Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 22


__ADS_3

Pertandingan sudah di mulai. Farhan bermain cukup apik. Beberapa kali menciptakan peluang. Meskipun belum berhasil menciptakan gol untuk timnya. Sesekali pria tampan itu melirik Ara, gadis yang sedang duduk di pinggir lapangan yang sedang menontonnya. Gadis itu tersenyum saat mata mereka bertemu.


Riuh penonton terdengar bergemuruh saat sebuah gol tercipta di menit ke tiga puluh delapan. Gerombolan orang di dekat Ara tampak berdiri dan bersorak saat gol itu terjadi. Kali ini tim Farhan unggul sementara. Ara tersenyum bangga melihat pujaan hatinya itu membobol gawang lawan.


Pertandingan kembali di lanjutkan dan berlangsung sangat seru. Hingga tanpa terasa empat puluh delapan menit telah berlalu. Babak pertama telah usai dengan skor 1-0 untuk tim Farhan dan kawan-kawan.


Para pemain berjalan kembali ke pinggir lapangan untuk beristirahat.


Farhan menghampiri Ara dan duduk berselonjor di samping gadis itu. Nafasnya masih memburu setelah berlari selama lebih dari empat puluh menit itu. Bajunya tampak basah oleh keringat.


"Minum" ucap Ara. Menyerahkan sebotol minuman isotonik yang telah di buka tutupnya.


"Terima kasih," ucap Farhan saat menerima minuman itu. Ia lekas menenggak isinya beberapa teguk. Hingga tersisa separuh.


"Ara tidak minum?" tanya Farhan. Menutup kembali botol minumannya dan meletakan botol tersebut di sampingnya.


"Sudah. Tadi minum ini," sahut Ara. Mengangkat gelas plastik berisi minuman yang berwarna-warni.


"Mocktail?" ucap Farhan dengan dahi mengernyit. Dimana Ara mendapatkan minuman itu. Biasanya minuman tersebut di jual di kafe-kafe. Sedangkan area di dekat sini tak ada kafe. Ara mengangguk, mengiyakan.


"Beli dimana?" tanya Farhan, penasaran.


"Itu, di pojok sana," ucap Ara. Menunjuk sebuah warung es tak jauh dari lapangan. "Harganya murah sekali," imbuhnya.


"Rasanya?" tanya Farhan.


"Tidak buruk," ucap Ara. "Mas Han mau coba?" tanya Ara. Ia menyodorkan minuman yang terbuat dari campuran jus buah dan sirup gula itu.


Farhan mencondongkan kepalanya ke kiri, mendekat. Kemudian membuka mulut dan menyesap minuman milik Ara itu dengan bantuan sedotan.


"Menurut Mas Han bagaimana rasanya?" tanya Ara ketika Farhan berhenti minum.


"Lumayan," sahut Farhan.


"Ehem! Yang bawa pacar diem-diem bae dari tadi," goda Sandi.


Farhan menoleh, menatap temannya itu. "Apa aku harus teriak-teriak?" ucapnya.


"Kau tidak mau mengenalkannya padaku, Han?" tanya Sandi. Laki-laki itu berjalan menghampiri Farhan dan duduk di sebelahnya.


"Memangnya kau siapa? Mengapa aku harus mengenalkannya padamu?" ucap Farhan dengan tawa kecil.


"Kalau begitu aku akan cari tahu sendiri." Sandi beralih menatap Ara. "Hai cantik, siapa namamu? Namaku Sandi, teman yang paling di sayangi Farhan," ucapnya, tersenyum. Ia mengulurkan tangan pada gadis itu.


Ara tampak mengangkat tangan, ingin menyambut uluran tangan Sandi. Namun di serobot Farhan. Kedua lelaki itu berjabat tangan. "Namanya Ara. Senang berkenalan dengan anda, Pak Sandi," sahut Farhan. Ia sengaja menekan tangan Sandi saat mereka bersalaman.


"Aku bertanya pada gadis itu. Kenapa kau yang menjawab, Han," protes Sandi, kesal. Ia segera melepas tangannya dari genggaman Farhan.


"Aku mewakilinya," jawab Farhan.


"Memangnya kau asistennya? Kenapa kau mewakilinya?" ucap Sandi.


"Aku bukan asistennya, tapi calon suaminya," balas Farhan, tertawa.

__ADS_1


"Iya 'kan, Sayang?" tanya Farhan. Melirik Ara.


Ara hanya tersenyum simpul.


"Sudah pergi sana, kau mengganggu kenyamanan gadis ini," usir Farhan pada Sandi.


"Memangnya apa yang kulakukan? dari tadi aku diam dan tak melakukan apapun. Aku sama sekali tak mengganggunya," protes Sandi tak setuju.


"Tanpa melakukan apapun kau tetap mengganggu," sahut Farhan.


"Bagaimana bisa seperti itu, Han. Kau ini aneh," ucap Sandi.


"Apa kau tidak sadar. Keberadaanmu di sini saja sudah mengganggu. Wajahmu merusak pemandangan," ucap Farhan. Ia kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Sialan kau, Han," sahut Sandi seraya meninju lengan Farhan. Namun tak berniat menyakitinya.


"Sudah sana pergi," usir Farhan, lagi.


"Baiklah, aku akan pergi," ucap Sandi seraya bangkit berdiri.


"Bagus," balas Farhan. Mengacungkan jempolnya pada Sandi.


