GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 49


__ADS_3

Penanda waktu menunjuk ke angka sembilan malam. Dirga belum kembali ke kamar yang ia ditinggalkan sejak tadi siang. Entah kemana dia, Nia tak mau ambil tau. Seharian ini Nia memang hanya di kamar saja. Makan pun diantar bibik ke kamar.


Tubuh Nia memang sedikit lemas, ulu hatinya terkadang masih bergejolak ingin muntah. Jadilah siang sampai sore Nia tidur-tiduran.


Hanya saja di dasar hati Nia, ada yang terasa aneh. Seperti kehilangan. Tapi tidak mungkin juga karena Dirga yang belum kembali. Pasalnya saat ada Dirga di sana, Nia merasa masih trauma dan tidak suka.


Berkali-kali Nia membolak-balik tubuh kurusnya di pembaringan empuk milik Dirga. Ya...., tubuh nia yang mungil, drastis berubah menjadi kurus efek hamil muda yang menghilangkan nafsu makannya. Namun kantuk belum juga menyerang mata. Boleh jadi juga karena terlalu lama tidur siang.


Puas membolak balik tubuh, hasilnya tetap sama. Tatapannya memindai seluruh penjuru kamar, yang muncul malah merasa tak betah di sana.


Kamar bernuansa putih abu berukuran enam kali enam meter persegi sedikit horor bila malam-malam begini dihuni seorang diri tanpa teman bicara atau pun teman tidur.


Nia menarik nafas kasar, sudah berkali-kali memejam mata, ujung-ujungnya kembali melek. Jika di cerita-cerita orang kaya kamar mereka di lengkapi TV. Khusus kamar Dirga beda, tidak ada benda itu di sana. Inilah juga yang membuat Nia bosan.


Bagi Dirga kamar adalah tempatnya mengistirahatkan tubuh setelah seharian bekerja, oleh karena itu dia tidak menyukai keributan atau suara berisik.


***


Di sebuah club malam.


Bara sejak pulang kerja lebih tepatnya jam delapan malam, langsung melipir ketempat pecinta nikmat dunia. Dia yang stres dengan kabar pernikahan Dirga dan Nia yang di dapat dari David, merasa perlu mencari hiburan agar hatinya kembali waras.


Sejak pertemuan pertamanya dengan Nia, ia sudah tertarik dengan wanita bertangan satu itu. Hanya saja waktu itu, Bara belum menyadari mau hatinya. Dia menganggap rasa yang dimiliki karena simpati dengan keadaan Nia.

__ADS_1


Oleh karena itu ia sengaja menjebak Nia dengan mengikatnya dalam kontrak pekerjaan yang tidak masuk akal agar bisa memberi Nia pekerjaan. Sebab saat itu Nia hanya menjadi penjual kerupuk di lampu merah dan mendatangi perkantoran untuk menawarkan dagangannya.


"Tambah...!" pinta Bara pada seorang bartender yang menyajikan minuman. Bara sengaja duduk di meja tempat bartender, supaya enak buat nambah minuman.


Sudah dua gelas sloki yang ia habiskan. Lagi bartender menuang Vodka kedalam slokinya.


Asyik menikmati minumannya. Segerombolan gadis kecil menyerbu duduk di sebelahnya. Gadis-gadis itu diperkirakan Bara masih mengenakan seragam putih abu. Mereka duduk di kursi di sekitar Bara, tanpa permisi.


Hebohnya tingkah empat gadis yang baru beranjak dewasa itu membuat Bara sedikit terusik. Ketawanya yang ngakak juga gaya bicaranya yang heboh membuat mata dan telinga Bara sakit. Niat hati datang ke sini menenangkan diri, yang ada sekarang ia semakin stres.


"Bisa diam gak..., berisik....?!!!" bentak Bara sedikit nyaring. Spontan ke empat remaja itu menghentikan tawanya. Melirik ke samping mereka, ternyata ada om-om yang memasang wajah garang ke arah mereka.


"Suka-suka kita dong om..., lagian ini kan diskotik, wajar kali ribut, tu musik DJ aja berisiknya minta ampun. Nah...ini si om ngeliat orang happy kok malah marah-marah? Gini deh...om, kalau mau tenang, mau damai....., adem..., ayem...." gaya bicara gadis yang bernama Lea itu terlihat menjiwai, ekspresinya dapet. Bara pun ikut menyimak ucapannya, apa mungkin ini solusi dari kegundahan hati Bara "mending om pergi ke kuburan saja...!, di jamin... Aman damai nggak bakalan ada yang ganggu mau pun berisik" pongah Lea. Sontak ke tiga kawannya tertawa ngakak. Begitupun bartender yang secara tidak sengaja menyimak obrolan terlihat sakit menahan tawa. Sebab kalau sampai ia ikutan tertawa, bisa dipastikan dia akan mendapat masalah. Karena ia tau siapa Bara.


