Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Semakin dekat


__ADS_3

Hari-hari berlalu, bulan pun berganti. Eza semakin dekat dengan Dokter Fina. Terkadang keduanya sesekali makan siang bersama, tak jarang Eza juga menawarkan tumpangan untuk mengantarkan Fina pulang.


Eliana pun masih dengan setia selalu mendekati Eza jika dia memiliki kesempatan, hanya saja sulit untuknya mendapatkan hati om-nya itu. Terlebih om nya selalu dekat dengan dokter cantik.


Hari ini di mansion utama keluarga Mikhailov sedang mengadakan acara pesta untuk Amira karena telah resmi dilantik sebagai presdir kemarin.


Eza mengajak Fina bertemu dengan keluarga besarnya, mumpung ada kesempatan seperti ini dia tidak ingin menyia-nyiakannya.


"Fin, ayo masuk." tutur Eza membukakan pintu untuk Fina.


"Aku malu kak." jawab Fina yang masih setia duduk di dalam mobil.


Eza tersenyum lembut. "Malu kenapa? tenang saja, kan ada aku." Eza mengeluarkan tangannya, dan akhirnya Fina pun meraih uluran tangan dari Eza.


Mereka berdua jalan beriringan menuju ke dalam mansion, saat sampai di dalam semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Termasuk Eliana yang menatap nanar ke arah sang pujaan hati yang saat ini sedang digandeng oleh dokter cantik.


Om Za. lirih Eliana.


Robi menyenggol lengan sahabatnya yang terlihat sedih saat menatap kehadiran om Eza bersama dengan wanita lain.


"Muka lo asem bangat sih El." tutur Robi kepada teman kecilnya itu.


"Lo jadi cowok bisa diem ga sih Rob, merusak suasana bangat." tutur Eliana pergi meninggalkan anak dari seorang Barra advaya Hermawan.


Robi menggelengkan kepalanya, sungguh sahabat sedari kecilnya itu sangat sulit untuk dimengerti. Robi memilih menghampiri Amira, wanita yang ia cintai meskipun usianya tiga tahun lebih tua darinya.


Eliana duduk di sofa dekat dengan Gebila yang tengah asyik memakan kue coklat buatan Airen. Gebila melirik ke arah Eliana yang terlihat masam.


"Asem bangat itu muka, nih mending makan kue coklat." tutur Gebila sambil menyerahkan kue coklat kepada Eliana.


Dengan senang hati Eliana mengambil kue coklat pemberian Gebila, dia pun langsung memakannya sambil menatap tajam ke arah Eza yang sedang asyik berbincang dengan Oma Hellena dan juga dokter cantik itu.


"Kak Gebi, om Gibran engga pulang?" tanya Eliana berusaha mengalihkan perhatiannya dari Eza.


Gebila yang mendengar pertanyaan dari Eliana pun menggeleng pelan, sebagai bentuk jawabannya.


Sayang bangat om Gibran engga pulang, andai kalau ada om Gibran aku bisa manja-manjaan sama dia. batin Eliana.


"Om Eran juga ngga pulang, mereka semuanya pada sibuk. Nanti juga kak Mira pastinya akan sibuk, kamu sering-sering main ke sini saja El. Biar aku ada temennya."


Eliana tersenyum senang dengan penuturan Gebila, tentu dia senang karena pasti akan bisa lebih dekat dengan Eza. Meskipun ada Rey si biang rusuh.


"Siap kak, kalau kak Gebi yang minta aku pasti bakalan sering main ke mansion dehh." ucapnya bersemangat.


Saat mereka sedang asyik berbincang, Amara pun menghampiri mereka berdua. Wanita cantik yang parasnya mirip dengan ayahnya memilih duduk diantara Gebila dan Eliana.


"Seru bangat nih kayaknya, lagi ngomongin apa sih?" tanyanya sambil menyambar kue coklat buatan sang ibu yang berada di atas meja.


"Ngga ngomongin apa-apa kak." jawab Eliana.


