GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 44


__ADS_3

"Kok masih di sini?! Kenapa belum pergi ..?! " bukan ucapan terima kasih yang Dirga dapatkan setelah menolong Nia ke toilet. Ia malah mendapat lontaran kalimat usiran secara tak langsung. Parahnya lagi, Nia memasang wajah ketus bin jutek. Sama sekali bukan Nia yang pernah ia kenal. Tidak ada Nia yang suka malu-malu bila berhadapan dengannya.


Sungguh saat ini Nia dilanda rasa yang antah berantah. Satu sisi ia membenci Dirga, bahkan trauma itu masih menganga. Di sisi lain ia merasa nyaman, apalagi saat berada di gendongan Dirga tadi, benar-benar aroma paling menenangkan yang pernah Nia hidu. Rasa mual, pusing yang sempat menerpa seolah menguap begitu saja. Nia nyaman. Nia betah


"Kita perlu bicara. Ini ...., tentang kita" Dirga menatap dalam Nia yang masih enggan menatap dirinya. Ya, Dirga sadar kesalahannya sangatlah besar, dan dia pun pantas mendapatkan perlakuan seperti ini dari Nia.


Buk Fatimah berpura-pura baru terbangun. Mengusap-usap wajah serta sedikit meregangkan badan. Baik Dirga maupun Nia, keduanya menjatuhkan pandang pada wanita tua yang sibuk memasang jilbab. Ucapan Dirga terhenti, meski belum rampung di utarakan.


Buk Fatimah berdiri dan berjalan mendekat ke bed Nia " ibuk ke mushalla dulu ya" pamitnya pada Nia. Sedang Dirga sedikit pun tak di sapa. Hanya lirikan tajam, setelahnya buk Fatimah langsung ingin keluar untuk ke mushalla menunaikan kewajiban subuhnya.


"Buk, jangan pergi!" Nia mencoba menahan buk Fatimah. Ia takut ditinggal hanya berdua di kamar itu. "Nia takut" cicitnya lagi. Persis anak kecil yang ketakutan saat terjadi hujan petir.


"Kamu tenang saja, dia nggak akan berani macam-macam. Kalau pun dia berani, kali ini ibuk akan lapor polisi" ucap buk Fatimah meyakinkan Nia.


"Kamu lihat sendiri kan? Bagaimana trauma nya Nia. Ini semua ulahmu. Ingat...!, ini kesempatan terakhir!!" ultimatum seorang ibu pada laki-laki yang sudah menyakiti putrinya. Buk Fatimah terlihat begitu tegas pada Dirga.


"Saya janji, nggak akan macam-macam" hanya itu kata-kata yang mampu di ucapkan Dirga.


"Ibuk ke mushalla dulu nak" nada bicara buk Fatimah spontan berubah lembut, saat tatapannya kembali ke Nia.


Nia pasrah. Mungkin ini lah saatnya dia harus melawan trauma itu. Serta mendengar sendiri apa maunya Dirga kali ini.


Sesaat setelah kepergian buk Fatimah, Dirga mengubah arah pandang. Kini ia kembali fokus ke Nia.


"Nia?!"


"Bicara saja intinya!" Nia tidak ingin mendengar basa-basi Dirga.

__ADS_1


"Kakak benar-benar ingin minta maaf atas apa yang sudah kakak perbuat ke Nia" Nia tersenyum kecut. Setetes air mata, meleleh di sudut matanya.


"Kakak nggak pernah tau, ternyata penyebab cacatnya tangan Nia adalah kakak. Karena semua orang merahasiakannya. Andai Kakak tau sejak awal...."


"Kalau tau kenapa hem....? Nia memotong ucapan Dirga. Mau berbaik dengan Nia hanya di karenakan rasa bersalah? Nia semakin tidak yakin dengan ketulusan Dirga yang mengajak dirinya untuk menikah.


"Bukan..., bukan begitu...., maksud kakak......." lagi-lagi Nia memotong ucapan Dirga.


"Bicara intinya saja!" Nia semakin ketus. Sekali pun belum ia memandang Dirga. Tatapannya masih betah melihat tembok dari pada melihat Dirga.


Helaan nafas Dirga terdengar panjang dan nyaring. Nia sama sekali tidak memberi kesempatan untuk dirinya menjelaskan duduk perkara dari awal.


"Kakak juga ingin minta maaf atas kata-kata kasar yang pernah terucap dari mulut kakak. Dan dosa kakak terbesar adalah......." Dirga tidak sanggup menyebut dosa terbesar itu, terlalu malu dengan kelakuannya yang mengalahkan binatang. Ia tertunduk menekuri lantai.


