GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 54


__ADS_3

Sore ini, kediaman pak Ramlan mulai di datangi para tetangga yang datang untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya wanita yang baru kemaren menjadi besan pak Ramlan itu. Kabar yang mengejutkan memang. Setelah kemaren pak Ramlan mengumumkan kabar bahagia pernikahan Dirga, sekarang disusul dengan kabar duka. Tidak ada yang tau, itulah rencana dari sang Ilahi.


Diantara banyaknya pelayat, tidak ada satu pun teman Dirga ditempat kerja yang hadir. Termasuk mantan sahabatnya Bara. Karena memang ia tidak mengumumkan di grup perihal itu. Mana mungkin juga ia umumkan, pernikahannya saja masih menjadi rahasia. Hanya tetangga dan keluarga dekat yang tau. Alasannya cukup Dirga yang tau.


Tenda di depan rumah sudah berdiri tegak, siap menaungi para pelayat yang nantinya bakalan lebih ramai dari sekarang. Deretan kursi plastik juga dipersiapkan untuk menampung pelayat agar lebih leluasa dan bisa duduk mengistirahatkan diri.


Untuk persiapan yang serba dadakan, Pak RT lah yang banyak andil. Setelah mendapat laporan dari pak Ramlan, pak RT gegas langsung mengumumkan di mesjid akan kabar meninggalnya buk Fatimah. Pak RT juga yang menugaskan beberapa warga untuk turut mendirikan tenda, menyiapkan kursi dan keperluan lainnya. Tidak ketinggalan menghubungi ketua tim fardhu kifayah di komplek itu yang bertugas untuk mengurusi mayit dari memandikan, mengkafani, menyolatkan hingga menyiapkan tempat pemakaman. Kerena rencananya proses pemakaman akan dilakukan sore ini. Lebih cepat, lebih baik. Berhubung tidak ada lagi keluarga dekat yang akan ditunggu.


Cik Uut sudah di kabari. Sayangnya sepupu jauh buk Fatimah itu mengucapkan banyak maaf karena tidak bisa hadir. Alasannya kalau pun dia ke kota, pasti memakan waktu yang lama dan jenazah pasti sudah dimakamkan. Sempat terkejut juga dengan berita itu, kesedihan jelas ada. Apalagi beberapa Minggu yang lalu dia dan buk Fatimah hampir setiap hari selalu ngobrol bersama. Ternyata itu pertemuan terakhir mereka.


***


Sudah sejam yang lalu ambulan mengantarkan jenazah buk Fatimah. Sekarang jenazah sedang di semayamkan diruang tamu milik pak Ramlan yang kebetulan kursi-kursinya masih belum dikemaskan sisa acara nikah Dirga kemaren. Jadilah ruangan itu lebih luas. Entah kebetulan atau apa, namun begitulah adanya.


Beberapa buku Yasin tersusun di samping mayat. Memudahkan bagi pelayat jika ingin menyumbang doa. Di sisi jenazah juga tertuliskan nama Fatimah Binti Baaruddin, yang ditulis di atas kertas polio.


Nia sejak dirumah sakit hingga saat ini setia berada di sisi mayat yang sudah terbujur kaku. Terpukul, sangat-sangat terpukul. Semua kenangan bersama sang ibu membayang dipikiran. Bahkan banyak keinginan buk Fatimah yang belum terwujud. Termasuk rencana keduanya yang akan kembali pulang ke desa jika kondisi Nia sudah membaik. Apa mau dikata, takdir berkata lain. Buk Fatimah memilih pulang untuk selamanya. Mengingat akan hal itu semakin membuat sesak di dada Nia. Wanita itu kembali menitikkan air mata.


Mata bulat Nia sembab, dan masih terus berair. Tatapannya masih terpaku pada wajah yang sudah terbungkus kain jarik berwarna putih .


Beruntung ada Dirga. Siapa yang menyangka laki-laki kasar yang selalu menghina Nia dulu, berubah menjadi sosok suami bertanggung jawab yang benar-benar mengayomi, dan menjadi pelindung serta penguat seorang istri yang tengah rapuh dengan kesedihannya. Dirga setia duduk di sisi Nia, siap melayani. Apalagi Nia sedang hamil muda, jadilah Dirga suami siaga. Jangan lupakan buku Yasin masih melekat ditangannya, sudah berkali-kali mengulang bacaan sebagai hadiah untuk mertua yang tinggal mengharap doa darinya.


Sebelum waktu asar jenazah buk Fatimah sudah dimandikan. Nanti selesai shalat asar, akan dilakukan shalat jenazah di masjid yang tak jauh dari rumah pak Ramlan.

__ADS_1


Kesedihan yang semakin menjadi, membuat fisik yang sejatinya lemah semakin melemah dan akhirnya tubuh ringkih Nia ambruk saat jenazah diturunkan dari rumah menuju mesjid. Beruntung ada Dirga di samping, sigap lelaki itu menahan tubuh Nia agar tak membentur lantai.


"Nia....! Nia.....! Nia ....!" Dirga mencoba menepuk-nepuk pelan pipi Nia agar meraih kesadaran. Sayangnya tubuh itu terkulai tak berdaya dipangkuan Dirga.


