GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 29


__ADS_3

Kamar yang tadinya rapi, dalam sekelip mata berubah bak kapal pecah. Bantal dan selimut berserakan di lantai. Alat makeup mahal yang bertengger rapi di meja hias, dalam satu kibasan tangan, melayang ikut menyusul bantal menyapa lantai. Bahkan ada beberapa yang pecah hingga menetes keluar dari botol kaca. Sukur kaca yang ada di meja hias tidak ikut jadi pelampiasan, jika tidak....., bisa di bayangkan.


Puas mengamuk, Geby terduduk di lantai kamar berteman pecahan alat kecantikan juga bantal yang berserakan. Saat ini, bukan hanya botol parfum yang pecah, kepala Geby juga sama, terasa ditusuk ribuan duri. Berdenyut sakit. Belum lagi jiwanya yang tergoncang hebat takut kehilangan sumber penghidupan mewah yang selama ini selalu selalu menghidupi dirinya.


Miris....., kondisi Geby sungguh miris. Rambut acak-acakan, mata bengkak dan jangan lupakan bibir yang biasa dipoles gincu merah menyala, saat ini kehilangan warnanya. Pucat. Sesekali terdengar racauan menyerukan nama Abrar, sungguh memilukan. Namun menjijikkan bagi orang yang tau duduk perkara sebenarnya. Tidak ketinggalan umpatan-umpatan kasar bernada makian diarahkan untuk bos sekaligus selingkuhannya, BARA.


***


Ditempat yang jauh dari ibu kota.


"Mau ini?" Abrar siap menyendok rendang daging untuk Nia.


"Udah cukup kak, ini aja" Nia dengan satu tangan memegang piring berdiri di samping Abrar. Tidak banyak lauk dan sayur yang ia ambil, lebih tepatnya Abrar yang mengambilkan. Karena sejak berdiri di meja prasmanan, Abrar dengan suka rela melayani Nia. Tanpa diminta.


"Yakin cukup segitu?"Kembali Abrar meyakinkan, menatap Nia dengan penuh perhatian. Abrar hanya melihat sepotong ayam goreng, sayur sop dan sedikit sambal yang bertengger di piring Nia.


"Cukup" jawab Nia pasti diiringi senyum manis yang semakin membuat Abrar meleleh.


"Ya udah..., hayuk ....kita cari meja!" Abrar dan Nia meninggalkan meja prasmanan. Beberapa orang yang tadi turut mengantri di meja prasmanan, menggeser posisi maju selangkah menggantikan posisi Nia dan Abrar.


Nia berjalan mengekor di belakang Abrar. Suasana gedung serba guna sedang padat-padatnya, di penuhi para undangan yang sengaja memilih datang diwaktu ba'da asar. Biar tidak lagi repot untuk makan malam.


Di salah satu meja, ada sepasang mata menyorot tajam ke arah Abrar dan Nia. Tatapannya menyirat makna yang mendalam.


"Di sini aja ya?!" Ada satu meja kosong yang barusan ditinggal pergi penghuninya. Bekas makan orang yang barusan pergi juga masih memenuhi meja. Beruntung salah seorang yang ditugaskan untuk mengumpulkan piring kotor segera merapikan meja.


Nia ikut duduk di hadapan Abrar. Memilih tidak bersisian. Nia lebih nyaman dengan posisi begini. Sebenarnya ada empat kursi yang mengelilingi meja. Hanya saja biasnya orang lain tidak akan nyaman untuk turut duduk apabila sudah ada orang lain yang mengisi meja.


Nia dan Abrar mulai makan dalam diam. Entah apa yang dipikirkan ke duanya. Hanya saja tatapan keduanya terkadang menatap ke arah panggung tempat pasangan pengantin di sandingkan, juga terkadang saling bertabrakan, sehingga bibir keduanya saling melengkung senyum.

__ADS_1


"Permisi.....! Boleh ikut gabung?"


Abrar dan Nia mendongak bersamaan. Ada seorang wanita cantik memakai abaya biru muda di padan jilbab warna senada, berdiri di samping mereka. Satu tangan memegang piring, satu tangan lagi memegang gelas minuman.


"Silakan.....!" Nia yang lebih dulu bersuara, sedang Abrar diam saja. Memilih cuek dengan melanjutkan makannya. Nia tau Abrar sedikit tak suka dengan kehadiran wanita itu. Entah apa sebabnya. Biarlah...., Nia tidak ingin terlalu ikut campur.


"Maaf ya..., jadi ganggu acara makannya. Soalnya semua meja penuh" wanita yang belum Nia ketahui namanya, mencoba beralasan. Memang masuk akal. Nia juga bisa melihat semua meja saat ini terisi semua. Paling hanya menyisakan satu dua.


