
Babak kedua belum berakhir. Masih tersisa kurang lebih lima belas menit di waktu normal. Namun Farhan terpaksa di tarik keluar karena ada masalah di kaki kananya. Laki-laki itu berjalan sedikit pincang menuju ke pinggir lapangan.
Sementara di pinggir lapangan Ara menunggunya dengan cemas. Gadis itu bahkan langsung berdiri ketika Farhan terguling di lapangan. Sedetikpun tak pernah berpaling dari Farhan. Ia berjalan mendekat, menyambut kedatangan Farhan.
"Kaki Mas Han kenapa?" tanyanya begitu Farhan sampai di sisinya.
"Tidak apa-apa, hanya terkilir sedikit," sahut Farhan, menenangkan.
Keduanya kembali duduk bersebelahan. Ara memutar tubuhnya sedikit menyerong, Menghadap ke arah Farhan. Ia menunduk menatap kedua kaki Farhan.
"Tapi lutut Mas Han juga berdarah. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ucapnya. Kembali mengangkat wajah, menatap Farhan.
Farhan tertegun. Ia baru menyadari kalau gadis di hadapannya itu berkaca-kaca.
Ada apa dengan gadis ini? Mengapa dia seperti ingin menangis? Apa dia sangat mengkhawatirkan aku? Tapi kenapa? Apa dia benar-benar menyukaiku?
"Ayo kita ke rumah sakit, Mas," ajak Ara seraya meraih tangan Farhan dan hendak berdiri. Namun, Farhan menahannya. Ia menarik tangan gadis itu hingga membuatnya kembali terduduk.
Ara mengerutkan dahi. Ia menatap lekat wajah Farhan. Terutama bagian matanya. Ia memandang manik mata Farhan yang hitam, mencari jawaban di sana.
Begitu juga dengan Farhan. Keduanya saling beradu pandang selama beberapa detik.
Farhan mengulurkan tangan, membelai kepala Ara dengan lembut. "Jangan bersedih, aku baik-baik saja," ucapnya lirih.
Kecemasan di wajah Ara perlahan memudar. Deru nafasnya yang sempat meningkat kembali menurun dan berangsur stabil. "Apa benar-benar tidak apa-apa? Tidak perlu ke rumah sakit?" tanyanya, memastikan.
Farhan mengangguk. "Iya, tidak perlu. Hanya luka kecil. Besok pasti sembuh dengan sendirinya."
Ara membuang nafas, lega. "Syukurlah, kalau Mas Han baik-baik saja," ucapnya. Ia kembali duduk dengan tenang.
"Apa kau benar-benar mengkhawatirkan aku?"
Ara mengangguk. "Ya," jawabnya. Kembali menatap Farhan.
"Kenapa?" tanya Farhan.
"Mas Han terluka, bagaimana mungkin aku tidak khawatir," sahut Ara.
"Jika yang terluka orang lain, apa kau juga akan secemas ini?" tanya Farhan lagi.
__ADS_1
"Tidak jika orang itu tak dekat denganku."
"Jadi ... Kau mengkhawatirkan ku karena kita dekat saja?"
Ara kembali mengangguk. "Ya," ucapnya singkat.
Farhan terdiam. Ternyata aku salah. Kukira ia bersikap seperti itu karena menyukaiku. Rupanya itu semua hanya karena kedekatan kami saja.
"Ada apa? Kenapa Mas Han menatapku seperti itu?" tanya Ara.
Farhan tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya terpesona oleh kecantikanmu, Ara," ucapnya.
Ara tersipu malu. Kedua pipinya terlihat merona. Tiba-tiba saja sebuah bola meluncur ke arahnya. Ara tampak terkejut dan spontan menutup mata.
Bugh!
