Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 45


__ADS_3

Ara tetap melangkah dengan anggun, meski Kedua tangannya sedang membawa dua piring makanan. Gadis itu kembali menghampiri Farhan yang kini di temani oleh ketiga kawannya. Gadis itu menyapa Bimo, Hendra dan Sandi bergantian.


"Hai Ara," ucap ketiga pria itu, serempak.


"Mas Bimo, Mas Hendra dan Mas Sandi mau makan apa? Biar Ara ambilkan juga," ucap Ara seraya meletakan makanannya di meja, di hadapan Farhan.


Farhan mendongak, menatap Ara yang saat itu masih berdiri. "Jangan panggil mereka Mas, panggilan itu khusus untukku saja," ucapnya. Menarik tangan gadis itu dan menyuruhnya duduk. "Selain itu mereka punya kaki dan tangan, biarkan mereka mengambil makanannya sendiri," pungkasnya.


Ara menjatuhkan tubuhnya di kursi, bersebelahan dengan Farhan. "Lalu aku harus memanggilnya apa? Memanggil namanya jelas tidak sopan 'kan?" ucapnya. Menatap sang kekasih.


"Memanggil nama juga terlalu bagus untuk mereka, tidak cocok. Panggil saja curut." Farhan berpaling dari wajah kekasihnya. Beralih menatap ketiga temannya. "Curut 1, curut 2 dan curut 3," ucapnya dengan tawa. Menuding Bimo, Sandi dan Hendra bergantian.


"Sialan kau, Han," balas Sandi. Sementara kedua teman Farhan yang lain hanya terkekeh.


"Sayang ... Nggak boleh gitu," ucap Ara seraya menarik tangan Farhan. Suaranya terdengar mendayu-dayu, lembut sekaligus manja.


Farhan kembali menatap Ara. "Bercanda, Sayang," ucapnya dengan suara tak kalah lembut. Ia menggenggam telapak tangan gadis itu serta memberikan belaian di punggungnya dengan ibu jari.


Hendra dan Bimo saling melirik. Menatap satu sama lain.


Apa dia benar-benar Farhan? teman kita? Aku ingin muntah mendengarnya berbicara dengan nada seperti itu. Bimo


Kurasa otaknya bermasalah. Hendra


"Jangan bercanda seperti itu," ucap Ara. Raut wajahnya tampak tidak suka.


"Iya iya, tidak akan lagi," sahut Farhan. Mendaratkan kecupan di punggung telapak tangan Ara.


"Mas Han!" gertak Ara. Gadis itu mencoba terlihat galak. Namun suaranya justru terdengar manja di telinga Farhan. Gadis itu tampak berusaha melepas genggaman tangan mereka. Akan tetapi Farhan justru semakin mempereratnya. Laki-laki itu bahkan kembali mendaratkan kecupan di tangannya lagi, dua kali. Membuat kedua pipi Ara merona.


"Ya," balas Farhan.


"Jangan seperti itu," ucap Ara dengan wajah tertunduk.


"Seperti apa?" tanya Farhan pura-pura tidak tahu maksudnya.


"Jangan menciumku di depan banyak orang."


"Jadi kalau tidak ada orang boleh?" tanya Farhan.


"Nggak juga, pokoknya jangan menciumku," pinta Ara.


"Kenapa? Apa Ara malu?" bisiknya di telinga gadis itu.

__ADS_1


Ara menoleh, menatap Farhan. Bibir keduanya hampir bersentuhan karena wajah mereka terlalu dekat. "Memangnya Mas Han tidak malu?" tanya.


"Tidak," sahut Farhan.


"Banyak yang melihat, bagaimana bisa Mas Han tidak malu?" kata Ara.


"Mas Han hanya mencium tanganmu, untuk apa merasa malu. Di luaran sana bahkan banyak yang melakukan lebih dari itu dan mereka sama sekali tidak merasa malu."


"Melakukan apa?" tanya Ara.


Farhan mengerucutkan bibir berulang-ulang. Menjawab pertanyaan Ara dengan gerakannya itu.


Butuh waktu beberapa saat bagi Ara untuk menangkap maksud dari gerakan bibir Farhan. Ia tampak terkejut saat menyadarinya. "Maksud Mas Han berciuman?" tanya Ara, memastikan.


Farhan mengangguk, mengiyakan.


"Di depan banyak orang?" tanya gadis itu lagi.


"Iya. Bahkan bukan hanya berciuman, ada juga yang sampai berhubungan badan." Farhan merasa miris dengan kondisi sekarang. Dimana banyak pasangan muda yang dengan sengaja dan tanpa malu mempertontonkan perilaku tak senonoh mereka di medsos.


