
Selang beberapa menit Eza mulai merasakan panas disekujur tubuhnya, padahal ruangan ini ada ac nya namun mengapa dia merasa kepanasan?
"Za kenapa lo?" tanya Adit yang melihat gelagat sahabatnya itu.
"Nggatau nih, gue ngerasa ngga enak badan." jawab Eza.
"Ya udah mending lo istirahat deh, kita juga nanti langsung masuk ke kamar masing-masing. Lo duluan aja, dari pada ntar lo sakit."
Eza mengangguk setuju, mami Hellena sengaja menyewa hotel karena agar semuanya bisa langsung istirahat di kamar hotel yang telah disediakan untuk masing-masing orang.
Eza pun keluar dari ruang party mereka, rasa panas semakin menyeruak di dalam tubuhnya. Saat Eza melewati ruang utama, di sana sudah tidak ada para wanita. Tunangannya pun tidak ada, hanya ada Hans dan Roni yang sedang berbincang.
"Za kamu kenapa?" tanya Hans melihat adik iparnya seperti tidak baik-baik saja.
"Ngga apa-apa om, Eza hanya kelelahan dan ngga enak badan."
"Yasudah kamu langsung istirahat saja."
Eza mengangguk dan permisi, dia dengan cepat bergegas menuju lift agar dapat segera ke kamar hotel miliknya.
Arghh sial, ada apa dengan tubuh ku? batin Eza.
Saat memasuki lift, Eza cukup dikejutkan dengan kehadiran Eliana yang juga masuk ke dalam lift. Keduanya bertemu tidak sengaja, Eliana tak memperdulikan Eza.
Nafas Eza semakin memburu saat melihat tubuh Eliana dari belakang, ada apa dengan dirinya? Mengapa seperti haus akan sentuhan.
Aroma parfum dari tubuh Eliana membuat Eza kehilangan kewarasannya, Eza semakin mendekati eliana. Sedangkan Eliana sadar, dan langsung mendorong tubuh Eza.
"Om apa-apaan hah?" teriaknya.
"A--ana tolong om." rintihnya.
Eliana cukup terkejut melihat kondisi Eza yang seperti ini, apa mungkin Eza ikut minum? Tapi tidak mungkin ,pria ini sangat pantang.
"O--om kenapa?" tidak bisa di sangkal, bahwa sejujurnya Eliana pun khawatir melihat kondisi Eza yang seperti itu. Nafas yang memburu dengan keringat yang sudah bercucuran dari kening hingga lehernya.
Ting.
Pintu lift terbuka, Eliana memilih untuk membantu Eza menuju kamarnya dengan memapah pria tersebut.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar hotel milik Eza. "Arghhh panas sekali." ucap Eza, yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Eza membiarkan tubuhnya tersiram air dingin yang terpancar dari shower, dia berharap bahwa ini dapat meredakan. Eza yang awam dengan perasaan semacam ini pun tidak tahan, itu sangat menyiksa dirinya.
Dari luar kamar mandi Eliana menatap bingung. "Om, om baik-baik aja kan? Om kenapa?" tanya Eliana sambil menunggu Eza keluar dari sana.
__ADS_1
Dia sangat mengkhawatirkan Eza dengan kondisi yang seperti itu.
"Enghh, jj--jangan masuk An." titah Eza dengan suara yang tersengal-sengal, dia menyadari bahwa ini mungkin pengaruh obat sialan itu. Tapi dari mana dia meminumnya? Eza bahkan tak ikut minum-minum.
Eliana tak dapat mendengar ucapan Eza dengan secara jelas, karena takut terjadi apa-apa dengan Eza dia pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Omm!!" melihat Eza yang berada di bawah pancuran shower dengan pakaian yang basah kuyup, Eliana pun menghampiri.
pandangan Eza menjadi buram, sentuhan tangan Eliana terhadap kulitnya benar-benar membuat Eza bereaksi. Eza tiba-tiba meraih tangan Eliana, dan menangkup wajahnya itu dengan gerakan cepat. dan mengunci tangan Eliana di atas kepalanya yang tersandarkan ke dinding kamar mandi. Eza menatap Eliana penuh minat, hingga beberapa saat dia langsung menc ium nya.
"O--hmpp." Eliana mencoba protes dengan membuka mulutnya, namun yang ada itu semakin membuat Eza dapat mengakses lebih dalam.
Eliana tentu memberontak, namun tenaganya hanya sia-sia saja. Kekuatan Eza jauh lebih dalam. Eza semakin dibuat tak berdaya dengan hal yang bereaksi pada tubuhnya.
Dia menggendong Eliana secara paksa dan melemparkannya ke atas kasur, Eliana hendak kabur namun lagi-lagi Eza dapat menahannya. Eza melanjutkan aktivitasnya, menc umbu Eliana. dan bahkan tak segan merobek gaun gadis kecil itu dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Hikss.. om sadar om!" Eliana mencoba membuat Eza tersadar, namun usahanya hanya sia-sia. Bahkan kini dia sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun.
Eza juga dengan perlahan melepaskan pakaian bawahnya, ada sesuatu yang harus dia tuntaskan dengan segera karena ini sangat menyiksa dirinya. Eza mencoba melakukan aksinya, dengan membobol pertahanan Eliana sekuat tenaga. Dan akhirnya...