"Apa ucapan Mas Farhan tidak keterlaluan? Bagaimana kalau dia marah?" ucap Ara ketika Sandi sudah pergi. Kembali menghampiri teman Farhan yang lainnya dan berkumpul di sana.


"Kau tenang saja. Dia tidak akan marah. Kami sudah biasa bercanda seperti itu," ucap Farhan, menjelaskan.


"Sepertinya pertemanan Mas Han terdengar menyenangkan," ucap Ara.


Farhan menoleh, menatap teman-temannya. Kemudian menganggukkan kepala, setuju. "Pertemanan kami memang menyenangkan," ucapnya, mengakui.


"Kurasa iya," sahut Ara.


"Kurasa?" ucap Farhan dengan dahi mengernyit. "Ucapanmu terdengar ragu. Apa kau tak yakin kalau teman-temanmu baik?" imbuhnya, menyimpulkan.


"Sejujurnya aku tak punya banyak teman. Hanya beberapa saja. Sekitar tiga atau empat orang. Itu pun tidak terlalu dekat. Kami hanya bertemu saat di sekolah," tutur Ara. Ada kesedihan dalam suaranya.


"Kenapa?" tanya Farhan.


Ara menoleh, menatap pria di sampingnya itu. "Apanya yang kenapa?" tanyanya.


"Kenapa kau tak punya banyak teman?" tanya Farhan. "Saat aku seusiamu aku berteman dengan banyak sekali orang. Bahkan hampir satu sekolah aku mengenalnya," imbuhnya.


Ara tersenyum. "Kehidupan Mas Han pasti menyenangkan," sahut Ara. Mengabaikan pertanyaan Farhan. Ia menunduk, menatap rerumputan.


Farhan yang menatap lekat wajah Ara. Meskipun gadis itu tersenyum tapi ia bisa melihat kesedihan di wajah gadis itu. "Apa kau tak bahagia?" tanyanya.


Ara kembali mengangkat wajahnya. Sedikit terkejut dengan pertanyaan Farhan. "Mengapa Mas Han bertanya seperti itu? Apa aku terlihat tak bahagia?" tanyanya seraya menatap Farhan.


"Terkadang kau tiba-tiba terlihat sedih, tapi aku tak tahu apa penyebabnya," sahut Farhan. Ia kembali mengingat momen-momen kebersamaan mereka berdua. Dimana Ara terkadang tiba-tiba sedih atau takut.


Ara kembali berpaling, menatap sembarang Arah. "Aku sendiri tidak tahu," ucapnya.


"Apa Mas Han tahu perasaan bahagia tapi tak bahagia?" tanya Ara. Kembali menatap Farhan. "Terkadang aku merasa seperti itu," imbuhnya.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu tak bahagia?" tanya Farhan.


Ara terdiam selama beberapa detik. Ia menatap lurus ke depan. "Terlalu banyak aturan, terkekang," ucapnya kemudian. Wajahnya kembali sendu.


Farhan tertegun menatap gadis di hadapannya itu. Sebenarnya seperti apa kehidupan gadis ini? Mengapa aku ikut merasa sedih melihatnya ekspresinya yang seperti itu. Membuatku ingin melindunginya.


"Ngomong-ngomong berapa usia Mas Han?" tanya Ara. Kembali menatap Farhan. Wajahnya kini kembali ceria.


"Coba tebak. Menurut Ara berapa usia Mas Han?"


"Dua puluh lima?" tebak Ara.


Farhan menggeleng. "Salah," ucapnya.


"Dua tujuh?" tebak Ara, lagi.


"Tambah satu tahun lagi," sahut Farhan.


Ara mengangguk, mengerti. "Kapan Mas Han di lahirkan?" tanyanya.


"Kenapa kau ingin tahu kapan aku dilahirkan?" ucap Farhan bertanya balik.


"Apa tidak boleh ... Bertanya seperti itu?"


Farhan tersenyum. Gadis ini selalu menarik.


"Tidak juga. Mas Han cuma penasaran kenapa Ara ingin tahu. Sebelumnya tidak ada yang pernah menanyakan hal seperti ini," sahut Farhan.


"Apa itu berarti aku ini aneh? Menanyakan hal yang tak di tanyakan oleh orang lain?" tanya Ara.


Farhan terkekeh mendengar penuturan Ara yang menganggap dirinya sendiri aneh. "Tentu saja tidak," sahutnya. "Dua puluh empat november, ditanggal itu Mas Han lahir," imbuhnya.


"Yah ...." ucap Ara.


"Yah?" ucap Farhan. "Sepertinya Ara terlihat kecewa," imbuhnya. Ara mengangguk, mengiyakan.


"Kenapa?"


"Ulang tahun Mas Farhan sudah lewat jadi aku tak bisa minta di traktir makan," sahut Ara tersenyum.


"Kenapa harus menunggu saat ulang tahun? Kalau mau Ara bisa minta kapan saja," tutur Farhan.


"Benarkah?" tanya Ara, memastikan.


Farhan mengangguk. "Setelah main bola--mau makan bersama?" tanya Farhan.


"Ok," sahut Ara.


"Kalau begitu Mas Han lanjut main dulu, ya," ucap Farhan. Kebetulan waktu istirahat telah berakhir. Babak kedua akan segera di mulai. Farhan kembali meraih botol minumannya. Menenggak isinya hingga tandas. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan kembali ke lapangan. Bersiap melanjutkan pertandingan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2