Gebila mengangguk setuju. "Ar, itu cewek yang dibawa om Eza cakep bener dah. Apa itu calonnya om Eza ya?" tanya Gebila kepada Amara.


Amara menjitak kepala Gebila. "Gebi! Panggil aku kakak, apa susahnya sih?"


"Susah lah, kamu mah pelit ngga kayak kak Mira baik hati dan tidak sombong."


Amara berdecih pelan. "Cih, kamu nya aja tuh yang matre kayak om Aja." celetuk Amara, memang benar sifat Gebila sedikit lebih mirip dengan Raja dari pada ayah kandungnya sendiri yaitu Bima.

__ADS_1


duh lagi patah hati begini, kenapa harus malah liat perdebatan kucing dan tikus. batin Eliana.


"Itu beneran calonnya om Eza kan?" Gebila menegaskan kembali pertanyaannya.


Amara mengangkat bahunya, sambil melirik ke arah Eliana yang wajahnya nampak tak bersahabat. "Ntahlah, mungkin aja." jawabnya.


Di lain sisi, Eza dengan bersemangat memperkenalkan Fina kepada kakaknya, mami Hellena dan keluarga terdekatnya.


"Fin, kenalin ini oma Hellena dan ini kakak ku Airen, yang ini kak Hans suaminya kakak ku." tuturnya memperkenalkan satu persatu keluarganya.


"Hallo oma, tante, om. Aku Fina, teman kerjanya kak Reza." ucapnya menjabat tangan mereka satu persatu.


"Cantik bangat Za, kalau mami sih yes." ujar mami Hellena.


"Kakak juga yes. Fin, panggil kakak saja ya biar samaan seperti Eza. Atau mau panggil bunda juga boleh, biar samaan seperti anak kakak. Karena sepertinya kamu sepantaran dengan keponakannya Eza."


"Daun muda ya Za." celetuk Hans.


Eza terkekeh pelan mendengarnya. "Yasudah kamu temani Fina dulu ya Za. Fin, kamu sama Eza ya. maaf kakak tinggal dulu." ujarnya, setelah pamit Airen pun pergi karena masih banyak yang harus ia kerjakan.


Hans pun menyusul istirnya. "Sayang tunggu, aku ikut."


Mami Hellena menggeleng pelan melihat anak dan menantunya yang masih romantis meskipun usia sudah tak lagi muda.


"Za bantu mami untuk duduk, kaki mami sudah tak kuat untuk berdiri lama-lama."


Eza pun memapah mami Hellena, membantunya untuk duduk. Fina pun ikut membantu di sebelahnya. "Oma, mau duduk di sofa yang mana?" tanya Eza.


"Yang sepi saja, mami mau berbicara dengan Fina." akhirnya mami Hellena pun duduk di sofa yang hanya ada dia dan juga Fina.


Eza mengangguk. "Fin, aku tinggal sebentar ya."


Fina tersenyum dan mengangguk, sekarang hanya ada dia dan juga mami Hellena di sofa. Mami Hellena menatap wajah Fina, wajahnya sangat indah untuk di pandang.


"Kenal Eza dimana Fin?"


"Di rumah sakit, Oma."


"Hubungan kalian bagaimana?"


Fina refleks mengerutkan alisnya karena pertanyaan mami Hellena. "Hubungan kami? baik oma."


Mami Hellena tersenyum. "Maksudnya, kalian temanan saja atau berpacaran mungkin?"


Fina menggeleng pelan. "Kami hanya sebatas rekan kerja, terkadang juga seperti kakak dan adik. Karena kak Reza itu temannya om aku."


"Seperti Eza memang sudah tua."


"E--eh bukan begitu maksudnya Oma, om aku sepantaran dengan kak Reza kok." ujar Fina panik.


Mami Hellena terkekeh dibuatnya, saat mereka sedang asyik berbincang. Bima yang baru turun dari lantai atas langsung menghampiri mami nya yang terlihat sedang berbincang dengan seorang wanita.


"Mih?" ujar Bima saat sampai di dekat mereka.


