GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 50


__ADS_3

Nia menggeser tubuh, memberi jalan untuk Dirga masuk. Ia masih nampak tertunduk. Dirga berpikiran istrinya itu masih marah atau benci padanya, seperti sebelum-sebelumnya. Makanya perempuan itu membuang pandangan.


"Maaf, aku terpaksa masuk ke kamar ini, soalnya baju beserta barang-barang ku tersimpan di sini" wajah Dirga tampak tidak enakan.


Jlep......


Hati Nia terasa perih, begitu hinanya dia di mata Dirga. Sampai-sampai laki-laki itu merasa terpaksa untuk masuk kamar.


Nia tak menyahut ia memilih diam biar hatinya tidak tambah ngilu. Nia pun tak mengerti kenapa ia suka sensitif. Bisa dikatakan saat ini Nia terlalu mudah baper, mungkin hormon kehamilan yang membuatnya begitu.


Baru saja Nia ingin melanjutkan langkah, kali ini suara Dirga kembali menghentikannya.


"Mau kemana?"


"Turun kebawah" Nia bicara tanpa memandang lawan bicaranya. Ia membelakangi Dirga.


"Diamlah dikamar!. Kamu ingin sesuatu, biar aku yang ambilkan" Dirga menatap lekat tubuh ringkih yang berdiri tepat di ambang pintu. Dirga ingin berbaik dengan wanita yang beberapa jam tadi menyandang status nyonya Dirga. Bagaimana pun juga wanita itu sedang mengandung anaknya.


"Nggak usah. Aku ingin ke kamar ibuk"


"Ngapain?! Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat!" Dirga pun mengayun langkah mendekati tubuh istrinya.

__ADS_1


"Tidur" jawab Nia singkat.


Dirga menautkan kedua alisnya. Ambigu dengan jawaban Nia. Ini kamar mereka, seharusnya Nia tidur di sini, kenapa harus ke kamar mertuanya. Oh...ia, hampir Dirga lupa, Nia kan sangat membenci dirinya. Apalagi untuk berbagi kasur, wanita berpasmina hitam itu juga pasti tidak ingin menghirup udara yang sama dengannya.


"Ok....kalau kamu nggak suka aku di sini, aku akan keluar sebentar lagi" Dirga mengangkat tangan, ia menyerah. " Aku janji nggak akan lama di kamar. Aku hanya ingin mandi, setelah itu aku akan pergi" Tangan Dirga meraih lengan Nia, namun cepat di tepis calon ibu dari anak-anaknya kelak.


"So_ry" Dirga menyesali tindakannya barusan. "Tapi please....., tidurlah di sini" mohon Dirga sepenuh hati. Ia tidak ingin orang berpikir yang tidak-tidak. Terutama para pembantu yang ada di rumah. Apa kata mereka nanti kalau di malam pertama Nia malah tidur dengan ibuk nya.


Berada di dekat Dirga sungguh terasa nyaman, namun di hati masih diliputi ketakutan. Ia takut Dirga kembali memperlakukan dirinya seperti waktu dulu. Selain itu ada hal lain yang masih mengganjal di hati Nia. Suaminya ini punya wanita lain. Nia sangat tau hal itu. Malah wanita itu tidak bisa disandingkan dengan dia yang notabenenya hanya seorang wanita cacat.


"Aku janji nggak akan macem-macem, dan nggak akan gangguin kamu" ucap Dirga meyakinkan, tatapannya tajamnya menyayu.


Nia mengangkat pandangan, menatap Dirga mencari kebenaran dari ucapannya. Benar, Dirga serius dengan ucapannya. Itulah yang di lihat Nia di bola mata Dirga.


Air hangat menghujam, membasahi seluruh tubuh Dirga yang setengah polos. Laki-laki bertubuh kekar itu berdiri tepat dibawah pancuran shower. Ia sangat menikmati setiap tetes air yang menyentuh kulitnya. Nyamannya lagi, air hangat terasa mampu menjadi obat paling ampuh penghilang penat di jiwa dan raga Dirga. Rasanya ia ingin berlama-lama, sayangnya ia teringat akan ucapannya, berjanji untuk tidak berlama-lama di kamar itu.


