
Kesal dan amarah semakin meluap di hati Geby. Bagaimana tidak, bukannya pulang menghabiskan malam panjang bersama setelah menikah, Dirga menghilang tanpa kabar. Dan sekarang laki-laki itu malah bersikap aneh padanya.
Geby mendelik. Tidak habis pikir juga kenapa bisa Dirga bertanya seperti itu padanya. Bukankah seharusnya Geby yang pantas menanyakan sedang apa Dirga di sana. Setahu Geby Dirga tak suka makanan seperti itu.
Selesai dengan pesanannya, Dirga berniat ingin segera pergi dari tempat itu. Tidak lupa ia membayar sejumlah pesanan. Kembalian pun tak ia pedulikan. Malas rasanya bertemu lebih lama, dengan perempuan ular yang menjelma menjadi istrinya. Lebih tepatnya, Dirga terpaksa menjadikan Geby sebagai istri.
"Mau kemana kamu ha....?!" Geby mencoba menghalangi Dirga dengan mencekal pergelangan tangannya. Suaranya pun terdengar nyaring mengagetkan orang-orang.
Untuk sementara, Geby melupakan keinginan ngidam rujak. Dirga lebih penting saat ini. Sontak tatapan penuh tanya orang-orang yang ada di sana tertuju pada mereka berdua.
"Bukan urusanmu. Tolong lepaskan!" Dirga bersikap ketus dan menyentak sedikit kasar tangannya. Akhirnya terlepas. Wanita dengan dress selutut itu, sedikit terhuyung kedepan. Beruntung ia masih bisa menyeimbangkan tubuh dengan berpegangan pada salah seorang yang ikut mengantri di sana. Jika tidak, tubuh seksinya pasti akan mencium aspal. Apalagi ia memakai stiletto yang lumayan tinggi.
"Bukan urusanku gimana....? Kamu lupa siapa aku sekarang?" Wanita bergincu merah menyala tertawa penuh percaya diri sambil menunjuk dadanya sendiri. Angkuh jelas tergambar di sana.
"Aku ini istrimu. Istri seorang DIRGA. Apa kamu lupa itu hemmm....?!" sambung Geby dengan penuh penekanan. Tatapannya semakin tajam. Ia tak terima dengan sikap Dirga yang seolah tak melihat keberadaannya.
Perdebatan keduanya tak luput menjadi tontonan live orang yang ikutan mengantri rujak. Bahkan diam-diam ada yang merekam lewat handphone selulernya.
Sebenarnya Dirga malu, hanya saja sikap Geby yang sudah keterlaluan, menjadikan Dirga sosok yang cuek dan tak peduli akan lingkungan. Hal yang lebih memalukan dari itu pun sudah ia dapatkan akibat ulah si Geby sang wanita ular.
Dirga kembali melanjutkan langkah. Memilih tuli dan tak peduli dengan Geby yang masih tak puas hati padanya.
"Dirga....! Aku belum selesai bicara!"
"Bodo amat"
"Ok ...., jangan salahkan aku jika video mantap-mantap kita tersebar" Geby tersenyum sinis ia yakin dengan ancaman itu Dirga pasti tak berkutik.
Dan benar saja, detik itu juga, Dirga menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik ke belakang. Geby semakin tersenyum penuh kemenangan.
"Gue nggak PEDULI. Jika itu yang mau lo lakuin silakan...! berarti Lo siap kehilangan 80 % gaji gue" sahut Dirga santai dan masak bodoh. Telak membuat senyum Geby luntur tak berbekas. Kenapa sekarang Dirga tak mempan ancamannya. Geby pun menghentak kaki penuh kesal menatap Dirga yang cuek masuk ke dalam mobil dengan santainya. Setelah itu, langsung tancap gas meninggalkan Geby yang kesal setengah mati.
"Ok..., kita lihat saja nanti. Siapa yang akan berada di atas angin" Sekarang nafsu ingin makan rujak benar-benar hilang. Geby terlanjur terbakar api kemarahan. Dia yang merasa diperhatikan banyak mata, tak ayal melihat pada orang-orang yang tengah menatapnya.
"Apa lihat-lihat! Sial Lo semua!" bentak Geby pada orang-orang yang tak tahu menahu.
