GADIS CACAT

GADIS CACAT
GC 57


__ADS_3

Malam mulai larut, sepi. Itulah kondisi rumah sakit saat ini. Penanda waktu menunjuk ke angka sebelas malam.


Belum setengah jam tadi, Nia tersadar. Sekarang sedang bersandar di kepala ranjang sambil di suapkan makan sama si bibik.


Sepulang Bara, Pak Ramlan datang menggantikan. Beliau hanya mampir sebentar untuk mengantarkan barang titipan Dirga. Sempat pula menjenguk Nia sebentar, dan kini beliau berada di parkiran bersama Dirga.


"Papa pulang dulu. Jaga Nia sebaik mungkin! Jangan lupa kabari papa perkembangannya!" Seuntai pesan dititipkan pak Ramlan pada Dirga. Bukan tak percaya, hanya untuk sekedar mengingatkan. Lelaki sepuh itu percaya sepenuhnya, Dirga yang sekarang bisa diandalkan. Putranya itu semakin dewasa dan banyak berubah.


"Papa jangan khawatir. Dirga akan menjaga Nia sebaik mungkin. Papa lah yang hati-hati di jalan, kabari kalau sudah sampai" kali ini Dirga yang mengucap pesan.


Pak Ramlan menepuk-nepuk bahu Dirga setelah itu beliau masuk ke dalam mobil. Dirga membantu menutup pintu mobil. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai pak Ramlan meninggalkan rumah sakit.


Sampai mobil keluar portal keluar masuk parkiran, barulah Dirga membalik badan dan kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Kreaaattt....


Suara pintu di dorong Dirga. Rupanya Nia sudah selesai makan. Si bibik sibuk mengemas sampah bekas bubur Nia. Istri nya itu, sudah kembali rebahan. Seminggu ini ia di larang banyak melakukan gerakan. Kondisi kandungannya sedikit lemah. Jadi dokter obigin yang tadi memeriksa, menyarankan untuk Nia bed rest selama seminggu. Syukurlah kondisi janinnya masih kuat bertahan.


Nia pun tidak sesedih tadi, ia mencoba untuk ikhlas akan kepergian buk Fatimah. Sedikit sebanyak ada andil Dirga di sana. Suaminya itu selalu menghibur dan mengajak Nia untuk mengiklaskan orang yang telah tiada.


"Udah selesai makannya?" Dirga bertanya ramah, hanya sekedar basa-basi. Senyum kecil menghias bibirnya.


"Sudah den, Alhamdulillah lumayan banyak mbaknya makan" bibik yang menyahut. Sambil membuang sampah yang sudah ia kantongi ke dalam tong sampah yang ada di ruangan itu.


"Syukurlah....." Dirga menghempas diri, duduk di sisi Nia. Memindai lekat wajah istrinya yang mulai terlihat berdarah. Tidak seperti tadi lagi.


"Masih kepengen makan sesuatu?" kan..., Dirga sekarang jauh berubah, sudah jadi suami siaga juga idaman.


"Udah kenyang kak" sahut Nia masih ada rasa sungkan. Wanita itu pun tidak berani memandang Dirga terlalu lama. Cukup dua detik. Itu pun sudah membuat ada desiran aneh. Traumanya berangsur menghilang. Seiring semakin sering mereka skin to skin.


"Bibik tidur aja lagi bik! Nia biar saya yang tungguin"


"Baik den" tidak ada bantahan dari si bibik. Wanita tua itu pun merebahkan diri di sopa panjang. Menarik selimut untuk membungkus diri. Ruangan lumayan dingin. Hari ini terbilang hari yang sedikit melelahkan. Tak sampai sepuluh menit nafas si bibik mulai teratur. Artinya wanita itu mulai masuk ke alam mimpi.


Belum ada pembicaraan antara pasangan baru itu. Keduanya memilih diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Dirga sibuk memikirkan strategi menyingkirkan Geby dari hidupnya, sedang Nia lebih ke canggung. Jadilah keduanya berada di kondisi hening. Entah berapa lama kondisi itu, tau-taunya Dirga sudah terlelap ke alam mimpi. Dirga tidur dalam posisi duduk dengan kepala jatuh, menelungkup di bibir tempat tidur Nia.


Nia yang sudah banyak tidur, kini matanya enggan untuk terpejam. Di liriknya ke samping, ada rasa kasihan melihat posisi Dirga yang tertidur dengan posisi duduk. Tidak menyangka laki-laki yang dulu sering menghinanya sekarang menjadi suami yang menjaga dirinya. Mau dibangunkan nggak enak. Sungguh di lema.

__ADS_1


"Kak!, Kak....!" akhirnya Nia memilih membangunkan Dirga terlebih dahulu.


Lelaki yang belum lama masuk ke alam mimpi, kembali terjaga. Susah payah ia membuka mata.


"Ada apa?" Dirga mengira Nia menginginkan sesuatu atau pun merasakan sesuatu.


"Pindah tidurnya! Jangan duduk, nanti badan kakak sakit!" Nia terlihat perhatian.


Dengan muka bantal, Dirga melirik ke sana kemari untuk mencari tempat tidur yang sedikit nyaman, sayangnya tidak ada tempat untuknya. Sopa sudah dipakai si bibik. Sedang dilantai, sangat-sangat tidak mungkin. Yang ada badannya ngilu semua besoknya.