Nia tau arah pembicaraan Dirga. Di ingatkan tentang itu membuat hati Nia semakin terusik. Bulir bening semakin mengalir deras. Bahkan Nia harus menggigit bibir bawah demi menahan isakan. Dari kejadian itulah sekarang tumbuh benih di rahimnya tanpa ikatan pernikahan.


"Oleh karena itu kakak akan menikahi Nia" ujar Dirga penuh kesungguhan. Ia menatap punggung yang membelakangi dirinya. "secepatnya kita akan menikah" tambahnya lagi.


***


Seminggu sudah Nia keluar dari rumah sakit. Ia sempat dirawat dua hari guna menstabilkan kondisinya.


Sepulang dari rumah sakit, Pak Ramlan langsung membawa Nia dan buk Fatimah tinggal bersamanya.


Sedang Dirga selama seminggu itu, disibukkan dengan urusan administrasi pernikahan, juga kasus yang sedang menimpa dirinya.


Hari ini, di kediaman Dirga akan menjadi hari paling bersejarah. Baik bagi Nia, maupun Dirga. Keduanya akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Ya...., Dirga akan menikahi Nia hari ini, sesuai janjinya.

__ADS_1


Tidak ada acara besar-besaran seperti moment pernikahan pada umumnya yang mengundang ratusan bahkan ribuan tamu. Dirga hanya sebatas mengucap ijab qobul saja. Untuk acaranya sendiri, hanya akan di hadiri penghulu, empat orang saksi, RT dan RW setempat serta tetangga kanan kiri rumah. Mungkin di karenakan pernikahan ini terjadi hanya sebatas tanggung jawab, bukan cinta.


Nia sudah berbalut kebaya putih, hanya kebaya putih dan atasan jilbab senada. Itu pun pak Ramlan yang membelikan. Bukan Dirga. Karena selama satu minggu dirumah pak Ramlan, baru sekali Nia melihat Dirga. Setelah itu tak pernah lagi terlihat batang hidungnya. Entah kemana keberadaannya. Nia pun memang tidak pernah mau ambil pusing.


Tidak ada riasan atau dandanan khusus dari MUA. Semuanya di lakukan sendiri serba seadanya. Untungnya wajah Nia sedikit di atas rata-rata dengan keunikan yang ia punya menambah inner beauty tersendiri.


Jam sepuluh pagi, orang-orang yang dikehendaki semua sudah hadir. Mereka duduk diruang tamu beralaskan karpet bulu. Sementara kursi tamu sudah disingkirkan, agar ruangan lebih luas. Tinggal menunggu acara di mulai.


Nia di dampingi buk Fatimah terlihat keluar dari kamar tamu menuju ruang tamu.


Lelaki tua berbatik motif Pring Sedapur tampak gelisah. Sesekali ia melirik arloji di pergelangan tangan. Jam sudah mengarah ke angka sepuluh lewat lima belas menit. Kalau menurut rencana yang sudah terjadwal, prosesi ijab qobul sudah di mulai.


Nia dan buk Fatimah duduk di samping kanan pak Ramlan. Tepatnya berhadapan dengan penghulu.


Sementara menunggu ke hadiran mempelai pria, penghulu dan yang lainnya terlibat pembicaraan ringan. Sampailah di jam sepuluh tiga puluh. Penghulu mulai celingukan menatap satu persatu orang yang ada diruangan. Belum ia temukan calon suami Nia.


"Pak Ramlan!, apa pengantin prianya boleh di hadirkan sekarang?!. Biar acara segera kita mulai. Soalnya saya mesti ke tempat lain jam sebelas ini" ucapnya sambil melihat jam di pergelangan tangan. Tamu yang lain ikut menyimak.


Wajah lelaki tua itu terlihat semakin gelisah." kita tunggu sebentar pak, soalnya pengantin pria masih di jalan, terjebak macet" pak Ramlan berusaha memberi alasan. Padahal ia sendiri tidak tau dimana keberadaan Dirga saat ini. Hapenya sejak pagi mati. Sejak kemarin Dirga juga tidak pulang. Ia hanya mengirim pesan akan datang di acara ijab qobul yang sudah dijadwalkan.


Nia melirik buk Fatimah, jujur Nia sangat deg...dekan. Dalam hati berkecamuk berbagai andaian.


Buk Fatimah yang sadar akan kegelisahan Nia, mencoba menenangkan. Di elusnya lembut lengan Nia.


***


Di tempat berbeda, seorang laki-laki berkemeja putih lengan panjang dengan peci di kepala, baru selesai mengucapkan ijab qobul. Lelaki itu tak lain adalah seorang Dirga. Lebih tepatnya Dirga anak pak Ramlan, calon suami Nia.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2