Dirga mengakhiri sesi mandinya. Ia keluar hanya melilitkan handuk di pinggang. Kain persegi panjang itu hanya mampu menutup bagian pinggang sampai lutut. Selebihnya terekspose begitu saja. Untung saat keluar kamar mandi, Nia sepertinya sudah tertidur. Posisinya meringkuk mirip anak kecil yang kedinginan. Bagian kepala, masih berbalut pasmina. Sedikit surai terlihat mengintip di keningnya. Wanita itu tertidur dengan damai.


Dirga hanya menggeleng, melihat istrinya. Semudah itu dia tertidur. Kemudian cepat Dirga masuk ke kamar ganti untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan malam ini.


Tidak butuh waktu lama, sekitar tujuh menitan Dirga sudah kembali menutup pintu ruang wardrobe nya. Lelaki matang itu terlihat mengenakan baju kaos rumahan berwarna hijau tua, juga celana santai selutut dengan motif kotak-kotak hitam putih.

__ADS_1


Pelan Dirga melangkah mendekati kasur tempat Nia menggapai mimpi. Wajahnya damai, sesekali terdengar hembusan nafas yang teratur.


Dirga tersenyum ia menikmati wajah alami istrinya yang tak tersentuh bedak walau sedikit. Sadar atau tidak, Dirga duduk di sisi Nia. Padahal janjinya tadi ingin cepat pergi, nyatanya sudah sepuluh menitan ia menatap wajah istrinya yang memang semakin tirus.


Dari duduk kini Dirga mengubah posisi menjadi berbaring. Tatapannya belum juga beranjak dari wajah Nia. Ia menikmati pahatan Tuhan yang terlihat sempurna di lihat dari sisi manapun. Alis Nia yang tebal dan berbentuk. Hidung kecil yang tidak terlalu mancing namun tidak juga pesek. Saat mata Dirga sedikit turun ke bawah, ia semakin terpesona dengan bibir tipis yang terasa manis saat ia menciumnya dengan paksa, kala itu. Ah...., sungguh jika mengingat bagaimana nikmatnya Nia malam itu, demi apa pun di ujung tiba-tiba berdiri tak tau malu.


Untung si Ujang bisa di ajak kompromi, ternyata ia tidak kuat juga berdiri terlalu lama, capek.


Seiring meredupnya pupil Dirga, perlahan-lahan semua berubah tenang, Dirga pun jatuh tertidur sambil memeluk Nia.


Siapa pun yang melihat gaya tidur keduanya, pasti mengira pasangan ini menikah atas dasar cinta.


***


Masih dengan sisa tangisannya, Lea si gadis malang keluar dari diskotik. Ulasan kejadian tidak menyenangkan di dalam tadi, kembali berkeliaran di kepalanya. Saling tubruk dengan semua nasehat yang orang tuanya berikan.


Lea masih SMA, memang tidak dibolehkan untuk keluyuran di malam hari. Oleh sebab itu dia membuat alasan kerja kelompok agar di ijinkan keluar rumah. Andai ia tau begini kejadiannya, Lea pasti akan mendengar nasehat orang tuanya. Dia pasti tidak akan berbohong ke pada kedua orang tuanya. Sayang, sudah terlambat, ibarat pepatah nasi sudah menjadi bubur.


Siang tadi, Lea berdalih ingin kerja kelompok dan tidur di rumah salah satu temannya. Orang tuanya percaya begitu saja kalau yang dijadikan alasan berkaitan kebutuhan sekolah. Padahal ia pergi ke diskotik bareng teman-temannya untuk bersenang-senang.


Mereka bukan kerja kelompok, melainkan mulai belajar genit dan menertawakan orang yang terlihat aneh di mata mereka. Seperti sebelum kejadian tidak menyenangkan itu, Lea dan kawan-kawan tertawa bersama setelah melihat pasangan yang menurut mereka tidak cocok. Suara tawa yang nyaring membuat Bara yang patah hati semakin runsing.

__ADS_1


Untung saat diparkiran teman Lea masih menunggu di dalam mobil. Mereka pun pulang bersama-sama.


Bersambung.....


__ADS_2