Kedua wanita berbeda generasi itu pun menoleh ke arah sumber suara, Fina cukup terkejut melihat Bima. Begitupun dengan Bima.


"Pak Dokter?"

__ADS_1


"Lho Fina? kamu disini?"


Mami Hellena mencoba memahami situasi ini, dan akhirnya dia pun mengerti. "Bim, kamu kenal dengan gadis ini?"


"Kenal bangat mih, dia ini dokter muda yang sangat bertalenta di rumah sakit kita." ujar Bima yang kemudian duduk tak berjauhan dari mami nya.


Fina berusaha memahami situasi ini, apa mungkin dokter yang sekaligus direktur rumah sakit tempatnya bekerja adalah anak dari oma Hellena?


"Wah bagus dong kalau seperti itu." tutur mami Hellena.


"Kamu ke sini sama siapa Fin?" tanya Bima.


"Eza yang membawanya ke sini." bukan Fina yang menjawab melainkan Mami Hellena.


Bima sedikit tercengang, Eza? Anak itu membawa Fina ke mansion dan memperkenalkannya kepada mami? Apa mungkin Eza berniat serius dengan Fina?


"Kalian dekat? Duh sayang bangat, padahal saya berniat untuk memperkenalkan putra saya kepada kamu. Eh malah keduluan Eza."


"Kamu sih Bim kelamaan." celetuk mami Hellena.


"Habis gimana mih? Sampai sekarang juga anak itu tidak bisa pulang karena kesibukannya. Papa Jo, benar-benar keterlaluan sekali. Anakku dibuat sibuk dengan perusahaannya." rungut Bima, sebal kepada papa mertuanya.


Fina baru menyadari bahwa Dokter Bima sangatlah berbeda ketika berada di rumah sakit, terlihat jelas bahwa dokter Bima yang sekarang sangat santai dan tenang. Sesekali melemparkan candaan. Lain halnya jika berada di rumah sakit, sangat amat serius bahkan Fina pun pernah kena omel olehnya saat dulu masih menjalani co-***.


"Oiya Fin, kalau Eza nakal dan macam-macam sama kamu. Bilang saja ya, biar saya yang menangani anak itu."


Fina terkekeh. "Siap pak dokter."


"Ubah dong nama panggilannya, panggil papa saja. Kebetulan usia kamu tak berjauhan dengan anak dan juga dua keponakan saya. Panggil papa saja, kecuali di rumah sakit."


"Yang dibilang Bima benar, kamu boleh memanggil anak Oma dengan sebutan papa. Karena memang kamu lebih pantas menjadi anaknya."


"Ga perlu di sindir Mih, aku memang mengakui bahwa aku sudah tua."


Mami Hellena terkekeh pelan. Fina hanya dapat mengangguk iya, meskipun sangat asing jika memanggil dokter Bima dengan sebutan papa.


"Oiya biar saya kenalkan kamu dengan putri bungsu saya. Gebila! sini nak." teriak Bima.


Gebila pun menghampiri papanya. "Kenapa Dad?"


"Ini kenalkan Fina, mungkin calon istrinya om Eza. Doakan saja biar menjadi istrinya kakak kamu." tutur Bima.


"Aamiin, hai kak Fina? Aku Gebila." ucapnya menjabat tangan Fina.


"Geb, kamu ajak Fina berkeliling ya. Awas jangan sampe luka."


"Tenang saja oma, serahkan tugas ini kepada cucu mu yang paling cantik senatero negeri ini."


"Ayo kak, kita keliling mansion. Aku jadi tour guide nya." Gebila menarik tangan Fina, dan menjauh dari ayah dan juga neneknya.


"Anak mu lho Bim, makin ke sini mirip dengan si Raja."


Bima hanya dapat terkekeh pelan, tiba-tiba dia merasa sangat rindu dengan kakak sulungnya. Yang kini tinggal di Prancis bersama dengan anak juga istirnya.


Kak Raja, kamu merindukan mu. Cepatlah pulang ke mansion. batin Bima.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2