"Dibawa ke dalam saja pak! Biar lebih enak, disini ramai orang, takutnya dia kekurangan oksigen" saran salah seorang ibuk-ibuk yang kebetulan ada di sana.


Tidak menyahut, Dirga langsung menggendong tubuh Nia yang terasa lebih ringan menuju kamar. Jilbab bergo nya pun terlihat berantakan, rambut di poni turut berjuntain. Wajah kuyu Nia tampak begitu menyedihkan. Bulu mata lentiknya pun masih basah gambaran kesedihan yang sedang mendera.


Dirga membawa Nia ke kamar tamu yang ada dibawah. Kamar yang tadi pagi masih ditempati buk Fatimah. Sengaja di sana. Soalnya tak mungkin juga Dirga menggendong Nia menaiki anak tangga. Bisa encok nanti dia.


Sedikit ragu, namun mau tak mau Dirga memberanikan diri membuka jilbab Nia biar lebih nyaman, sesaat setelah membaringkan Nia. Sungguh, demi apa pun tangan Dirga sedikit gemetar. Tiba-tiba Dirga merasa tremor. Jangan tanyakan bagaimana detak jantungnya saat melakukan itu. Seperti ditabuh.


Bisa-bisanya ada yang ingin turut bangun di saat yang tak tepat. Kurang ajar memang. Dalam hati, Dirga mengumpat kebodohannya. Memang sih...., Dirga lelaki normal. Tapi lihat lagi kondisi.


"Diolesi minyak kayu putih den, biar mbak nya cepat sadar!" Bibik menyerahkan sebotol minyak kayu putih ke tangan Dirga.


"Makasih bik, tolong di buatkan teh hangat juga bik! Biar Nia sadar nanti bisa langsung minum" suruh Dirga pada si bibik.


"Baik den" Bibik gegas keluar kamar menuju dapur. Membuat seperti apa yang tuannya perintahkan.


Tatapan Dirga lekat ke wajah Nia. Ternyata bila diperhatikan dengan seksama istrinya itu cantik dan imut juga. Padahal kondisi Nia polos tanpa make up dan gincu. Jangankan barang-barang itu, yang adanya wajah Nia penuh air mata juga ingus.


Sayangnya pipi cabi nya sedikit menyusut. Jadi tidak seimut dulu. Meski begitu inner beauty nya tetap ada. Cantik natural.

__ADS_1


Dirga menggeleng-gelengkan kepalanya. Takut dia akan dirasuki pikiran negatif bila terlalu lama memandang wajah Nia. Apalagi melihat bibir itu, rasanya ingin ia sesap dalam-dalam, merasakan betapa manisnya.


Untuk mencegah pikiran gila, lebih baik sekarang Dirga fokus menyadarkan Nia. Di oleskannya sedikit minyak kayu putih disekitar hidung. Sisanya ia balurkan ke telapak kaki juga tangan yang terasa dingin bak kedebung pisang.


Duduk menyampir di bibir tempat tidur sambil sibuk memijat telapak tangan Nia. Tanpa sadar Dirga ikut membaringkan tubuhnya di sisi wanita yang belum juga sadarkan diri. Tak lama, dia pun ikut terlelap ke alam mimpi sambil memeluk Nia. Mungkin terlalu capek.


Si bibik kembali masuk ke kamar tamu dengan segelas teh hangat di tangannya. Pemandangan yang menyejukkan mata langsung menyapa saat pintu kamar di buka. Dirga dan Nia benar-benar seperti pasangan serasi. Tidur pun mereka berpelukan. Seolah takut dipisahkan. Bibik tersenyum mesem, pelan diletakkannya gelas ke atas nakas. Sebisa mungkin tidak membuat keributan. Tidak lupa air teh ia tutup dengan piring kecil yang tadi menjadi alas gelas.


"Yang sabar den, mbak, semoga kalian bisa melewati ujian ini. Ntar malam pertamanya di sambung lagi" ucap bibik dalam hati.


Bibik kembali keluar, tak lupa ia menutup pintu dengan pelan, takut membangunkan dua anak manusia yang sedang beristirahat.


***


Sedang jenazah buk Fatimah tak menunda-nunda, langsung dibawa ke mesjid dikarenakan sudah masuk waktu asar. Hanya pak Ramlan yang ikut. Dirga biarlah mengurus Nia yang kondisinya pun sangat mengkhawatirkan.


Semua prosesi berjalan lancar, kini gundukan tanah kuning terlihat di penuhi taburan daun pandan juga bunga warna-warni. Ustadz sudah selesai membacakan doa.


Orang yang ikut mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir, berangsur-angsur meninggalkan lokasi pemakaman.


Tinggallah pak Ramlan dan beberapa kerabat. Lelaki tua itu masih betah memegangi batu nisan yang tertuliskan nama Buk Fatimah lengkap dengan tanggal lahir juga tanggal wafatnya. Dalam hati ia memanjatkan doa serta janji. Ia yakin buk Fatimah mendengarnya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2