"Huuuuuu........ Dasar perempuan nggak jelas, setresss!!! Pantas aja ditinggal suami" serempak semua orang balas menyoraki dan mengejek Geby.
"Ih......." Geby pun pergi dengan membawa kesal yang semakin berapi-api.
__ADS_1
***
"Ada beberapa tujuan saya dan keluarga datang kemari. Yang pertama saya ingin memohon maaf dari nak Abrar juga Cik Uut atas apa yang dulu saya lakukan" Tutur pak lurah tulus, sesaat setelah Cik Uut menyajikan minuman di atas meja.
Mendengar ucapan pak lurah barusan, bukannya tersentuh, Abrar malah tersenyum kecut sambil membuang muka. Terlalu muak rasanya. Hampir sepuluh tahun kejadian itu, kenapa baru sekarang permohonan maaf itu terucap.
"Saya tau apa yang sudah saya lakukan pada keluarga ini sangat keterlaluan" pak lurah menjeda ucapan, ia layangkan pandangan pada Cik Uut juga Abrar. Memperhatikan reaksi lawan bicaranya.
"Mohon kesediaan nak Abrar dan Cik..., untuk memaafkan salah khilaf kami. Saya menyesal, sangat-sangat menyesal" lanjut pak lurah penuh sesal yang mendalam.
"Apa pantas pak lurah yang terhormat datang ke gubug saya demi untuk memohon maaf dari saya yang notabenenya hanya seorang laki-laki miskin?" Abrar terkekeh sumbang. Menertawakan apa yang barusan ia dengar. Sengaja melontarkan kata sindiran untuk orang yang pernah menghina dirinya. Abrar pun masih membuang muka, enggan menatap pak lurah yang ada disebrang meja.
Deg.....
Kata-kata Abrar barusan benar-benar menusuk di hati pak lurah dan keluarga. Bahkan sang putri semakin menunduk dalam dengan mata yang mulai berembun. Najila masih ingat betul bagaimana kejamnya ayahnya menghina Abrar dulu, di masa putih abu-abu. Wajar saja jika Abrar bersikap seperti sekarang ini. Namun apa mau dikata, cinta tidak mengenal tempat untuk berlabuh. Sejak dulu, hanya Abrar yang Najila cinta. Tidak yang lain.
Pak lurah menatap Abrar penuh sesal saat mendengar kata yang enggan memberi maaf, kontan tubuh pak lurah luruh kelantai dengan posisi berlutut di kaki Abrar.
"Tolong.....nak, maafkan bapak. Bapak mengaku salah sudah memisahkan kamu dengan Najila. Bapak benar-benar menyesal" mohon pak lurah sambil memeluk kedua kaki Abrar.
Terkejut pasti. Itu yang dilihat dan di rasakan Abrar juga Cik Uut. Mereka tidak menyangka, demi memohon maaf pak lurah yang terhormat, penuh keangkuhan dan selalu gila akan penghormatan rela menjatuhkan harga dirinya dengan berlutut di kaki Abrar.
Tiga wanita yang ada di sana masih setia menjadi penonton dengan rasa yang berbeda.
"Bapak tidak akan berdiri selagi nak Abrar tidak memaafkan bapak juga menerima Najila kembali"
Deg....
Abrar mengangkat wajah melirik pada wanita yang kembali menunduk menekuri lantai. Ternyata perjuangan Najila masih belum juga berhenti. Sekarang wanita itu membawa kedua orang tuanya. Patut di acungi jempol.
"Tolong bangun pak!" Abrar meraih kedua sisi lengan pak lurah agar lelaki tua itu tidak berlutut lagi di kakinya.
Setelah pak lurah kembali duduk, Abrar kembali berucap, "kriteria menantu idaman anda bukan saya. Saya hanya laki-laki miskin. Sangat tidak pantas bersanding dengan putri Anda" Lagi dan lagi kata 'miskin' Abrar ucapkan.
"Saya tau hinaan saya begitu melekat di hati nak Abrar. Saya sanggup mengucap seribu maaf sekalipun asal nak Abrar memaafkan dan mau kembali menerima Najila" mohon pak lurah lirih. "Kemaren Najila sempat ingin mengakhiri hidupnya" kelas pak lurah dengan mata yang berembun. Sontak Abrar melebarkan mata, begitu pun Cik Uut. Apa sampai segitunya Najila mencintai dirinya?
