Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Eliana dan cerita cintanya


__ADS_3

Mendengar kabar bahwa seseorang yang sangat dicintainya akan bertunangan dengan wanita lain semakin membuat hati Eliana merasa sakit.


Saat ini di dalam kamarnya, Eliana menatap ke arah luar balkon. Rintik hujan di pagi ini seakan mengerti perasaan nya saat ini.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, lantas dia pun bergegas untuk membukakan nya. Dengan perlahan Eliana membuka pintu kamarnya. Terlihat jelas wajah manis sang ibu sambil membawa nampan berisikan makanan.


"Kamu belum sarapan, ayo sarapan dulu." tutur Endah sambil berjalan masuk ke dalam kamar anak semata wayangnya.


Eliana tak menolak, dia hanya pasrah mengikuti langkah kaki ibunya menuju arah balkon yang terdapat kursi dan meja di sana.


Endah meletakkan makanan itu di meja, dan duduk bersebrangan dengan Eliana. Matanya menatap sendu ke arah sang putri yang terlihat sedang gundah gulana.


"Kamu kenapa? Cerita sama mama dong, jangan di pendam seperti itu." tutur Endah pelan.


Eliana yang hendak makan pun menaruh kembali sendok yang sudah siap masuk ke dalam mulutnya, dia menatap ibunya.


"Mama ngga akan ngerti." ucap nya pelan.


Endah menghela nafas pelan. "Maaf, mama pikir soal cinta yang kamu katakan terhadap Eza hanyalah kebohongan belaka. Ternyata mama salah, nyatanya putri mama benar-benar jatuh cinta terhadap om nya."


Eliana tertegun, tepat sasaran. Bagaimana mama nya mengetahui tentang hal ini? Selama ini Eliana hanya dapat memendam perasaan apapun yang dia rasakan, karena bagi Eliana tidak ada yang percaya dengan perasaan yang ia sampaikan melalui tutur kata.


"Mama tahu?"


Endah mengangguk.


"Semenjak kamu tahu kabar tentang pertunangan yang akan segera dilakukan oleh Eza dan Fina, kamu terlihat bersedih. Dan saat itulah mama menyadari bahwa selama ini ucapan kamu benar adanya, tentang cinta kamu terhadap Eza."


Tiba-tiba air mata Eliana keluar dengan derasnya, akhirnya ada seseorang yang dapat dia bagi cerita cintanya. Dan tak lain orang itu adalah mama nya.


Endah menghampiri dan memeluk erat putrinya, ada perasaan sakit saat melihat anaknya menangis seperti ini. Terkadang Endah juga tak habis pikir, bagaimana bisa gadis kecil yang masih remaja sudah bisa mencintai seperti ini?


"Mah apa aku salah mencintai om Za?" lirih Eliana.

__ADS_1


Endah menggeleng dengan cepat. "Ngga sayang, kamu ngga salah."


"Boleh aku berjuang sekali lagi untuk mendapatkan cinta nya om Za?"


Endah nampak diam, bukan tidak boleh hanya saja dia takut anaknya akan semakin sakit jika sudah berjuang namun tak kunjung terbalaskan.


"Ngga boleh ya?" Eliana kembali bertanya.


Endah menghela nafas pelan lalu tersenyum kepada Eliana. "Bukan tidak boleh, mama hanya takut jika putri mama semakin terluka."


"Mah, sekali saja ya? doain ya mah biar om Za juga cinta sama aku."


"Tapi nak, Eza sudah mau bertunangan."


Eliana tersenyum getir. "Aku tahu, tapi kata kak Gebi selagi ijab qobul belum di ucapkan itu boleh mah."


"Oke boleh, tapi ingat jangan pernah ada niat jahat untuk mencelakai Fina."


Endah cukup tertegun dengan jawaban anaknya, syukurlah jika Eliana memilih untuk mengikhlaskan memang tak mudah tapi setidaknya ini adalah hal baik bukan?


"Mama senang dengan keputusan kamu El." ujarnya memeluk Eliana erat.


"Kalau gitu kamu makan ya, sakit hati juga butuh tenaga bukan? Apalagi nanti malam, kamu harus mempersiapkan diri dengan baik. Karena kita akan hadir di acara pertunangan nya om Za."


Eliana mengangguk dan langsung menyatap makanan yang telah dibawakan oleh ibunya.


🍁🍁🍁


Berbeda dengan Eliana, justru Eza nampak berdebar karena nanti malam adalah acara puncak pesta pertunangannya. Setelah dua hari yang lalu dia membawa keluarganya untuk melamar Fina.


Saat ini Eza sedang makan ditemani oleh Gebila dan juga Amara.


"Untung saja ya Fina mau sama om Za, padahalkan usianya hanya beda dua tahun dari aku. masa iya aku nanti panggil dia dengan sebutan tante?" ucap Amara sengaja memancing Eza.

__ADS_1


"Iyaya, eh tapi aku masa jadi kepikiran Eliana sih. Padahalkan anak itu suka bangat sama om Za, dari kecil hingga saat ini mungkin?" ucap Gebila sepontan yang memang teringat dengan Eliana.


Uhukk.. uhuk..


Eza tersedak saat Gebila mengatakan hal itu, bagaimana tidak? Dia jadi teringat dengan ucapan gadis kecil yang pernah mengatakan akan berumah tangga dengannya. Astaga ada apa dengan dirinya?


"Bukannya si El emang masih suka sama om Za ya?" celetuk Rey yang baru saja datang sambil membawa kue buatan Airen.


Eza dibuat pusing oleh para keponakannya. "Suka itu umum, jadi wajar kalau memang lama." tutur Eza.


"Kayaknya sih bukan suka deh, tapi cinta." kata Rey.


"Cih, anak kecil tau apa kamu." bukan Eza melainkan Amara yang berkata seperti itu.


Kakak keduanya itu sangat menyebalkan bagi Rey, karena dia selalu mencari bahan perdebatan untuk di lontarkan.


"Orang jomblo kayak kakak tau apa soal cinta?" tanya balik Rey kepada kakaknya Amara.


Keduanya menatap seinget. "Uncle Hans, Rey sama Ara berantem tuh." teriak Gebila yang enggan melihat pertengkaran adik kakak itu, makanya dia mengadu kepada Hans.


"Gebila! Kak Gebi!" ujar keduanya.


Eza hanya dapat sabar menghadapi tingkah keluarganya yang sangat super dramatis ini, jika dia sudah menikah lebih baik tidak tinggal satu rumah dengan orang-orang seperti ini.


"Rey! Amara! Jangan bertengkar, kalian mau kalau papa kirim ke luar negeri?" ujar Hans yang sedang mengecek kinerja anak sulungnya dari balik layar laptop.


Keduanya hanya dapat terdiam, makan dengan tenang. Begitupun eza yang bersyukur karena keduanya sudah akur, meskipun saat ini pikiran Eza sedang bercabang-cabang. Memikirkan Fina dan juga Eliana secara bersamaan, ntahlah ucapan Rey mampu membuat hatinya sedikit bimbang.


Bersambung...


Jodoh Eza itu Fina atau Eliana ya? Menurut kalian lebih cocok yang mana nih?


Jangan lupa dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya. Terimakasih semuanya.

__ADS_1


__ADS_2