"Nggak masalah, lagian kita hanya berdua, masih ada dua kursi yang kosong" Nia yang dasarnya ramah, berbicara diikuti senyuman. Sedikit pun tidak ada nada keberatan.


"Kak Abrar, aku duduk di sini ya?" Ijin wanita itu sebelum benar-benar mendudukkan bokongnya di kursi samping Abrar.


"lho......, udah kenal toh? Tapi kenapa kak Abrar nya, cuek gitu ....?" Suara hati Nia. Nia menatap ke arah Abrar, sedikit menyirat tanya di bola matanya.


"Silakan.....! Nggak perlu ijin juga kali, lagian meja dan kursi ini diperuntukkan memang untuk tamu undangan" jawab Abrar datar tanpa melihat lawan bicaranya.


Wanita itu duduk dengan senyum tidak enakan, lebih tepatnya dipaksakan "Makasih....." cicitnya pelan menatap Nia yang juga sedang menatap dirinya.


Ketiganya kembali melanjutkan makan. Kali ini benar-benar makan, tidak ada toleh sana, toleh sini. Hanya lirikan lewat sudut mata yang di lakukan wanita berhijab biru terhadap Abrar yang ada di sebelahnya.


"Mau es krim?" suara bas Abrar memecah kebekuan. Abrar barusan menyelesaikan acara makannya. Satu lembar tisu di tarik dari kotak yang tersimpan ditengah meja. Selesai mengelap bibir, menatap penuh ke arah Nia. Artinya, yang ditawari eskrim hanya Nia. Bukan wanita yang duduk di sampingnya.


"Boleh" sahut Nia apa adanya. Abrar langsung berdiri, dan berjalan ke arah stand es krim yang letaknya sedikit pojokan, berada sekitar lima meter dari meja prasmanan. Tatapan gadis berjilbab biru mengikuti langkah Abrar, Nia tau itu.


"Mbak ini temannya kak Abrar ya?" Nia kembali membuka obrolan, mengikis kecanggungan yang sejak tadi menyelimuti.


"Ia, dulu...." hambar, itu yang Nia tangkap dari nada bicara gadis di sampingnya.


"O...ya, kita belum kenalan, saya Nia" Nia mengulur tangan.

__ADS_1


"Oh...maaf sampai lupa, saya Najila, panggil aja Jila" keduanya pun bersalaman.


"Maaf kalau boleh tau..., mbak Nia siapanya kak Abrar?"


"Saya....a......" belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Abrar datang memutus obrolan ke duanya.


"Nia.....! Ini eskrimnya!" yang ada tinggal rasa vanila, coklat udah habis" Abrar meletakkan satu cup kecil eskrim ke hadapan Nia.


"Makasih kak!" Ucap Nia tulus. Sempat terbesit rasa tidak enak pad Najila, pasalnya Abrar hanya membawa dua cup eskrim.


Nia mulai menyendoki eskrim. Begitu pun Abrar. Najila hanya mengembangkan senyum kehampaan melihat keduanya asyik menikmati skrim.


Abrar kembali menarik selembar tisu. Tidak disangka, ternyata tisu itu digunakan Abrar untuk mengelap eskrim yang ada di sudut bibir Nia.


Nia gelagapan, sungguh sangat tidak enakan, terlebih dengan Najila yang sedari tadi menjadi penonton tingkah keduanya.


Berbeda dengan Nia, Abrar bersikap santai, seolah tidak menganggap keberadaan orang lain, termasuk Najila yang ada di sisinya.


Tak tahan melihat interaksi Abrar yang begitu sweet pada wanita lain, Najila memilih pamit.


"Permisi!" ucapnya pelan, langsung berdiri meninggalkan Abrar dan Nia.


Sungguh, Nia menangkap gurat kesedihan diwajah Najila, tapi ia masih takut untuk menduga-duga. Abrar yang memutar pandangan ke arah berlawanan dengan Najila, sedikit tersenyum pahit. Entah apa yang terjadi antara keduanya.


Selesai menikmati eskrim sebagai cemilan penutup, Abrar dan Nia langsung beranjak menuju panggung tempat ke dua mempelai berada. Doa dan ucapan selamat Abrar persembahkan pada kedua pasangan yang baru membina bahtera rumah tangga.


Sesi foto dengan kedua mempelai tidak lupa dilakukan. Abrar berada di samping mempelai wanita, Nia berada di samping mempelai pria. Selesai itu, baru keduanya turun dari panggung, bersiap meninggalkan gedung serbaguna. Tujuan mereka satu, pulang kerumah.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2