
Sesuai apa yang diminta oleh Gebila, kini Eliana berkunjung ke mansion keluarga Mikhailov tentunya saat mendengar bahwa Eza sedang berada di mansion.
Eliana berjalan perlahan masuk ke dalam mansion, dia langsung menemukan Eza yang sedang makan di ruang tamu. Eliana pun menghampirinya.
"Hallo om Za." ucapnya duduk di samping Eza.
uhuk uhuk
Eza tersedak karena kehadiran Eliana yang begitu sangat tiba-tiba.
Dengan sigap Eliana mengambilkan minum untuk Eza, dan menyerahkan gelas yang berisi air putih itu kepadanya.
"Pelan-pelan om, tenang saja aku sudah makan." tuturnya.
Eza tak memperdulikan ucapan Eliana, dia langsung minum.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Eza menatap Eliana.
"Main lah, kak Gebi yang ngundang aku buat main ke mansion. Om ngapain di sini? bukannya ini masih jam kerja?" tanya Eliana pura-pura tidak tahu.
"Jam istirahat, habis makan juga langsung pergi ke rumah sakit lagi. Kamu sudah makan?" tanya Eza.
Eliana menggeleng, sedangkan Eza terkekeh. "Lho barusan kamu bilang sudah makan."
"A--ah iya aku lupa, tapi liat om makan aku jadi laper lagi. Suapin dong om. Aaaa--"
Eliana membuka mulutnya lebar-lebar, dia tidak perduli jika Eza merasa ilfil dengannya. Tapi sepertinya tidak, bisa dilihat dari raut wajah Eza yang malah tersenyum melihat Eliana membuka mulutnya lebar-lebar.
"Dasar gadis kecil."
Eza pun menyuapi Eliana dengan sangat telaten, jika ditanya bagaimana perasaan Eliana? tentu dia sangat bahagia.
"Lho El, kamu ada disini?" tanya Airen yang kebetulan melewati ruang tamu.
__ADS_1
Eliana mengangguk. "Iya tante, tadinya sih mau main sama kak Gebi. Tapi kebetulan ada om Za yang lagi makan, jadi ikut makan deh."
"Tante ambilin ya? nanti kamu kurang lagi."
"Ngga usah tante, ini udah kenyang kok."
"Biar aku saja yang ngambilin kak."
"Ngga usah om, aku kenyang."
Rengek Ana memegangi lengan Eza yang hendak bangun, Airen terkekeh lalu pergi dari sana. Eza hanya mengangguk dan meneruskan makanannya kembali.
Eliana mencecar Eza dengan begitu banyak pertanyaan, seputar tentang hal-hal yang disukai laki-laki itu. Cukup lama mereka berdua mengobrol, hingga akhirnya jam istirahat Eza telah habis dan ia harus segera ke rumah sakit.
"An, om harus ke rumah sakit lagi. Kamu masuk saja ke kamarnya Gebi, om tinggal ya." tutur Eza.
"Iya om hati-hati ya, semangat kerjanya! Biaya pernikahan mahal om." teriak Eliana saat Eza sudah berada diambang pintu.
Eza hanya terkekeh mendengarnya, dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Kak El gila ya? ngapain senyum-senyum gajelas ke pintu."
Eliana dibuat terkejut dengan ucapan Rey, padahal dia berharap tidak bertemu dengan anak laki-laki satu ini. Karena sudah terlanjur bertemu jadi yasudah tidak akan jadi masalah kalau dia tidak meladeni ucapannya. Eliana lebih memilih untuk segera pergi ke kamar Gebila, dari pada harus berhadapan dengan Rey.
🍁🍁🍁
Sejujurnya Eza sedikit tak tega saat tadi berbohong kepada Eliana. Ya, Eza berbohong sebetulnya jam istirahatnya masih ada sekitar sepuluh menit. Namun, dia lebih memilih pergi dari mansion, karena ingin memberikan bekal makan siang untuk Fina.
Eza berjalan menyusuri koridor rumah sakit, menuju ruang kerja dokter Fina. Belum sempat Eza ke ruangannya, ternyata mereka bertemu di tengah jalan.
"Kak Reza?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Eza dibuat kikuk dengan senyum manis yang mengembang lembut, hatinya berdetak tak karuan saat melihatnya.
__ADS_1
"Hai Fin, kamu sudah makan siang?"
Fina menggeleng dengan cepat. "Belum, ini baru mau ke kantin." ujarnya.
"Ngga usah ke kantin, ini Kaka bawain makan siang untuk kamu." tangan Eza menyerahkan sekotak bekal makan siang, yang tadi diam-diam dia bawa dari rumah.
Fina menerima bekal tersebut dengan hati yang senang. "Wahh, terimakasih banyak ya kak." ucapnya tersenyum.
Eza mengangguk. "S--sama - sama. oiya nanti pulang sama siapa?" tanya Eza.
"Pesan taxi atau minta jemput sama uncle Jo."
"Biar sama Kaka saja Fin, biar Kaka yang antar kamu pulang."
Dina hanya terkekeh pelan mendengarnya. "Sebelumnya terimakasih banyak kak, tapi hari ini aku lembur. sepertinya nanti malam baru balik."
Eza sedikit terkejut, padahal dia sedang berjuang untuk mendapatkan istri yang luar biasa ini. "Kaka juga lembur kok, jadi nanti pulangnya juga malem. Pokoknya balik bareng Kaka ya Fin."
"Okeh kalau seperti itu, yasudah aku mau makan siang dulu ya kak. Takut jam istirahatnya habis."
"Baiklah, selamat menikmati Fin. Semoga makanannya sesuai dengan selera kamu."
Fina tersenyum dan mengangguk. "Iya kak, sekali lagi terimakasih banyak ya. Maaf, kalau sering merepotkan kakak."
"E--eh ngga kok, Kaka tidak merasa direpotkan sama kamu. Yasudah kalau gitu Kaka permisi."
Setelah mengatakan itu Eza langsung pergi dari hadapan Fina dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, detak jantungnya sangat tak karuan. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu seumur hidupnya, apa begini rasanya jatuh cinta? batin Eza.
Setelah melihat kepergian Eza yang sudah menghilang dari pandangan, Fina menatap kotak bekal tersebut dengan senyum yang sangat tulus. Beru pertama kali ada laki-laki yang memberikan hak semacam ini selain papa dan uncle Jo. Hati Fina pun sedikit tergoyahkan, dengan perilaku Eza belakangan ini yang terbilang sangat so sweet bagi dirinya.
Kak Reza, bagaimana kalau aku jatuh cinta sama Kaka? batin Fina sedikit resah.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.
Kira-kira Gadis kecil Eza itu Eliana atau Fina ya??