
Ara tertidur saat dalam perjalanan pulang. Karena tak tega membangunkannya. Haris pun membopongnya dan membawa adiknya itu ke kamar.
Haris meletakkan tubuh Ara di kasur. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya hingga dada. Saat itu Ara menggeliat. Gadis itu mengubah posisi tidurnya menyamping.
Haris tersenyum melihat adiknya yang tertidur pulas. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian menyelipkannya ke belakang telinga. Alisnya berkerut saat mendapati tanda merah di telinga Ara.
Ia menyentuh telinga adiknya itu. Kemudian mendekatkan wajahnya, memperhatikan lebih dekat. Warna merah kehitaman tampak sangat jelas di kulit Ara yang putih bersih.
Siapa yang melakukanya? Bagaimana bisa aku kecolongan.
Haris bangun dari duduknya. Kemudian bergegas keluar dengan wajah cemas. Ia pergi ke kamarnya. Mengambil rokok yang ia simpan di dalam laci. Setelah itu kembali keluar dan berjalan menuruni anak tangga, lalu bergerak menuju ke taman belakang.
Ia menjatuhkan bokongnya di kursi panjang yang ada di sana. Mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek. Ia menyesap rokok itu berulang kali hinga habis. Kemudian mengambil sebatang lagi dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Pikirannya sedang kacau jadi melampiaskannya dengan merokok.
"Kau sedang apa sendirian di sini?" tanya Dion. Laki-laki itu duduk di sebelah Haris.
Haris tak menjawab. Ia terus saja menghisap rokoknya berulang-ulang.
Dion menghadang tangan Haris yang hendak mengambil rokok lagi. "Kau merokok terlalu banyak," ucapnya. Memperhatikan sepuluh putung rokok yang bercecer di bawah kakinya. Akhirnya Haris berhenti. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ada masalah apa?" tanya Dion. Sebagai orang yang sudah lama kenal dengan Haris tentu saja ia tahu kalau temannya itu sedang memiliki masalah. Karena sejatinya Haris bukanlah perokok. Temannya itu hanya merokok saat ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Aku gagal, Dion. Aku tak berguna," ucap Haris. Nada suaranya terdengar frustasi.
"Apa maksudmu? Gagal dalam hal apa?" tanya Dion, tak mengerti.
__ADS_1
"Ara," ucap Haris. Laki-laki itu menunduk. Tatapannya kosong.
Dion menatap wajah Haris dengan seksama. "Ada apa dengan Ara?" tanyanya, penasaran.
"Aku gagal menjaganya, Dion. Aku ini kakak yang payah."
"Memangnya apa yang terjadi dengan Ara? Bukankah tadi gadis itu baik-baik saja?" tanya Dion.
"Fisiknya memang baik-baik saja. Tapi kurasa adikku telah dinodai oleh laki-laki."
Dion tampak kaget dan tak percaya. "Bagaimana bisa? Kapan itu terjadi? Bukankah dia selalu bersama kita?"
Haris menggeleng. "Aku tidak tahu, Dion. Aku juga tidak menyangka hal ini bisa terjadi," ucapnya.
Haris kembali menggeleng. "Aku melihat tanda kepemilikan di telinganya."
"Apa kau yakin itu tanda kepemilikan? Bukan karena tergigit serangga atau semacamnya?" tanya Dion. Ia tak yakin Ara sudah ternoda. Pasalnya gadis itu selama ini terlihat baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
"Aku yakin itu bukan gigitan serangga. Itu benar-benar tanda kepemilikan," sahut Haris.
Dion terdiam. Jika itu benar. Siapa yang melakukannya? Mungkinkah itu Farhan?
"Apa tanda itu juga ada di tempat lainnya? Di leher atau di dada misalnya?" tanya Dion lagi. Ia masih belum bisa percaya gadis itu telah kehilangan kesuciannya.
"Di lehernya tidak ada. Kalau di bagian lainnya aku tak berani mengeceknya. Aku hanya melihat di telinganya," jelas Haris. Meskipun Ara adalah adiknya tapi ia tak mungkin melihat bagian tubuh Ara yang tak seharusnya ia lihat.
__ADS_1
"Tenanglah, Ris. Mungkin itu memang benar tanda kepemilikan, tapi kurasa tak sampai sejauh seperti yang kau bayangkan."
Ya, bisa saja orang itu sekedar mencumbu Ara. Dion
"Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi, Dion. Bagaimana kalau dia hamil? Semuanya akan hancur."
"Aku yang akan bertanggung jawab, Ris," ucap Dion, mantap.
Haris tertegun. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain.
"Jika kemungkinan terburuk itu terjadi, aku yang akan menikahinya dan menjadi ayah dari anak itu," ucap Dion, lagi.
Haris masih menatap Dion dalam diam. Sementara Dion tampak menundukkan wajahnya. "Kurasa aku mulai menyukai adikmu, Ris," ucapnya.
Lagi-lagi Haris di buat terkejut dengan pengakuan Dion. Sangking kagetnya sampai ia tak bisa berkata-kata.
Dion kembali mengangkat wajahnya dan menatap Haris yang masih membisu. "Ris ... jika kau mengizinkan aku ingin mengejarnya, aku meminta restu padamu. Kau tenang saja, aku serius dengan apa yang kuucapkan, aku ingin memperistri Ara," ucap Dion penuh keyakinan.
.
.
.
.
__ADS_1