Bola itu kembali memantul setelah membentur punggung Farhan yang saat itu menghalaunya. Namun karena aliran bola itu sangat keras dan juga kakinya yang sedang sakit. Membuat Farhan terhuyung ke depan. Ia terjatuh dan menimpa tubuh Ara yang ada di depannya. Jantungnya berdegup kencang. Tubuh bagian bawahnya benar-benar menyatu dengan Ara. Ia merasa seperti tersengat listrik. Kaku, tak bisa bergerak. Hingga akhirnya Ara berinisiatif mendorong tubuh Farhan yang menindihnya.
Keduanya kembali duduk dengan benar. Baik Ara maupun Farhan sama-sama memalingkan muka.
Ara menundukkan wajahnya. Gadis itu benar-benar sangat malu karena beberapa orang masih menatapnya.
Ara kembali mengangkat wajahnya dan menatap Farhan. "Ya. Aku baik-baik saja," sahutnya. "Bagaimana dengan Mas Han? Apa tidak apa-apa? Sepertinya tadi benturannya sangat keras," imbuhnya bertanya balik.
"Aku tidak apa-apa," sahut Farhan. "Maaf untuk yang tadi, Ara," ucapnya, tak enak hati.
"Itu bukan kesalahan Mas Han, tidak perlu minta maaf," ucap Ara. "Aku izin pergi sebentar, Mas Han." Ara bangkit berdiri.
"Mau kemana?" tanya Farhan. Mendongakkan kepala untuk melihat wajah gadis itu.
"Ke sana, mau beli sesuatu," ucap Ara. Menunjuk ke arah pedagang jajanan di seberang jalan.
"Mau Mas Han antar tidak?"
"Tidak usah, Mas. Ara sendiri saja, tidak akan lama," tolak Ara.
"Baiklah. Kalau begitu hati-hati saat menyeberang.
Ara mengangguk. Kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Farhan kembali fokus menatap ke tengah lapangan. Menyaksikan pertandingan yang hampir usai. Lagi-lagi sebuah bola melayang ke arahnya. Namun, kali ini ia bisa menepis dengan tangannya.
"Apa kau tadi menginjak kaki atau semacamnya, Han?" tanya Ibas. Lelaki berambut gondrong yang duduk di sebelah Farhan. "Sepertinya anak itu dengan sengaja ingin menyerangmu," imbuhnya.
Farhan menoleh, menatap pria di sampingnya itu. "Memangnya yang pertama juga anak itu?" tanya Farhan. Saat itu ia memang tak memperhatikan siapa yang menendang bola ke arahnya dan juga Ara.
"Ya. Kulihat beberapa kali ia terus menatapmu," ucap Ibas.
Farhan kembali menatap ke tengah lapangan. Memperhatikan orang yang di maksud Ibas. Yang tadi menendang bola ke arahnya. "Aku tidak tahu kalau anak itu pendendam," ucapnya.
"Memangnya apa yang telah kau lakukan?" tanya Ibas. Laki-laki itu menatap Farhan.
"Aku menyikut dadanya saat duel di udara," jawab Farhan, tersenyum lebar.
Ibas terlihat ikut tertawa. "Ternyata kau belum berubah. Masih sama seperti saat muda dulu," ucapnya.
"Memangnya sekarang aku sudah tua?" tanya Farhan.
"Apa kau merasa masih muda?" Ibas bertanya balik.
"Kurasa aku tidak terlalu tua," aku Farhan.
"Jadi itukah alasan kau mengencani remaja? Karena kau merasa tak terlalu tua?" tebak Ibas.
"Aku dan gadis itu tidak berpacaran," bantah Farhan.
Ibas tertawa kecil. "Cih. Tidak pacaran tapi semesra itu," ucapnya, tak percaya.
"Mesra?" ucap Farhan dengan dahi mengernyit. "Kapan kami bermesraan?"
Cih. Aku baru tahu Farhan bisa akting pura-pura tidak tahu sebagus ini. Jelas-jelas sejak ia dan gadis itu datang selalu bermesraan setiap saat. Gandengan tangan, minum berdua dan juga beberapa kali membelai gadis itu. Sepertinya kali ini Farhan benar-benar jatuh cinta. Sampai-sampai ia tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ibas
.
.
.
.
__ADS_1