GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 34


__ADS_3

Pak Ramlan yang melihat kecemasan diwajah Cik Uut, gopoh ia menarik handel pintu mobil. Dirga pun melakukan hal yang sama setelah mematikan mesin mobil, turut turun mendekati Cik Uut. Tidak ada acara salaman. Karena teralihkan dengan Cik Uut yang tiba-tiba menghampiri dengan wajah kalut.


"Tolongin Nia......" Cik Uut melanjutkan kata. Nafasnya baru sedikit leluasa memasok udara. Wanita bertubuh gempal, berdaster motif bunga dengan Ciput dikepala masih berusaha menetralkan nafasnya.


"Nia kenapa Cik?" Dirga lah yang membalas tanya. Raut wajahnya mendadak cemas. Lelaki dewasa berbalut kaos biru tua dan celana jens biru, sangat takut hal buruk terjadi pada Nia. Dia belum sempat memohon maaf atas apa yang sudah ia perbuat selama ini.


"Tadinya demam. Badannya panas, kita kira hanya demam biasa. Kata buk Fatimah udah minum obat warung juga tadi pagi. Tapi panasnya cuman turun sebentar, tau taunya sekarang lagi kejang di kamar. Rencananya mau dibawa ke puskesmas, kita butuh kendaraan" jelas Cik Uut panjang lebar, agar pak Ramlan dan Dirga tidak lagi bertanya kenapa ia menghampiri mereka.


"Astagfirullah......" baru saja tiba, pak Ramlan malah disambut dengan kabar yang mengejutkan. Demam sampai kejang bukanlah penyakit biasa. Telat penanganan, nyawa jadi taruhan. Jelas Pak Ramlan sangat mengkhawatirkan Nia, si mantan asisten rumah tangga yang sangat ia sayangi seperti anak sendiri. Sempat di jodohkan dengan putranya Dirga.


Tanpa dikomando lagi, Dirga langsung berlarian ke dalam rumah buk Fatimah. Cik Uut dan pak Ramlan mengikuti di belakang. Langkah ke duanya tidak kalah lebar.


Koper dan sedikit buah tangan, belum sempat di turunkan. Masih di bagasi mobil. Biarlah, itu menjadi urusan belakangan. Melihat kondisi Nia dulu, itu yang diutamakan. Pikir pak Ramlan.


Tanpa salam, tanpa permisi, Dirga langsung menerobos masuk ke dalam rumah buk Fatimah yang mulai dijamah rayap. Bukannya tidak tau bagaimana adab bertamu, hanya saja sekarang kondisinya darurat.


Sesampainya di dalam rumah, tidak perlu mencari di mana kamar Nia, soalnya sudah terdengar suara tangisan seorang wanita yang tiada henti menyebut nama Nia. Itu pasti suara buk Fatimah. Kamarnya berdampingan ruang tamu. Jarak dari dirga berada sekarang hanya lima meteran. Dirga mengayun langkah ke sana. Jangkauan kakinya tak seluas tadi. Dirga melewati ruang tamu dengan kursi sopa usang sebagai satu-satunya ornamen.


Pintu kamar terbuka, menampilkan pemandangan seorang wanita tua yang sibuk mengompres kening sang putri yang terbaring di kasur kapuk berukuran 120 x 200 cm. Sedang orang yang diperlakukan, seperti mayat, kaku tak bergerak. Wajahnya juga pucat. Dirga tercekat diambang pintu. Tiba-tiba ada yang menyerang ulu hati, ngilu. Satu sisi ia ingin langsung menerobos masuk dan mengangkat Nia ke mobil. Dilain sisi, Dirga baru menyadari, siapalah dia, hanya orang asing yang banyak salahnya. Jika tiba-tiba langsung menggendong Nia, apa kata wanita yang sedang duduk disamping Nia.

__ADS_1


Buk Fatimah belum menyadari kehadiran Dirga. Beruntung Cik Uut dan pak Ramlan yang langsung menyusul menjadi pelerai kebingungan Dirga.


"Kita bawa ke puskesmas sekarang! Cepat siapkan apa yang harus di bawa!" Cik Uut sudah berdiri di samping kasur Nia. Spontan Buk Fatimah menoleh ke sumber suara. Ternyata Cik Uut tidak sendirian, ia ditemani dua lelaki beda generasi. Ia kenal, sangat kenal siapa dua lelaki itu.


"Buk....!" sapa pak Ramlan, ketika tatapan mereka bertubrukan.


