GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 45


__ADS_3

"Gimana pak?" kembali penghulu bertanya tentang kepastian acara ijab qobul setelah menunggu hampir setengah jam. Apakah ingin dilaksanakan atau dibatalkan. Mengingat waktu yang hampir mendekati jam sebelas siang Dirga belum juga datang.


"Tunggu sebentar lagi pak! lima menit pun tak mengapa" pinta pak Ramlan. Kali ini ia hampir putus asa. Wajah bimbang tak bisa di sembunyikan, jelas terpatri di wajah tua yang berkerut. Rasa kecewa pun mulai menggerogoti hatinya. Kalau memang benar Dirga tidak datang di lima menit ini, berarti pernikahan ini harus batal. Entah dengan cara apa ia akan menjelaskan pada Nia dan semua orang. Kemana Dirga? Itu yang menjadi tanda tanya besar sekarang ini.


Penghulu terlihat menghela nafas, melirik kanan kiri ke arah para saksi, untuk meminta pendapat. Ia sedikit lelah menunggu kehadiran calon mempelai pria yang molor hampir satu jam. Belum lagi pak penghulu harus ke tempat lain setelah ini, bisa-bisa ia yang akan telat. Untungnya orang yang di lirik memberikan anggukan. Artinya 'ok', siap memperpanjang waktu tunggu selama lima menit.


"Baiklah, jika dalam lima menit anak bapak tidak datang, pernikahan terpaksa kita batalkan. Tinggal dibuat saja jadwal ulang, yang jelas sebulan kedepan saya full kegiatan" tutur pak penghulu dengan berat hati.


Pak Ramlan hanya mengangguk lesu. Ia pun tak bisa berbuat banyak. Sudah dua kali ia minta perpanjang waktu. Dalam hati ia terus berdoa, semoga Dirga datang dalam waktu yang di tentukan.


Sesekali pak Ramlan menjatuhkan pandangan ke arah wanita berkebaya putih yang tertunduk memasang wajah gelisah dan lesu. Wanita di sampingnya turut menenangkan. Setelahnya kembali melempar pandangan ke arah pintu utama. Berharap dan selalu berharap Dirga muncul di depan pintu.


"Gimana kalau kak Dirga nggak dateng?" cicit Nia pelan penuh kekhawatiran. Ia beradu tatap dengan buk Fatimah sang ibu yang selalu menemani dirinya.


Buk Fatimah hanya diam. Dia pun bingung harus mengatakan apa. Senyum di bibir pun tampak kaku. Jujur buk Fatimah sama bimbang nya. Mungkin, ialah orang yang saat ini paling bimbang.


Dirga memang bukan calon menantu pilihannya, restu saja rasanya berat untuk di berikan. Apalagi selama seminggu dirumah pak Ramlan, buk Fatimah semakin tau karakter calon menantunya itu. Jarang pulang, juga tidak ada perhatiannya ke Nia.


Seharusnya, meski menikah karena tanggung jawab, buktikan lah..., tanggung jawabnya ke Nia. Ini jangankan tanggung jawab, kebaya saja pak Ramlan yang membelikan. Teringat hal ini membuat buk Fatimah semakin sedih. Benarkah keputusannya menikahkan Nia? Atau malah sebaliknya. Sayangnya, tanpa pernikahan, cucunya nanti yang akan menerima malu. Karena nasab itu perlu.


Detik berganti menit, menit pun terus bertambah. Lima menit yang diminta telah usai.


Penghulu kembali melirik kiri dan kanan sambil mengangguk dan mengedipkan mata, sebagai bahasa tubuh menyudahi acara menunggu.


"Pak Ramlan!, mohon maaf, kami ijin......" belum tuntas kalimat pak penghulu, terdengar ucapan salam.


"Assalamualaikum.....!"


"Walaikumsalam...." jawab semua serempak.


Dirga yang ada di ambang pintu. Penampilannya sedikit kalut, mungkin diburu waktu yang katanya terjebak macet itu. Kemeja putih yang dikenakan juga tak lagi terselip ke dalam celana. Semua mata terfokus padanya.


"Maaf, terlambat..., saya terjebak macet" Dirga beralibi. Penyebab sebenarnya hanya dia yang tau.


Lega..., itu yang dirasa pak Ramlan. Begitu pun Nia dan orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


Tanpa basa basi lagi, acara segera di mulai. Dirga duduk bersila


"Gimana para saksi? Sah ..?!" penghulu melirik pada saksi.


"Sah...., sah......."


Tes......


Bulir bening menetes dari mata bulat Nia. Terlantunnya kata sah, maka dalam sekelip mata, berubah sudah statusnya menjadi seorang istri. Istri dari seorang Dirga yang tak pernah mencintainya.


Bahkan laki-laki yang sudah bergelar suaminya itu, belum sekali pun memandang dirinya. Jangankan memandang, melirik saja enggan. Padahal ia duduk di sampingnya. Begitu tak pantasnya kah Nia untuk seorang Dirga?


"Barakallah........" doa untuk mempelai di lantunkan penghulu. Semua orang turut mendoakan. Terlihat hikmat.


Akhirnya ijab qobul selesai di lakukan. Dirga telah sah menjadikan Nia seorang istri baik secara agama mau pun negara.


