
Empat hari yang lalu, atau lebih tepatnya H-3 menjelang pernikahan Dirga dan Sania. Dirga mendapatkan email dari kantor tempat ia bekerja, yang meminta kehadirannya dalam rapat yang sudah di agendakan oleh pihak pemegang saham juga dewan direksi.
Sebenarnya Dirga masih di masa cuti, berhubung ini rapat yang sangat penting dan menyangkut stabilitasnya di perusahaan maka ia wajib datang.
Jam sepuluh pagi rapat dimulai. Semua dewan direksi tampak hadir. Begitu pun para pemegang saham, hanya satu orang yang berhalangan datang, namun ia sudah menunjuk satu orang perwakilan.
Rapat itu berjalan tegang, ada yang menjatuhkan dan ada yang tetap ingin mempertahankan Dirga. Lebih terlihat seperti sidang pengadilan dalam pemberian putusan pada tersangka oleh hakim.
Dirga lebih banyak diam, ia hanya bicara seperlunya. Karena memang bukti yang ada seolah memojokkan dirinya. Dari rekaman video, maupun CCTV. Dua itulah dijadikan senjata untuk menikam dan melumpuhkan Dirga. Terutama orang yang sejak lama tidak menyukai dirinya, ini dijadikan kesempatan balas dendam, seperti si Bernad.
Dirga ingin membela, tapi satu bukti pun ia belum punya. Akhirnya diambil keputusan jalan tengah oleh dewan direksi. Dirga buat sementara di non aktifkan dari perusahaan. Namun, dia masih diberi kesempatan satu bulan untuk membuktikan kebenarannya. Dalam kata lain mencari bukti untuk membela diri.
Jika dalam waktu satu bulan yang diberikan, Dirga bisa mematahkan tuduhan itu, maka ia akan kembali di aktifkan. Sebaliknya jika ia tidak bisa membuktikan, dengan berat hati perusahaan akan memberhentikan secara tidak hormat, tanpa pesangon. Karena dinilai sudah melakukan tindakan kejahatan yang berimbas merugikan dan memberi malu perusahaan.
Kasus yang menimpa Dirga membuat perusahaan mengalami kerugian yang tak sedikit. Banyak investor yang menarik diri. Ditambah lagi kerja sama yang baru beberapa hari di sepakati terancam dibatalkan sepihak oleh pihak lawan dengan alasan mereka tidak ingin bekerja sama dengan orang yang tak bermoral.
Dirga Depresi. Sangat depresi. Harus dengan cara apa ia membuktikan semua ini? Saksi tak punya, apa lagi yang lainnya. Sungguh memikirkannya saja membuat kepala Dirga ingin pecah. Belum lagi masalahnya dengan wanita ular yang selalu mengirim pesan ancaman akan menyebarkan video seronok mereka apabila Dirga tidak memenuhi keinginannya.
Andai waktu bisa di putar kembali, ingin rasanya Dirga masuk ke mesin waktu. Mengubah takdir buruknya, yaitu bertemu dan mencintai Geby. Dirga menyesal, sangat menyesal. Barang kali ini dosa karena dulu ia mengabaikan nasihat lelaki tua yang tiada henti menentang dirinya berpacaran dengan wanita ular itu. Sayangnya, menyesal kemudian itu tiada berguna. Ibarat nasi sudah menjadi bubur.
Banyaknya masalah, membuat Dirga enggan pulang. Ia memilih tinggal dirumah yang ia beli. Lebih tepatnya rumah tempat ia menghancurkan Nia. Rumah yang selama ini ia sembunyikan.
Dirga hanya mengirim pesan pada pak Ramlan kalau ia tidak akan pulang sampai hari H itu datang. Lelaki yang berstatus pengangguran itu, beralasan ingin men settle dulu masalahnya. Pak Ramlan mengiyakan, dan tentunya selalu mendoakan kebaikan untuk putra semata wayangnya.
***
Baru saja Dirga akan memejamkan mata, mengistirahatkan jiwa dan raga, sayangnya benda persegi yang berada tidak jauh dari tangannya kembali menyala.
__ADS_1
Dengan malas, jemari Dirga berusaha menggapai hape yang berkali-kali berdenting. Mata yang sempat terpejam, menyipit tajam menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea. Di bacanya pesan itu.
