
Pak Ramlan mondar mandir menunggu kedatangan Dirga. Janjinya paling telat setengah enam sore sudah dirumah, nyatanya sampai jam sembilan malam Dirga belum juga menampakkan batang hidungnya. Berulang kali menelpon dan mengirim pesan, nyatanya tidak ada satu pun yang direspon. Pertanyaan hanya satu, kemana Dirga saat ini?
Tatapan pak Ramlan tertuju pada dua koper yang sudah bertengger di samping kursi ruang tamu. Satu miliknya, dan satu lagi milik Dirga. Tadi sore ia meminta bibik untuk menolong mengemaskan bajunya juga baju Dirga. Sudah berencana bersama Dirga akan ke kampung halaman Nia malam ini. Namun semua terancam batal, di karenakan Dirga belum ada tanda-tanda kemunculannya.
"Kemana anak itu?" monolog pak Ramlan di teras rumah. Bibirnya mendesah. Hatinya gelisah. Tatapannya tak henti menyorot kearah jalan yang mulai lengang. Dikarenakan jalan komplek akan ditutup di jam sepuluh malam.
***
"Kami tau bapak atasan, tapi seharusnya sebagai seorang pemimpin bapak memberikan contoh teladan yang baik pada bawahan. Bukan malah melakukan tindakan pelecehan seperti ini, ini sangat memalukan" pendapat seorang karyawan yang turut masuk ke dalam satu ruangan yang ada di kantor tempat Dirga bekerja. Turut menghakimi, karena secara kasat mata itu yang mereka lihat di parkiran tadi.
"Ini salah paham!!!. Apa yang bapak-bapak lihat tidak lah benar!" Dirga berusaha membela Diri. Lelah. Menegaskan duduk perkara yang sebenarnya. Sudah hampir tiga jam ia disidang agar mengakui kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Ia dituduh melakukan percobaan pemerkosaan terhadap Geby, mantan ke kasih hatinya. Dasi yang mencekik leher, sudah dibuang entah kemana. Baju kemeja yang sebelumnya rapi, tak berbentuk karena di tarik Geby saat di mobil tadi. Rambut pun mulai mengembang, dikarenakan selalu di sugar sejak tadi.
"Ini semua akal-akalan wanita ular itu!" tunjuk Dirga penuh benci ke arah Geby yang sedang menangis di sudut kursi tepat di depan Dirga. Hanya meja sebagai penghalang keduanya. Di sampingnya ada seorang karyawan wanita yang turut menenangkan, sambil mengusap naik turun lengan Geby.
Perfect, acting yang sungguh perfect. Makin dongkol saja Dirga memandang wajah Geby.
Tubuh Geby yang terbuka, sudah ditutup dengan jas, yang entah siapa yang memberi.
Dilihat sekilas, Geby benar-benar seperti korban pemerkosaan. Kancing baju yang terlepas, bahkan ada sedikit sobekan di lobang kancing karena kuatnya tarikan yang dilakukan. Gincu yang tadinya rapi sudah berubah bagai badut di kaki lima. Plus disempurnakan lagi dengan rambut yang acak-acakan.
__ADS_1
Geby memilih diam. Dalam hati, Geby tertawa penuh kemenangan. Tanpa bicara pun, ia merasa terwakilkan. Karena saat ini banyak pendukung yang membela dirinya. Meski sebelumnya banyak karyawan yang tidak menyukai Geby, tapi setelah apa yang dialaminya, ia mendapatkan banyak simpati serta dukungan. Meski ada sebagian kecil yang tidak mempercayai apa yang sedang terjadi. Hanya saja, setelah menyaksikan cuplikan video singkat yang sempat diabadikan salah satu karyawan saat penggerebekan, memang posisi Dirga berada di atas tubuh Geby. Belum lagi saat menoleh ke kamera, wajah Dirga penuh keterkejutan. Mirip orang yang tertangkap basah melakukan kesalahan. Padahal kejadiannya tidak seperti itu.
"Kita juga udah ngecek cctv, nyatanya kan ..., bapak yang menyeret mbak ini masuk kedalam mobil. Jadi dari apa yang kita lihat, kita bisa menarik kesimpulan, jelas bapak melakukan pemaksaan dan percobaan pemerkosaan" sahut salah satu karyawan lagi.
Ada belasan orang yang ada di dalam ruangan itu. Semua menyudutkan Dirga, termasuk pak Harun salah seorang direksi perusahaan.
"Itu tidak seperti yang kalian lihat!" bantah Dirga lagi.
