GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 23


__ADS_3

"Beb!, kamu nggak turun?" Geby menatap heran Dirga yang masih setia duduk di jok, savety belt masih melekat di bahu, dengan mesin mobil yang juga masih menyala.


"Aku langsung pulang aja. Lagi kurang enak badan, pengen cepet-cepet istirahat. Besok-besok baru kita ketemuan"ucap Dirga datar tanpa menoleh ke pada Geby. Tatapan Dirga lurus kedepan, saat ini keduanya berada di basement apartemen Geby. Di samping otak yang fokus ke Nia, jawaban Dirga benar adanya, tubuhnya terasa kembali sakit sejak mengetahui kepindahan Nia dari pemilik kontrakan. Seribu sesal masih bersarang di kepala, semuanya tentang Nia.


"Kamu kenapa sih...?! Nggak pernah-pernah kayak gini ke aku? Biasanya kamu yang ngajak aku on duluan, tapi ini? Kamu nggak sedang ngejalin hubungan dengan wanita lain kan...? Atau kamu udah bosan sama aku?" Dirga diam. Geby menatap tajam Dirga. Ada tanda tanya besar yang bercokol di hatinya. Satu tangan menahan pintu mobil sedang tangan satunya berpegangan di badan mobil. Geby enggan menutup pintu mobil. Rasa kesal berkumpul menjadi satu di sudut hatinya. Sebenarnya di dasar hati, ia sedang kalut, takut jika Dirga mengetahui sesuatu tentang dirinya.


"Jawab beb!" Geby setengah membentak Dirga.


"Geb...., please! Gue bener-bener lagi nggak enak badan. Tatapan jengah Dirga layangkan untuk Geby yang pemaksa. Tidak ada lagi kata sayang, Dirga membahasakan dirinya juga tidak lagi aku, tapi 'gue', disebabkan rasa kesal atas sikap kekanak-kanakan Geby. "Kalau Lo masih ngotot jangan salahkan gue kalau nanti gue bertindak kasar!" Ucap Dirga bernada ancaman diiringi tatapan serius pada Geby.


Tidak pernah Dirga berucap sekasar ini, membuat nyali Geby kontan menciut, wajahnya berubah takut, karena selama ini Dirga selalu berlaku lembut lembut.


Pelan Geby menutup pintu, belum sempat menggeser tubuh secara utuh, Dirga langsung tancap gas. Geby kaget sekaligus shock, bagaimana kalau tadi tubuhnya masih ada yang nyangkut di mobil, atau posisi kaki di bawah kolong, kemungkinan besar ia akan jadi korban hari ini.


Geby menatap horor kepergian Dirga, dari bibir filernya, keluar kata-kata umpatan untuk Dirga.


***


Selesai mengantar Geby pulang, Dirga tidak langsung pulang ke rumah pak Ramlan. Ia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu, tujuan utamanya rumah tempat ia menghabiskan malam nikmat penuh pemaksaan pada Nia. Setibanya di sana, masih diteras rumah, lampu bekas kemaren malam masih menyala. Dirga sangat....sangat, berharap Nia ada di sini. Semua kejadian mulai membayang, dari pemaksaan di iringi sikap kasar Dirga ke Nia. Bagaimana tangisan Nia saat diperlakukan kasar olehnya. Sayangnya tidak sedikit pun rasa belas kasihan Dirga. Ia memperlakukan Nia tidak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih, di seret dengan mencengkram satu tangan Nia. Mengingatnya saja, membuat hati Dirga berteriak sakit.


Pelan mengayun kaki, masuk ke dalam rumah, tempat pertama yang akan diperiksa, kamar. Dirga membuka pintu kamar utama, dimana kejadian laknat itu terjadi. Tempat di mana Dirga berhasil menghancurkan Nia sehancur-hancurnya. Perbuatan yang membuat gadis kecil yang dulu sudah dianggap adik sendiri pergi jauh dari hidupnya.