Nia tau apa yang dipikirkan Dirga, "di sini aja kak!" Nia menepuk sisinya.


"Ha...?" Dirga setengah tak percaya. Memang bisa tempat itu untuk mereka berdua? Yang ada nanti Nia kurang selesa.


"Nggak papa, disini saja!" Nia kembali meyakinkan.


Uh......, sebenarnya memang ini yang lelaki itu mau. Tidur sambil memeluk istrinya. Tanpa menunggu, Dirga naik ke ranjang pasien. Sedikit hati-hati, takut mengganggu tali infus Nia. Beruntung yang di infus tangan satunya, jadi sedikit lebih leluasa.


"Yakin nggak papa?" Dirga pura-pura memastikan lagi. Dalam hati ia bersorak senang. Moment ini yang ia harapkan sejak tadi.


Nia tersenyum petanda yakin. Jadilah keduanya tidur di tempat yang sama dengan Dirga memeluk Nia. Awalnya Nia sedikit keberatan dengan tangan yang melingkar di dadanya. Namun melihat Dirga yang ngantuk berat, ia membiarkan saja. Halal juga kan?


***


"Apa rencana Lo selanjutnya?" Dentuman musik, mengharuskan Bernad sedikit berteriak saat berbicara. Sambil mencondongkan wajah, guna memperjelas kata di telinga lawan bicaranya. Seperti biasa ia menghabiskan malam ke sebuah club malam.


"Gue ingin buat perhitungan dengan lelaki bodoh itu! Bisa-bisanya dia mengabaikan gue" Kekesalan membungkus wajah Geby tak kala mengingat kejadian tadi siang yang di cueki Dirga.


Bernad tertawa sumbang, entah apa yang lucu dimatanya.


"Kok Lo ketawa sih.....?!" Melihat Bernad tertawa jelas Geby tak suka. Dia lagi kesal sekarang.


"Sekarang Lo apa dia yang bodo?"


"Maksud Lo?!" Jelas dong...., Geby tak terima dikatain bodoh.


"Lo bisa mikir sendiri lah...!" bukannya menjelaskan, Bernad malah berlalu meninggalkan Geby yang semakin kesal. Duda tanpa anak itu turun melantai. Memilih berjoget dengan banyak wanita seksi di sana. Menikmati hentakan musik DJ sambil menggoyangkan badan dan sekali-kali menggoda perempuan yang ada di dekatnya. Siapa tau keberuntungan menghampiri, bisa tidur enak dia malam ini.

__ADS_1


Bernad tidak ingin terlalu jauh berurusan dengan Dirga. Sebenarnya urusannya sudah selesai. Balas dendamnya pun..., sudah tercapai, yaitu dengan menyingkirkan Dirga dari tempat kerjanya.


Geby yang kesal, kembali minta dituangkan minuman ke dalam gelasnya pada seorang bartender. Perempuan yang tengah berbadan dua itu mengabaikan nasehat dokter jika ia harus menjaga kandungan dengan menghindari minuman beralkohol.


Lagian Geby pun tak tau anak siapa yang bersemayam di rahimnya. Ingin dibuang sayang, kan bisa dimanfaatkan untuk menjebak Dirga.


Terlalu banyak lelaki yang mengajak Geby tidur. Termasuk om om hidung belang yang memakai jasanya. Yang jelas itu bukan anak Dirga, dikarenakan mereka sudah terlalu lama tidak melakukannya. Bukan juga anak Bara, dikarenakan tak masuk hitungan.


Di sudut club malam ada seseorang yang terus mengawasi gerak gerik Geby. Orang itu suruhan seseorang.


Setengah mabuk Geby ingin meninggalkan club, tanpa mengajak Bernad. Dia sangat hafal Bernad pasti akan menghabiskan malam dengan perempuan yang berhasil di gaetnya.


"Tahan dia!" perintah tegas tak terbantahkan, keluar dari bibir seorang wanita yang berpakaian serba tertutup. Tempat itu sedikit gelap. Geby berada di lorong club malam yang tak ada CCTV. Biasa lorong itu digunakan pasangan untuk mesum.


Geby gelagapan, dan coba berontak ingin melepaskan diri dari dua orang yang sedang memegangi tangannya.


"Lepas....! Apa mau Lo ha...!!!" Geby terlihat marah.


Sedang perempuan yang memerintahkan menahan Geby tertawa penuh aura menakutkan.


"Sudah berkali-kali gue memergoki Lo tidur sama laki gue, jadi sekarang Lo harus terima akibatnya!"


"Laki Lo? Laki yang mana? Atau Lo istri yang nggak becus diranjang makanya suami Lo nyeleweng" bukannya takut, Geby malah mengejek.


"Kurang ajar!!!"


Plak!!!....


Sebuah tamparan menyapa kulit Geby. Saking kuatnya, wajah perempuan seksi itu sedikit tertoleh kesamping.


Belum apa-apa, kembali perintah menakutkan keluar dari bibir perempuan yang tak diketahui siapa orangnya.


"Siram!!!"


Byur........


Detik itu juga Geby berteriak histeris. Rasa panas dan perih menjalar ke seluruh permukaan wajahnya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2