'Hai bab.....
Kangennn......😘😘
Temui aku di restoran xxx jam tujuh malam besok.
Jangan tak *datang....!!!, *
Jangan sampai menyesal......!!!
jangan salahkan aku jika video enak-enak kita akan tersebar... Dan bakalan mengalahkan viralnya video hot artis kemaren 🤣🤣🤣 '
Ada emoji ketawa ngakak di akhir kalimatnya. Jelas Geby sedang menertawakan Dirga yang seolah tak bisa berbuat apa-apa.
Video yang dulu mereka buat atas kemauan bersama sebagai koleksi pribadi. Nyatanya sekarang dijadikan Geby sebagai senjata yang mampu menghancurkan hidup Dirga.
Bodoh...! Bodoh.....! Dirga merutuki kebodohannya. Dibantingnya hape asal, melampiaskan kesal yang tak berlawan. Untung jatuhnya masih di atas tempat tidur, jika tidak, bisa dibayangkan barang senilai puluhan juta akan terbuang sia-sia.
***
Sesuai kemauan Geby, Dirga datang malam ini.
"Apa mau mu?!" Belum juga duduk, Dirga langsung pada inti kedatangannya.
Geby yang tadinya menunduk memindai hape, mengangkat wajah saat suara bass itu tembus ke rungu nya. Ia baru sadar, lelaki yang ditunggu baru saja muncul dihadapannya.
__ADS_1
Bukan menjawab, Geby memasang wajah sok manja yang dulu biasa dilakoninya. "beb...., i miss u soooo muchhhh...." ia beranjak dari duduknya dan mencoba memeluk Dirga seperti kebiasannya yang dulu.
Belum sempat memeluk, Dirga yang muak, langsung mendorong tubuh Geby dengan kasar. Wanita berambut pirang itu sedikit terjungkal kebelakang. Beruntung ia masih bisa menjaga keseimbangan, jika tidak....., pant**nya pasti mencium lantai. Untungnya lagi, ini privat room, tidak ada orang lain di sana kecuali mereka berdua. Pelayan pun belum datang menyapa. Sepertinya sibuk di ruangan lain.
"Upppssss......, galak......" tingkah Geby semakin aneh saja di mata Dirga. Wanita itu seperti orang gila, berkata sambil tertawa-tawa. Bukannya marah, ia memasang wajah penuh olok.
"Katakan..!, apa maumu?!" kali ini nada bicara Dirga naik dua oktaf.
Geby mengibas rambut, berbalik badan lalu duduk ke kursinya lagi. Belum ia menjawab. Memilih duduk menyilang kaki, dengan tubuh dibuat seelegan mungkin.
Kalau dulu Dirga pasti susah payah menelan saliva nya sambil menjepit yang di bawah sana. Tampilan Geby yang seksi maksimal, rok panjang sejengkal, membuat si Otong tegak berdiri.
Tapi, tidak hari ini. Kilasan bagaimana binal nya Geby bermain dengan penghianat itu, seketika membuat Dirga jijik, sangat jijik. Kenapa dulu ia sebodoh itu. Bisa bercinta dengan perempuan yang sudah dipakai banyak orang. Padahal sejak awal Dirga sudah tau, Geby bukanlah perawan. Mengatas namakan cinta, semua jadi sempurna.
Sungguh membayangkan itu, bulu roma jadi berdiri, Dirga sedikit ngeri. Takut kalau-kalau ia dihinggapi penyakit kelamin bawaan Geby, HIV misalnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan apa maumu?!" ulang Dirga yang ketiga kali. Ia masih betah berdiri.
"Cih......, emang apa yang disibukkan laki-laki pengangguran sepertimu?!" Geby berdecih, kalimat hinaan ia lemparkan tepat menusuk jantung Dirga.
Detik itu juga, wajah Dirga berubah pias, mulutnya diam seketika. Namun tataannya semakin tajam ke Geby.
Geby pun sama, tatapannya tajam penuh kebencian. Dua pasang mata beraura gelap saling tabrak. Beradu kekuatan dalam diam. Membias api kemarahan yang menyala-nyala.
Hilang sudah sikap pura-pura manjanya tadi. Cukup acting penyambutan. Kali ini Geby akan kembali ke mode menakutkan.
Bersambung.....
__ADS_1