Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
ajakan menikah


__ADS_3

Lambat laun, Eza semakin gigih memperjuangkan Fina. Begitupun Eliana yang selalu tanpa henti berusaha mendapatkan cinta om nya. Eliana mencoba untuk tidak sadar akan kenyataan bahwa Om yang dicintainya ternyata mencintai rekan kerjanya.


Eliana mengetahui hal itu, saat tanpa sengaja ia mendengar pengakuan cinta om Eza kepada dokter cantik yang usianya tak berbeda jauh dari keponakannya om Eza.


Niat hati ingin memberikan bekal makan siang yang ia buat dengan susah payah, namun malah mendengar kabar bahwa ternyata om nya itu mencintai wanita lain.


Sakit, saat mendengar ungkapan cinta yang seharusnya mungkin itu diungkapkan kepadanya. Eliana hanya dapat mendengar dari balik pintu.


Kenapa sesakit ini? batin Eliana.


Karena takut ketahuan, Eliana pun segera pergi dari ruang kerja om Za. derai air matanya tak dapat ditahan, bercucuran sudah air matanya. Eliana berlari kecil di lorong rumah sakit, sambil menggenggam bekal kotak makan siang yang ia buat namun belum sempat diberikan kepada Om Za.


Di lain sisi, Fina justru terkejut saat Eza mengungkapkan rasa cintanya. Ada rasa haru dan bahagia yang menyeruak dalam dada, karena Fina pikir selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata pikirannya salah, justru cintanya berbalas.


"Fin, Kaka serius cinta sama kamu." tutur Eza meyakinkan kembali ungkapan cintanya.


Fina menatap dalam-dalam mata Eza, tidak ada keraguan sedikitpun saat ia melihat matanya yang serius membuktikan bahwa kak Reza mencintainya.


"Fin, jawab kakak. kamu juga cinta kan sama kakak?" tanya Eza.


Fina mengangguk pelan sambil tersenyum malu, sungguh dia sangat merasa bahagia. Saat melihat Fina menganggukan kepalanya, Eza pun turut bahagia. Karena mereka memiliki satu perasaan yang sama.


"Jadi, maukah kamu menikah dengan kakak?" tanya Eza langsung.


Fina terkejut bukan main, karena baru saja Eza mengungkapkan rasa cintanya kini sekarang malah mengajaknya untuk menikah.

__ADS_1


"Kak, bukankah ini terlalu cepat?" tanya Fina sedikit ragu.


Eza menggelengkan kepalanya pelan.


"Ngga Fin, kakak memang sudah memikirkan hal ini dari jauh. Jika memang perasaan kamu sama seperti kakak, maka kakak akan langsung mengajak kamu menikah. Karena kamu tahu sendiri, usia kakak sudah tak layak lagi hanya untuk sekedar berpacaran saja."


"Kakak ngga minta kamu langsung menjawab sekarang, kakak akan kasih kamu waktu untuk memikirkannya dengan baik. Setelah kamu yakin, baru kakak akan mengajak anggota keluarga kakak untuk menemui keluarga kamu." tutur Eza meyakinkan.


Eza sendiri tidak ingin berpacaran, kalau memang Fina ini jodohnya dia yakin semuanya akan dipermudah oleh-Nya.


Fina menghembuskan nafasnya pelan, dia merasa beruntung bertemu dengan orang sebaik Eza. Fina juga bersyukur bisa dicintai oleh pria seperti ini.


"Baik kak, tolong beri aku sedikit waktu untuk memikirkannya ya? Aku pasti akan berikan jawaban sesegera mungkin."


Eza mengangguk. "Yasudah, sekarang kamu balik ke ruang kerja kamu. Tapi ingat, jangan terlalu dipikirkan." tuturnya mengingatkan Fina.


🍁🍁🍁


Di tepi taman yang sunyi, Eliana menangis kencang. Mengapa? mengapa cinta pertamanya seperti ini, padahal dia berharap dapat menikah dengan om Za.


"Hiks... mengapa harus seperti ini?" teriaknya histeris.


Eliana tak terima, jika cintanya yang selama ini dia tunggu dia perjuangkan namun tak berbalas sedikit pun.


"Hikss.. Om Za jahat, kenapa ngga bisa lihat kalau aku sangat mencintainya. Aku tahu, hikss.. aku tahu kak Fina jauh lebih cantik. Tapikan hikss... aku jauh lebih cinta sama om Za!!!"

__ADS_1


Eliana menumpahkan segala sedih dan pedihnya di taman itu, dia tidak peduli jika ada orang yang lewat mendengar raungannya.


"Menangis saja tidak akan bisa membuat orang yang kamu cintai berbelas kasihan terhadap mu, tunjukan perjuangan mu. Tunjukkan kepadanya bahwa kamu layak menjadi pasangannya." tutur seseorang di belakang Eliana.


deg deg deg


Sial, siapa yang ikut campur urusan ku. batin Eliana, karena tidak suka jika ada orang lain yang ikut campur dengan kehidupan pribadinya.


Seseorang itu langsung duduk di samping Eliana tanpa permisi, Eliana sontak kaget dan langsung menatap tajam orang tersebut.


"Bapak jangan kurang ngajar ya!" ucapnya bangkit dan marah dengan air mata yang masih basah di pipinya.


Laki-laki tersebut tersenyum. "Saya bukan bapak kamu, lagi pula sepertinya usia saya jauh lebih muda dari pada orang yang kamu cintai."


siapa sih orang ini, ikut campur aja. batin Eliana.


"Om gausah ikut campur ya! kita ini orang asing, ngga saling kenal! Lagi pula mau saya mencintai kakek-kakek juga bukan urusannya om. Om memang muda, tapi wajah om jauh lebih tua dari pada ayah saya!!" teriak Eliana marah-marah, dan melupakan kesedihannya sejenak.


Laki-laki yang memang jauh lebih muda beberapa tahun dari Eza itu tersenyum menahan tawa saat melihat raut wajah marah Eliana.


"Saya akan buktikan nanti, bahwa kita bukanlah orang asing. Lagi pula kamu ini masih SMA ngga usah terlalu lebay dalam mencintai, yasudah kalau gitu saya permisi." tuturnya dan langsung pergi begitu saja.


Eliana bengong, hanya dapat terdiam di tempatnya saat ini. kenapa orang itu bisa tahu kalau aku masih SMA? padahal aku kan ngga lagi pake seragam. batin Eliana.


Masa bodo dengan orang itu, Eliana kembali teringat dengan Om Za yang baru saja mematahkan hatinya. Tapi, kata orang asing tadi ada benarnya. Dia tidak boleh hanya menangis seperti ini, masih ada kesempatan untuk mendapatkan cintanya om Eza.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2