Tidak ada sahutan, Cik Uut terus menggulir pandngan. Ada rasa ingin mengamuk, saat tatapannya beralih menatap orang yang sudah menghancurkan masa depan Nia. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Nia lebih utama.


"Ga....angkat Nia ke mobil!" langsung pak Ramlan memberi komando.


Awalnya Dirga ragu, tatapan buk Fatimah terlihat nyalang ke arahnya. Penuh kebencian.


Dirga mendekat. Buk Fatimah menggeser diri. Ia memberi ruang untuk Dirga mengangkat Nia. Sebenarnya ada rasa tidak sudi membiarkan lelaki bajingan itu kembali menyentuh Nia anaknya, namun buk Fatimah tak kuasa mencegah. Kondisi Nia harus segera di tolong.


"Tunggu!" buk Fatimah bersuara. Disaat Dirga sudah siap mengangkat tubuh Nia. Kedua tangannya juga sudah terselip di bawah leher dan kaki Nia. Sejenak ia menoleh Buk Fatimah dan pelan menarik tangan.


Pandanga pak Ramlan juga Cik Uut berpusat ke objek yang sama, buk Fatimah.


Buk Fatimah dengan sedikit pincang berjalan ke arah lemari. Di bukanya pintu benda berbentuk kubus yang hampir lepas dari engselnya. Ternyata ia meraih selembar jilbab bergo hitam dan mengambil dompet di sana, lalu kembali mendekati Nia untuk dipasangkan jilbab. Dirga menggeser diri. Setelah jilbab terpasang sempurna. Dirga langsung menggendong Nia. Sungguh bergetar tubuh Dirga saat kulitnya menyentuh tubuh Nia. Rasa yang tidak seharusnya muncul di saat seperti ini, menjalar dengan sendirinya. Tapi mau bagaimana, dia laki-laki normal. Wajahnya dan Nia yang berjarak sejengkal, membangkitkan sengatan arus panas ditubuhnya. Dirga mengutuk sisi primitif nya. Untuk orang yang ada di sana tidak menyadari perubahan raut wajah yang berubah memerah.

__ADS_1


Pak Ramlan berjalan mendahului. Membuka pintu mobil bagian tengah. Buk Fatimah terlebih dahulu masuk. Barulah dengan sangat hati-hati Dirga memasukkan Nia ke dalam mobil. Sedikit sulit, pasalnya Nia dalam kondisi pingsan. Panas ditubuhnya juga bisa Dirga rasakan. Setelah Nia masuk sempurna, Cik Uut turut masuk sebagai penunjuk jalan Dia duduk sambil memangku kaki Nia.


Nia sudah di posisi nyaman. Kaki buk Fatimah jadi bantalan. Mobil pun siap bergerak membawa Nia ke puskesmas kecamatan dengan Dirga sebagai sopirnya. Pak Ramlan juga ikut serta duduk di kursi penumpang bagian depan.


Untung Dirga membawa mobil besar, ternyata ada manfaatnya. Andai membawa mobil sedan, bisa dibayangkan bagaimana susahnya.


Kurang lebih empat puluh menit perjalanan, mobil Dirga mulai memasuki kawasan pusat kesehatan kecamatan. Beruntung sekarang baru jam sebelas siang, sehingga puskesmas masih buka pelayanan. Andai sudah di atas jam dua belas siang, akan menempuh jarak lima kiloan lagi baru sampai di kabupaten, rumah sakit satu-satunya di sana.


Inilah desa. Pusat kesehatan susah di jangkau. Apalagi dokter praktek, paling hanya satu orang di setiap kecamatan. Belum lagi jalan yang berlubang, sudah menjadi makanan sehari-hari orang di desa itu.


Kondisi itulah yang melatar belakangi Abrar pulang seminggu sekali. Selain jalan yang kurang bersahabat, ia juga buka praktek sore hari di kecamatan-kecamatan. Banyak orang yang datang berobat, karena dia satu-satunya mantri yang diandalkan.


Abrar menghentikan mobil tepat di depan pintu UGD. Sampai di sana kondisi Nia masih belum sadarkan diri. Pak Ramlan dan Dirga cepat turun meminta petugas kesehatan untuk melakukan pertolongan.


Satu brankar di dorong dua petugas ke depan mobil Dirga. Cepat Nia di turunkan dan di dorong masuk ke dalam UGD. Pak Ramlan, buk Fatimah, Cik Uut berada di belakang. Sedang Dirga memarkirkan mobil terlebih dahulu. Di dalam UGD, ternyata ada Abrar.


"Nia???!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2