Isakan tangis terdengar dari bibir buk lurah, mengingat kejadian yang hampir menewaskan putri satu-satunya. "Tolong nak Abrar....., ibuk sangat-sangat minta tolong....., terimalah Najila! Ibuk takut dia kembali nekat. Beruntung kemarin nyawanya masih bisa tertolong dan sempat di rawat selama dua Minggu di rumah sakit. Biarlah kami melangkahi adat dengan mengubah kebiasaan kita. Karena biasnya laki-laki yang datang meminta. Tapi untuk Najila, kami ikhlas datang melamar nak Abrar"
Hening.....
__ADS_1
Semua larut dengan pikiran masing-masing.
***
Rumah Sakit....
Nia yang saat itu sendirian menemani sang ibu dibuat kaget luar biasa. Secara tiba-tiba kondisi buk Fatimah memburuk. Sempat tersengal-sengal dan akhirnya hilang kesadaran.
Setelah tim medis melakukan pemeriksaan, ternyata kerja jantung wanita uzur itu melemah. Hal ini di picu adanya penyumbatan di bagian pembuluh darah yang ada di bagian kepala.
Rasa takut kontan menghantam sanubari Nia. Pikiran-pikiran negatif mulai berseliweran di kepalanya. Ia tak bisa membayangkan apabila kemungkinan buruk itu terjadi pada keluarga satu-satunya yang ia punya. Lelehan air mata pun meruap tanpa di minta. Nia menangis memeluk diri di pojokan. Tatapannya lurus pada tim dokter yang sibuk menekan alat pemacu jantung di dada wanita tua yang terlihat tak lagi berdaya, bahkan mungkin sudah tak bernyawa.
Ditengah kondisi yang mencekam, Dirga datang dengan sebungkus rujak ditangan. Dirga pun sempat mematung diambang pintu tak kala indra penglihatannya menangkap aura yang tak biasa. Apalagi ia mendapati Nia yang tengah menangis sesenggukan.
Ayunan langkah kaki, Dirga bawa mendekati Nia. Wanita itu terlihat rapuh sekali.
"Nia ....?!" panggil Dirga pelan.
Mata sembab Nia menoleh ke arah datangnya suara. Tanpa diminta, Nia sedikit berlari dan memeluk erat tubuh Dirga.
"Nia takut...... Nia takut ibuk pergi menyusul bapak. Nia takut ditinggal sendirian" tangis Nia semakin pecah.
Dirga membalas pelukan tubuh ringkih Nia. Tidak lupa elusan lembut Dirga berikan di punggung sang istri agar sedikit menenangkan.
"Semuanya akan baik-baik saja. Nia sekarang nggak lagi sendirian, ada kakak juga papa. Kami akan selalu ada untuk Nia"
Teeeeetttttt.......
Semua mata yang ada diruang itu tertuju pada monitor pendeteksi denyut jantung. Termasuk Nia, ia pun merenggangkan pelukan dengan menoleh ke arah yang sama. Garis yang terpampang dilayar monitor tak lagi bergelombang. Suara alat dilayar monitor menggambarkan kondisi pasien yang tak lagi bernyawa.
"Innalilahi wainnailaihi raji'un ...... " kalimat sakral terucap dari bibir sang dokter yang menangani kondisi buk Fatimah.
Bungkusan rujak ditangan Dirga terlepas begitu saja. Jatuh ke lantai saat mendengar fakta yang mengejutkan.
"Ibuk......?!" panggil Nia pelan sambil melepas pelukan Dirga dan berlari mendekati tubuh yang sudah mulai kaku.
"Buk....! Bangun buk ....! Kita pulang.....!" Nia mencoba membangunkan buk Fatimah dengan ekspresi yang membuat hati teriris bila melihatnya.
"Banyak bersabar, ibuk mbak sudah tenang. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya mati. Mbak dan keluarga harus ikhlas" dokter mencoba menenangkan Nia yang sibuk membangunkan buk Fatimah. Dirga sudah ada di sisinya.
__ADS_1
Bersambung......