
Mami Hellena mengkhawatirkan tentang Eza, karena dia ingin sekali melihat Eza menikah dan berkeluarga sebelum ia beristirahat selama-lamanya.
Saat ini Eza sedang berusaha mendiamkan mami Hellena yang tengah menangis, pulang dari rumah sakit Eza langsung disuguhkan dengan keinginan mami Hellena yang menginginkan dirinya segera menikah.
"Oma jangan menangis seperti ini, Oma doakan aku saja semoga cepat segera dipertemukan dengan jodoh ku." ujar Eza lembut.
"Hikss.. bagaimana dipertemukan jodoh mu, sedangkan kamu hanya diam tak mencari. Apa perlu mami yang carikan?"
Meskipun Hellena meminta agar Eza memanggilnya dengan sebutan mami, namun anak itu tetap memanggilnya dengan sebutan Oma katanya agar sama dengan cucu-cucu yang lainnya. padahal Hellena menganggap bahwa Eza adalah anak bungsunya.
Eza menghela nafas pelan, sebenarnya yang dia khawatirkan jika balik ke Indonesia ya seperti ini. Pasti disuruh cepat-cepat untuk menikah, bukan Eza tak mau hanya saja dia merasa belum siap untuk memiliki istri. Takut, jika wanita yang ia pilih ternyata bukanlah wanita yang tepat.
"Baiklah begini saja, oma boleh mencalonkan wanita manapun tapi aku sendiri yang akan memilih dan menentukannya." ucap Eza pasrah.
Mami Hellena tersenyum senang, syukurlah jika Eza mau mengikuti keinginannya. "Yasudah mulai besok akan mami carikan, sekarang bantu mami ke kamar." tutur mami Hellena.
Eza mengangguk, dengan sigap membantu mami Hellena berjalan dengan tungkednya. Usia mami Hellena memang sudah sangat tua, sekarang hanya dapat berjalan sedikit dengan menggunakan tungkednya.
Setelah mengantarkan mami Hellena beristirahat di kamarnya, Eza pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Dia membuka gagang pintu dengan perlahan dan menutupnya kembali, Eza segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia ingin berendam di dalam bathtup.
Eza memejamkan matanya, membiarkan dirinya sedikit lebih lama di dalam bathtup. Eza sedang memikirkan bagaimana masa depannya, apakah memang perlu dia menikah dan memiliki keluarga? Saat pikirannya melayang memikirkan tentang pernikahan, tiba-tiba lintasan wajah Eliana muncul di dalam benaknya.
Sontak hal itu membuat Eza melototkan matanya, bibirnya tersungging senyuman tipis. "Astaga gadis kecil itu selalu bermunculan dimana pun." gumamnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Di lain sisi, Eliana sedang mengurung diri di dalam kamar. Sudah tiga hari dia melakukan hal itu, selepas pulang sekolah Eliana langsung mengurung dirinya di dalam kamar. Karena tidak ingin bertatapan dengan ayahnya. Dia masih marah dan kesal, karena dibentak di rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Eliana sayang, ayo nak kita makan malam. Papa kamu sudah menunggu di bawah." tutur Endah perlahan di depan pintu kamar Eliana.
"Aku ntar mah, duluan saja makan sama papa." ucap Eliana dari dalam kamar.
Endah menghela nafas perlahan, dia sudah tahu bahwa Eliana merajuk karena suaminya sudah menceritakan semuanya.
"Eliana, ayo nak makan bersama. mama kangen lho makan bareng kamu, sepi kalau hanya berdua dengan papa saja."
Dengan perasaan yang kesal Eliana pun membuka pintu, dia memutuskan untuk ikut makan malam bersama demi sang ibu.
Roni menatap ke arah anak tangga, dia tersenyum tipis saat melihat kedatangan istri dan anaknya yang terlihat sangat ketus.
Roni menggeleng. "Ngga sayang, ayo kita makan."
Eliana mengambil kursi di dekat ibunya, biasanya dia akan duduk di sebelah kiri ayahnya. Namun kali ini Eliana memilih duduk di sebelah sang ibu. Roni hanya dapat menghela nafasnya pelan, melihat anaknya yang masih marah dengannya.
Mereka bertiga makan dengan tenang, tidak ada pembicaraan sama sekali. Dering ponsel Roni berbunyi, dia pun langsung mengangkat telepon tersebut saat tertera nama nyonya Hellena.
📞"Hallo nyonya, ada apa?" tanya Roni diambang telepon.
__ADS_1
📞".............. .............. ..............."
📞"Baik, akan saya lakukan."
Tut..
Roni nampak menghela nafas pelan, Endah pun bertanya saat melihat raut wajah suaminya yang sepertinya nampak bingung.
"Kenapa mas?"
"Nyonya Hellena meminta mas untuk mencarikan beberapa wanita sebagai calon istri Eza." tuturnya memberitahu.
Uhuk... uhukk..
Eliana langsung tersedak saat mendengar bahwa papanya diminta mencarikan istri untuk orang yang ia cintai. Endah dengan sigap memberikan air minum kepada putrinya.
"Mah aku kenyang, mau ke kamar dulu." ujar Eliana, dan pergi meninggalkan ayah ibunya di meja makan.
Eliana berjalan lunglai menuju kamarnya, sesampainya di kamar dia langsung menutup dan mengunci pintunya. Eliana berjalan pelan ke arah meja belajar, disana ada foto dirinya dan Eza sewaktu kecil. Eliana mengambil foto tersebut, memandanginya dengan tenang.
Ngga boleh, pokoknya om Za ngga boleh menikah dengan orang lain selain aku. Jadi gini ya? rasanya sakit hati. batin Eliana.
"Mulai besok aku harus berusaha mendapatkan cintanya om Za! semangat Eliana!!"
__ADS_1
Ntah apa yang akan direncakan Eliana dalam membuat Eza jatuh cinta, semoga saja dia tidak menghalalkan segala cara untuk bersama.
bersambung...