
Ara tertidur saat dalam perjalanan pulang. Gadis itu tampak kelelahan setelah hampir seharian bepergian.
Dion lekas mematikan mesin saat mobilnya sudah berada di garasi. "Kita sampai," gumamnya seraya melepas sabuk pengaman. Ia menoleh ke kiri, menatap Ara yang masih terlelap. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, menampilkan seulas senyum manis.
Dion mengulurkan tangannya, menyibak beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah Ara. Lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Saat tidur pun tetap terlihat cantik," gumamnya. Masih memandangi wajah Ara. jemarinya tampak membelai pipi Ara dengan lembut. "Kulitnya halus sekali, seperti bayi," gumamnya lagi.
Dion terus memandangi wajah Ara. Matanya kini berfokus pada bibir gadis itu yang sedikit terbuka. Seketika Dion tergoda. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya. Dengan sangat pelan ia mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. Tak cukup hanya sekali, Dion mengulangnya beberapa kali. Hembusan nafas Ara yang terasa manis di indera penciumannya membuat Dion mulai bergairah. Lelaki itu kembali melakukan serangan terhadap gadis yang sedang terlelap itu. Awalnya hanya kecupan lembut. Namun, semakin lama lelaki itu mulai rakus. Ia menjamah setiap sudut bibir tipis itu. Menyesap dan sesekali menggigit kecil.
Ara sama sekali tak bergerak. Matanya tetap terpejam dan nafasnya berhembus dengan teratur. Sepertinya gadis itu sama sekali tak merasa terganggu dengan apa yang di lakukan Dion.
Dion ikut memejamkan mata, menikmati bibir gadis itu. Kenapa rasanya begini. Sebelumnya aku tak pernah merasakan yang seperti ini. Manis dan kenyal, seperti permen. Sial! Aku tak bisa berhenti.
Dion akhirnya berhenti setelah merasakan pergerakan Ara. Gadis itu menggeliat, membuat Dion kaget setengah mati. Seketika kedua bola matanya kembali terbuka dan terlihat membulat sempurna. Ia buru-buru menjauhkan tubuhnya dan lekas memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. Nafasnya masih terengah-engah. Dalam hati ia merutuki diri sendiri karena bertindak mesum seperti seorang brengsek.
Usai nafasnya kembali teratur, Dion segera turun dari mobil. Membuka pintu dan membopong Ara masuk ke dalam rumah.
Haris berjalan tergopoh-gopoh begitu melihat adiknya terkulai dalam gendongan Dion. Wajahnya terlihat panik. Ia mengira telah terjadi sesuatu pada Ara. "Kenapa? Apa dia terluka?" tanyanya seraya menghampiri Dion.
"Tidak, dia hanya tertidur," sahut Dion, santai.
Haris membuang nafas lega. "Huh, kukira dia kenapa, sampai-sampai kau membopongnya."
"Sini, aku saja yang membawanya ke atas," pinta Haris seraya mengulurkan kedua tangannya.
Dengan sangat hati-hati Dion memindahkan tubuh Ara ke tangan Haris agar gadis itu tak terbangun.
__ADS_1
"Hati-hati," ujar Dion saat Haris hampir saja menjatuhkan tubuh adiknya. Kedua tangannya tampak siaga di bawahnya jika saja Haris tak kuat menahannya.
"Tenang saja, meskipun terjatuh adikku juga tidak akan merasakan apapun dan tidak akan bangun. Dia itu seperti orang mati kalau tidur," ucap Haris dengan tenangnya. Kemudian berlalu pergi. Menaiki anak tangga, menuju kamar Ara yang ada di lantai dua.
Dion masih tertegun di dekat tangga. Merasa bingung dengan perkataan Haris. Bagaimana bisa orang terjatuh tapi tak merasakan apapun. Meskipun tidur tapi harusnya tetap berasa sakit. Memikirkan hal itu Dion kembali teringat saat ia mencium Ara. Ia tersenyum licik.
Tahu begitu tadi aku menciumnya lebih lama lagi. Ngomong-ngomong kalau tadi aku menidurinya juga, apa dia juga tidak akan merasakan apapun?
Dion masih berdiri di tempat dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan jika ia bercinta dengan adik dari temannya itu. Hanya mengkhayalkannya saja sudah membuat seluruh tubuhnya menegang.
Aish, kenapa otakku selalu berpikir kemana-mana.
Usai tersadar dari lamunan kotornya, Dion masuk ke dalam kamar dan mulai membersihkan diri. Sejak saat itu Dion selalu terbayang oleh wajah Ara. Bahkan saat mandi pun ia masih mengkhayalkan hal-hal tak senonoh bersama gadis itu.
Setengah jam kemudian Dion kembali keluar dengan penampilan yang lebih segar. Rambutnya terlihat masih basah setelah berkeramas. Ia berjalan menghampiri Haris yang tengah duduk di sofa, di ruang keluarga.
"Baru juga jam berapa," sahut Haris. Menatap jam dinding yang menunjukan pukul sembilan lebih sepuluh menit.
"Ara tidak bangun?" tanya Dion tanpa menatap Haris. Matanya sibuk mengamati layar ponselnya.
Haris tertawa kecil. "Anak itu tidak akan bangun sekalipun terjadi gempa bumi," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.
"Kenapa bisa begitu? Itu sedikit berbahaya," ucap Dion agak cemas.
Haris mengangkat bahu. "Entahlah, tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Mengapa ia memiliki kebiasaan buruk seperti itu. Dan itu tak bisa di obati. Itu sebabnya aku dan bang Samsul tak pernah meninggalkan dia seorang diri. Kami selalu menjaganya, bergantian."
__ADS_1
Haris beralih menatap Dion. "Kelak, jika kau dan adikku berjodoh, jika kalian menikah dan menjadi sepasang suami istri. Kau harus berjanji akan menjaga dan melindunginya dengan baik. Seperti yang aku dan bang Samsul lakukan. Jika kau tidak sanggup melakukannya, maka lupakan dan jauhi adikku. Aku tidak akan menyerahkan gadis kecilku pada siapapun, kalau lelaki itu tak mampu menjaga dan membahagiakannya," imbuhnya dengan wajah serius.
Dion tak membalas perkataan Haris. Ia tahu temannya itu tak main-main dengan ucapannya. "Besok aku pulang," ucapnya tak lama kemudian.
"Kau menyerah?" tanya Haris dengan tawa mengejek.
"Mana mungkin," sahut Dion ikut tertawa.
"Lalu, mengapa begitu tiba-tiba? Kemarin-kemarin kau tidak mau pulang meskipun sudah ku usir berulang kali," tanya Haris, penasaran.
Jika tetap di sini, takutnya aku akan memangsa adikmu. Mungkin mulai sekarang aku bahkan akan terangsang meskipun hanya melihat jari kakinya. Aku tak akan sanggup menahannya jika terus melihatnya.
"Ayah menyuruhku pulang," Sahut Dion, Bohong.
"Setelah sekian purnama, akhirnya orang tua itu mengakuimu juga," ejek Haris. Ia tahu kedua orang tua Dion terlalu sibuk dengan bisnisnya, sampai-sampai melupakan Dion. Hingga membuat temannya itu selalu merasa kesepian.
"Ya, sepertinya mereka mulai sadar kalau aku berharga," sahut Dion, tertawa.
.
.
.
.
__ADS_1
.