Selesai menandatangani buku nikah, Nia diminta menyalami Dirga dan orang tuanya.


Awalnya Nia tampak ragu, untuk meraih tangan Dirga, suami yang menikahi Dirinya dikarenakan ada nyawa di rahim Nia.


Dirga pun, seperti enggan untuk mengulurkan tangan ke Nia. Sampailah pak penghulu menegur dirinya.


"Sekarang, kalian sudah sah..., maka bersentuhan fisik itu halal. Apalagi melakukan hubungan yang lebih, pahala ganjarannya" candaan berisi nasehat yang diucapkan penghulu.


Dirga tersenyum kikuk, sambil mengulurkan tangan. Ia baru tersadar sudah membiarkan Nia menggantung tangan di hadapannya.


"Ma-af" ucap Dirga sambil menyentuh pucuk ke pala Nia. Seuntai doa ia panjatkan. Pelan..., bahkan tak ada yang mendengar, hanya dia dan Tuhan yang tau.


Nia, dengan seribu ketakutan di hati, terpaksa memberanikan diri kembali bersentuhan dengan lelaki penyebab trauma untuknya. Jadilah tubuhnya sedikit gemetar. Keringat juga ikut membanjiri keningnya.


Nia sama sekali tidak menyahut saat kata maaf itu di ucapkan Dirga. Nia juga tidak tahu sesungguhnya kata maaf itu untuk apa.


Kini giliran Nia bersalaman dengan pak Ramlan yang sudah duduk di samping kiri Dirga.


"Pak...!" panggil Nia pelan. Ia meraih tangan keriput kecoklatan milik pak Ramlan. Menciumnya penuh hikmat dan kembali ada air mata Nia di sana.

__ADS_1


"Maafin papa..." pak Ramlan tak sanggup membendung air mata. Suaranya juga serak. Ia menangis. "Maafin papa untuk semua derita yang selama ini Nia lalui. Maafin juga Dirga. Papa harap Nia bisa bersabar dengan Dirga" pak Ramlan menatap dalam mata bulat putrinya yang sudah berkabut. "Sekarang Nia sudah benar-benar menjadi anak papa. Papa doakan Nia dan Dirga bisa menjalani rumah tangga ini. Dan harapan papa, kalian bahagia selamanya. Jangan pernah ada kata cerai"


Buk Fatimah yang duduk di sisi pak Ramlan, ikut menyapu kedua pipinya. Ucapan pak Ramlan barusan, menyentuh hatinya. Apalagi Nia putri satu-satunya.


Giliran Dirga menyalami pak Ramlan, lelaki tua yang begitu berjasa dalam hidup Dirga. "Pa..." pelukan hangat antara Dirga dan Pak Ramlan pun terjadi. "Maafin Dirga" isakan tak bisa di elakkan. Dirga menangis di pelukan pak Ramlan. Tidak ada lagi Dirga angkuh, yang ada sekarang hanya Dirga kecil di mata pak Ramlan.


"Jadilah suami yang bertanggung jawab! Papa titip Nia. Bahagiakan dia! Jangan sekali pun kau buat dia menangis.


"Buk....!"Nia menyalami buk Fatimah.


Tidak ada kata, apa yang dirasakan keduanya sama. Keduanya sama-sama menangis. Larut dalam kepahitan hidup yang mereka lalui.


Wejangan pun dirasa tak perlu. Buk Fatimah merasa Dirga hanya menikahi Nia dengan dasar tanggung jawab. Bukan cinta. Puas menumpahkan kesedihan, buk Fatimah dan Nia melerai pelukan.


Dirga menggeser diri, ia menyalami buk Fatimah. Sebenarnya buk Fatimah enggan. Hanya saja, masih ada rasa tak enakan.


Penghulu dan semua tamu sudah meninggalkan kediaman pak Ramlan. Masing-masing dibekalkan sebungkus nasi kotak yang dipesan dari rumah makan.


Puas berbicara santai sambil memberi wejangan pada Nia dan Dirga. Pak Ramlan menyuruh Dirga membawa Nia ke kamarnya.


Buk Fatimah sendiri, sejak penghulu dan yang lainnya pulang, memilih masuk mengistirahatkan diri dikamar tamu yang ia dan Nia tempati. Sebenarnya sudah dua hari ia rasa kurang enak badan. Mungkin faktor capek mengurus Nia beberapa hari belakangan.


"Ga...., bawa istrimu istirahat di kamar! Wanita hamil tidak boleh terlalu capek!" pinta pak Ramlan pada Dirga yang duduk disisinya sambil berselonjor kaki. Ketiganya masih di ruang tamu tempat acara ijab qobul tadi.


"Baik pa..." Dirga mulai bangkit dari duduknya dan Nia pun mengikuti.


"Ayo....!" ajak Dirga.


"Pak....Nia istirahat dulu ya...." pamit Nia sopan.


Pak Ramlan mengangguk, "Istirahatlah...! Dikamar Dirga saja, jangan di kamar tamu! Kalian sudah sah sebagai suami istri"


Nia dan Dirga serempak saling lirik. Nia sebenarnya ingin menolak, tapi nggak enak dengan ak Ramlan.


Jadilah keduanya berjalan beriringan. Dirga di depan, Nia mengekor di belakang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2