Lea ikutan tertawa ngakak, ucapannya mampu membungkam Bara si om cerewet. Tawa Lea tidak berlangsung lama. Sebab Bara bertindak diluar dugaan mereka. Secepat kilat bara berdiri meraih tengkuk Lea, sedetik kemudian langsung ******* rakus mulut yang barusan mengerjainya. Sama sekali tidak melepaskan ciumannya, Bara malah semakin mengunci. Satu sangat menahan tengkuk Lea, sedang tangan satunya memeluk pinggang langsing milik gadis itu.


Shock. Bukan hanya Lea yang shock, ketiga kawannya juga sama. Sedikit pun mata mereka tidak mampu berkedip. Pemandangan di depan mata, membuat bulu kuduk meremang. Ini malah lebih menakutkan dari berada di kuburan.


Tidak ada juga yang ingin menolong. Ia berontak, namun percuma, Bara benar-benar mengunci dirinya. Sumpah demi apa pun Lea akhirnya menangis, hampir lima menit Bara menciuminya, tanpa berniat ingin melepaskan. Karena berciuman di diskotik sudah menjadi hal yang lumrah, jadi orang-orang cuek saja. Temannya? Jangankan menolong, ketiga remaja yang baru menginjak dewasa perlahan mundur ingin kabur, karena tidak ingin mengalami hal yang sama dengan Lea.


Merasa ada yang terasa asin di salivanya, Bara melepaskan ciumannya. Tubuh Lea pun melorot kelantai. Nafasnya tersengal, sebab Bara tidak memberi kesempatan ia menarik nafas.


"Lain kali jangan berani-berani mengejek saya! Jika tidak ...., saya bisa melakukan hal yang lebih dari ini!" ancam Bara.

__ADS_1


"Oya...., diskotik ini tempat orang dewasa, bukan anak yang masih bau kencur. Jadi saran om belajar di rumah jangan keluyuran". Bara membalas olokan Lea tadi. Gadis itu semakin menangis sejadinya. Sayangnya Bara tak peduli.


Bara menarik dompet di saku celana, ditariknya lima lembar uang merah, lalu di letakkan di depan bartender. Setelah itu ia meraih jas yang tersampir di atas meja, lalu mengayun langkah ingin keluar dari ruangan itu. Tidak sedikit pun ia simpati pada gadis berambut sebahu yang tengah sesenggukan menangis di lantai. Sambil mengayun kaki Bara melirik sekilas, hanya sekilas.


Bara benar-benar pergi, hatinya yang tadi kacau semakin tidak karuan setelah lima menit mencium anak gadis orang yang dia sendiri tak tau siapa. Bara geram melihat kicauan olokannya. Jadilah tanpa pikir panjang peristiwa lima menit berbagi saliva.


Sekarang, lebih baik Bara memilih pulang, dari pada melakukan hal yang lebih parah.


***


Jam sepuluh malam, Nia tetap tidak bisa memejamkan mata. Cara satu-satunya supaya ia tertidur adalah keluar kamar, dan kembali ke kamar tamu tempat buk Fatimah.


Nia akan meraih gagang pintu, ternyata Dirga lebih duluan. Untung posisi Nia tidak di belakang pintu, kalau tidak, benjol sudah pasti.


Nia gelagapan, Dirga pun sama.


"Kak..!"


"Nia!" Ucap keduanya bersamaan. Nia menunduk, tidak mampu beradu tatap terlalu lama dengan laki-laki yang berstatus suaminya. Hanya dua detik. Kalau lebih tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Nia menunduk, malam-malam begini entah kenapa Dirga bertambah menggoda, lebih tepatnya semakin ganteng di mata Nia. Aroma maskulin menguar dari tubuh Dirga, padahal seharian laki-laki itu tidak mandi, tapi mampu membuat Nia semakin tak berdaya, seketika wajahnya memerah. Untung penerangan yang tersisa hanya lampu tidur, jadi Dirga kurang jelas melihat wajah Nia.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2