GADIS CACAT

GADIS CACAT
Kesambet


__ADS_3

Abrar membatu berdiri di ruang tamu, tatapannya lurus ke arah salah satu pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Beberapa menit yang lalu sesosok wanita cantik berambut panjang nan ikal, serta wajah cabi menggelitik hati, masuk ke kamar itu. Sampai detik ini, tak kunjung keluar, membuat Abrar dilanda rasa penasaran.


Senyum terkembang di bibir merah Abrar, sedang tangan meraba dada yang ikut berdenyut nikmat merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Saking nikmatnya, Abrar sampai menutup mata, biar lebih meresapi percikan rasa yang menggetar keseluruh jiwa. Membangkit sesuatu yang selama ini dianggap tidak normal oleh Cik Uut.


Baru membuka mata, saat ada seseorang yang menepuk bahunya. Reflek Abrar memutar badan searah seratus delapan puluh derajat, ternyata ada Cik Uut rupanya.


"Kamu kenapa, kayak kesambet setan gitu?" tanya Cik Uut diikuti dagu naik turun.


"Eh....Mak, kenapa ngagetin gitu sih? Suka ya ngeliat Ab jantungan?" Abrar berpura-pura cemberut.


"Ih....kamu nya aja yang kayak kesambet gitu, emang kenapa sih....? Ngeliat apa?" Cik Uut kembali menaik turunkan kedua alisnya, sambil menopang dagu di gagang sapu. Cik Uut baru saja selesai membantu buk Fatimah bersih-bersih rumah. Wajahnya saja masih terlihat berkeringat.


"Mak...., itu siapa sih?" Abrar menunjuk dengan memutar kepala menghadap kamar yang di masuki Nia.


"Itu yang mana?" Cik Uut berpura-pura tidak tau, raut wajah dibuat senatural mungkin, guna mendukung acting dalam rangka memancing rasa penasaran Abrar. Senang rasanya mengerjai Abrar si kutub Utara yang mulai ada tanda-tanda akan mencair. Berbeda dengan biasanya, lelaki berumur dua puluh lima tahun ini, memilih berpura-pura tidak tau, bahkan terkesan cuek bebek bila ditawari perempuan oleh Cik Uut. Bukan tidak ada yang mau dengan Abrar, malah anak pak kades terang-terangan mengatakan suka dan selalu berkunjung kerumah Cik Uut guna menarik perhatian Abrar. Tapi itulah Abrar, menganggap semuanya hanya candaan.


"Ih.....!, Mak gimana sih...., nggak asyik..."Abrar merasa dikerjai Cik Uut, wanita yang selalu ia panggil Mak dan sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.


"Habisnya kamu cuma mandang pintu, emang ada apa di pintu, cicak...?" goda Cik Uut lagi. Menjadi hiburan tersendiri bagi Cik Uut melihat Abrar menggeram kesal. Susah payah Cik Uut menahan tawa agar tidak pecah di depan Abrar.


"Bukan cicak Mak......, tapi BIDADARI" tekan Abrar pelan, takut juga ia kedengaran oleh orang yang ada di dalam.

__ADS_1


"Oooohhhh......yang itu" tatapan Cik Uut turut menatap ke pintu kamar di mana Sania berada. Cik Uut menjeda kalimatnya, sengaja ia ingin menguji kesabaran Abrar yang semakin menipis karena tak sabaran ingin tau siapakah gerangan "Itu Sania anak buk Fatimah yang dulu biasa berkunjung ke sini. Anak sepupu jauh Mak yang tinggal di kota A" lanjut Cik Uut pada akhirnya.


"Sania yang dulu suka kita jahilin itu Mak? Terus menangis, dan minta di bela sama bang Dirga? Dan ujung-ujungnya suka nempelin bang Dirga itu kan...?" ucap Abrar penuh keterkejutan dan semangat empat lima dalam berucap. Tidak menyangka Nia akan secantik sekarang ini. Dulu sedikit hitam, juga kecil orangnya


"Memang Nia mana lagi, hem....? Kalau yang anak pak kades itu Najila, bukan Sania" Tutur Cik Uut sambil memukulkan pelan tangkai sapu ke kaki Abrar, membuat lelaki bertubuh jangkung itu melompat untuk mengelak.