Aaaaa!! brakk!!!!
Eliana berteriak saat sesuatu berhasil masuk ke dalam intinya, dan berbarengan dengan itu suara pintu hotel yang terbobol pun berhasil. Hans, Roni, Endah dan Airen menatap tak percaya dengan semua ini.
Eliana menangis sesenggukan karena perasaan sakit dan takut, kesadaran Eza seketika kembali mendengar suara teriakan dan juga dobrakan pintu. Namun sesuatu membuatnya semakin merasa tak tertahankan.
Bughh! bughh!! bughh!!
Kaki Airen terasa lemas tak berdaya, dia seakan menyaksikan dirinya dahulu saat melihat kondisi Eliana. Endah menghampiri putrinya dan langsung memeluk Eliana dengan erat dan menutupi tubuh putri nya dengan selimut.
"Brengsek kamu Za!" teriak Roni sambil terus memukuli Eza yang bahkan sudah dia anggap sebagai adiknya.
Hans mencoba untuk menahan Roni, sedangkan Eza merintih kesakitan dan kepanasan.
"Ron sadar! kamu bisa membunuh Eza kalau seperti itu caranya!" bentak Hans.
"Biarkan saja, saya tidak peduli dia adik nyonya Airen. dia sudah menodai anak saya!!" marah Roni.
Bima yang mendengar kegaduhan lantas menghampiri kamar sebelahnya, sungguh Bima di buat syok melihat kejadian itu.
"A--apa yang terjadi?" tanya Bima yang baru datang.
"Bim, kamu bawa Eza ke kamar mandi. Setelah itu berikan penangan terbaik untuknya, sepertinya dia diberi obat prngsng." ujar Hans.
"Lepas tuan! saya belum puas menghajarnya!" Roni meronta ingin sekali memukul Eza kembali.
__ADS_1
Hans menahan Roni sekuat tenaga. "Cepat Bim! sebelum semuanya kemari."
Bima membawa Eza yang hanya mengenakan pakaian atas saja, ke dalam kamar mandi. Airen hanya diam mengamati, sungguh hatinya teriris dengan kejadian ini.
"M--mas, anak kita pingsan!" Endah menangis melihat kondisi putrinya.
Roni segera menghempaskan tangan Hans, dia langsung menggendong Eliana yang berbalut selimut membawanya pergi dari sana. Endah mengikuti langkah suaminya.
Sedangkan Airen terduduk lemas memegangi dadanya, sesak sekali rasanya. "Hikss... kenapa harus seperti ini?" ujarnya.
Hans menghampiri istrinya dan langsung memeluknya dengan erat, seakan menyalurkan tenaga untuknya. Hans pun tidak tahu mengapa malah berakhir seperti ini.
🍁🍁🍁
Eza dipindahkan ke kamar lain, untung saja hanya Bima yang berdekatan dengan kamarnya Eza. Jadi hanya Bima yang mengetahui tentang hal ini.
Eza terbaring di atas kasur dengan mata yang terpejam, wajahnya yang babak belur karena ulah Roni membuat ketampanannya sedikit berkurang.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Hans menatap pilu kepada adik iparnya.
"Dia sudah baik-baik saja, aku juga sudah memberikan obat penawarnya." ujar Bima menghela nafas pelan.
Bima menatap Hans, dia tahu pasti adiknya itu kembali memikirkan tentang kejadian yang pernah dia alami bersama dengan Airen.
"Eza tidak sampai melakukannya kan?" tanya Bima.
Hans menggeleng pelan. "Tidak, tapi mampu membobolnya."
Huffhhh. keduanya menghela nafas berat. Karena Bingung harus bagaimana.
"Roni sangat marah sepertinya." ucap Bima yang tadi melihat raut kemarahan Roni.
Hans mengangguk setuju. "Aku pun pasti melakukan hal yang sama seperti Roni, jika anak--."
"Sstttss, jangan bicara sembarangan. Cukup Eza dan Eliana yang menjadi korban terkahir, jangan ada lagi." tutur Bima yang turut sedih melihat kondisi kacau seperti ini.
Hans bingung, bagaimana dia mengatakan hal ini kepada keluarga besar Fina?
"Hans, kamu kenapa bisa tahu Eliana sedang berada sama Eza?"
"Endah keluar menghampiri Roni mengatakan bahwa anaknya tak kunjung datang ke kamar, kami pun mencarinya melalui cctv. Dan seperti itulah, kami sangat telat untuk menyelamatkan Eliana." ujar Hans sedih.
Bima menepuk bahu Hans, dia tahu Hans lebih mengerti perasaan Eza. Bima tidak habis pikir, sebenarnya Eza Dijebak? atau terjebak?
"Aku akan mencari pelakunya, kamu sebaiknya tunggu disini sampai Eza bangun. Dan tanyakan baik-baik, bagaimana keputusannya menghadapi kenyataan yang terjadi. Tidak usah khawatir soal Airen, dia aman bersama istriku." ujar Bima lalu pergi dari kamar hotel tersebut, meninggalkan Eza dan Hans.
__ADS_1
Hans mendesah prustasi, bagaimana Eza harus mengalami hal yang serupa seperti dirinya? Sungguh Hans tidak akan segan terhadap seseorang yang menaruh obat ke dalam minuman Eza.
bersambung...