkan bibir tipisnya sambil masuk ke dalam mobil. Abrar yang masih terkekeh menutup pintu mobil setelah Nia duduk dengan sempurna. Abrar kembali mengitari mobil masuk dan duduk di belakang setir. Mencolok kunci mobil, dan menstarter, mesin pun menyala.


Nia sibuk memasang sabuk pengaman, Abrar pun melakukan hal yang sama.


"AC alam apa buatan?" Abrar menoleh ke arah Nia.


"Maksudnya?" Jelas Nia bingung dengan ucapan Abrar.


"Maksud kakak kita pakai AC apa udara alam?" Abrar memperjelas maksudnya.

__ADS_1


"Oh...." Nia ber oh riya. Baru ngeh dengan apa yang di katakan Abrar. " Terserah kak Abrar saja". Sambung Nia.


"Ok, kita pakek AC aja, soalnya kakak nggak rela debu menempel di kulit Nia".


"Kak Abrar apaan sih ...." seketika wajah Nia merona. Agar Abrar tidak melihat perubahan wajahnya, Nia memilih menatap ke luar jendela samping.


Perlahan mobil meninggalkan pekarangan rumah Cik Uut dan Buk Fatimah, karena memang posisi kedua rumah tersebut berdampingan.


"Ini mobil kakak" tiba-tiba Abrar menjelaskan status mobil yang masih menggantung. Nia memutar kepala, melirik Abrar sekilas, lalu menatap jalanan di depan. Bibirnya menutup rapat, masih setia ingin mendengar kelanjutan cerita Abrar.


"Masih nyicil sih...." lanjut Abrar khas dengan kekehan yang mengiringi setiap ucapannya. "Udah hampir tiga tahun nyicil, sisa beberapa bulan lagi selesai"


"Kok Nia nggak pernah liat mobil ini nongkrong di depan" Nia mengeluarkan uneg-unegnya. Soalnya seminggu di kampung, baru sore ini ia melihat mobil itu.


"Sebenarnya mobil ini kakak rentalkan. Kemaren di pakai orang selama seminggu, lumayan buat bayar cicilannya. Alhamdulillah, hampir tiga tahun ini kakak hanya keluar uang DP doang, selebihnya dibayar dari hasil rental" Ada kepuasan tersendiri yang Abrar rasakan.


"Kakak hebat ya, bisa ngelola keuangan. Biasanyakan kebanyakan anak bujang kalau udah punya penghasilan palingan habis untuk jajan dan hura-hura doang. Puji Nia tulus.


"Nia bisa aja" kembali Abrar terkekeh.


Tidak terasa, lima belas menit perjalanan, kini mobil Abrar terparkir rapi di antara mobil-mobil lainnya. Keduanya turun, siap masuk ke dalam gedung serba guna kecamatan, yang sengaja di sewa untuk tempat berlangsungnya hajatan pernikahan.


Nia sedikit insecure, terasa semua mata menatap ke hadiran mereka. Mulai dari parkiran sampai masuk kedalam gedung itu. Bisikan-bisikan juga sempat di dengarnya. "***wah ....ternyata pak Abrar udah punya gebetan toh..., pantas saja ia menolak si........."


"Pak mantri ganteng bangetttt....., siapa ya yang di sampingnya?"


"Mereka pasangan serasi, pak mantri ganteng, calonnya cantik, tapi sayang kok tangannya***......."


Banyak lagi kalimat-kalimat lain yang Nia tangkap. Namun ia memilih abai saat teringat ucapan ibuk tadi.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2