"Hah, Ada yang sampai sejauh itu?" ucap Ara dengan mata terbelalak.


"Bukan hanya ada, tapi banyak, Sayang," jelas Farhan. Ara terkejut lagi. Membuat Farhan bertanya-tanya. Apakah kekasihnya sepolos itu?


"Sama sekali?" tanya Farhan lagi.


"Sama sekali," sahut Ara tanpa ragu.


Kali ini giliran Farhan yang terkejut. Pria itu tidak menyangka kalau ternyata masih ada gadis yang sepertinya di zaman sekarang.


"Mau coba lihat tidak?" tanya Farhan dengan senyum jahil.


"Jangan aneh-aneh deh," ucap Ara seraya menggeplak paha Farhan.


"Cuma lihat doang kok, Sayang, nggak sambil praktek."


Ara mendelik. "Mas Han ...." Gadis itu mencubit pinggang Farhan dengan keras. Hingga membuat laki-laki itu mengaduh, kesakitan.


"Ampun, Sayang," ucap Farhan, menyerah.


Ara melepas cubitannya. "Makanya, jangan bicara sembarangan."


"Iya, tidak akan lagi, kapok."

__ADS_1


Farhan dan Ara asik mengobrol berdua. Seolah tidak ada orang lain di sisi mereka. Keduanya bahkan tidak sadar kalau makanannya telah di curi oleh Bimo dan dua teman Farhan lainnya.


"Siapa yang memakannya?" tanya Farhan begitu menyadari piringnya sudah kosong. Hanya tersisa sedikit kuah dan bumbunya saja. Mata elangnya mengamati Bimo, Sandi dan Hendra, bergantian.


Ketiga temannya itu pura-pura tidak tahu dan juga tidak dengar. Mereka tak berani menatap Farhan. Jadi sengaja memutar badan dan memandang sembarang arah. Ada yang menatap langit-langit, menatap orang yang lalu lalang, ada juga yang sedang membungkuk sambil mengikat tali sepatunya.


"Baiklah, karena tidak ada yang mau mengaku maka aku akan memeriksanya sendiri. Aku akan memukulnya seratus kali jika menemukan pelakunya," ancam Farhan.


Ara terkekeh. Menurutnya baik Farhan maupun ketiga temannya itu sama-sama lucu. "Sudahlah, Sayang. Ambil lagi saja, di sana juga masih banyak," ucapnya. Menuding deretan makanan yang di sediakan oleh pihak penyelenggara dengan sorot mata.


"Tapi Ara mengambilkan makanan itu untuk Mas Han, orang lain tidak boleh menyentuhnya apalagi memakannya. Mas Han tidak mau dan tidak akan berbagi apapun yang di berikan oleh Ara," ucapnya, manja.


Hendra menoleh ke arah Bimo. "Kau lihat tingkah bajingan itu? Aku benar-benar ingin menendang bokongnya," ucap Hendra pelan. Farhan sama sekali tak mendengarnya. "Sepertinya dia memang minta di pukul," balas Bimo dengan suara berbisik.


"Saat pulang nanti, bagaimana kalau kita hajar bersama-sama?"


"Ok. Deal," sahut Bimo, setuju. Keduanya saling berjabat tangan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Sandi. Bimo dan Hendra sama-sama terkejut. Mengira itu Farhan.


"Apa kalian sedang merencanakan sesuatu?" tanya Sandi lagi saat kedua temannya itu tak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Kau tidak perlu tahu. Ikut saja dengan kami," ucap Hendra.


"Ok," sahut Sandi, setuju.


"Apanya yang oke?" kali ini giliran Farhan yang bertanya. Disisinya sudah tidak ada Ara. Gadis itu sedang mengambil makanan, lagi.


"Sepulang dari sini kita ngumpul di tempat Hendra. Biasa, ngopi-ngopi sama bakar-bakaran. Kau ikut tidak Han?" sahut Bimo.


"Oke. Nanti aku menyusul setelah mengantar Ara pulang."


Keempatnya lanjut mengobrol. Membahas rencana mereka malam nanti. Sandi dan Farhan memilih ayam bakar. Sementara Bimo dan Hendra menginginkan seafood. Ketika kedua kubu itu sedang beradu argumen dan saling mempertahankan keinginan masing masing, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita. Disusul suara gaduh yang berlanjutan.


Keempat pria itu menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Yang lainnya juga sama. Semua menatap ke stand makanan dan bertanya-tanya. Apa yang terjadi?


Farhan segera berlari ketika melihat Ara tergeletak di lantai, di tengah-tengah kerumunan orang.


Bersambung ...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2