"Mana ada maling yang mau ngaku pak, kalau pun ada, penjara akan penuh" ejek salah satu karyawan yang memang sebelumnya merasa dongkol dengan sang pimpinan. Dia pernah ditegur oleh Dirga saat rapat berlangsung. Maka kesempatan ini akan dijadikan ajang balas dendam.
"Kamu....ya...." Dirga semakin naik geram. Tatapannya tajam pada karyawan yang barusan meledek dirinya.
Semakin lemas lah Dirga, ia tertunduk menekuri lantai. Kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai-sampai nasibnya seburuk ini.
Malam semakin larut, akhirnya pak Harun membubarkan. Belum ada putusan. Semua masih dalam tahap pembuktian. Pak Harun juga akan secepatnya melakukan rapat dengan direksi serta pemegang saham. Apa yang sedang di alami Dirga sebagai seorang dirut, akan berdampak buruk pada nama baik perusahaan. Apalagi kerja sama bernilai milyaran baru saja di deal kan. Takutnya pihak klien akan membatalkan, maka perusahaan lah yang akan di rugikan.
***
Wanita berambut gelombang terduduk di atas kasus kapuk. Nafasnya ngos-ngosan, akibat baru terbangun dari mimpi buruk yang kembali menyerang. Mimpinya masih seputar laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya. Hanya saja, kali ini mimpi yang sedikit berbeda. Bukan pemerkosaan yang dilakukan laki-laki itu, melainkan Dirga dilempar dengan kotoran oleh orang-orang yang tidak Nia kenal siapa.
__ADS_1
"Audzubillahiminasyaitonirojim......" Nia melafal ta'awudz. Setelahnya meludah tiga kali kesebelas kiri. Diikuti membaca Alfatihah sebagai doa perlindungan dari mimpi buruk yang di mainkan setan.
Tanpa di minta Nia teringat semua kebersamaan yang pernah ia lalui bersama Dirga di masa lalu. Sejak ia kecil yang selalu menempeli Dirga. Perhatian-perhatian kecil Dirga ke Nia. Hingga tabrakan maut yang disebabkan oleh kelalaian Dirga, hingga membuat Nia kehilangan satu tangan juga meninggalnya ayah tercinta. Dan yang lebih menyesakkan, kejadian di mana Dirga merenggut kesuciannya secara paksa. Mengingat itu, seketika air mata Nia menetes. Sesak yang ia rasakan.
"Astagfirullah....." Nia beristighfar mengusir pikiran buruk yang bisa memunculkan was-was di hati. Nia menoleh ke arah jam dindin yang tertempel di dinding. Ternyata baru jam sebelas malam. Mata yang sudah terlanjur terbuka lebar, untuk tidur dalam waktu cepat juga rasanya mustahil. Pilihan Nia, segera bangkit menuju dapur. Ia membasahi tenggorokan di sana. Setelahnya langsung berwudu untuk melaksanakan shalat malam.
***
"Kenapa semalam ini?" Dirga yang baru keluar dari mobil langsung diberondong pertanyaan.
"Ada sedikit masalah dikantor" jawab Dirga lemas. Tenaga dan pikiran habis terkuras dengan masalah yang menimpa dirinya. Untuk bercerita ia masih enggan.
"Masuk lah dulu!" akhirnya kalimat itu yang pak Ramlan ucapkan. Melihat penampilan Dirga, ia tau buah hatinya itu sedang ada masalah. Untuk bertanya bukan waktu yang tepat.
Dirga dan pak Ramlan masuk ke dalam rumah. Tidak ada lagi pembicaraan. Masing-masing menuju kamar. Pak Ramlan memilih langsung tidur. Sedang Dirga sejenak duduk dibibir kasur. Ia masih tidak percaya Geby sekejam itu memfitnah dirinya. Bukankah dalam hubungan yang telah berakhir Dirga adalah korban. Kenapa sekarang malah dirinya yang dizalimi. Sempat terbesit ini adalah karma dari Tuhan. Karena selama ini ia sudah berbuat di luar batas. Suka menghina, berzina juga memperkosa Nia.
Entah bila waktunya Dirga mulai mulai kehilangan kesadarannya, tidur. Tau-tau ia sudah terbaring dengan kaki yang masih menjuntai di lantai. Jangankan mandi, baju pun belum sempat ia ganti. Dengkuran halus terdengar, petanda Dirga sudah berlayar ke alam mimpi.
Bersambung.....
__ADS_1