"Mak nggak asyik Najila lagi yang di bawa-bawa. Itu Abrar juga tau kali" ucap Abrar sedikit malas saat nama Najila di sebut Cik Uut. "Udah...ah..., Abrar masuk dulu belum mandi" sambung Abrar sambil meraih tangan Cik Uut untuk di salami.


***


"Cari sampai ketemu!


jika besok belum juga ketemu, kamu tau akibatnya!" ancam Bara pada seseorang di balik telpon.


Sambungan telpon diputus sepihak oleh Bara. Ia menekan kuat tombol merah, karena saking kesalnya. Aura kemarahan sedang menyelimuti dirinya. Bara merasa dipermainkan, baru kali ini ada perempuan yang berani bermain dengan dirinya.


"Berani kamu bermain dengan Bara....hemmm....?!


Awas saja kalau kamu dapat kutangkap, ku pastikan kamu tidak akan pernah terlepas lagi!" Bara bicara sendiri, dengan tatapan lurus menembus dinding kaca ke arah gedung pencakar cakrawala yang mengelilingi apartemennya. Mukanya mengeras dengan tulang pipi yang bermunculan karena marah. Saat ini bara duduk bertumpang kaki di kursi meja kerjanya. Tadi ia sempat menyuruh orang memantau rumah Nia, ternyata dari info yang di dapat, Sania tela pergi meninggalkan kota ini. Belum di ketahui kemana perginya.


***

__ADS_1


"Beb kamu kemana sih....? Kok ditelpon nggak diangkat, di wa juga nggak di balas!" Geby berlarian ke arah Dirga yang baru turun dari mobilnya. Geby bela-belain datang menyusul Dirga dirumah pak Ramlan guna memastikan apa yang membuat Dirga tiba-tiba seharian cuek padanya.


Pak Ramlan yang ikut turun dari mobil, memandang tak suka pada Geby, si wanita berpakaian kekurangan bahan. Dirga menoleh pak Ramlan, ia tau papanya tidak menyukai Geby, tapi mau bagaimana, Geby kekasihnya.


"Papa masuk duluan! Dirga ngantarin Geby dulu" Dirga yang melihat situasi mulai tidak bersahabat, cepat menarik Geby untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah wanita itu duduk di kursi samping setir, Dirga menutup pintu dan akan ikut kembali masuk ke dalam mobil. Tapi sebelumnya ia menghampiri pak Ramlan.


"Pa...." "Ga..." ucap keduanya bersamaan.


"Jangan lama-lama! Kamu belum terlalu sehat!" pesan pak Ramlan pada akhirnya.


"Ia, Dirga hanya ingin mengantar Geby pulang, setelah itu langsung kembali pulang" ucap Dirga sesaat setelah bersalaman.


Hanya anggukan keterpaksaan yang diberikan pak Ramlan. Jujur ia tidak suka Dirga dekat apalagi menjalin hubungan bersama Geby. Ia sangat tau siapa Geby itu. Wanita nakal yang suka dengan siapa saja asal ada duitnya.


Pak Ramlan memandangi mobil Dirga yang beranjak pergi dari pekarangan rumah. Dalam hati bimbang sedang berkuasa direlung jiwa, hanya saja untuk melarang ia tak kuasa. Saat ini cukup doa yang mampu ia panjatkan.


Dalam mobil, sepatah pun belum terucap dari bibir Dirga, wajahnya Datar malah cenderung kesal. Ya ..., Dirga sedikit kesal dengan kelakuan Geby yang nekat pergi kerumah pak Ramlan. Bukan tanpa alasan, dulu pernah sekali wanita itu datang ke sana, ujung-ujungnya pertengkaran dengan pak Ramlan yang ia dapatkan. Geby yang pelawan, serta pak Ramlan yang tidak Dirga ketahui karena apa tidak bisa menerima Geby.


"Kok kamu nyuekin aku sih beb?" Geby yang tidak tahan, akhirnya berucap tanya sambil memiringkan badan melihat wajah Dirga yang kesal.


Dirga menoleh sekilas, detik berikutnya kembali fokus dengan jalanan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2