__ADS_1


Tidak ada satu pun yang berubah, semuanya masih sama seperti saat Dirga meninggalkan kamar itu. Bantal berserakan di mana-mana, selimut kusut yang teronggok di lantai. Menyaksikan itu semua kembali membingkai kenangan yang terasa entah. Di satu sisi Dirga sangat menyukai tubuh Nia, bahkan rasa yang diberikan Nia, jauh lebih nikmat dari yang ia dapatkan bersama Geby. Namun di sisi lain, Dirga merasakan rasa bersalah yang teramat besar, ia sudah menghancurkan fisik juga mental Nia. Dihukum dengan apa pun rasanya tidak bisa melunasi kesalahan Dirga pada Nia.


Dirga terduduk lesu di kasur king size nya. Sesuatu yang tak kasat mata kembali membabi buta membogem jantung dan hatinya. Ketika meraba seprai bernoda merah yang masih menempel di seprai putihnya.


"Aaagggghhhh.......!" Dirga berteriak melampiaskan sesak yang memenuhi rongga dada. Air mata mengalir membasahi kedua pipi.


"Maafin kakak Nia...! Maafin kakak....!" ucap Dirga di sela tangisnya.


***


"Cik.....makasih....., udah numpangin kita istirahat, juga udah nolongin saya beberes. Kalau nggak ada Cik nggak tau gimana kita" ucap buk Fatimah tulus. Ia dan Nia ijin pamit untuk pulang ke rumah pusaka, harta satu-satunya yang mereka punya. Tadi siang cit Uut lah yang beberes, sedang buk Fatimah hanya membantu apa yang ia bisa kerjakan dari kursi roda.


Sayangnya, Abrar tak merespon. Fokusnya sedang tertancap ke pada wanita yang berdiri di samping roda buk Fatimah. Ia Nia, si gadis yang sudah menggetarkan hati Abrar.


"Bar....!" panggil Cik Uut lagi sambil menyikut tubuh Abrar.


"Auuu......" Abrar meringis kesakitan lalu melirik Cik Uut yang juga menatap dirinya.


"Ngelamunnya lanjut nanti aja" ucap Cik Uut pelan.


Abrar nyengir kuda, baru sadar akan kecerobohan sikapnya yang terang-terangan mengagumi Nia.

__ADS_1


"Terima kasih atas tawaran Cik, tapi kayaknya malam ini Nia dan Mak udah harus pulang, biar nanti Nia bisa sambil mengemas apa yang patut" tambah Nia menghilangkan ke canggungan karena dari tadi Abrar menatap lekat dirinya.


"Kenapa nggak tidur di sini aja, besok baru kita sama-sama ngebersihinnya, lagian katanya Nia juga kurang sehat kan...? Abrar yang enggan Nia pergi mencoba mencari seribu alasan.


"Terima kasih kak, Nia udah baikan kok, Cik kita pamit ya...!" cepat Nia mengambil kendali agar segera pergi, ia mendorong kursi roda buk Fatimah. Semua baju sudah ia pindahkan sejak sore tadi.


"Assalamualaikum.....!" ucap buk Fatimah dan Nia bersamaan.


"Walaikumsalam....!" Abrar dan Cik Uut menyahut bersamaan pula.


Abrar masih menatap lekat Nia, hingga wanita itu benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Udah mandanginnya! entar kesambet lagi!" goda Cik Uut.


"Kalau kesambet gadis kayak Nia Abrar mau bangettt....Mak"


"Ih...., kamu, coba gitu dari dulu biar Mak nggak mikir yang macem-macem. Tapi jangan terlalu ngarep, ia kalau Nia nya mau, siapa tau dia sudah ada yang punya, lagian Cik liat Nia cuek-cuek aja tuh ke kamu nggak kayak si itu"


"Ih.... Mak, jangan gitu dong, dulu tu belum ada yang rasa gimana gitu, makanya Abrar nggak respon, kalau yang ini kan beda Mak.... Makanya Mak harus dukung Abrar!" Abrar menggandeng Cik Uut masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu karena sebentar hari beranjak gelap.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2